Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 18 Januari 2018   13:08 WIB
Perang Politik Dua Darah Biru

Sambil nyemilin micin, gaes, mari sedikit memperhatikan apa yang lagi rame di Kabupaten Pamekasan. Katanya perang dingin mau dimulai. Kita hanya kaum akar rumput kan, gaes. Taunya ikut-ikutan saja.

Kamis, 10 Januari 2018 adalah hari yang sakral (katanya begitu) bagi setiap partai politik beserta calonnya yang bakal diusung untuk menjadi orang nomor satu pada pilkada serentak 2018 di Pamekasan. Partai politik arak-arakan bersama kadernya mengantarkan pengantennya ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menjadi calon bupati dan wakil  bupati Pamekasan periode 2018-2023.

Siapa mereka yang bakal menjadi sosok nomor satu di Pamekasan? Jangan sampai tidak tau, gaes. Salah satu diantara mereka yang menang bakal menjadi pemimpin kita. Tapi mari nyemil lagi baru kita runut satu persatu. Dalam pendaftaran ke KPU, ada dua pasang calon. Pertama, pasangan Kholilurrahman – Fathorrahman. Biar praktis dan mudah diingat, mereka disingkat dengan panggilan “Kholifah”. Singkatan yang mantap kan? Iyalah mantap, masa enggak pulak. Dengan mendengar kata ‘Kholifah’, terbayang adalah pemimpin. Kedua, Baddrut Tamam – Raja’e. Disingkat “Berbaur”. Hmm, ini tak kalah keren. Berbaur artinya mau melebur dengan masyarakat. Kedua singkatan itu kerenlah.

Hadirnya kedua sosok ini, Kholilurrohman (dan pasangannya) dan Badrut Tamam (dan pasangannya) ke KPU kian menegaskan bahwa pilbup Pamekasan memang selalu merupakan perang antar sesama darah biru. Kalian tentu tahu (dan haruslah tahu) bahwa mereka berasal dari keturunan golongan sosial penting yang mempunyai peran siginifikan dalam membina kehidupan masyarakat Pamekasan. Siapa lagi kalau bukan golongan kiai/ulama atau yang masih punya ikatan-ikatan kekerabatan yang dekat dengan kiai/ulama. Fatwa-fatwanya selalu menjadi referensi dalam menjalankan roda kehidupan sehari-hari, tak terkecuali persoalan politik.

Dalam dunia demokrasi, sah-sah saja bagi siapa pun untuk mencalonkan dirinya menjadi orang nomor satu di daerahnya maupun di luar daerahnya; petani, pengusaha, masyarakat sipil bahkan ulama mempunya hak yang sama, yaitu dipilih dan memilih. Maka merupakan hal yang lumrah jika pertarungan perebutan nahkoda baru di Pamekasan menjadi kompetisi antar sesama golongan darah biru.

Melihat rekam jejak ulama/kyai yang selalu menjadi ikon dalam berbagai aspek sosial kehidupan masyarakat, maka ulama mempunyai peran yang luar biasa dalam menentukkan orang yang pantas untuk dijadikan orang nomor satu di Pamekasan. Posisi sosial mereka di mata masyarakat begitu tinggi bahkan lebih tinggi daripada pemerintah itu sendiri, sebagaimana sering kita dengar ungkapan “Buppa’ Babbu’ Guru Rato”. Dari ungkapan tersebut tersirat bahwa posisi yang paling dihormati oleh masyarakat setelah kedua orang tua adalah ulama’.

Dan ini menegaskan sekali lagi, gaes, kalau kalian-kalian mau menjadi pemimpin dan bukan dari trah kiai/ulama, bukan pula masih kerabat kiai/ulama, setidak-tidaknya kalian perlu mendapat dukungan dari kiai/ulama. Sebab implikasi dari posisi ulama, seperti penulis akar rumput ini sebutkan di atas, peran dan pengaruh mereka menjadi sangat luar biasa. Bukan hal yang aneh lagi bila masyarakat cenderung mengiyakan apa yang difatwahkan oleh para ulama’ daripada birokrasi pemerintahan (Rato). Bahkan dalam posisi tertentu ulama menjadi petunjuk bagi masyarakat dalam menentukan sikapnya (memilih) salah satu calon orang nomer satu di Pamekasan pada periode 2018-2023.

Oh iya gaes, jangan lupa ini head to head. Hanya ada dua kubu yang saling bertarung. Pilihannya A atau B. Kalau ada yang di luar A dan B, berarti itu C. Aaaa maksud saya, kalau di luar dua kubu itu berarti dia lebih mencintai si golput. Alias ya sudah, aku nggak mau memilih siapa-siapa. Bagiku, kalian sama-sama sempurna. Terjebak pada dua pilihan. Oh so sulit.

Karya : Sugeng Rojale