AKU MENULIS TIDAK MENGIKUTI TEMA TANTANGAN YANG DISEDIAKAN

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 21 Oktober 2017
AKU MENULIS TIDAK MENGIKUTI TEMA TANTANGAN YANG DISEDIAKAN

Ada beberapa platform yang menyediakan wadah menulis bagi orang-orang dan memberikan kesempatan untuk di baca oleh orang lain. Lalu platform tersebut mencoba membuat beberapa tantangan menulis untuk membernya setiap minggu dengan tema yang berbeda-beda. Lalu orang-orang mulai berlomba-lomba menulis dengan tema tantangan yang telah disediakan berdasarkan tren atau kejadian yang terjadi saat sekarang ini. Mereka berusaha diminta untuk berkomentar banyak dan beropini ini-itu tentang masalah yang sedang terjadi. Sehingga demi mengejar jumlah pembaca dan skor yang telah ditentukan, agar nanti mendapatkan imbalan sejumlah honor dari platform tersebut. Sehingga timbullah banyak macam opini yang timbul dan keluar dari fakta sebenarnya yang terjadi, karena menulis menjadi tidak mencari kualitas, malah mencoba memberi bumbu-bumbu dalam tulisannya. Timbullah sebuah tulisan abal-abal, cikal bakal, sari pati hoax, lalu tulisan itu di share ke banyak media sosial, dibaca oleh banyak pengguna, opini yang merendahkan kemudian akan terdoktrin ke dalam pikiran masyarakat.

Saya menulis tidak menjadikan honor atau royalti yang didapatkan sebagai tolok ukur. Saya menulis tidak untuk orang lain. Saya menulis tidak terikat tema, tren atau tantangan yang disediakan. Saya menulis tidak untuk memenuhi permintaan pasar. Saya menulis untuk diri saya sendiri, karena menulis adalah semesta kebebasan, keluasan daya cipta.  Jika royalti menjadi tolok ukur, saat tulisan tidak diapresiasi dengan bayaran yang pas, semangat menulis akan menurun. Sama halnya dengan menulis untuk banyak orang, saat tulisan tidak disukai oleh orang lain atau tidak baca oleh orang lain, akan menjadi beban bagi penulis itu sendiri. Bagus atau tidak bagusnya suatu tulisan itu merupakan sebuah perspektif, contohnya, tulisan-tulisan galau akan disukai oleh orang-orang dengan suasana hati yang sedang galau, tulisan-tulisan kasmaran akan disukai oleh orang-orang yang juga sedang kasmaran. Jadi, jika tulisan kita tidak disukai orang-orang, itu wajar-wajar saja, bukan pembaca yang salah, membaca sesuai dengan suasana hati. Sehingga menggantungkan semangat menulis dengan semua faktor itu sama saja membunuh rasa menulis itu sendiri.

Menulis adalah untuk diri sendiri, salah satu media terapi diri, menulis adalah salah satu proses transfer suasana hati, beban fikiran dan daya cipta kepada sebuah tulisan. Eyang BJ. Habibie karena disarankan oleh dokter menulis buku Habibie & Ainun,  karena tidak ada obat untuk mengobati rasa kehilangannya atas ibu Ainun. Oleh sebab itu, beliau menulis untuk menerapi dirinya sendiri, dan beliau tidak pernah terfikir untuk menerbitkan buku tersebut untuk mengejar royalti. Karena harapan akan royalti akan merusak proses menulis itu sendiri dan meniadakan tujuan awal dari menulis tersebut.

Tidak ada salahnya ketika seseorang menulis diary atau jurnal kegiatan harian, kegiatan yang telah mulai hilang zaman sekarang karena telah digantikan oleh gadget. Tidak ada salahnya juga seorang laki-laki menulis diary. Menulis diary tidak hanya bermanfaat bagi pribadi penulis, namun itu juga salah satu cara mengabadikan diri, mengambil pelajaran dari apa yang terjadi hari ini untuk lebih baik hari esok.

Kehadiran platform menulis yang digunakan untuk menginspirasi orang lain sangat perlu diapresiasi, ketika telah menjadi member dari platform tersebut posisikanlah diri untuk menjadi seorang inspirator – seseorang yang menginspirasi orang lain, bukan menyalahkan fungsinya untuk menyebarkan opini-opini yang merusak masyarakat dan medoktrin ke hal-hal yang salah.

Marilah menulis tanpa terikat apapun, tanpa terikat harapan akan royalti, kungkungan tema, harapan di baca oleh banyak orang. Menulislah untuk diri sendiri, karena menulis adalah semesta imajinasi, semesta daya cipta, rugilah orang yang hanya memenjarakan proses menulis dengan faktor-faktor sempit di atas.

Verba Volan, Sripta Manen. Yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi.

  • view 41