Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 26 Oktober 2016   14:12 WIB
KAMBING HITAM YANG AKAN SELALU HITAM

Sebelum mengungkapkan lebih lanjut, ada beberapa alasan yang sangat kuat mengapa tulisan sederhana ini berhasil dilahirkan. Tulisan ini bukan untuk mencari simpati, bukan untuk mengundang lawan, apalagi untuk mendapat jawaban (atau jabatan).

Saya bukan orang yang pandai berkata-kata mengungkapkan isi hati, saya juga bukan orang yang mudah menerima orang lain mengarungi arus hidup saya. Maka dalam kekosongan semangat saat ini, tulisan ini yang akan mewakili hati saya (bukan mulut saya). Karena ketika mulut saya yang berbicara hanya amarah dan kemunafikan yang akan terdengar.

Saya bukan orang yang dengan serta-merta mencari keuntungan dari orang lain. Saya bukan orang yang menyukai kemunafikan diri, bahkan saya alergi dengan orang munafik. Saya lakukan apa yang saya bisa. Saya lakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Beberapa orang tidak akan pernah mampu memahami posisi ini, namun beberapa yang lain mencoba menyelami keadaan ini. Dan sedikit orang yang kuat memahami maksud saya.

Kambing hitam akan selalu hitam, (bahkan ia takkan pernah menjadi putih) yang ada semakin hitam. Kalaupun ia benar, takkan merubah warna hitamnya. Sedangkan apabila salah akan memperparah keadaannya.

 Saya berada disini bukan karena kemauan, namun saya percaya ini takdir Tuhan. Sedikit paksaan bukan masalah berlebihan bagi saya, karena tanpa paksaan hidup tidak ada rumit-rumitnya. Katanya tugas saya menjaga dan membimbing, akan tetapi tidak mudah bagi Saya menjalaninya tanpa “Surat Keputusan” yang jelas. Tugas saya bukan merubah akhlaq mereka, cukup memberikan peta yang mengarahkan ke arah harapan baik. Dalam nurani terdalam Saya, ingin rasanya membuat mereka menjadi lebih baik dari Saya, menjadikan mereka lebih dari apa yang menjadi tuntutan orang tua dan atasan kepada Saya. Hanya saja, ada hal yang saya lupakan dalam ‘pengabdian’ ini, bahwa sejatinya Saya tidak harus memaksakan diri saya (bahkan sampai memaksa orang lain) untuk memperbaiki mereka. Cukup dengan memperbaiki diri mungkin akan sedikit memudahkan penguraian beban hidup ini.

Yang namanya kambing hitam, kesalahan bodoh bisa menjadi boomerang. Namun kebenaran cerdas bukan hal istimewa dimata mereka. Lawan saya bukan hanya anak-anak, yang linier pun melawan kesalahan Saya. Tak cukup sampai disitu, atasan Saya pun menindak dengan hal yang tidak jauh berbeda. Pada siapa saya harus lari?dalam keadaan pasrah saya mampu berpikir jernih, namun ketika amarah menggelayuti otak Saya sampai kapan akan mampu menahan amarah pada yang salah.

Kalaupun ada unsur uang atau jabatan dalam misi Saya disini. Sungguh, saya tidak akan selama ini bertahan. Untungnya, malaikat baik masih menguasai jiwa Saya, sehingga pikiran cerdas takkan menguras airmata ini agar selalu memberi manfaat. Kecintaan Saya terhadap pengabdian bukan sekejap mata Saya ciptakan karena adanya tempat ini. Namun sudah seperempat hidup, Saya memupuknya dengan perlahan merelakan urusan pribadi ter-nomerduakan atas urusan orang lain. Dalam kesakitan, Saya harus merasakan serangan divergen (dari segala arah) yang mampu meruntuhkan semangat hidup Saya dalam sekejap mata. Pun dalam waktu yang bersamaan, Saya sempat lalai memikirkan prioritas pribadi.

Saya mencoba berdamai dengan keadaan, yang sejatinya sangat sulit untuk dilakukan. Bagi saya, cukup dengan mengingatkan dan mengarahkan ke arah yang benar atas kekeliruan yang pernah saya lakukan. Bukan dengan menyindir mesra, bahkan menghakimi tanpa dasar yang wajar. Saya mencoba memahami keadaan orang lain, agar keadaan saya terpahami oleh yang lain. Nyatanya nihil yang selalu menemani perjuangan itu. Tolong, jangan menghitamkan Saya bertubi-tubi, meskipun posisi sebagai kambing hitam.

Terima kasih sudah membaca coretan sederhana ini. Jika tidak terjadi kepahaman disana, bukan masalah serius bagi Saya. Karena memang sengaja tidak ada merk yang jelas ataupun tokoh yang nyata tertulis. Tokoh “Saya” hanya membutuhkan papan ketik (Keyboard) dari layar datar, agar segala penyakit yang ia pendam dalam hati sedikit terobati perlahan. Ini adalah usaha kecil nan sederhana yang mampu dilakukan ketika tak ada orang yang sanggup memperbaiki keadaannya. Ini adalah kegiatan berpikir sederhana yang mampu ia lakukan ketika tak ada orang yang sudi memikirkannya.

 

Karya : Ni'matur Rohmah