KEPADA TUHAN YANG SAMA

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 11 November 2016
Cerita-Cerita Rinai Hujan

Cerita-Cerita Rinai Hujan


Cerita-cerita pendek tentang kamu, tentang perempuan penyulam hujan, tentang perempuan pencuri puisi, tentang rahim sungai, tentang jantung laut dan tentang derai rinai hujan.

Kategori Cerita Pendek

882 Hak Cipta Terlindungi
KEPADA TUHAN YANG SAMA

1.

Seorang perempuan memperhatikan suaminya dari balik kaca ruangan ICU dengan air mata yang berlinangan. Tidak ada seorangpun pengunjung untuk sementara dibolehkan masuk ke dalam ruangan tersebut. Perempuan itu komat-kamit membaca doa, di dalam hati semoga Tuhan menyelamatkan suaminya yang telah babak belur oleh amukan massa. Di sudut ruangan lain pada ICU yang sama. Seorang perempuan lain juga memperhatikan suaminya, tergelatak tak berdaya. Kepala suaminya bocor terkena pentungan petugas. Ia tidak dapat melakukan apa-apa, ia hanya mampu berdoa dengan anak sungai yang mengalirkan bulir dari kelopak matanya. Semoga Tuhan menyelamatkan suaminya, gumamnya dalam hati.

 Kedua perempuan itu, berdoa kepada Tuhan yang sama.

 

2.

Shubuh kali ini terasa sangat dingin, udara dingin menjilat-jilat pori-pori kulit dan menggapai-gapai untuk meresap masuk. Hati Sartika juga terasa dingin, tidak tau ia harus berbuat apa. Sartika hanya menyiapkan kelengkapan suaminya. Sebenarnya dia telah sering mengalami hal seperti ini, saat suaminya ditugaskan ke daerah konflik. Namun, hari ini suaminya ditugaskan dengan tugas yang berbeda dari sebelumnya. Tugas suaminya hari ini mencoba mengoyak luka lama lagi, menusuk-nusuk traumanya lagi. Ia tak ingin apa yang pernah terjadi pada Ayahnya dulu pada tragedi 98, menimpa suaminya pada hari ini. Dia hanya mampu mengirim berkodi-kodi doa untuk keselamatan suaminya.

Sudibyo, suami Kartika, adalah seorang prajurit TNI. Hari ini Sudibyo ditugaskan untuk menjadi tim pengamanan demonstrasi 411. Sebuah demonstrasi terbesar setelah demonstrasi 98 yang mungkin akan mendatangkan ratus-ribuan orang dari setiap pelosok negeri. Dari kedalaman pupil kartika, Sudibyo dapat membaca mata istrinya, mata keraguan dan kekhawatiran yang sangat.

“Sayang, kamu tidak usah terlalu khawatir, ini adalah aksi damai, semua akan aman-aman saja” ucap Sudibyo kepada Istrinya.

“aku hanya khawatir mas, tembakan-tembakan saat peristiwa yang pernah menimpa bapak masih terngiang-ngiang di telingaku” Balas Sartika sambil mengancingkan baju suaminya.

Sambil membetulkan letak kerah baju suaminya, ada ketidakrelaan di dalam setiap gerak tangan Sartika. Di dalam kedalaman mata Sartika, Sudibyo mampu menangkap itu. Sebagai istri seorang prajurit, Sartika telah tau konsekuensinya. Konsekuensi itu juga telah dirasakan dulu oleh Sartika sebagai seorang anak prajurit. Ayahnya tewas di medan perjuangan mahasiswa, ditembak oleh salah satu oknum Mahasiswa yang membawa senapan. Mahasiswa yang menuntut balas atas kematian Elang Mulia dan kawan-kawan pada tanggal 12 Mei 1998. Peluru senapan itu tepat menembus dahi bapaknya, yang waktu itu sedang mengamankan demonstrasi. Peluru itu juga meninggalkan bekas di dalam hati dan pikiran Sartika, Bapaknya menjadi korban dari dendam yang tak bertuan. Hingga saat ini, tidak pernah ada yang tau siapa oknum yang membalaskan dendam atas kematian Mahasiswa Trisakti tersebut.

Dari depan pintu rumah, Sartika menatap suaminya lama. Sudibyo terus melangkah menjauh meninggalkan rumah. Ada perasaan was-was yang ditinggalkan Sudibyo di hati istrinya, dan ada berkodi-kodi doa yang telah dibungkus Sartika untuk dikirimkan kepada Tuhan, doa yang berisi lusinan permohonan keselamatan untuk Sudibyo.

Pagi itu, hujan baru reda dari derasnya tadi malam, hujan yang berkepanjangan, untung saja Jakarta tidak banjir.

 

3.

Seminggu sebelumnya, di pinggiran kota Banten. Seorang guru ngaji yang sangat tersinggung ayat-ayat kitab sucinya dinistakan oleh seseorang dari Ibukota Negara. Setelah itu dia mendengar kabar akan adanya aksi damai yang akan diadakan pada tanggal 4 November. Mahmudin menjadi sangat antusias untuk berperan serta dalam aksi. Walaupun hanya ikut sebagai peserta dalam aksi tersebut, setidaknya dia telah melakukan sesuatu untuk membela agamanya. Perihal itu, dilontarkannyalah ide tersebut kepada istrinya, sepulang dari mengajar mengaji di Masjid.

“Ibu, saya hendak ke Jakarta tanggal 3 November, untuk ikut serta dalam aksi damai seperti yang disiarkan berita-berita” kata mahmudin kepada istrinya, Aminah.

“biayanya darimana pak? bukannya uang kita sekarang hanya cukup untuk bertahan hidup bulan ini. Lalu nanti warung baksonya gimana pak?” Aminah sebelumnya mengajukan beberapa pertanyaan kepda suaminya.

Mahmudin selain mengajar ngaji juga menjual bakso di warung kecilnya, warung bakso tersebut adalah sumber utama penghidupan bersama dua orang anak anggota keluarganya.

“Bapak cuma pergi sekitar dua hari saja bu, nanti ibu saja yang jualan di kedai sampai bapak pulang. Kalau untuk biaya, kata tim di Balaikota, bagi orang yang ingin ikut berpartisipasi pada unjuk rasa itu nanti akan dibiayai akomodasinya buk” terang Mahmudin.

“Biayanya itu dari siapa, Pak? Apakah dari pemerintah? Apakah Bapak yakin untuk pergi?” tanya istrinya lagi.

“kurang tau Bapak darimana biayanya itu bu, tapi setidaknya saat Bapak bergabung dalam aksi itu, Bapak telah melakukan sesuatu untuk membela Agama kita” terang Mahmudin lagi.

Aminah menatap dalam mata suaminya, ada suatu keinginan yang mesti terwujud di dalam pupil mata Mahmudin. Keinginan itu, tergantung dari restu yang diberikan Aminah.

“Iya Pak, hati-hati dalam perjalanan nanti, Ibu selalu mendoakan kebaikan untuk Bapak” Aminah mengabulkan permohonan Mahmudin dengan sebuah senyuman restu.

 

4.

Mahmudin berangkat menuju Jakarta pada sore tanggal 3 November bersama tim dari Balaikota. Tujuan mereka sekarang adalah Masjid Istiqlal, Jakarta. Disanalah pusat berkumpul dan Komando yang akan dilangsungkan besoknya, 4 November. Setelah sampai di Istiqlal, ada lautan manusia yang telah bergabung dari berbagai pelosok negeri untuk membela agama mereka. Tercatat dalam sejarah bahwa Shalat Shubuh dan Jumat pada 4 November tersebut, Shalat Shubuh dan Jumat terbanyak di Istiqlal.

Malam Jumat itu, hujan begitu deras melanda Jakarta, untung saja tidak banjir, Ibukota yang sedang sibuk kasak-kusuk itu.

Usai Shalat Jumat berjamaah di Masjid Istiqlal ada sekitar 200ribuan manusia yang menjadi lautan susu dan mengalir pelan menuju Istana Merdeka. Lautan susu tersebut terjadi karena setiap orang yang tergabung memakai pakaian serba putih, termasuk di dalamnya Mahmudin yang memakai pakaian putih terbaiknya.

Lautan susu tersebut merupakan kumpulan buih-buih yang terorganisir dengan baik dan Masiv, yang perlahan beriak menuju Istana Merdeka. Lebih dari 200ribu manusia terorganisasi dengan baik, sebuah unjuk rasa yang berlangsung dengan tertib. Jika seluruh dunia ingin mengambil contoh sistem demonstrasi yang nyaris sempurna, mungkin aksi damai inilah contohnya. Mengapa demikian, demonstrasi ini terstruktur dengan baik. Ada orang-orang yang bertugas menjaga kebersihan, menghimbau semua peserta aksi untuk tidak membuang sampah sembarangan dan membuangnya pada plastik hitam yang telah disediakan.

Selain itu, juga terdapat orang-orang yang bertugas untuk menjaga taman kota agar tidak diinjak-injak oleh peserta aksi. Ada orang-orang yang bertugas menjadi tim logistik untuk masing-masing sub-tim. Ada orang-orang yang membagi-bagikan minuman dan snack. Ada orang-orang yang bertindak dalam tim yang dinamakan dengan Masjid berjalan, mereka menyediakan tempat wudhu, dan alas shalat, agar peserta aksi tidak meninggalkan shalat mereka. Ada orang-orang yang bertindak sebagai tim medis. Semua terstruktur dengan baik. Mungkin itu merupakan momen saat mereka ingin mengatakan bahwa itulah Islam sebenarnya, sesuatu yang telah teratur rapi, sesuatu yang indah, sesuatu yang tidak seperti yang dikabarkan oleh media-media selama ini. Islam bukanlah agama anarkis atau agama yang hanya berisi ekstremis-ekstremis. Jika suatu saat di masa depan, aksi-aksi demonstrasi ingin mengambil suri tauladan, mungkin aksi 411 salah satu pilihan yang tepat. Jika Presiden menginginkan revolusi mental, inilah revolusi sikap yang luar biasa dari gerakan manusia yang masiv. Revolusi mental tersebut telah tertanam dalam ajaran agama Islam, hanya pengikutnyalah yang malas untuk menjalankan.

Mahmudin terus berjalan di garis depan. Bersama ombak lautan manusia menyisir jalanan hingga ke depan Istana Merdeka. 100 meter dari pagar Istana Merdeka telah berdiri barikade tim pengaman yang terdiri dari Polisi, Brimob dan TNI. Sudibyo juga berdiri dengan tegap disana, bersama rekan-rekan TNInya yang lain, memakai perlengkapan lengkap untuk keamanan diri.

Sudibyo tidak pernah membayangkan, demonstrasi yang dia amankan, begitu tertata dengan rapi, tidak ada perlawanan, tidak ada provokasi, jika memang adapun provokasi, itu bisa didinginkan dan teratasi dengan baik. Semua terus begitu hingga sore hari, hingga kesepakatan demonstrasi berakhir pada jam 6 sore.

Sartika terus memantau berjalannya aksi dari rumah melalu televisi. Sartika lega tidak ada sesuatu yang berarti yang terjadi selama aksi.

 

5.

Aksi telah selesai sesuai yang disepakati bersama tim pengaman, jam 6 sore, massa bubar. Semua massa telah berangkat pulang ke rumah masing-masing, kecuali massa yang masih bertahan di depan Istana Merdeka, menunggu kendaraan dan instruksi dari koordinator mereka masing-masing. Sama halnya dengan Sudibyo, mobil angkutannya belum datang. Keadaan menjadi tidak sekondusif tadi siang. Setiap orang kehilangan koordinator mereka masing-masing, setiap orang telah lelah dari tadi siang, setiap orang ketinggalan rombongan, setiap orang merasa lapar, setiap orang merasa kepanasan. Namun Mahmudin masih mencoba sabar dan menahan diri. Sebagian besar massa yang akan pulang besok harinya, berangsur beranjak ke Gedung DPR RI, katanya mereka dijanjikan boleh menginap disana.

“Sekarang waktunya melakukan rencana kita” ucap salah seorang berdasi yang berada entah dimana, berbicara dari gagang telepon kantornya.

“Oke Bos” jawab seseorang di seberang gagang telepon tersebut.

Pria berdasi terus mengamati dari siaran langsung yang ditayangkan TV Nasional.

“sekarang waktunya !” ucap pria misterius bawahan pria berdasi tadi, memberikan kode kepada yang lain, bahwa saatnya mereka beraksi.

Sekelompok pria yang berpakaian putih-putih, layaknya Ormas-ormas Islam, maju ke depan barisan, membawa potongan-potongan bambu dan kayu. Secara langsung mereka menyerang petugas pengaman, mencoba menerobos masuk ke Istana Merdeka. Mereka memukul-mukulkan kayu dan bambu kepada petugas. Petugas mencoba bertahan. Sudibyo berada di barisan paling depan petugas, dengan sekuat tenaga dia mencoba menahan massa yang mengamuk tanpa sebab. Sudibyo terus didesak ke belakang, tanpa sadar, Sudibyo terpeleset oleh kerikil-kerikil yang berserakan. Sudibyo terhenyak, ada puluhan batangan kayu dan bambu yang mengarah kepadanya, Sudibyo remuk, tak sadarkan diri.

Mahmudin melihat kejadian tersebut secara langsung, kemudian ia berinisiatif untuk melindungi Sudibyo dari amukan massa yang tanpa sebab. Mahmudin melindungi Sudibyo.

“Sudah !, sudah !” teriaknya kepada massa yang tidak dikenal.

Sesaat kemudian, saat Mahmudin melihat ke arah depan, sekejap mata, pentungan petugas mendarat tepat di kepalanya. Petugas menyangka dia adalah salah satu pelaku penyerangan di tengah kekacauan yang terjadi di malam itu.

Mahmudin kemudian kepayang, pandangannya kabur, ia meraba kepala belakangnya dengan tangan, ada darah yang menganak sungai, dan pingsan.

Api pada malam itu, menyala-nyala dari mobil-mobil petugas.

Gas-gas air mata beterbangan, memenuhi udara yang pengap karena asap.

Aksi yang indah dari siang itu, kemudian direnggut oleh sekelompok pria yang memakai baju-baju putih.

Kemudian perlahan hujan datang, deras, deras sekali. Untuk saja, Jakarta tidak banjir.

 

6.

Aminah berlari di selasar rumah sakit, ia ke Jakarta setelah mendapatkan kabar dari rombongan balaikota. Airmatanya berurai.

Sartika telah tiba lebih dulu disana, di rumah sakit yang sama, di ruangan ICU yang sama, Mahmudin dan Sudibyo kritis.

Aminah komat-kamit membaca beribu-ribu doa.

Sartika membungkus berkodi-kodi doa untuk dikirimkan.

Kepada Tuhan yang sama.

-ooo-

  • view 281