Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Psikologi 15 Desember 2017   11:05 WIB
Masokisme

Masokisme
 
Sumpah. Saya pernah begitu peduli terhadap seseorang, curhat seorang kawan.
 
Dia bukan apa-apa, bukan ibunya anak-anak saya, bukan keluarga, bukan saudara - singkatnya, ia bukan siapa-siapa.
 
Begitu pedulinya dia sampai siang dan malam dia habiskan waktu dan pulsa untuk tanya sedang apa, buat apa, di mana. 
 
Bukan sekedar peduli. Selalu ada cerita di baliknya. Sedari awal, ia cacat di mata manusia. Ia yatim piatu - bapa dan mamanya sudah meninggal, sambungnya.
 
Barangkali, kawan saya mengidap Masokisme. 
Istilah ini populer dalam ilmu Psikologi. Masokisme, suatu kondisi kejiwaaan yang suka menyiksa diri terus menerus, baik fisik maupun psikis. Itu sebuah penyakit dan dia menderita itu, Masokis. 
 
Dari kepedulianlah, bermulanya masokisme itu. Kepedulian yang sebenarnya tak punya bentuk ideal - dia orang lain. 
 
Kepedulian hampa makna manakala kepedulian itu diabaikan, diacuhkan. Kepedulian akan cacat jika tak punya ruang hinggap - pada orang yang dipedulikan. 
 
Apa gunanya peduli?, tanya saya. 
 
Tidak ada gunanya. Berhentilah peduli. Belajarlah memahami frase: Ah, kau ni ribet banget, sich. It's my life.
MY LIFE, MY RESPONSIBILITY
 
Masokisme, rasa sakit dari sebuah peduli yang gagal.

Karya : Ronald Adipati