Antara Media Sosial, Rasio, dan Rasa

Antara Media Sosial, Rasio, dan Rasa

Ronald Adipati
Karya Ronald Adipati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 April 2018
Antara Media Sosial, Rasio, dan Rasa

Saat kami santai di sela-sela UN SMA hari ke-2, kami mempercakapkan banyak hal. Salah satunya tentang keutamaan menyeimbangkan rasio dan rasa. Seorang teman saya mengatakan bahwa dalam lakon hidup berumah tangga, hal itu perlu dan penting, katanya.

Bahkan secara blak-blakkan ia menyampaikan bahwa menjadi orang cemburu itu meskipun sulit tetapi perlu. Cemburu bisa jadi bahasa terbaik mengawetkan sebuah hubungan. Allah saja pencemburu berat.

Salah satu sahabat saya dengan sedikit teoritis menyanggahnya.

'Apa kegunaan cemburu?', katanya. Cemburu hanya akan melahirkan rasa sakit. Bukankah sakit itu sebuah 'jebakan' agar kita memaki 'sehat?'. Inilah yang kerapkali luput dari niat kita untuk cemburu.

Saya, sebagaimana biasa selalu setia mendengar. Saya menyimak percakapan mereka dengan penuh perhatian. Setelah semua selesai berbicara, saya kemudian mengambil alih pembicaraan.

Ada dua perspektif utama dalam hal kita mecemburui seseorang atau sesuatu, kata saya.

Pertama, jika kita cemburu pada orang karena terlalu akrab dan dekat dengan pasangan kita, bisa jadi ada hal yang diperbaiki dari sikap, tutur, dan tindak. Ada ruang kosong yang harus segera diisi atau juga dipenuhi.

Kedua, cemburu, apalagi di media sosial, adalah sebuah tanda bahwa kita belum mampu menerima teknologi. Suka atau tidak, kita sudah hidup di zaman Internet. Media sosial atau akrab disebut dunia maya adalah ajang pertaruhan: rasa dan rasio.

Informasi seputar status, like dan komentar harus diterima sebagai keniscayaan. Itu sebuah bentuk baru dari relasi. Kita harus mengakui itu.

Jika kita tak sanggup menyeimbangkannya, barangkali kita harus mati duluan atau selamanya meratap mengapa lahir di zaman ini.

#catatansantai

  • view 41