PEREMPUAN PENYULAM HUJAN

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 02 November 2016
Cerita-Cerita Rinai Hujan

Cerita-Cerita Rinai Hujan


Cerita-cerita pendek tentang kamu, tentang perempuan penyulam hujan, tentang perempuan pencuri puisi, tentang rahim sungai, tentang jantung laut dan tentang derai rinai hujan.

Kategori Cerita Pendek

1.4 K Hak Cipta Terlindungi
PEREMPUAN PENYULAM HUJAN

1.

Kamu sore itu begitu resah, senja tidak begitu jingga, awan mendung, namun hujan tak kunjung tiba. Sudah seminggu mendung tidak menurunkan hujannya. Tiap sore kamu tegak di depan jendela, menunggu hujan turun untuk membias di kaca jendela, jangankan hujan, rinaipun tak ada. Wajahmu harap-harap cemas, di dalam hati dirimu berdoa, Tuhan turunkan hujan sore ini, hujan yang deras sekali.

Resahmu semakin berkecamuk, bukan hanya karena hujan tidak kunjung turun, namun tiap sore saat kamu menatap jendela, puisi-puisi yang kamu tulis selalu hilang. Kamu tidak tau hilang kemana, mungkin ada seseorang yang mencurinya. Ada sesuatu yang janggal dalam waktu seminggu ini, gumammu dalam hati.

2.

Aku ingin pulang, sudah lama aku tak pulang, aku rindu bertemu Ibu. Kereta berjalan terasa sangat lambat, kadang rindu selalu berteman dan berkongsi dengan waktu. Tiga jam perjalanan menuju rumah terasa seperti kelipatannya saja, terlalu lama. Bayang-bayang ibu di dapur, aroma tiap masakan yang ia buat, semakin berkelebat di dalam pikiranku.

Akhirnya aku sampai di rumah, rumah dengan beranda di depannya. Di beranda terdapat sebuah meja dengan dua kursi. Ibu sekarang hanya sendiri, ayah telah setahun lamanya dibawa malaikat meniti jenjang langit menuju sorga. Setiap aku pulang ke rumah – mungkin dua atau tiga minggu sekali -  setelah ayah sudah tidak ada, ibu selalu gemar menceritakan tentang ayah kepadaku. Ibu menceritakan semua tentang ayah, bagaimana mereka dulu waktu muda, hingga menikah dan sampai saat detik-detik ayah dibawa malaikat.

Aku meneguk beberapa gelas air sebelum mandi, untuk melepas hausku di kereta yang panasnya menusuk-nusuk badan. Di kamar mandi aku selalu suka bernyanyi, bernyanyi apapun, seperti orang yang kasmaran. Kadang aku bernyanyi bukan karna aku selalu kasmaran, namun aku selalu suka membuat ibu penasaran, perempuan mana yang mampu membuat anaknya bernyanyi sedemikian rupa, walaupun tidak bernada sekalipun. Sambil memasak untuk makan malam, ibu selalu tersenyum mendengar nyanyianku.

Setiap aku pulang ke rumah, ada satu kebiasaan yang membuat aku selalu suka dan rindu untuk bertemu ibu, semua ceritanya di beranda. Sore itu rinai hujan tidak begitu deras di halaman, aku telah duduk di beranda sendiri, memperhatikan derai rinai yang jatuh dari tepian genteng. Ibu kemudian datang menyusul, selalu membawa teh hangat untukku, dengan itu aku betah berlama-lama menunggu ibu merapal-pelankan cerita-ceritanya di telingaku yang setia. Kali ini ibu bercerita tentang seorang teman lama ayahku, yang kemudian juga menjadi teman ibu. Teman ayah adalah seorang perempuan, perempuan penyulam hujan.

3.

Ayahku adalah teman ayahmu, kamu telah dikenalkan kepadaku jauh waktu kita masih kecil. Aku mengenalmu ketika pipimu masih tembem dan selalu dicubit oleh banyak orang karena begitu menggemaskan. Kita juga telah disekolahkan di SD yang sama, SMP yang sama dan SMA yang sama, namun SNMPTN yang kejam itu kemudian memisahkan kita jauh, berbeda kota.

Waktu SD aku belum mengenal apa itu cinta atau rindu. Namun aku selalu resah saat tasmu belum juga berada di atas meja, menandakan bahwa kamu belum datang. Kamu adalah salah satu siswi yang rajin, kamu selalu duduk di bangku depan. Aku adalah salah satu siswa yang kebalikannya, dan selalu duduk di bangku paling belakang. Namun walaupun begitu, aku senang, karena aku bisa terus memperhatikanmu.

Setelah SMA, aku tau bahwa cinta adalah rasaku yang diam-diam terselip di hatimu. Kamu juga begitu, tidak ada bedanya, cinta adalah rasamu yang diam-diam terselip di hatiku. Orang tuaku tau, orang tuamu juga tau, kita sekarang tidak hanya sebagai seorang sahabat dari masa kecil, sekarang lebih jauh dari itu, ada perasaan yang terlibat di dalamnya. Orang tuamu tau benar siapa aku, mereka telah mengenalku saat aku masih janin, masih di dalam rahim ibuku, begitu juga kamu. Tak ada alasan mereka untuk memisahkan kita. Kamu pernah bercanda, mungkin kita sudah dijodohkan saat masih embrio.

SNMPTN, jika dia adalah nama orang, maka dia adalah orang yang paling kejam dalam kehidupan kita. SNMPTN sanggup memutuskan agar kita terpisah, berbeda kota. Kita bertemu hanya saat libur, atau saat aku pulang ke rumah, dan kamu juga pulang ke rumah, atau kita janjian untuk sama-sama pulang ke rumah, dan bertemu. Jika rindu juga adalah nama orang, maka saat kuliahlah kita baru benar-benar mengenal siapa itu rindu. Jika rindu adalah mata uang, mungkin aku sudah kaya, kamu sudah kaya, karena telah banyak rindu yang tertabung dan kita simpan. Jika rindu adalah mantra, bagiku dia adalah mantra, mantra pemanggil hujan.

Aku selalu penasaran, saat aku rindu kamu, hujan selalu turun ditempatmu.

“hai, Apa kabar?” ucapku di gagang telepon

“hai juga, tak pernah sebaik ini. Kamu gimana?” sambungmu

“aku juga, kadang selalu lebih baik darimu, hehehe” aku terkekeh, kadang ada rasa senang yang tak bisa dijelaskan saat mendengar suaramu itu

“kamu lagi apa?” sambungku

“aku sedang di depan jendela, memperhatikan derai hujan membias di kaca”

“wah? hujan lagi?”

“iya, selalu hujan, saat kamu rindu, selalu hujan disini, selalu ada derai rintiknya yang membias di jendela, menggapai-gapai masuk, menujuku” kamu kemudian tersenyum, dan aku pikir itu pasti manis sekali.

Aku penasaran, saat aku rindu, hujan selalu turun di tempatmu. Seakan-akan hujan adalah isyaratnya. Kamu adalah salah satu mahasiswa jurusan sastra, kamu adalah perangkai kata, merajutnya jadi larik-larik, kadang aku melayang-layang dibuatnya. Dan menurut teorimu perihal hujan itu, rindu adalah uap-uap air yang dibawa melayang ke kelopak awan. Di awan disulam menjadi hujan, dikirimnya melalui derai-derai hujan, hingga membias dikaca jendelamu. Bagiku, mungkin bisa jadi begitu, dari kecil aku tidak tau, kenapa aku selalu setuju dengan teori-teorimu. Kamu pasti senang, kalau aku rindu, hujan pasti turun, dan saat momen itu, kamu pasti akan lebih produktif menulis puisi-puisi, sel-sel otakmu mungkin lebih aktif saat mendengar gerimis yang perlahan menjadi hujan.

Aku menjadi lebih penasaran setiap kamu rindu, hujan tidak berderai di kaca jendelaku. Isyarat kita beda, yang aku tau setiap kamu rindu, pasti akan datang kepadaku sebait sajak, atau sebuah puisi, atau selarik. Jika telah datang sepotong sajak itu kepadaku, baik itu larik atau bait, aku akan begitu yakin, kamu pasti lagi merindu.

Sampai suatu waktu, rinduku tidak mengirim hujan kepadamu, rinduku tidak berderai-derai dalam rinai hujan yang membias di kaca jendelamu. Langit mendung, tapi tak tega menurunkan hujan, ada sesuatu yang terjadi di langit. Hal aneh lainnya juga terjadi, setiap kamu rindu dan ingin mengirimkanku sebait puisi. Puisi-puisimu selalu hilang, puisimu selalu hilang di tiap sore. Kalau menurut teorimu, puisi-puisi itu dicuri oleh seorang perempuan. Ayahmu dulu juga pernah bilang begitu, puisi-puisinya juga sering dicuri oleh seorang perempuan. Aku selalu setuju dengan teori-teorimu itu, sampai suatu saat ibu menceritakan suatu hal kepadaku.

4.

Aku selalu suka binar mata ibu saat bercerita, binar yang selalu buat aku betah berlama-lama. Memasrahkan telingaku untuk mendengar cerita-cerita yang dirapal-pelankannya kepadaku. Jika aku disuruh mengingat suatu momen, aku pasti akan selalu mengingat momen ibu bercerita di beranda di suatu senja.

Sore ini ibu bercerita tentang teman ayah dan itu juga merupakan teman ibu. Tentang perempuan penyulam hujan.

Ibu memulai ceritanya, ditemani rinai hujan di tepi genteng.

“Dulu waktu ibu dan ayah masih muda, ayah punya seorang teman. Temannya adalah seorang perempuan, ibu begitu cemburu kepada perempuan tersebut. Ayah begitu dekat dengannya. Sampai suatu saat ibu kenal siapa perempuan itu, ibu menjadi lebih mencintai ayahmu. Perempuan tersebut adalah teman ayah yang tinggal di awan, ayah memanggilnya perempuan penyulam hujan.” Cerita ibu sebagai pendahuluan.

“jadi perempuan itu bisa membuat hujan ya, bu?” tanyaku penasaran, aku dihadapan ibu, selalu seperti anak kecilnya dulu yang bertanya polos tanpa tendensi.

“Betul, dia memang bisa membuat hujan. Ayah dulu adalah seorang pria lugu yang tidak tau harus apa untuk mengungkapkan rindu. Hingga ia berkenalan dengan perempuan penyulam hujan. Perempuan penyulam hujan memberikan ide kepada ayah, agar mengiriman rindunya dalam derai-derai rinai hujan, rinai hujan itu dibiaskan di jendela ibu, dan ibu tau, pasti itu rinai hujan dari ayah, ibu selalu tau.” Jelas ibu.

“setiap ayah rindu, perempuan itu selalu menyulam hujan untuk dihadiahkan kepada ibu, dari ayah.” Sambung ibu lagi.

“ayah ternyata romantis ya bu” komentarku.

“ayahmu walaupun lugu, adalah laki-laki teromantis di dunia yang ibu kenal, dia punya cara tersendiri mengungkapkan cintanya. Perempuan penyulam hujan selalu memegang janjinya kepada ayah hingga sekarang, selama dia masih hidup, dia akan menyulamkan hujan untuk anak keturunan ayah dan rindu yang dihadiahkan kepada orang-orang yang dicinta.” Ibu menjelaskan, sambil tersenyum.

Aku tersentak kaget, aku baru sadar arah pembicaraan ibu. Aku baru tau bahwa ternyata perempuan penyulam hujan di awan selalu menyulam rinduku menjadi hujan untuk kamu.

“jadi itu sebabnya kenapa saat aku rindu, selalu hujan di tempat Meissa, bu?” aku bertanya kepada ibu.

“betul, perempuan penyulam hujan adalah pemegang janji setia dan tidak akan ia ingkari terhadap ayahmu”. Gumam ibu.

Setelah itu, ibu tercenung, aku tidak tau ada apa.

“kenapa, bu?” tanyaku penasaran.

“Kadang ibu bersyukur kalau ayahmu bukan seorang penyair.” Jelas ibu, yang semakin membuatku menjadi penasaran.

“memang apa hubungan antara seorang penyair dengan perempuan penyulam hujan bu?”

“setiap Meissa rindu, pasti tidak ada hujan yang membias di kaca jendelamu, bukan?”

“tidak bu, Meissa jika rindu, hanya mengirimkan sebait sajak kepadaku”

Ibu kemudian menghela nafas, sepertinya ada sesuatu yang agak meremukkan hatinya jika diceritakan.

“Ayahmu dan ayah Meissa adalah teman. Mereka juga sama-sama teman perempuan penyulam hujan. Kamu tau? Perempuan penyulam hujan adalah perempuan kembar. Satu berjanji kepada ayahmu dan satunya lagi berjanji kepada ayahnya Meissa.” Ibu kemudian menghela nafas lagi.

“Perempuan penyulam hujan mempunyai seorang musuh. Musuhnya adalah Perempuan pencuri puisi. Ayah Meissa adalah seorang penyair andal. Ketika perempuan pencuri puisi marah dan cemburu kepada perempuan penyulam hujan, dia selalu mencuri puisi-puisi ayah Meissa sebagai pelampiasan.” Ibu tidak berhenti menjelaskan, aku terus mendengarkan dengan seksama.

“sampai suatu saat, di saat marah perempuan pencuri puisi memuncak, dia kemudian membunuh salah satu perempuan penyulam hujan, kemudian mencuri hujan dari langit, sejak kejadian itu, terjadi musim panceklik dan kemarau yang panjang karena tidak ada satu bulirpun hujan yang turun.”

“Ibu tidak tau, pasti di langit punya kekuatan tak terbatas. Setelah saat itu, perempuan pencuri puisi diburu oleh saudara kembar perempuan penyulam hujan. Perempuan pencuri puisi itu kemudian dibuang, entah kemana, ibu tidak tau, semua itu rahasia langit.” Ibu menghela nafas panjang.

Aku juga tercenung, ternyata ayah punya banyak misteri di masa lalunya. Ayah yang lugu yang ku kenal, ternyata punya teman-teman yang luar biasa.

“yang paling ibu takutkan adalah, perempuan pencuri puisi suatu saat nanti kembali lagi, mencuri puisi-puisi Meissa, dan membunuh lagi satu-satunya perempuan penyulam hujan yang tersisa.” Ibumu berucap pelan.

“jika kamu mencintai Meissa, kamu harus melindunginya dari perempuan pencuri puisi, karena semuanya nanti bisa menjadi lebih buruk.” Sambung ibu lagi.

Aku semakin gentar, aku tak tau harus berbuat apa. Aku tak kenal perempuan penyulam hujan, apalagi musuh bebuyutannya yang punya dendam kesumat, perempuan pencuri puisi.

“lalu apa yang mesti aku lakukan, bu?” aku semakin takut, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa.

“tenang, ayahmu sudah memberikan solusi kepada ibu dulu, jika puisi-puisi Meissa mulai hilang satu persatu. Solusi tersebut juga sudah ibu diskusikan dengan ibu Meissa” ibu kemudian tersenyum, menoleh kepadaku, binar mata dan senyumnya itu menyimpan suatu makna.

Pertama aku bingung memaknakan binar dan senyum ibu tersebut. Entah apa maksud ibu. Aku butuh kamu, aku butuh teori kamu tentang makna binar dan senyum ibu itu. Mungkin binar dan senyum itu juga sama dengan binar dan senyum ibumu.

“Menikahlah dengannya” ucap ibu, sambil tersenyum, manis sekali.

Sekarang mataku yang berbinar. Ternyata itu makna binar dan senyum ibu.

“dulu, waktu salah satu perempuan penyulam hujan terbunuh, ayah ingin melindungi ibu dari perempuan pencuri puisi yang bisa jadi lebih buruk. Ayah melindungi ibu karena ayah begitu mencintai ibu, maka ayah kemudian menikahi ibu, satu-satunya perempuan yang ia kirimkan derai rinai hujan. Seperti derai rinai hujan, ayah mencintai ibu, pelan-pelan.” Ucap ibu mengenang ayah.

“lalu bagaimana dengan ayah dan ibu Meissa, bu?” aku masih penasaran.

“dengan menikahi ibu, ayah tidak hanya melindungi ibu, tapi ayah juga menyelamatkan ayah dan ibu Meissa dari perempuan pencuri puisi, dan juga menyelamatkan perempuan penyulan hujan” ucap ibu tersenyum.

“Ibu tau, kamu mencintainya, dan kamu tidak ingin dia kenapa-kenapa, menikahlah, itu lebih baik” ucap ibu lagi, dan tersenyum lagi, manis sekali.

Aku kemudian mengangguk kepada ibu.

Kemudian kami menikmati sore yang berhujan itu dari beranda.

“ibu yakin, derai hujan ini pasti rindu ayah dari surga untuk ibu” ibu kemudian kembali tersenyum kepadaku. Senyum paling manis yang pernah aku lihat.

Sore ini, ada banyak makna yang tersimpan dari kalimat terakhir ibu.

Aku kemudian menatap ibu, lama. Bulir air mata serasa mau menganak sungai di pipiku.

5.

Kamu tertidur di atas meja di ruang tengah itu. Kamu mungkin telah lelah menunggu hujan yang belum juga kunjung datang. Puisi-puisimu juga perlahan kunjung hilang. Tapi langit berkata lain. Doamu terijabah, perlahan-lahan, derai rinai hujan, membias di kaca jendelamu, jendelamu tetap terbuka, kali ini derai rinai hujan itu menggapai-gapai menujumu. Bulir hujan itu kemudian mengecup pipimu, membangunkanmu dari tidur. Kamu bangkit, lalu tersenyum. Kamu kemudian berlari ke jendela, merasakan derai rinai hujan yang sudah seminggu tidak datang. Merasakannya meresap, ke hatimu. Kemudian hujan turun, deras sekali. Seperti rindu yang telah tertabung lama.

Kamu kemudian duduk, menulis puisi lagi di atas meja di ruang tengah itu, saat hujan turun. Aku pernah bertanya apa yang kamu suka dari meja di ruang tengah, meja kecil, dan hanya itu satu-satunya perabotan di sana, tak ada yang lain. Kamu kemudian berteori lagi, bagimu menulis puisi seperti menuntunmu ke sebuah ruang tengah, di ruang tengah itu tidak ada apa-apa, hanya ruang kosong, kecuali meja bundar kecil di tengah-tengah ruangan. Meja itu adalah kebahagiaan.

Aku setuju dengan teorimu itu, aku ingin berada diruang tengah itu, bersamamu. Selamanya, tak kemana-mana, di dekatmu, di meja itu.

-ooo-

-cerita rinai hujan-1; perempuan penyulam hujan; robby jannatan-

  • view 582