Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 11 September 2016   21:38 WIB
Elang Tanpa Sayap

07 September 2016

                    Hari ini, hari pertama aku di sini. Sebuah organisasi yang aku ikuti memintaku dan beberapa teman lain untuk tinggal bersama warga di sebuah desa kecil di tengah perkotaan megah Kota Malang. Jarak dari pusat kota Malang menuju desa ini tergolong dekat, namun terjalnya jalan yang belum tersentuh aspal serta tikungan-tikungan tajam di sepanjang jalan, membuat perjalanan menuju desa ini terasa begitu jauh nan melelahkan. Senja telah memerah di ufuk barat, hari sudah mulai menggelap, namun tak ada tanda-tanda lampu di rumah-rumah penduduk menyala. Listrik rupanya belum menyentuh desa ini. Tak menyangka bukan? Di tengah kota malang, yang bahkan sudah berdiri mall-mall megah dengan segala hiruk pikuk kemodernan kota ini, masih ada sebuah desa yang bahkan masih bertahan dengan dimar-sebuah penerang dengan minyak tanah sebagai bahan bakarnya- hanya untuk sekedar menerangi hari-hari malamnya. 

“Dek Alif, temenin mbak ke rumah Pak Lurah donk” Pintaku merajuk pada seorang anak kecil yang sedang menuangkan minyak tanah ke dalam botol untuk kemudian dimasukkan ke dalam dimar. Anak kecil itu segera menyelesaikan kegiatannya lalu beranjak berdiri, memberi kode kepadaku untuk segera berangkat ke rumah Pak Lurah.

                Sore ini aku meminta dek Alif untuk menemaniku untuk ke rumah Pak Lurah, bukan untuk mengurus surat desa, pun juga bukan untuk mengurus administrasi kependudukan, melainkan untuk menumpang mandi. Ya, mandi. Hanya ada dua pilhan untuk mandi di desa ini, menumpang di rumah Pak Lurah/rumah penduduk yang mampu atau harus mandi di sungai. Sekali lagi aku katakan, mandi di sungai. Ah, bahkan membayangkannya saja aku tak berani. Beberapa warga di sini memang menggunakan air sungai untuk bertahan hidup : mandi, mencuci, memasak dan lain-lain, terlebih di musim kemarau seperti saat ini. Hanya dengan berbekal sarung untuk menutupi tubuhnya dan seperangkat sabun, mereka terbiasa mandi di sungai tersebut. Jangan berpikir kalau sungai ini jernih, tidak sama sekali. Ini di desa di tengah kota Malang, dengan banyak industri di sekitarnya- yang kemana lagi mereka membuang limbah jika bukan di sungai-. Jadi bisa terbayangkan bagaimana warna dan bau sungai ini >.<

Aku dan dek Alif berjalan menyusuri gelapnya jalanan menuju rumah Pak Lurah. Kami berdua diam. Dia sama sekali tak bersuara, begitu pula aku. Sesekali dia berlari kecil mendahuluiku, namun kemudian dia berhenti untuk menungguku di depan sana.

“Dek, nanti kalau sudah besar, pengen jadi apa?” Tanyaku membuka pembicaraan.

Anak kecil dengan rambut dikepang satu seperti ekor kuda ini menoleh ke arahku sambil tersenyum. “Menteri penerangan mbak” katanya.

Menteri penerangan? Ah, mungkin maksudnya menteri ESDM. “Kenapa?” tanyaku lagi sambil tersenyum ramah ke arahnya.

“Biar ada listrik di rumah mbak” Jawabnya simpel, matanya menatap ke depan, menerawang jauh, entah kemana.

“Memang adik kelas berapa sekarang”

Pandangannya yang semula menatap lurus ke depan, tiba-tiba menunduk perlahan. “Harusnya sudah SMP, mbak” ucapnya masih dengan kepala tertunduk.

“Koq harusnya?” aku penasaran

“Hehe, udah ndak sekolah mbak, Bapak ndak punya uang.” Dia mencoba tertawa, namun ada nada sedih dibalik tawanya yang ia paksakan.

Aku kembali terdiam, tak melanjutkan pembicaraan, tak ingin membuatnya bersedih lebih dalam lagi.

*******************

                 Malam semakin larut, semakin sepi, semakin gelap. Hanya dimar yang menjadi penerang di rumah ini. Saatnya tidur. Tapi sekali lagi, jangan dibayangkan kami akan tidur di kasur dengan bantal dan guling yang empuk. Tak ada kasur, hal paling nyaman tidur di sini adalah tidur diatas dipan beralas tikar. Tak ada TV, sepi. Hanya suara cit cit-an anak ayam yang terdengar memenuhi telinga. Ah, aku baru ingat, kamar ini dan “kamar” ayam hanya berbataskan anyaman tipis bambu bewarna putih.

               Ditengah dinginnya malam itu, ku lihat dek Alif sedang bersandar di kursi depan rumah sambil melamun, entah apa yang ia lamunkan. Sesekali ku lihat dia terlihat resah, kakinya ditekuk hingga lututnya menutupi wajah ayunya. Ku hampiri ia, ku sapa sambil sedikit mengagetkannya.

“Door dek Alif”

“Eh mbak” jawabnya datar sambil meluruskan kedua kakinya. Ia menatapku sambil tersenyum manis.

“Belum bubuk dek?”

“Mbak ocha kuliah ya? Dimana?” Dek alif menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan balik yang melenceng jauh dari pertanyaan awal. Aku duduk disampingnya. Menata kata-kata apa yang harus aku jawab. Sepertinya ia masih kepikiran dengan pertanyaanku tadi sore.

“Kuliah di malang dek, ndak jauh dari sini koq” jawabku singkat.

“Enak ya mbak kuliah?” Tanyanya polos. Ku hirup nafas panjang, kembali menata kata-kata agar tak membuatnya sedih.

“Alhamdulillah dek. Kita bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat, teman-teman yang banyak dan pengalaman-pengalaman berkesan” Jelasku.

“Aku pengen kuliah juga nanti mbak, biar bisa jadi 'orang'. Biar nanti kalau sudah tua bapak dan emak ndak kerja lagi, biar desa ini terang, ndak gelap karna ndak ada listrik kayak gini.” Ucapnya. Sekali lagi ku lihat tatapannya menerawang jauh ke depan. Namun kali ini bukan tatapan kosong. Penuh semangat. Tatapannya penuh visi, tajam, laksana elang yang tengah mengincar mangsanya dengan saksama. Aku tersenyum, bahagia melihat dia begitu bersemangat.

“Buk, dek alif pengen sekolah ni lho buk” Ucapku kepada bu Surtilah, ibunda dek alif, yang sedang sibuk ndondomi – menjahit baju manual dengan tangan- di ruang tengah.

“Wong wedok iku masio sekolah, bakale tetep ndek pawon. Ndak usah sekolah dhuwur-dhuwur. (Anak perempuan itu meskipun sekolah, nanti akan tetap di dapur. Tidak usah sekolah tinggi-tinggi.)” Balas bu Surtilah tanpa melihat ke arah kami dan masih saja sibuk dengan benang dan jarum di tangan Beliau.

                  Mendengar hal itu, dek Alif terdiam. Tatapannya mendadak nanar, dia tertunduk, tanpa ekspresi. Ditekuknya lagi kakinya, hingga ia mampu memeluk lututnya sendiri. Kini sayap sang elang telah patah oleh kata-kata ibu nya sendiri. Ia ibarat elang tanpa sayap. Semangatnya memudar. Dan hal yang sangat aku sesalkan, tak ada yang bisa aku lakukan selain hanya mengelus punggungnya, berharap sayapnya yang patah segera terkepak kembali. Namun ternyata tidak, ia tetap saja diam tanpa kata. Diam. Hening. Sunyi. Hingga rasa kantuklah yang mendorong kami untuk masuk ke dalam rumah, mengistirahatkan raga, dan hati nya.

           Aku mencoba memejamkan mata, namun pikiranku mengembara kemana-mana. Tanganku menggenggam, berusaha menguatan azzam di dada. “Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa?” Aku terus berpikir namun belum menemukan solusi kongkrit.  Hari ini aku benar-benar paham, bahwa kehidupan kampus yang kadang kita keluhkan lelahnya, tentang tugas yang menumpuk, tentang omelan-omelan professor, pun tentang amanah-amanah yang kadang terasa berat, adalah hidup yang selama ini seseorang lain di luar sana idam-idamkan. Semoga semua kesadaran ini membuatku semakin bersyukur atas segala yang Allah limpahkan, pun atas segala yang Allah cukupkan  .. :)

Tulungagung, 11 September 2016

Rosalina Djatmika

Karya : Ranting Kecil