welome dream

Faruk Rofiqi
Karya Faruk Rofiqi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Desember 2016
welome dream

“Berapa lama lagi?” tanyaku tak sabar

“sebentar, dua, tiga menit lagi. Mungkin !” jawabnya

“ah.. kau lama sekali, sebentar lagi dia keluar, aku tak ingin momen ini berlalu begitu saja, ayolah”

“sabarlah sedikit, tinggal meratakan rambutnya, kau ingin memberikan gambar yang masih belum rampung ini!”

“baiklah, mungkin aku memang harus sedikit bersabar”

Ya, hari itu adalah tanggal 19 desember, tepat pada hari ulang tahunnya, gadis yang saat ini menjalin hubungan denganku. Langit tampak begitu cerah pagi itu, seakan- akan ia tau bahwa hati ini sedang ceriah seolah-olah juga ikut merayakan ulang tahunnya bersamaku, sengaja kuminta bantuan andi untuk melukis  wajah intan kekasihku, karena memang andi terkenal jago dalam melukis.

Aku akan mempersembahkan lukisan itu kepada intan sebagai kado spesial dariku. Ku mulai terbang terbawa angan yang terus berputar di otakku. Ah betapa bahagianya aku, kulihat intan mulai terlihat dari celah gerbang disana, sepertinya dia tidak sendirian, melainkan bersama seseorang yang tak ku kenal, siapa dia?.

Intan terlihat sedang berbincang-bincang sebentar dengan seorang satpam penjaga, lalu ia mulai melangkah lagi menuju tempat pertemuan yang kami tempati, ia terlihat murung, kulihat matanya berkaca-kaca, tapi ia seperti berusaha untuk tegar.

“kau kenapa?” tanyaku langsung ketika ia sudah di hadapanku, tapi ia diam.

“kami tidak bisa lama-lama disini, kami hanya ingin mengantarkan surat ini padamu, lalu setelah itu kami harus pergi, saya mohon mas faruk segera membalasnya, sebab esok atau lusa, intan akan segera di jemput oleh orang tuanya” temannya yang menjawab.

Aku bingung, dan siapa orang ini?, mengapa ia tahu namaku, kucoba menatap intan, namun intan malah memberikan isyarat agar aku mengerti.

“kami permisi” tiba-tiba tanpa sempat aku menjawab, mereka telah beberapa langkah meninggalkanku.

Ah.. lukisan, mengapa aku lupa memberiakan lukisan ini padanya, dan rencana apalagi. yang tadinya sangat bahagia menyambut ultahnya tiba-tiba mendadak drop disebabkan teka-teki yang diberikan intan.

Surat itu masih menempel ditangnku, surat yang katanya harus segera kujawab, kubawa surat itu ke kamar. Aku ingin memperlihatkan kepada Andi. Entah sejak kapan Andi pergi, dan begitu saja meletakkan lukisan ini disampingku. Kutanyakan keberadaan Andi kepada tema-teman, namun tak seoarangpun dari mereka yang tau.

Aku tambah bingun. Aku butuh teman

***

To : Mas Faruk terkasih

Assalamualaikum Mas, semoga dalam lindungan-Nya

Esok adalah hari paling bahagia dalam hidupku, sebab disaat ultahku kali ini aku akan merayakannya bersama orang yang paling aku cintai, hingga dari bahagia itu akupun lalai dan lupa  kalau tak ada yang tau akan takdir Tuhan.

Begitu yang kurasakan, ketika aku terlarut dalam bahagia. Tuhan menyapaku dan membawa kepada takdir yang lain. Sebuah takdir yang tak pernah kuinginkan selain takdir hidup bersamamu.

Mas, aku ingat ketika ibuku berkata bahwa aku akan dilamar oleh saudara jauh ayahku. Aku tak tau harus apa mas. Perasaanku campur aduk, antara terima atau menolak, jika aku menerima, jujur hati ini selalu berontak sebab hati ini telah jatuh terhadap hati yang lain yaitu dirimu “Achmad Faruk Al-Fahreza” tapi jika aku menolak tentu aku menjadi anak yan paling durhaka, sebab telah mengecewakan hati kedua orang tua.

Bantu aku mas, sengaja aku kirim surat ini hanya ingin mendapat keputusan darimu. Aku mohon jika mas mencintai saya segeralah lamar intan sebelum mereka datang mas, tapi jika tidak, intan tidak bisa apa-apa, intan hanya bisah pasrah.

Maafkan diri ini mas, kutunggu jawabmu segera.

Wassaalam

 

Kekasihmu

Intan el-Zata

***

Degg....

Inikah buah kebahagiaanku tadi, kekecewaan, inikah jawaban atas pertayaanku yang tertahan tadi. Inikah alasan mengapa intan terlihat murung dan berkaca-kaca sehingga sepatahpun ia tak mau berkata padaku. Oh.. Tuhan, apalagi ini. Sungguh besar buruk ini di luar dugaanku. Rasanya baru kemaren aku melihat senyuman manis intan, mengapa secepat ini senyuman itu pudar.

Bukan tidak mau bila harus melamar intan, namun permasalahannya bukan terletak pada kecintaanku padanya, sungguh cintaku padanya melebihi cintaku padaku sendiri, tapi rasanya terlalu dini jika aku harus mengecap rasanya melamar lalu menikah, dan jika aku siap sekalipun,bagaimana dengan impianku, impian yang selama ini aku bangun dengan susah payah.

“Hey. Far, melamun aja” tiba-tiba entah sejak kapan Andi berada di hadapanku dan mengagetkanku. Aku tak meresponnya, aku benar-benar bingung kali ini.

“oh ya gimana pertemuan tadi? Maaf aku tidak bisa nemenin kamu. Aku tadi dipanggil pak rektor”

Andi berbicara panjang lebar, namun tak sedikitpun faruk memperdulikan Andi.

“Far, kamu dengar tidak” dengan lantang Andi berteriak di telingaku, kontan orang-rang yang ada di sekitar terkejut karna aksi Andi ini.

“Aku bingung An!” ucapku akhirnya

“kau bingung aku bahagia!” andi mencoba mencandaiku

“aku seriaus, intan memintaku untuk segera melamarnya”

“itu kan bagus Far, itu pertanda intan serius padamu”

Tapi bukan begitu ceritanya An, aku memang tidak ragu cinta intan kepadaku, tapi masalahnya , jika tidak segera kulamar ia akan dijodohkan denagan orang lain oleh ayahnya’

‘terus bagaimana keputusanmu?”

Itulah masalahnya, kamu kan tau sendiri aku sangat mencintai intan namun jika aku melamarnya sekarang bagaimana dengan usahaku untuk mengejar impianku belajar di eropa, aku bingung An.

Andi tampak merenung lalu berkata

“aku ini sahabatmu Far, jujur jika aku jadi kamu belum tentu aku sanggup menanggung permasalahan yang kamu hadapi saat in. Tapi yang namanya hidup mesti punya tujuan Far, entah tujuan kita itu apa, yang pasti kita tidak harus dihadapi dengan yang namanya memilih, karna hidup itu pilihan, memilih diantara dua jalan yang akan kamu tempuh untuk mencapai tujuan kamu itu . jawaban permasalahanmu ada pada hatimu, kuharap kau mengerti apa yang ku maksud kawan”

“Aku mengangguk” ya aku mengerti

“satu lagi, mungkin ini akan sedikit membantu, tadi pak rektor memberi tau bahwa kita terpilih sebagai penerima beasiswa S2 di prancis, seperti kata impianmu tadi, kau tinggal memilih, kalau aku sudah jelas akan berangkat namun aku belum menandatangani administrasinya, sengaja karena aku ingin bareng sama kamu”

Belum selesai aku memikirkan permasalahanku yang pertama, tiba-tiba aku dibuat tercengeng oleh penuturan Andi barusan.

“benarkah ucapanmu barusan An?” tanyaku tak percaya

“wAllahi, langit bumi menjadi saksi” jawabnya mantap

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, MasyaAllah, Maha besar Allah” aku bersujud besimpuh, inilah cita-citaku, sungguh aku tak percaya, tuhan benar-benar Maha adil,dan inilah jawabannya, jawaban dari semua teka teki yang telah membuatku bak seperti seorang tak punya tujuan.

“Jadi.?????” Ucap andi

“aku tau An ! aku tau, mungkin aku tak dapat melupakannya. Tapi siapa sangka tuhan berkata lain. Segera kita urusi administrasinya aku sudah mantap dengan pilihanku” jawabku mantap

“Alhamdulillah” ucap Andi

***

Sesuai yang telah di tentukan, setelah aku dan Andi menyelesaikan administrasinya  pemberangkatan kami, keesokan harinya kami langsung di berangkatkan. Berdebar ketika aku Soan ke kiai, baru kali ini aku soan pamitan kepada beliau bukan untuk behenti melainkan menjadi utusan pesantren untuk kuliah di prancis, setelah mendengar dawuh-dawuh beliau kamipun dipersilahkan untuk berangkat.

Kami langsung pamitan ke Asrama, kepada teman-teman, terlebih kepada guru-guru, sebab bagaimanapun juga raihan beasiswa ini juga berkat beliau-beliau.

“nak Faruk” tiba-tiba seorang menyapaku, aku menoleh mencari sumber suara tadi, dan..

“bapak Sodik, umi dan Inta” ucapku

“sudah kemas-kemas seperti mau kemana?” tanya pak Sodik

“Alhamdulillah Pak, saya dan Andi terpilih menjadi Mahasiswa di prancis, mohon do’anya pak” jawabku

“Alhamdulillah” ya, semoga sukses kamu Far

“Amin, bapak sedang apa? Tanyaku

“Hmmm.. ini kami akan segera meminta izin kepada kiai untuk membawa pulang intan dan mengabdi di rumah” jawab pak sodik

Kulirik intan, ia merunduk, tak tahan sebenarnya aku melihat sesorang yang paling aku cintai bersedih.

“oh.. ya nak Faruk, jika nak Faruk sempat, datanglah ke acara resepsi walimah intan satu bulan lagi” ucap pak sodik

“wah.. alangkah senangnya saya pak, namun sekali lagi saya tidak bisa berjanji, tapi saya tetap berdo’a buat intan, semoga nantinya dia dapat membina keluarganya hingga sakinah pak” jawabku berat. Intan terlihat menatapku, ia menangis, benar-benar menangis sambil uminya memeluknya.

“kalau begitu saya permisi pak, umi, intan, saya pamit dan mohon do’anya! Oh... ya, ini saya ada sesuatu buat intan tolong buka dirumah saja, dan anggap kalau itu adalah kado buat perkawinan kalian, karna saya tidak bisa datang” aku pamit kepada mereka, dan kuberikan kado spesial itu, kado yang tempo hari tak sempat ku berikan.

Aku melangkah pergi dengan perasaan berkecamuk, Andi menggandengku mencoba menenangkan perasaanku, ingin rasanya air mata ini tumpah saat itu juga, namun ku tahan, dan biarlah tuhan yang menulis takdir diantara kita berdua, aku yakin dengan keputusan yang tuhan buat, toh tuhan adalah segalanya. welcome dream.

  • view 130