bangga itu memiliki kalian (keluarga)

rona maryefti
Karya rona maryefti Kategori Lainnya
dipublikasikan 26 April 2016
bangga itu memiliki kalian (keluarga)

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa

Benturan dan hempasan terpahat di keningmu

Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras

namun kau tetap tabah hm...

Meski nafasmu kadang tersengal

memikul beban yang makin sarat

kau tetap bertahan


Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari

kini kurus dan terbungkuk hm...

Namun semangat tak pernah pudar

meski langkahmu kadang gemetar

kau tetap setia


Ayah, dalam hening sepi kurindu

untuk menuai padi milik kitaTapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

Anakmu sekarang banyak menanggung beban


Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari

kini kurus dan terbungkuk hm...Namun semangat tak pernah pudar

meski langkahmu kadang gemetarkau tetap setia

 

(Titip Rindu Buat Ayah-Ebiet G Ade)

 

Selalu gemetar lirih, ada perasaan rindu yang dalam yang bergejolak seusai mendengar dan mengikuti setiap alunan lagu ini. Seperti bernyawa.  Ingin ku peluk dan tak ingin lepas dari dekapannya untuk ayah juga untuk ibu( Andai liriknya bisa diganti ayah menjadi ayah-ibu atau orang tuaku).

Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya, dan ayah adalah pendekar bagi anak laki-lakinya. ayah adalah pangeran yang siaga menjaga keluarganya, dialah laki-laki yang selalu ada menjaga dan berkuras tenaga untuk anaknya dari awal dalam kandungan hingga tak terbatas waktu. Ummak adalah bidadari tak bersayap yang diturunkan oleh tuhan untuk menyayangi mendidik dan merawat anak-anaknya tanpa terbatas waktu.

Aku anak pertama dikeluargaku, sekaligus anak satu-satunya perempuan dikeluargaku. Bagaimana tidak kami hanya dua bersaudara dan aku memiliki seorang adik laki-laki umur kamipun berjarak 4 tahun. Bagiku ayah adalah segalanya, bukan berarti ibu tidak segalanya. Ayah dan ummak itu panggilanku untuk kedua orang tuaku.

Sebutlah kami, kami adalah keluarga KB sesuai slogannya ayah, ibu , anak pertama (perempuan, anak laki-laki), anak kedua (perempuan, laki laki). Kami hidup dengan keserhanaan, ayahku yang berprofesi sebagai supir angkutan barang jalur yang dilaluinya sangatlah panjang pulang kerumah dua minggu sekali bahkan bisa sebulan sekali  dan pulang kerumah hanya sehari saja, trayeknya dari samosir ( Sumatra utara)  –  solo kandang bisa sampai kepulau bali. Apapun diangkut kadang tembakau, kadang buah-buahan apapun dilakukan demi anak istri asal HALAL. Jalannya tidak selalu mulus, kadang ada kerikil, dan bertaruh nyawa dijalan. Pernah suatu hari didaerah lampung ayahku ditodong dan robekan besar mendarat diperut ayahku alhamdullah ALLAH masih melindungi ayahku. Dan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang membuka warung kelontongan didepan rumah untuk membantu keuangan keluarga dan untuk mengisi waktu senggang dirumah.

Kata ummak dulu aku pernah suatu sore kamu berkata “orang punya ayah, ayah aku dimana? Setiap sore teman-teman bermain dengan ayahnya, ayah aku tidak ada”, kata ummak saat mendengarkan pertanyaan itu perih dan tak jarang setelah mendengar itu beliau selalu meneteskan air mata. Mak, maafkan anakmu membuat mu menitikkan air mata, disetiap curhatan anakmu.

Ayah, kepulangan ayah sangatlah waktu yang ditunggu. Selalu ingin disuapi ayah, selalu ingin mendengarkan dongeng ayah, selalu ingin dipangku ayah, selalu ingin dielus hingga tertidur pulas lalu digendong dan dibaringkan ditempat tidur. Ayah maaf, dulu aku tidak tau kalau kau lelah. Lelah mencarikan kebahagiaan buat keluarga, yang aku tau saat itu aku rindu aku punya ayah, aku memiliki seseorang yang memandikan aku pagi dan sore setiap pulang kerumah menyuapi bermain dan menidurkan hingga pulas. Aku tidak pernah tau dan tak ingat apakah aku pernah merengek kepada ayah supaya dia tetap ada disampingku. Seingatku, aku hampir tidak pernah menawarkan secangkir kopi untuk ayah, Maaf ayah, maaf aku selalu membuat ayah sedih dan tidak peka kalau ayah lelah.

Ayah, aku selalu ingat saat keluarga kita berada dititik bawah kita tak punya uang jangankan untuk membeli baju baru, untuk membeli sebutir beraspun kita tak sanggup membelinya. Aku selalu ingat apapun kau lakukan agar kami makan, tapi usahamu saat itu gagal. Aku anak kecil yang tidak mengerti selalu merengek, apapun yang lewat didepan rumah selalu ku minta. Tak jarang ummak berkata “nanti kita beli kalau ayah sudah pulang dan bawa uang ya” dan akupun menangguk seolah mengerti dan menagih jika ayah sudah pulang dan dulu kita hanya memiliki sepiring nasi dengan lauk seadanya kalian berkata “ inih makan dulu, nanti ayah sama ummak makannya sehabis kalian makan” ayah, ummak jikalau aku mengerti aku tidak akan sanggup menelan sepiring nasi itu aku tak akan sanggup memakannya sendiri. Maafkan lagi anakmu yang tidak mengerti kondisi kita saat itu.

Ayah, kau yang mengajarkaku untuk selalu lembut, jujur, garang parasmu itu tidak selembut hatimu. Ayah yang mengajarkan sopan santun, berlaku lembut. Pernah dulu engkau menendangku hingga aku terpental tapi kau langsung meminita maaf dan berkata “ nak maafkan ayah ini kewajiban ayah karena sedari tadi ayah menyuruhmu sholat tidak kau laksanakan” dan berakhir dengan pelukan ternyaman saat itu. Ingat hadist-hadist dan penggalan ayat suci Al-Quran saat aku membantah perkataan ummak karna menurut aku ummak adalah makhluk terbaawel, galak dan aku sayang, atau saat aku melakukan kesalahan. Maaf aku sering membantah tidak mau menurut kata ayah apalagi saat emosi menguasai pikiranku.

Ayah yang lembut bisa menjadi galak superduper galak jika anaknya disakiti orang lain. Pernah suatu ketika aku, gadis mungilnya yang beranjak remaja diganggu oleh laki-laki seusiaku. Mungkin karna masa puber dan perasaan suka dia mengejarku dan aku tidak nyaman, aku ingat saat kau mengejarnya dan memarahinya sehingga laki-laki itu tidak berani kembali kekosannya. Saat itu aku takut kau kalap, tapi sekarang aku tersenyum karna aku tau itu bukti kau sayang aku dan tidak mau apa-apa terjadi padaku. Aku tau ayah, rasa sayangmu padaku melebihi sayang pada dirisendiri. Aku selalu bermimpi jika aku memiliki suami nanti aku ingin lelaki romantis sepertimu, itu harapanku kepada Tuhan, ayah. Ayah, bisakah aku mendapatkan laki-laki sepertimu laki-laki penyabar dan penyayang?

Ayah, sedari kecil kau selalu mengusahakan yang terbaik untukku. Dari mulai sekolah yang paling bagus dikota yang kita tinggali. Dulu aku sempat minder dengan kehidupan kita , sempat minder dengan pekerjaan ayah yang hanya seorang supir, ibu berjualan kelontongan dan kontrakan yang kita tinggali hanya sebuah gubuk reot. Yah-mak maaf anakmu pernah malu dengan pekerjaan kalian dan keadaan kita padahal aku hidup besar dan bersekolah dari pekerjaan kalian, sedangkan kalian tidak pernah malu jika anakmu menjadi anak peringkat akhir disekolah. Malah kau menyemangati aku jika aku mendapat nilai dibawah rata-rata atau aku  mendapat nilai nol. Dan selalu bangga dengan anak-anakmu. Ayah maafkan anakmu yang tidak mengerti dengan sebutir nasi halal dan segala hal yang halal yang kau berikan. sekarang aku sadar betapa bangganya aku memiliki kalian. Aku bangga dengan cara didik kalian hingga kami menjadi seperti saat sekarang.

Ayah-ummak maafkan jika dulu aku pernah malu memiliki orang tua seperti kalian, ayahku bukan pegawai kantoran berdasi dan berpendidikan, ummak juga bukan ibu-ibu sosialita yang kerjaannya kesalon kesana kemari menggosip. Tapi kalian berhasil mendidik kami, menyekolahkan kami ditempat favorit baik ditempat tinggal kita atau mungkin seindonesia diindonesia. Menyekolahkan kami dengan bermodalkan roda enam dan dibelakangnya bertuliskan “matobang dipardalanan (tua diperjalanan, bahasa batak). Sekarang aku bangga dengan apa yang kalian lakuakan. Akan selalu aku ingat pada suatu hari adikmu (dan bisa disebut ayah olehku) pernah berkata yah “mana mungkin anak seorang supir kuliah diuniversitas favorit dibandung ini, engkau tau nak? Yang sekolah disana hanya anak metri, anak pengusaha atau anak guru. Jangan pernah bermimpi kuliah disana”. Dan apa yah? Aku masuk universitas itu yah, aku pernah belajar di kampus yang kata mereka hanya orang gedongan yang bisa masuk kampus itu. Ayahku, seorang supir yang tidak berpendidikan bisa menyekolahkan anaknya diuniversitas orang kaya, dan pernah duduk bersebelahan dengan metri, pengusaha atau guru saat aku diwisuda. Apakah ayah bangga denganku? Terimakasih yah-mak harusnya aku yang bangga dengan kalian, yang selalu memberikan yang terbaik buat aku dan keluarga. Tapi ayah-ummak harusnya sedari dulu aku harus bangga dengan kalian dengan pekerjaan kalian, maafkan kelakuanku yang dulu.

Ayah, sekarang aku melihat tubuh gembul kuat berubah keriput, pendengaranmu mulai menurun, kesehatanmu yang mulai lemah, tubuh kekar mulai layu, gigi yang kau banggakan dulu mulai habis dimakan usia. Ayah, maaf yang kesekian kalinya dariku anakmu yang belum bisa membalas semua yang pernah kau lakukan, apa yang kau berikan (diusahakan walaupun nyawa kau pertaruhkan) demi melihat kami tersenyum, walaupun tak pernah meminta atau berfikiran dibalas olehku. Maaf atas kesakitan yang kau rasa untuk membuat aku bahagia. Aku ingin ayah bangga memiliki anak sepertiku, maafkan atas kekecewaan yang pernah aku berikan sengaja atau tidak. Maaf atas khilaf, kata kasar, atau bentakan yang pernah terucap dari mulutku.

Ayah tetaplah jadi laki-laki terbaikku, tetaplah jadi pangeran berkuda putih didalam cerita dongeng, tetaplah kuat dan tetap sabar menghadapi perlakuanku, selalu ingatkan jika aku salah. Selalu jadi guru terbaik buat aku dan keluarga. Tetap kuat, sehat dan bersemangat, jangan berhenti membuat aku tertawa dan jangan lupa dengan dongengan ayah disetiap malam. Ayah, terimakasih atas semua kebahagiaa, kesenangan, aku sangat menyayangimu. Jujur tidak jarang seketika air mataku mengalir deras sesaat aku ingat dirimu. Terlepas dari kedurhakaan yang pernah aku lakukan aku sayang ayah-ummak. Maaf dari hati yang paling dalam atas perlakuanku, sayang keluarga kecil yang ayah-ummak bangun, aku ingin kita berkumpul bercanda, bergurau. Karena waktu berkumpul adalah waktu yang aku inginkan dari kecil dahulu. Ayah-ummak kalian akan selalu menjadi kebangganku, idolaku. Aku sangat sayang kalian..dan teruntuk ALLAH yang menciptakan bumi dan yang menciptakan seluruh yang tiada menjadi ada, terimakasih dilahirkan dikeluargaku saat ini.

  • view 440