CINTA DI RAK TOKO BUKU

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 10 Januari 2017
Cerita-Cerita Rinai Hujan

Cerita-Cerita Rinai Hujan


Cerita-cerita pendek tentang kamu, tentang perempuan penyulam hujan, tentang perempuan pencuri puisi, tentang rahim sungai, tentang jantung laut dan tentang derai rinai hujan.

Kategori Cerita Pendek

1 K Hak Cipta Terlindungi
CINTA DI RAK TOKO BUKU

1.

Selain buih-buih dan hempasan ombak, ada suasana yang paling aku suka, suatu saat ketika pergantian sore dan malam, mereka menamakannya senja. Hidup adalah pergantian berulang, siapa yang akan sanggup mengelaknya. Matahari terbenam dan terbit lagi di ufuk timur, berkali-kali. Setiap pergantian berulang itu, Pertama, akan ada suatu saat dimana kamu akan bertemu dengan hal-hal yang diluar rutinitas, dan itu akan tersemat dengan baik di otak kecilmu, diproses dalam memori jangka panjang, tak akan terlupakan. Kedua, dari semua pergantian berulang itu, akan ada suatu rutinitas yang kamu tidak ingin itu berhenti, dan kamu ingin itu terus berulang, selamanya. Rutinitas yang kamu nikmati.

Beranda di belakang rumah adalah saksi rutinitas yang membisu, disana rutinitas itu menjadi indah. Disana berdiri sebuah meja kecil dengan dua kursi, tiap sore aku duduk di kursi itu, kamu di kursi sebelahnya. Di meja akan ada dua cangkir teh untuk kita berdua dengan sepiring biskuit. Kita nyaman duduk disana, menikmati pergantian sore dan malam, mereka menamakannya senja. Rutinitas yang aku tidak ingin itu berhenti, hingga kita tua nanti.

Jodoh adalah segala sesuatu di luar kuasamu, semesta mendukung semuanya hingga kita dipertemukan, segala sesuatu di luar rutinitas yang tak bisa aku lupakan. Aku juga tidak pernah menyangka Silent Spring yang ditulis oleh Rachel Carson itu mempertemukan kita, di toko buku pula.

 

2.

Setiap Jum’at sore sepulang dari kampus, aku selalu berjalan di Jalan Rasuna Said menuju toko buku. Toko buku hanya sekitar dua blok dari kampus tempat aku mengajar. Aku akan selalu menyempatkan diri untuk mampir di toko buku itu, kadang hanya untuk melihat buku-buku baru. Sore itu ada beberapa buku yang menarik perhatianku, sayang rasanya jika buku itu tidak berpindah tempat ke rak buku di rumahku. Aku mengantri di belakang seorang perempuan, perempuan yang membeli salah satu dari buku Sapardi Djoko Damono. Setelahnya, kemudian Aku menyerahkan dua buah buku yang menarik minatku kepada kasir, Look Homeward Angelnya Thomas Wolfe dan Into the Wildnya Jon Krakauer. Bukan berarti buku itu baru terbit, namun baru hadir di toko buku tersebut.

 

3.

Jum’at berikutnya aku tidak akan pernah absen menuju toko buku. Buku yang kubeli hari jum’at bisa jadi temanku pada sabtu malam. Aku berjalan di rak-rak buku klasik, secara umum semua buku yang aku suka di rak buku ini telah aku miliki, tak ada buku baru yang datang, gumamku dalam hati. Para petugas lalu lalang melayani orang-orang yang tak tau letak buku yang hendak mereka cari, diantara orang-orang tersebut aku melihat perempuan itu lagi. Dia berdiri di sederet rak yang bertuliskan ‘Sastra Indonesia’, rak-rak yang penuh dengan buku-buku Sapardi Djoko Damono, Aan Mansyur, Rendra, Chairil Anwar, Pramudya ananta toer dan sastrawan Indonesia lainnya. Dari selera buku yang ia amati lama, aku menilai dia adalah seorang penyair mungkin, atau seorang mahasiswa yang sedang mencari literatur tentang Pujangga lama. Dari segala hal tentang buku yang ia suka, ada satu hal yang menarik bagiku, dia selalu ada di sore Jum’at tiap minggunya. Dari sekian minggu sebelumnya, meski tidak selalu aku perhatikan, dia selalu ada setiap sore Jum’at. Melihat-lihat buku, kemudian membelinya.

Sore ini toko buku itu belum berhasil merogoh sakuku, tak ada buku yang menarik minggu ini. Kemudian aku berjalan keluar dari toko buku dengan tangan hampa, dari kejauhan aku melihat perempuan itu lagi, menenteng salah satu buku Sapardi Djoko Damono lagi lagi, menuju kasir.

 

4.

Karena rutinitasku setiap minggu ke toko buku, hingga penjaga tempat penitipan tas mengenalku.

“bagaimana kuliahnya hari ini, Pak?” ucapnya basa-basi, sambil menerima tas yang aku titipkan.

“sama seperti hari-hari lainnya” jawabku sambil tersenyum.

Aku kemudian berjalan ke dalam toko buku dan mengamati onggokan buku-buku baru. Tanpa aku sadari, aku sampai pada susunan rak dengan tulisan ‘Sastra Indonesia’. Dari semua buku yang ada di sana, aku menjadi penasaran dengan Sapardi Djoko Damono yang mengingatkanku kepada perempuan minggu lalu. Aku membolak-balik lembaran buku yang beliau tulis dan penuh dengan puisi-puisi. Buku itu aku kembalikan ke tempatnya semula. Aku tersentak, dari balik rak, aku melihat perempuan yang sama di minggu lalu dan minggu-minggu sebelumnya. Perempuan dengan struktur tulang wajah yang pas dan binar mata yang anggun. Aku tak sengaja menatapnya, jantungku berdesir dan berdegup cepat, aku tak pernah melihat wajahnya dalam jarak dekat, dan ternyata begitu merona. Dia kemudian tersenyum dan mengangguk kecil kepadaku, kemudian berlalu. Dunia serasa beku, tanganku masih memegang buku Sapardi Djoko Damono, saat itu terasa seperti puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.

Dari balik rak dan diantara buku-buku, aku melihat perempuan itu terus berlalu menuju meja kasir. Aku memperhatikannya lama, ada perasaan aneh di dadaku, serasa para penyair menulis puisi-puisi di jantungku. Aneh, tapi indah. Beberapa buku Sapardi Djoko Damono aku tarik dan aku bawa ke meja kasir. Sebelum ke meja kasir aku berjalan memutar menuju rak-rak buku klasik, hendak melihat-lihat saja, mungkin ada buku baru yang datang. Sepanjang rak buku klasik tidak ada sesuatu yang menarik, hingga mataku sampai ke suatu titik dimana sebuah buku hijau tergeletak sendiri. Tulisannya dengan jelas terbaca ‘Silent Spring’ oleh Rachel Carson, itu buku Rachel Carson terakhir disana. Tanganku telah menggenggam dua buku Sapardi Djoko Damono, jatah anggaran bukuku setiap minggu hanya untuk dua buku. Aku menatap buku hijau klasik itu dalam, di sudut paling bawah rak aku melihat ada sebuah ruang kosong. Aku menyembunyikan buku hijau tersebut di sudut rak paling bawah. Tidak akan terjangkau oleh pandangan orang-orang mungkin. Silent Spring tersebut aku jatahkan untuk dibeli minggu depan.

 

5.

Seperti biasa, tidak ada yang istimewa, jumat sore, berjalan di Jalan Rasuna Said, menuju toko buku, membeli buku, teman sabtu malam. Seperti rencanaku minggu lalu, Silent Spring akan aku genggam dan bawa ke kasir. Aku langsung berjalan tanpa singgah dulu ke pojok sastra, namun langsung ke rak-rak buku klasik tempat Silent Spring aku sembunyikan. Tidak lebih lima meter dari tempat aku berdiri, seseorang mengamati sebuah buku hijau di sudut rak paling bawah. Tanpa pikir panjang, orang tersebut membawa buku tersebut ke meja kasir. Aku berlari ke arah tempat Silent Spring aku sembunyikan, namun orang tersebut telah merenggutnya. Aku perhatikan dengan seksama, orang yang berjalan pelan ke arah meja kasir itu, ternyata perempuan penggemar Sapardi Djoko Damono minggu lalu. Dia membayar ke kasir, dan buku tersebut telah resmi menjadi miliknya. Aku hanya menatap panjang.

 

6.

Hari Jumat minggu depan, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Menelantarkan sesuatu yang aku suka di ruang publik. Aku hanya kurang puas, perempuan yang suka sastra dan penggemar berat Sapardi Djoko Damono itu, 180 derajat berganti minat dengan kumpulan buku-buku klasik. Aneh. Aku berjalan di rak buku sastra, aku juga baru menyadari bahwa 180 derajat perempuan itu telah mengenalkan aku kepada larik-larik para penyair, mulai dari pujangga lama, pujangga baru, hingga penyair masa kini. Aku memperhatikan buku-buku, mungkin ada sesuatu yang akan menarik minatku. Tanpa sengaja, aku menoleh ke arah kanan, disana telah berdiri perempuan minggu lalu, yang ‘mencuri’ buku Silent Spring ku. Dia menatapku lama, kemudian tersenyum, manis sekali. Dia kemudian membalikkan badan, kemudian menyelipkan sebuah kertas di antara buku-buku Amir Hamzah, dan berlalu.

Perempuan itu telah membuat penasaranku meluap berkali-kali lipat. Aku berjalan ke arah deretan buku Amir Hamzah setelah dia pergi. Aku mencari-cari kertas yang ia selipkan tadi, perempuan itu ingin bermain teka-teki.

Spring now comes unheralded by the return of the birds, and the early mornings are strangely silent where once they were filled with the beauty of bird song.

R. C.

Kirana.

Dia menuliskan kata-kata yang dia kutip dari Silent Spring, ‘R. C’ adalah inisial untuk ‘Rachel Carson’, dibawahnya ada tulisan Kirana. Dia telah mulai membuka diri, Kirana adalah namanya. Aku kemudian mengambil pena dan menuliskan kutipan dari Henry David Thoreau, di dalam Walden,

There was eternal spring, and placid zephyrs with warm

Blasts soothed the flowers born without seed

D. T.

Alex.

Aku kemudian menyelipkan kertas itu di antara buku-buku Pramudya Ananta Toer, kertas itu akan aman disana, karena orang-orang sekarang sudah tidak suka lagi karya sastra lama. Aku tidak tahu apakah kertas itu akan dibaca Kirana, atau petugas toko lebih dulu menemukannya.

 

7.

Minggu depan, di hari yang sama. Aku berjalan di rak buku sastra, aku melihat-lihat disekitaran rak, bukan melihat buku-buku, tapi mencari-cari, pasti ada selipan kertas lagi. Aku melihat ada sedikit sobekan kertas yang keluar dari buku-buku Eka Kurniawan. Kemudian aku mengambilnya.

The true harvest of my daily life is somewhat as intangible and indescribable as the tints of morning or evening. It is a little star-dust caught, a segment of the rainbow which I have clutched.

D. T.

sartikakirana@gmail.com

Kirana mengutip Thoreau lagi, masih di buku yang sama ‘Walden’. Dia pasti punya Walden di rumahnya, mungkin dia adalah salah satu mahasiswa Filsafat atau mungkin dia naturalis. Tapi dia menambahkan satu informasi lagi, sebuah alamat e-mail. Saya kembali menulis lagi dibalik sobekan kertas itu, dan kembali mengutip orang yang sama, Thoreau di dalam Walden,

Rather than love, than money, than fame, give me truth.

D. T.

Alex.bio.res@multiply.com

Kertas itu kembali lagi menyatu di antara buku-buku Pramudya Ananta Toer.

 

8.

Minggu depannya, namun kali ini tidak hari Jumat, satu hari sebelumnya, Kamis. Di dalam kotak masuk e-mailku, dari Kirana. Jantungku berdegup agak kencang. E-mail itu berisi kutipan lagi, dari Annie Dillard, Holy the Firm.

There are no events but thoughts and the heart’s had turning. The heart’s slow learning where to love and whom.

Aku semakin penasaran dengan perempuan yang satu ini. Perempuan yang membuat jantungku berdesir ketika memandangnya. Aku kemudian menyentuhkan jemariku di tuts-tuts komputer. Aku berfikir sejenak, apa yang hendak aku tulis.

 

Jumat, 26 Juli.

Halte depan toko buku.

16.30 WIB.

 

Kemudian aku mengirim Email singkat tersebut.

 

9.

Jumat, 26 Juli. Aku berusaha datang lebih awal dan menunggu Kirana datang, 16.15 WIB, masih ada 15 menit lagi. Aku tidak tau, tubuhku semakin gugup, jantungku bergetar lebih cepat.

 

16.20 WIB. Rinai berderai dari langit, digugurkan oleh awan-awan. 3 menit lagi, aku ragu Kirana akan datang, karena hujan. Aku masih menunggu, waktu terasa semakin panjang. Jam terasa bersekutu, 10 menit terasa sangat lama, namun hujan masih berderai.

 

16.30 WIB. Diantara kerumunan, seorang perempuan di seberang jalan, di bawah payung bening, berdiri. Dia menoleh mencari-cari. Aku kemudian menatapnya, begitu menawan. Dia kemudian menatapku, kemudian tersenyum. Semuanya terasa indah, wajahnya samar di balik rintik-rintik hujan, berjalan perlahan. Aku kemudian membalas senyumnya, dengan agak kaku. Aku ingin sore itu beku, agar sesaat itu abadi.

 

10.

Senja di beranda, menyeruput secangkir kopi di sampingmu. Aku ingin hingga tua seperti itu.

“Sayang, kamu ingat tiga tahun yang lalu di toko buku? Kamu menyembunyikan buku Silent Spring di sudut rak. Aku memperhatikanmu waktu itu, aku memperhatikanmu menyembunyikannya” Ucap kamu tiba-tiba.

Aku menoleh dan agak tersentak, kamu juga menoleh kepadaku, sambil tersenyum manis.

“hari Jumat seminggu setelahnya, saat aku melihat kamu baru datang di pintu toko buku, aku sengaja mengambil Silent Spring itu, agar kamu mengetahui bahwa yang membeli buku itu adalah aku” sambungmu lagi.

Aku masih memperhatikanmu, kamu menoleh lagi, tersenyum lagi, manis lagi.

“aku telah lama mengenalmu, aku mengenalmu dari buku-buku yang kamu baca. Biasanya setelah kamu pulang membawa sebuah buku, aku selalu menghampiri rak-rak tempat buku-buku yang kamu beli, aku kemudian membelinya juga. Aku ingin mengenalmu dari pikiran-pikiranmu, dari sudut pandangmu, sebelum aku mengenalmu dari wujud aslimu. Sejak kita pertama kali berkenalan dan bertemu, aku melihat Carson, Thoreau, Tagore, Hemingway, Tolstoy, Wolfe dan Krakauer di wajahmu, mereka telah membentukmu menjadi orang paling bijaksana dan sederhana yang kukenal.”

Kamu masih menatapku, sambil menopang dagu, tersenyum manis lagi.

“aku juga ingin kamu mengenalku, menarikmu untuk kenal pemikiran dan sudut pandangku dulu, sebelum kamu kenal wujud fisikku. Di toko buku, dengan perlahan aku menarikmu untuk tau siapa aku dari semua buku yang aku baca.” Lanjutmu.

Matamu berbinar, menatapku memperhatikanmu.

“saat aku menatapmu, aku melihat Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Amir Hamzah, H. B. Jassim, Pramoedya, Marah Rusli dan Aan Mansyur. Kamu adalah puisi, puisi paling indah yang pernah aku miliki.” Aku membalas percakapanmu.

Kita saling bertatapan, kemudian saling tersenyum, manis sekali. Aku ingin tiap senja di beranda itu abadi, karena selalu ada kamu di dalamnya.

***

 

 

You are what you read !

DR. Peter Hammond

  • view 280