SUKINAH TEWAS

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 15 Januari 2017
Sajak ketika Hujan Berderai

Sajak ketika Hujan Berderai


Kamu, adalah kumpulan larik-larik dari sajak panjang yang belum selesai dituliskan.

Kategori Puisi

6.8 K Hak Cipta Terlindungi
SUKINAH TEWAS

Kartika berlari kencang, di jalanan berbatu

dan tanah becek. Kampungnya belum dijamahi

oleh pemerintah dengan uang hasil pajak,

sehingga jalanan belum diaspal dan jaringan

listrik tidak ada di sana. Kartika terus berlari,

senja mulai diusir malam untuk pergi.

Langit mulai gelap, tak ada satupun lampu jalan.

Sepoi angin mulai berkenalan dengan kulitnya

menimbulkan dingin.

 

Di depan rumah berdinding papan, dia

menggedor-gedor pintu. “Assalamualaikum, Assalamualaikum!”

teriaknya dari luar rumah. Tak ada penerangan

di rumah itu, hanya sebongkah cahaya dari

dalam rumah. Sepucuk api lentera berjalan

menuju pintu, membukakan pintu.

“Bapak Tarjo, Ibuk, Pak!, Ibuk”, Kartika terengah-engah

mengatur nafas. “Di jalan menuju kota,

ibuk kecelakaan dengan sepeda motor butut,

di tabrak truk pembawa kopra”.

 

Tarjo terkejut bukan main, dikuncinya pintu,

api lentera masih menyala di dalam rumah.

Tarjo berlari menuju tempat kejadian, Sartika

berlari mengikuti di belakang. Mukanya memerah,

air matanya bergulir jatuh ke pipi. Tarjo hanya kuli tani,

miskin, beberapa bulan ini tengkulak menawar

cabenya murah. Kepalanya berkecamuk, dengan

apa hendak ia bayar rumah sakit, untuk pengobatan

istrinya. Senja mulai hilang, malam datang menyergap.

Tarjo terus berlari, tak peduli kerikil menusuk

telapaknya yang bertelanjang kaki.

 

Istrinya Sukinah, tergeletak di bawah roda

truk pembawa kopra. Truk melindas sebagian

pinggangnya. Motornya terpelanting jauh,

kata polisi Sukinah telah tewas dan tak bernyawa,

mereka menutupi Sukinah dengan lembaran koran.

Di ujung jalan seorang lelaki tergeletak di pinggir jalan,

lagi pingsan dengan tubuh hanya luka-luka,

dia tak semalang Sukinah. Tarjo tertegun, tak tau mau apa.

Semua hal bergejolah di benaknya, rongga dadanya

mau pecah terasa. Orang-orang berbisik-bisik sambil

menatap betapa malangnya Tarjo, “kasihan si Tarjo,

Sukinah, istrinya tukang selingkuh itu dapat batunya juga”.

 

Lentera yang masih menyala di rumah Tarjo,

disenggol Meow, kucing kesayangan Sukinah.

Lentera pecah menumpahkan minyak, api

menyala-nyala di dalam rumah berdinding papan itu.

Kepulan asap tebal, bermekaran di langit,

bisa dilihat dari tempat Sukinah tewas.

 

-ketika hujan berderai 39 (0117)-

  • view 123