Mungkin Lalu

Ronald Jerry Sibuea
Karya Ronald Jerry Sibuea Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Oktober 2016
Mungkin Lalu

“Haruskah setiap langkah dan jejak kita terlewat begitu saja, pudar, lalu hilang tertimbun oleh arah yang baru? Atau haruskah setiap kegelisahan lalu, keringat, dan tekad luntur oleh sebuah hasil yang sejatinya masih merupakan titik awal? Pikirkan bahwa ketika langkah dan segala tekad kita padu, kita bisa membuat lebih dari ini, jauh!” – Ronald Jerry Sibuea, 2016

            Berpaling sedikit dari sibuknya tangan membolak-balik referensi dan sibuknya otak mencerna tiap materi yang didapat, kini aku sampai pada khayal besar akan satu perkumpulan yang tujuan awalnya menjadi keluarga baru. Menjadi keluarga di tanah yang merupakan tempat untuk angan mulai dirangkai dan tangan mulai melukiskan harap. Kampus ini, Institut Teknologi Bandung, menjadi tonggak awal dari kelanjutan kisah ini.

            Kala itu, Jumat, 3 Juni 2016.

            “Semuanya, tutup mata, tutup telinga, dan tundukkan kepala kalian!”

            Lagi! Ingin rasanya aku berteriak, setidaknya melontarkan sedikit umpatan. Mencaci-maki di dalam hati, yah, berharap mereka tahu apa isi hati ini. Sudah berbulan-bulan kulalui masa-masa seperti ini, bersama orang-orang yang sama yang memang sudah berkurang dari sejak awalnya kami dipertemukan.

Aku merasakan langkah kecil yang mendekat, tubuhku sedikit panik. Kini, ada tangan yang hinggap di pundakku. Kaca mataku dilepas, lalu, mata pun ditutup oleh sehelai kain. Refleksku ingin berontak namun entak mengapa tubuh malah menjadi kaku dan jantung berdetak semakin tak menentu.

“Pegang pundak teman yang di depan kalian!”

Dia berteriak lagi. Lagi, namun kali ini aku merasakan bahwa nada bicaranya menurun. Segera kuraih pundak orang yang tepat di depanku. Chandra, dialah yang waktu itu berada di depanku. Segera kutenangkan diriku, berharap kekakuan ini segera mencair. Kini, suara-suara kecil mulai terasa masuk ke dalam telingaku, satu persatu bisikan kurasakan.

“Jangan sampai lepas peganganmu. Ingat, jaga kawan-kawanmu! Kau paling belakang, percayakan semua kepada temanmu yang di depan. Saat ini, dialah yang membawa arah kalian.”

             Bisikan itu mengalir di telingaku. Aku mendengarnya, jelas. Kembali kueratkan peganganku pada pundak Chandra. Mungkin, dia merasakan betapa kakunya diriku, merakana bagaimana tangan ini selalu bergetar tak menentu. Dalam hati aku selalu berharap bahwa ini adalah saatnya. Ini adalah saat di mana kami akan menyudahi semua tuntutan yang kami peroleh. Semoga.

            Anganku melambung, kembali terbesit bagaimana kelak kami akan menjalani kehidupan kami setelah ini. Menjadi bagian dari keluarga yang kami impikan. Menjadi satu dengan organisasi yang berdasar pada kekeluargaannya. Tempat di mana kami kelak akan menjalankan aktivitas bersama, tempat dimana kami bisa mengembangkan dan mencari jati diri kami sebagai mahasiswa yang sebagian besar jauh dari tempat kami dilahirkan.

            Sudah kurancang dalam khayal bahwa kelak aku harus menjadi orang yang bsia memberi diriku untuk ini semua. Mungkin, lewat kekurangan, aku bisa memberi semua yang aku miliki. Kuharap juga bahwa apa yang kupikir ini menjadi satu dengan teman-teman yang lain. Kuharap angan tak salah memilih teman untuk masuk dalam mimpiku.

            “Ketua angkatan, kau jaga kawan-kawanmu. Kau punya beban paling besar di sini. Ingat kau dikasih kepercayaan oleh angkatanmu. Kami semua menunggu kontribusimu.”

            Suara itu berdengung di kepalaku, suara berat dengan nada rendah yang lagi-lagi menjadi momok di pikirku. Aku semakin diam, kali ini kepalaku kian menunduk. Sesuai atau tidak antara ekspektasi dan realita yang akan terjadi kembali kurenungkan. Apa aku bisa? Apa aku sanggup? Kuakui ini terlalu berat untukku terus mengemban. Kuakui ini terlalu lelah untuk otakku agar terus memacu pikir. Untuk mereka. Mereka yang sejatinya bukan siapa-siapa sebelumnya.

            Sembari merenung, kuucapkan janji-janji yang kuyakin bisa menaikkan hasrat dan semangat juangku. Kuulang lagi apa komitmen yang kutulis dan kuucapkan pada mereka, keluarga baru yang ikut bersamaku mengarungi ombak kaderisasi. Aku menenang, detak jantungku mereda sedikit. Senyum-senyum kecil tergurat mulus di bibirku masih dalam kepala yang menunduk.

            “Ikuti kawannya! Jangan sampai ada pegangan yang terlepas!”

            Senyumku sejatinya dijadikan singkat, sesingkat itu. Baru saja aku bisa merasakan sedikit tenang namun kembali detak jantung dan adrenalinku dipacu. Aku berjalan perlahan, sepertinya kami akan dituntun ke tempat dimana kami akan dibina lagi. Setapak demi setapak, masih dalam langkah yang kecil, aku berjalan mengikuti langkah dari teman-temanku yang lain.

            Perlahan langkah teman-temanku semakin cepat, hampir saja genggamanku lepas. Belum lagi, masih ada saja pihak yang berusaha melepaskan genggamanku dari teman yang ada di depanku. Mata yang ditutup, hujan yang sedikit gerimis, dan memang malam yang menyelimuti menghiasi kejadian saat itu. Langkah tanpa arah dan tatapan tanpa cahaya, aku berharap kejadian ini segera berlalu dan bisa merasakan terang itu lagi.

            Naik, turun, naik lagi. Begitu medan yang harus kami lalui. Tak jarang kaki nyaris masuk ke dalam lubang atau bahkan tergelincir kala melewati tangga.Tak kuhitung berapa jumlah anak tangga yang kami lalui atau bahkan berapa kali melintasi belokan untuk sampai di tujuan. Aku serasa boneka yang sedang dikendalikan dan dimainkan oleh anak-anak. Semua yang kulakukan bahkan tak sempat kupikirkan dahulu. Berbeda dengan sebelumnya, kini untuk sekadar berpikir pun aku kesulitan. Fokusku terbelah antara mencari celah untuk melihat lewat kain yang menutup mata dan memaksa kaki meraba-raba jalan yang kelak kutapaki.

            Sesaat langkah terhenti. Mulai terdengar suara gaduh dari kejauhan, ada apa ini? Aku mengambil nafas panjang, setidaknya inilah tarikan pertama yang kulakukan sejak tekanan mulai terasa hari ini. Tiba-tiba satu tanganku terlepas dari genggamannya, langkah mulai semakin cepat. Kembali kuatur kembali posisi tanganku agar tak kecolongan lagi.

            Turun, turun, dan turun. Perlahan kaki menuruni tangga yang rasanya tak asing lagi bagi langkahku. Menurun sekali, berjalan datar, dan menurun lagi hingga tiba di anak tangga paling dasar. Aku yakin ini benar, ini tangga menuju Sunken Court. Tapi, apakah benar? Ah, sudahlah, tak penting menerka-nerka hal yang sejatinya tak dapat kusaksikan dengan jelas.

            Tampaknya, kain yang menutupi mataku tidak terlalu tebal meski diikat dengan erat. Aku masih merasa bahwa kini ada cahaya yang masuk melalu pori-pori kainnya. Perlahan diputar musik mengayun. Lembut, mendayu, dan sedikit menenangkan. Aku tahu lagu ini. Kini mulai banyak tangan yang merangkul dan menyentuh pundakku. Satu persatu suara mulai mengajakku untuk sedikit bercengkerama. Siapa?

            Kini, suara lelaki dengan pengeras suara memenuhi tempat di mana kami berhenti. SK dibacakan.

            “Selamat! Kalian sudah menjadi bagian dari UKSU!”

            Seseorang menyalamiku meski aku masih dalam keadaan tutup mata. Siapa lagi itu? Perlahan instruksi datang agar kami segera melepas ikatan kain yang menutupi mata kami. Aku tak dapat melihat dengan jelas, padanganku kabur, belum lagi kacamata yang sejatinya menjadi separuh hidupku rusak. Kubaca tulisan pada kain penutup mata itu.

            “UKSU ITB 2015”

            Ingin aku menangis, setidaknya bisa merasakan bagaimana kebahagiaan saat ditumpahkan lewat tangisan. Aku terdiam sejenak, masih kupandangi sekitarku. Mata berkaca-kaca. Lihatlah,  mereka begitu bahagia. Teman-temanku bersorak kegirangan tatkala mereka saling menatap dan sadar bahwa inilah puncaknya. Aku masih diam di posisiku, belum kurasakan bagaimana hati ini menarikku untuk ikut merayakannya lewat teriakan bahagia bersama mereka.

            “Tuhan, bila memang waktu yang membuat kami menyatu, aku merasakan waktu itu. Aku merasakan betapa keringat ini jatuh untuk ini semua, untuk teriakan dan tawa dari tiap mereka. Di hadapanku kini terpampang jelas bagaimana kebahagiaan itu selayaknya ditampilkan, di depan mataku disajikan keindahan dari hasil kami selama ini.”

            “Gabunglah, ikut nyanyi sama kawanmu.”

             Aku melompat, masuk ke dalam kerumunan massa yang semakin bergembira. Mars yang kami pedomani dilantunkan. Ya, aku merasakannya, aku merasakan bagaimana seharusnya aku menempatkan diriku bersama mereka. Terbayar sudah, terbayar sudah keringat yang selama ini mengucur tanpa ada imbalan.

            “Kuatkan langkahmu! Tegakkan pandanganmu! Seberat apapun tantangan itu, kami buktikan kami tetap satu. Seberat apapun tantangan itu, kami buktikan kami tetap satu.”

           Wak, kalau kalian mau, kalian bisa jadi apapun yang kalian inginkan di sini sesuai sama tujuan awal. Kalian memilih untuk ikut ambil bagian dalam perjalanan kala itu, tapi sekarang langkah kita bukan lagi searah. Tak ada paksaan untuk tetap ikut melangkah, hanya ajakan, permohonan, dan harapan bahwa kita akan tetap satu. Aku sayang kalian!

T E R I M A - K A S I H

 

  • view 362