Bahagia

Ronald Adipati
Karya Ronald Adipati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Desember 2017
Bahagia

Apa arti bahagia?  
 
Saya ingat murid saya pernah bertanya tentang ini.  
 
Kebahagian,  sebuah kata yang acapkali akrab di bibir.  Kebahagiaan tak punya ruang permanen di benak.  Ia dengan cepat beralih rupa mengikuti suasana: hati juga lingkungan.  
 
Banyak orang yang seringkali kita lihat baru saja menangis duka tetapi setelahnya akan tertawa gembira.  Hidup haruslah seperti itu.  Itu juga yang saya dapat dari penjelasan pemuka agama saya.  
 
Dalam menjawab pertanyaan di atas,  saya meminta kepada murid-murid saya untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa dalam kehidupan yang membuat air mata duka menggenang juga yang membuat mereka tertawa lepas tanpa beban.  Semua menjawab dengan ingatan yang menggenang di kepalanya. Kita tahu,  jawaban duka selalu soal kematian,  ketiadaan beras untuk makan malam,  juga ketika menangis ampun kedapatan mencuri milik tetangga. 
 
Itu terlalu rumit,  mungkin.  Bagi saya kebahagiaan itu ada ketika kekasih saya mengalungkan selendang gelar di dadanya.  Dan saya bahagia,  tentu saja.  Bahagia karena kami pernah dirajam oleh registrasi, KRS,  dan lain-lain.  Kami pernah saling caci maki karena terlambatnya membayar uang kuliah,  juga ketiadaan uang pinjaman.  Kami pernah menglami itu semua.  
 
Saya bangga kepada kekasih saya.  Meski merangkak tapi tak pernah menyerah.  

Congrats my beb,  i'm proud of you. Love you tenderly

  • view 58