Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 13 Juni 2018   20:01 WIB
Atto Sampetoding: Puncak Arus Mudik Terlewati Dengan Baik

Jakarta, 13/6 (Inspirasi) - Berbeda dengan Lebaran tahun-tahun sebelumnya yang mengalami puncak kepadatan arus mudik pada H-3 hingga H-2 hari raya, tahun ini ternyata sudah terlewati pada sepekan menjelang Idul Fitri.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan puncak arus mudik sudah berlalu yang terjadi pada H-7, sedangkan puncak arus balik diperkirakan terjadi 19-20 Juni 2018.

"Saat ini yang mudik memang masih ada tapi bukan puncaknya. Secara umum pelaksanaan mudik berjalan lancar dan aman," kata Menhub kepada pers saat meninjau Pos Terpadu THR Operasi Ketupat Candi Tahun 2018 di Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (12/6).

Dari pantauan Kemenhub, katanya, saat puncak arus mudik tidak terjadi kemacetan parah, karena sejumlah jalan tol baik operasional maupun fungsional sudah beroperasi. Demikian juga dengan kondisi jalan nasional nontol, Menhub mengatakan, kondisinya cukup baik sehingga banyak dilalui kendaraan bermotor pribadi.

Maraknya angkutan gratis yang disediakan pemerintah seperti bus, kereta api, kapal laut yang peminatnya sangat banyak, juga menjadikan masyarakat memilih menggunakan angkutan umum dibanding kendaraan pribadi. Puncak arus mudik tahun ini telah terlampaui dengan baik ujar Atto Sakmiwata Sampetoding di Jakarta, cenderung lancar, sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun Menteri Perhubungan menyatakan puncak arus mudik Lebaran 2018 telah terlewati karena terjadi pada H-7,di sejumlah terminal, stasiun kereta api maupun ruas-ruas jalan yang dilalui pemudik diperkirakan justru terjadi pada H-3 atau H-2.

Salah satu ruas jalan yang menjadi jalur pemudik di lintas Selatan yakni jalur Nagreg menuju Garut, Tasikmalaya, hingga Jawa Tengah. Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung memperkirakan puncak arus mudik di jalur tersebut terjadi pada Rabu atau dua hari menjelang Idul Fitri.

"Berdasarkan catatan kami dalam pantauan traffic setiap harinya terus terjadi peningkatan, tapi prediksi kami sejak awal pada H-2," ujar Penanggung Jawab Posko Pencatatan Induk Nagreg Dishub Kabupaten Bandung, Isnuri.

Puncak arus mudik di lintasan Nagreg tersebut diperkirakan terjadi pada Rabu, hal ini sehubungan dengan mulai liburnya para pekerja di pabrik serta sebagian karyawan swasta lainnya.

"Di Nagreg tetap, puncak arus mudik pada H-2, kalau merujuk catatan tiap tahunnya," katanya.

Apabila dibandingkan dengan tahun 2017, karakteristik mudik di Nagreg pada tahun ini berbeda. Salah satu faktornya yakni panjangnya waktu libur sebelum Idul Fitri. Hal tersebut, menurut Isnuri membuat pemudik memiliki banyak opsi untuk pulang ke kampung halamannya. Pada tahun 2017, tepatnya tiga hari jelang lebaran, antrean kendaraan sudah terjadi sebelum Polsek hingga Cagak Nagreg menuju limbangan Garut. Kendaraan yang tercatat pun mencapai 124.193 kendaraan.

"Jadi di Nagreg itu, dikatakan puncak, apabila dalam satu hari mencapai 120-150 ribu kendaraan," katanya.

Kondisi serupa terlihat pada arus lalu lintas di Simpang Jomin hingga jalur pantura wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang sempat mengalami kemacetan menyusul padatnya kendaraan yang melintas pada H-2 Lebaran. Pantauan Antara, pada Rabu pagi hingga siang, arus lalu lintas Simpang Jomin ke jalur pantura tersendat akibat tingginya volume kendaraan dari dua arah, yakni dari jalan arteri Karawang dan dari Gerbang Tol Cikampek.

Kendaraan yang melintas dari dua arah menuju jalur pantura itu bertemu di satu titik yakni Simpang Jomin, sehingga kondisi arus lalu lintas tersendat. Kemacetan dari jalan arteri Karawang-Cikampek, Simpang Jomin hingga ke jalur pantura diperkirakan mencapai lebih dari lima kilometer. Arus lalu lintas baru lancar selepas wilayah Cikalong atau di perbatasan jalur Pantura Karawang-Subang.

Berlakukan "contra flow" Masih tingginya volume kendaraan yang melintas pada H-2 Lebaran menjadikan petugas memberlakukan "contra flow" atau lawan arus di jalan Tol Jakarta-Cikampek, sejak Selasa (12/6) hingga Rabu pukul 12.00 Wib.

Menurut Kapolres Karawang AKBP Slamet Waloya "Contra flow" mulai dari kilometer 37 hingga kilometer 66 dilakukan untuk mengurai kepadatan di Tol Jakarta-Cikampek. Selain memberlakukan "contra flow", pihak kepolisian juga melakukan sistem buka tutup di sejumlah "rest area" maupun "parking bay" yang disediakan bagi para pemudik.

"Buka tutup kami lakukan disejumlah 'rest area' dan 'parking bay'. Selain itu kami terus melakukan patroli agar para pengendara tidak istirahat di bahu jalan," katanya.

Pemberlakuan "contra flow" dan buka-tutup menuju "rest area" tersebut dilakukan untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas.

Sementara itu, rekayasa lalu lintas juga dilakukan di jalan arteri, yakni dengan mengarahkan pemudik bersepeda motor ke jalur khusus sepeda motor, Lamaran-Cilamaya-Cikalong. Sehingga pemudik bersepeda motor tidak melintasi simpang Jomin yang mulai padat pada Rabu pagi hingga siang.

Sementara itu di terminal terpadu Pulo Gebang Jakarta, Timur menurut Kepala Terminal , Ismanto puncak arus mudik dari terminal tersebut terjadi pada H-3 atau Selasa (12/6), bersamaan dengan karyawan swasta mulai libur bersama . Jumlah penumpang yang berangkat pada H-3 dari terminal tersebut adalah sebanyak 11.832 orang dengan menggunakan 375 bus.

Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan H-4 atau Senin (11/6) yaitu sebanyak 9.848 orang dengan menggunakan 322 bus. Sedangkan pada Minggu (10/6) ada 10.418 penumpang dengan 338 bus, Sabtu (9/6) ada 9.574 penumpang dengan 302 bus, serta Jumat (8/6) ada 8.410 penumpang dengan 287 bus.

Sejak H-7, jumlah penumpang secara keseluruhan di Terminal Pulo Gebang sebanyak 43.143 orang dengan jumlah bus sebanyak 1.554 bus yang berangkat. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, kata Ismanto, meningkat sekitar 31,2 persen.

Jumlah penumpang pada puncak arus mudik pada H-3 2018 dari Terminal Pulog Gebang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai hingga sekitar 13.000 orang. Hal tersebut, lanjutnya, antara lain karena semakin maraknya program bus mudik gratis yang diselenggarakan berbagai pihak seperti sejumlah instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan BUMN.

Pada tahun ini, cuti bersama berbeda-beda untuk setiap instansi. Untuk instansi pemerintah cuti bersama dimulai pada 11 Juni. Namun pada kenyataannya, banyak yang mudik ke kampung halaman mulai 8 Juni. 2018.

Terminal Terpadu Pulo Gebang mulai beroperasi pada 2017. Terminal tersebut melayani pemudik untuk tujuan Sumatera, Jawa, dan Madura. Sementara itu pada dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah jumlah pemudik yang akan pulang ke kampung halamannya dengan menggunakan kereta api di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, diprakirakan mencapai 20.000 orang sedangkan jumlah kereta yang digunakan sebanyak 46 unit kereta.

Senior Manajer Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Eddy Kuswoyo, di Jakarta, Rabu mengatakan sebanyak 44.850 pemudik meninggalkan Jakarta melalui dan Stasiun Gambir dan Stasiun Senen, masing-masing 20 ribu orang dan 25 ribu orang. Pemudik berangkat dari dua stasiun itu dengan tujuan kota-kota di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Jumlah Meningkat

Di beberapa daerah di Indonesia, terutama yang menjadi tujuan pemudik mengalami jumlah peningkatan kendaraan yang masuk pada dua hari menjelang Idul Fitri. Salah satunya jumlah penumpang kereta api yang turun di di stasiun wilayah Daop 3 Cirebon pada puncak angkutan Lebaran 2018 meningkat delapan persen dibandingkan dengan periode sama masa angkutan Lebaran 2017 yang tercatat 9.361 penumpang turun di stasiun wilayah Daop 3 Cirebon.

Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 3 Cirebon, Jawa Barat, Krisbiyantoro mengatakan pada puncak angkutan Lebaran 2018 yakni tercatat 9.694 penumpang yang turun di stasiun.

"Jumlah penumpang yang turun di stasiun Daop 3 Cirebon pada hari Rabu ini merupakan puncaknya yaitu ada 9.694 orang," katanya di Cirebon, Rabu.

Sementara selama sembilan hari masa angkutan Lebaran 2018 sudah ada sebanyak 69.821 penumpang yang turun di wilayah kerja Daop 3 Cirebon. Jumlah kendaraan dari arah barat atau Semarang yang memasuki Gerbang Tol Ngeplak Kabupaten Boyolali, Rabu, pada dua hari menjelang Lebaran 2018 meningkat dibandingkan sehari sebelumnya.

Putri S, satu petugas pintu masuk tol Gerbang Ngemplak Boyolali mengatakan, jumlah kendaraan dari arah barat (Semarang) melalui pintu Gerbang Ngemplak sejak pukul 06.00 WIB hingga 13.00 WIB rata-rata mencapai 200 unit kendaraan per jam. Jumlah itu, mengalami peningkatan sekitar 20 persen dibanding pada H-3 Lebaran.

Kepala Polres Boyolali AKBP Aries Andhi mengatakan volume kendaraan pada arus mudik tahun ini, mengalami peningkatan sekitar 10 persen dibanding Lebaran tahun sebelumnya. Namun, dengan adanya jalan tol arus kendaraan lebih lancar dan cepat waktu yang dibutuhkan sehingga tol sangat efektif.

Arus lalu lintas terutama pemudik di Boyolali jika kondisi normal rata-rata sebanyak 15 unit kendaraan roda empat per menit, tetapi jika kondisi padat mencapai 40 unit kendaraan per menit. Dengan difungsikan jalan tol Salatiga-Solo juga sangat membantu kepadatan arus lalu lintas di dalam Kota Boyolali terutama dari arah barat (Semarang). Menurut dia, Arus lalu lintas di Boyolali berkurang sekitar 50 persen karena pemudik dengan kendaraan pribadi sebagian melalui tol fungsional, sehingga arus lalu lintas di dalam kota lancar.

Di jalur Pantura Tegal, Jawa Tengah, didominasi pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua atau sepeda motor pada Rabu ini atau H-2 Lebaran 2018. Kapolsek Tegal Barat AKP Sugeng saat memantau arus mudik di Pos Layanan Maya, Kota Tegal, Rabu, mengatakan situasi kondisi lalu lintas pada H-2 Lebaran didominasi oleh kendaraan roda dua.

"Situasi pemudik hari ini yang melintas Kota Tegal meningkat terutama didominasi oleh kendaraan roda dua, tapi masih lancar dan terkendali," katanya.

Pemudik sepeda motor, Icung (40), yang akan mudik ke Nyangkringan Weleri mengaku perjalanan mudik untuk tahun ini lebih lancar dari sebelumnya.

Dia bersama istrinya Soleha dengan putrinya Riani (9) berangkat dari Tambun Bekasi, Jabar, Selasa (12/6) setelah shalat Subuh pukul 05.10 WIB mengunakan sepeda motor automatik.

"Berhenti istirahat tiga kali di Tegal Gubug Cirebon, Gebang, dan Kaligangsa Timur Kota Tegal. Macet cuma saat melintas di Kota Cirebon," katanya.

Kecelakaan turun Sementara itu, jumlah kasus kecelakaan yang terjadi dalam Operasi Ketupat 2018 hingga H-3 Lebaran atau Selasa (12/6) sebanyak 771 kasus, turun 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

"Hingga H-3 jumlah kecelakaan lalu lintas 771 kejadian, turun 19 persen dibandingkan dengan Operasi Ramadniya tahun sebelumnya yang mencapai 1.127 kejadian," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Mohammad Iqbal, di Mabes Polri, Jakarta, Rabu.

Secara keseluruhan, terjadi penurunan dampak kecelakaan dalam Operasi Ketupat 2018 hingga H-3 dibanding dengan Operasi Ramadniya 2017, yakni jumlah korban meninggal 163 orang atau turun 41 persen. Salah satu faktor pemicu terjadinya kecelakaan di jalanan saat mudik ke kampung halaman yakni kelelahan yang dialami pengemudi karena membawa kendaraan dalam jarak jauh dan waktu tempuh berjam-jam.

Untuk mengantisipasi hal itu para pemudik dianjurkan beristirahat di tempat-tempat yang disediakan atauapun "rest area" di sepanjang jalur mudik.

Sayangnya menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, saat ini di tol hanya ada dua rest area dan jumlah itu sangat kurang untuk menampung para pemudik yang mencapai ribuan. Oleh karena itu, jumlah tempat istirahat (rest area) di sepanjang jalan tol Cipali arah Jakarta harus ditambah mengingat jalur tersebut merupakan lokasi pengemudi alami keletihan.

"Penambahan lokasi rest atea sangat dimungkinkan mengingat masih banyak lahan datar yang tersedia," katanya.

Atto Sampetoding menimpali, puncak arus mudik Lebaran 2018, yang biasanya merupakan saat-saat "genting" dalam perjalanan menuju kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga telah terlewati dengan lancar. Rasa senang banyak yang diungkapkan masyarakat di media sosial, dengan mengunggah foto-foro dan membandingkannya saat mudik beberapa tahun sebelum pembangunan infrastruktur baru oleh pemerintah ada.

Namun bukan berarti pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya yang berwenang dalam pelaksanaan kegiatan mudik lebaran bisa bersantai, karena sebentar lagi akan berlangsung arus balik yang membutuhkan jaminan kenyamanan, keamanan dan kelancaran. Atto Sakmiwata Sampetoding berharap, pemerintah dan instansi terkait tetap dapat mengawalnya dengan baik.

Karya : Karang Teguh