Mimpi Pizza

Ronald Jerry Sibuea
Karya Ronald Jerry Sibuea Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Mei 2016
Mimpi Pizza

Berkuliah hingga ke negeri orang bukan patokan bagi seseorang dikatakan sukses. Kesuksesan yang sejati hadir saat kita berhasil memadu semua aspek yang mendukungnya, termasuk kebahagiaan. Setidaknya itulah yang diucap Pak Heri, Guru Agamaku ketika masih bersekolah di SMA Terang. Melanjutkan kuliah di Italia merupakan dambaan bagi banyak siswa/i Indonesia. Hal senada aku rasakan saat mulai memahami apa itu kuliah. Meski siswa/i SMA umumnya lebih digiatkan dengan rutinitas mencari kerja, namun aku punya impian untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Kini, hal itu tak lagi mimpi bagiku. Mimpiku bulat. Agar mimpiku itu cepat terwujud, aku menamainya, ‘Mimpi Pizza’. Bagaimana tidak, bentuk pizza yang bulat dan merupakan makanan khas Italia tentu bisa menjadi motivasi tersendiri bagiku bila mengingat frasa itu, ‘Mimpi Pizza’.

Setelah tiba dua tahun lalu di Bandara Fiumicino, Roma, Italia, kota indah ini sudah layaknya rumahku sendiri. Mungkin saat itu petugas imigrasi kasihan melihat wajah kumal nan kelelahanku.

What will you do in Italy?” hanya pertanyaan singkat itulah yang kudapat.

Oh, my course starts next week.” Begitulah jawabku. Dan sejak itu, aku resmi masuk teritori Republik Italia.

***

Tiupan sepoi-sepoi angin malam Kota Perugia sungguh mempesonaku. Dengan sepiring Arancini, nasi yang dibentuk bola yang lezat dan gurih, dari Sisilia dan secangkir caffe latte, susu dengan campuran sedikit kopi, aku menikmati lembutnya belaian angin menusuk kulitku. Keteduhan dari mentari yang mulai turun ke peraduannya menambah hasrat tuk beristirahat dari segala kesibukan. Ditambah lagi kampusku, Universita per Stranieri (Unistra) di Perugia sedang meliburkan mahasiswanya.

Ketenangan yang kudapat membawaku pada lamunan panjang, terutama pada cara hingga aku bisa berkuliah di negeri orang. Suatu hal yang masih menjadi mimpi bagi tiap pelajar di tempat asalku, Pematangsiantar, Indonesia. Ini awal mula mimpiku.

Di samping rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, kedua orang tua, dan sanak saudara, aku bersyukur karena aku tahu tentang IIC (Instituto Italiano di Cultura) yang menawarkan berbagai beasiswa tiap tahunnya baik program IPA dan IPS, sesuai jurusanku saat SMA. Ucapan syukurku yang terdalam juga kepada deretan sosok yang tak kenal lelah mengajari, mendidik, dan menuntun aku hingga seperti ini.

***

“Jos, nanti pulang sekolah kamu ke kantor guru ya. Bapak mau bicara.” ucap Pak Gama, guru matematika.

“Iya, Pak.” balasku.

Jam pelajaran terakhir memang menjadi momok menakutkan bagi kami siswa/i. Kantuk dan lapar kerap berkolaborasi dengan perasaan jenuh menatap papan tulis dengan coretan-coretan dari guru. Sepertinya, guru yang masuk ke kelas kami harus menyiapkan segala jenis lelucon agar kami siswa/i tidak terlena dan terlelap dalam proses pembelajaran.

“Tak ada bukit yang tak dapat didaki, tak ada lurah yang tak dapat dituruni. Iya kamu, Jos, apa arti dari pepatah ini?” tanya Bu Susi, guru Bahasa Indonesia.

Aku diam, tak tahu harus berkata apa. Kuakui aku tidak pandai, aku kerap kesulitan mencerna pelajaran yang disajikan para guru. Beruntung guru di sekolahku bisa diganggu waktu rehatnya untuk sekadar mendiskusikan pelajaran yang kurang dipahami.

“Ada yang tahu?” tanya Bu Susi mencari siswa lain yang dapat menggantikan aku, untuk menemukan makna pepatah itu, sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menatapku.

“Tak ada pekerjaan yang sukar asal dikerjakan dengan betul-betul, Bu.” ucap Erwin dari pojok kelas. Dibandingkan dengan Erwin, aku memang jelas tertinggal. IQ Erwin sudah melampaui jauh kemampuanku. Hal ini terbukti dari kemampuan Erwin dan kapasitas otaknya mengingat setiap pelajaran dari hari ke hari. Belum lagi untuk mengutak-atik komputer bak membalik telapak tangannya.

Bel tanda berakhirnya proses belajar-mengajar berbunyi. Seluruh siswa dengan sigap membereskan setiap alat tulis dan mungkin makanan yang sedari tadi disimpan di laci. Aku terigat pada Pak Gama yang menyuruhku ke kantor guru sepulang sekolah.

“Tok.. tok.. tok..” dengan sedikit jatungan, kuketuk pintu kantor guru.

“Masuk Jos.” kata Pak Gama.

“Ada apa, Pak?” tanyaku dengan nada gemetar.

“Tadi, bapak dan beberapa guru lain sudah berbincang. Banyak yang kami diskusikan. Salah satunya tentang beasiswa ke Italia.”

Belum sempat mendengar penjelasan akhirnya, aku berteriak kecil,”Yess!!”

“Sabar dulu. Banyak hal yang kami pertimbangkan, termasuk siapa saja yang akan berangkat. Dan kami memutuskan Erwin, Cila, Yuli, Agus, Tori, Rafael, dan kamu. Mereka kami pilih karena kami tahu mereka memang berprestasi. Bapak rasa kamu juga setuju dengan kami. Terkhusus untuk kamu Jos, tanpa bermaksud mengecilkan, hanya saja, masih banyak pertimbangan untukmu. Pak Heri lah yang paling berambisi untuk mengikutsertakan kamu dalam program beasiswa ini. Kamu harus lebih banyak lagi bertanya dan mencari tahu. Mereka yang sukses adalah mereka yang tahu bahwa banyak yang belum mereka tahu.”

“Iya, Pak. Terima kasih.” balasku sedikit berbangga.

Sejak itu, aku semakin giat untuk belajar di sekolah. Tak peduli itu pagi hari, les sore juga kumanfaatkan untuk memuluskan langkahku berkuliah di Italia, negrinya Alesandro del Piero, idolaku.

Setiap jam pelajaran, istirahat, dan waktu luang lain kusikat habis untuk bertanya dan mencari sendiri apa yang masih tertinggal, terutama dalam bidang studi Bahasa Inggris yang punya kendali kuat untukku agar dapat dengan mudah beradaptasi di sana nantinya.

Guru menjadi penyambung antara aku dan mimpiku, mereka menjadi jembatan dimana aku butuh arah dan tuntunan ke masa depanku. Kesuksesan memang tak secara otomatis mendekati apabila aku berkuliah di sana. Namun, setidaknya aku bisa menunjukkan kalau Jos yang selama ini disepelekan teman-teman dapat menjadi anak emas yang membanggakan. Kerja kerasku harus semakin kuat.

“Selamat siang, Pak.” ucapku pada Pak Heri yang memperjuangkan aku agar dapat mengikuti program beasiswa ini.

“Siang, Jos. Bagaimana perasaanmu? Sudah siap?” tanya Pak Heri sambil menepuk pundakku.

“Aku harus siap, Pak. Ini semua kan untuk membanggakan diriku, keluarga, dan sekolah juga. Jadi, aku harus berusaha seoptimal mungkin, Pak.” balasku pada Pak Heri.

Aku bangga bersekolah di SMA Terang ini. Guru-guru menaruh perhatian lebih bagi para siswanya, setidaknya itu yang kurasa tatkala melihat banyaknya siswa/i yang seperti tidak dipedulikan sekolahnya, berkeliaran di pasar, terminal, dan tempat-tempat internet.

Peraturan yang super ketat tak membuatku takut untuk tetap bersekolah di SMA Terang ini, ”Semuanya kan untukku juga.” Begitu aku merumuskan kata-kata agar tak ada kata mengeluh menjalankan peraturan.

Hari demi hari kulalui demi mimpiku, kuliah di Italia. Aku kerap menjadi sasaran guru untuk menjawab pertanyaan agar aku siap dalam tes. Aku tak menganggap itu sebagai hal yang menyudutkan aku. Justru, dari sisi lain aku melihat itu sebagai bentuk perhatian dari guru atas apa yang masih kurang dariku.

“Orang kaya tempat meminta, orang pandai tempat bertanya.”

Barisan kata-kata itu menjadi pedomanku kini. Jangan malu bertanya, mintalah bantuan pada orang yang sanggup menolong dengan kemampuannya. Guru menjadi jawabannya. Setiap didikan dan motivasinya membawa setiap siswa pada kesuksesan. Semua kuusahakan lewat bantuan para guru dan tentunya teman-temanku. Yang paling terpenting, setiap langkahku kini adalah doa yang kelak menghantar aku menuju cita-citaku.

Tiada hari tanpa bimbingan guru. Aku mendapatkan hal yang sejatinya tak kudapatkan sebelum program beasiswa ini. Rangkulan dari guru dan teman-teman di sekolah sungguh menghangatkan jiwa yang tengah berjuang. Tak ada hipotermia, dahaga, atau perasaan lainnya. Semua terasa hangat dan nyaman dalam dekapan mereka.

Kesabaran guru menjawab tiap pertanyaan dan memberi materi pembelajaran khusus rupanya tak sia-sia. Bantuan teman-teman dalam memecahkan suatu masalah pada materi pembelajaran juga sangat membantu. Hari yang dinanti tiba hingga ada 3 nama dari SMA Terang yang berhak melanjutkan kuliah ke Italia. Cila berhasil masuk Unistra Dante Alighieri di Calabria, Tori masuk Unistra di Perugia, di tempat yang sama dengan aku, Jos Sibuea.

***

Buon Anno! Tanti Auguri! Happy New Year! Many good wishes!” tiba-tiba Patrizio, rekan satu apartemen, mengagetkanku.

Dentang jam sudah lebih dari dua belas kali. Langit pekat mendadak pecah oleh percikan kembang api. Patrizio mengajakku berjalan-jalan ke centro, pusat kota Perugia. Pallazo (gedung) abad ke-16 dan 17 begitu menampakkan seni artistiknya dengan sinar warna/i dari kembang api.

Kami tiba di rumah Margherita, sepupu Patrizio. Betapa terkejutnya aku melihat penyambutan yang kudapat. Hidangan yang disajikan layaknya hidangan bagi keluarga kerajaan. Pizza Margherita, begitu ia menamai masakannya. Menu baru ini diracik dengan perpaduan tiga warna indah: merah (saus tomat), putih (mozarella), dan hijau (daun basil) membentuk bendera Italia, merah, putih, dan hijau.

Kekaguman dan rasa syukurku sangat besar pada orangtua, guru, dan teman-temanku. Pengorbanan mereka yang tiada tara membawaku melenggang menuju Italia. Kadarku kali ini memang belum sukses secara utuh. Namun, aku punya modal besar untuk mencapai kesuksesanku dengan lebih mudah. Ini semua berkat kalian. Terima kasih karena kalian mendidikku menjadi generasi yang dapat dibanggakan. Jembatan yang kalian beri tidak akan pernah putus, selalu menjadi jalan bagiku meraih kesuksesan yang sesungguhnya dalam hidup.

Grazie per tutti i bei ricordi che ho di voi!”

“Terima kasih untuk semua kenangan indah dengan kalian.”