Pendidikan Karakter untuk Mengatasi Keterpurukan Karakter

Roc Hyati
Karya Roc Hyati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Mei 2016
Pendidikan Karakter untuk Mengatasi Keterpurukan Karakter

Era globalisasi tidak hanya membawa perubahan positif, namun juga berbagai tantangan dan dampak. Sebagai bangsa yang masih kental dengan tradisi “ketimuran”, tidak menjamin bangsa ini terlepas dari berbagai persoalan normatif. Perilaku menabrak etika, moral, dan hukum kerap diperlihatkan, baik dari kalangan pelajar mau pun mahasiswa. Contohnya tawuran antar pelajar, berbagai peristiwa asusila, kriminalitas, penyalahgunaan obat-obatan, yang menjadi menu berita langganan para awak media. Tidak sampai disisni, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi meningkatkan tren pergaulan bebas para pelajar yang semakin hari semakin tidak terkontrol. Perilaku tidak beretika juga ditunjukan oleh kaum akademik. Budaya mencotek yang dilakukan sendiri atau secara bersama-sama dalam ujian nasional terjadi dimana-mana. Bagi kalangan mahasiswa budaya copy-paste, penjiplakan, plagarisme, semakin menjadi-jadi. Bahkan budaya tersebut juga menjangkiti kalangan akademik tingkat doktoral.

Kondisi ini memang memprihatinkan, mengingat dalam bukunya Pendidikan Islam Membangun Manusia Berkarakter dan Beradab, oleh Adian Husaini dituliskan bahwa pendidikan karakter adalah perkara besar, masalah bangsa yang sangat serius. Masalah ini bukan hanya urusan Kementerian Pendidikan saja, namun merupakan tanggung jawab segenap penduduk Indonesia.

Banyak pendidik percaya bahwa karakter suatu bangsa terkait dengan prestasi bangsa itu dalam berbagai bidang. Dr. Ratna Megawangi, dalam bukunya, Semua Berakar pada Karakter (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007) mencontohkan bagaimana Cina mencapai kesuksesan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-an. Menurutnya, pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui suatu proses pendidikan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.

Substansi pendidikan dapat dimaknai sebagai proses budaya yang akan membentuk karakter bangsa menjadi lebih beradab. Adab dan karakter merupakan dua istilah yang berbeda, tetapi memiliki keterkaitan yang sangat erat.Istilah adab memiliki arti yang semakna dengan akhlak, etika, moral, perilaku baik, dan sebagainya. Sementara karakter memilki arti tabi’at, watak, fitrah dan lain sebagainya. Keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Orang yang berprilaku baik (ber-adab), karena ia memiliki karakter baik. Begitu juga orang yang berkarakter adalah orang yang bertabi’at dan membiasakan perilaku baik.

Kedua istilah tersebut, merupakan buah (Atsar) dari pendidikan agama Islam. Ketika seseorang memahami agama dengan sebenar-benarnya, maka akan muncul prilaku yang baik dan terbentuknya karakter (Fitrah) yang suci. Begitu juga sebaliknya, bila pelaksanaan agamanya kurang, maka moral/etika pun kurang, dan tidak memiliki karakter baik, maka pendidikan agama Islam merupakan pembentuk etika dan karakter. Dengan demikian pendidikan agama perlu di ajarkan dan di dalami oleh setiap orang termasuk peserta didik, agar membentukdan berbuah etika yang baik dan memiliki karakter yang suci.

Istilah  adab juga merupakan salah satu istilah dasar dalam Islam. Para ulama telah banyak membahas makna adab dalam pandangan Islam. Istilah adab bisa ditemukan dalam sejumlah hadits Nabi saw. Misalnya, Anas r.a. meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: ”Akrimuu auladakum, wa-ahsinuu adabahum.” Artinya, muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka. (HR Ibn Majah)

Dalam masyarakat misalnya, sesuai ayat yang menerangkan bahwa manusia yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa, maka masyarakat beradab akan jauh lebih menghormati seorang guru di kampung daripada seorang penguasa yang dzalim. Adanya adab juga membawa masyarakat kembali pada nilai Tauhid sebagai adab terhadap Tuhannya. Manusia beradab akan malu jika melakukan maksiat di hadapan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Adab terhadap Rasul menumbuhkan rasa cinta pada tauladan umat yang mulia itu sehingga sunnah-sunnah Rasul pun akan dilaksanakan tanpa paksaan. Inilah Islam yang mengajarkan nilai-nilai adab.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa keterpurukan karakter bangsa ini tidak lain adalah implikasi dari sistem pendidikan yang mengabaikan aspek Ketuhanan. Pendidikan yang ada saat ini masih hanya memberi respon terhadap fitrah keduniawian dan melupakan aspek rohani yang terdiri dari pendidikan karakter dan adab.

sumber gambar : sinarharapan.net

  • view 163