Siapa Bilang Gubernur itu Pemimpin?

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 22 Oktober 2016
Menyampaikan Kebaikan Project

Menyampaikan Kebaikan Project


Project ini adalah salah satu cara untuk menyampaikan kebaikan dengan sastra, dengan tulisan-tulisan artikel, sehingga diharapkan bisa menghapus dahaga orang-orang yang sedang membutuhkannya.

Kategori Spiritual

5.5 K Hak Cipta Terlindungi
Siapa Bilang Gubernur itu Pemimpin?

“Siapa yang bilang Gubernur itu pemimpin?”

Saya sangat tertarik dengan pernyataan Cak Nun tersebut. Apakah kita menganggap Gubernur itu pemimpin? Lalu siapa yang bilang Gubernur itu pemimpin?. Pertama, saya sepakat dengan pernyataan Cak Nun. Kedua, saya akan menyampaikan sudut pandang saya. Sekarang apa esensi sebenarnya seorang pemimpin?. Gubernur sebenarnya adalah seseorang yang diberikan jabatan secara struktural dan fungsional untuk melaksanakan tugasnya dalam lingkup suatu wilayah tertentu. Menurut saya pemimpin adalah seseorang yang bertanggungjawab terhadap orang lain secara dunia dan secara akhirat. Sekarang secara konstitusi, yang telah diatur oleh Bapak-Bapak Negara kita sejak dulu kala. Gubernur tidak bertanggungjawab atas akhirat seseorang, Gubernur hanya jabatan fungsional dan struktural yang diatur di dalam suatu konstitusi sedemikian rupa, untuk melaksanakan tugasnya di suatu wilayah tertentu. Jadi secara tidak langsung dia tidak bertanggungjawab atas keagamaan seseorang, yang itu menyangkut akhirat. Jadi gubernur hanyalah seseorang yang diberi tugas oleh orang banyak untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu.

Sekarang kita lihat jauh ke belakang, berbeda halnya dengan kekhalifahan. Sebelum zaman kekhalifahan, Pemimpin adalah Nabi Muhammad SAW. Kenapa Beliau pemimpin, karena beliau bertanggungjawab langsung kepada Allah SWT atas umat yang dipimpinnya baik itu secara dunia maupun secara akhirat. Kemudian beliau wafat, umat islam kehilangan seorang pemimpin. Umat pada waktu itu mengangkat seseorang untuk jadi pemimpin mereka yang bisa bertanggung jawab secara administratif wilayah, keduniaan dan keakhiratan. Orang yang mampu menjalankan tradisi Nabi dalam Agama, berarti dibaiatlah khalifah, khalifah bukan mengajukan diri, tapi seseorang yang dipandang mampu memikul tanggung jawab dunia dan akhirat umat, lalu dibaiat. Sehingga khalifah yang diakui itu hanya empat orang, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Oleh sebab itu mereka diberi julukan dengan ‘Khalifah Ar-Rasyidin’, secara bahasa berarti orang yang mampu memberikan petunjuk, nasehat dalam bidang agama, Rasyid juga berarti orang yang telah baligh, berarti orang yang telah matang dalam segala hal sehingga mereka dipandang mampu dalam mengatur dunia dan akhirat. Jadi empat orang inilah pemimpin yang melanjutkan tradisi-tradisi kenabian dengan beberapa pembaharuan untuk kebaikan ummat.

Setelah runtuhnya Khalifah Ar-Rasyidin, pemimpin muslim setelah itu, sebahagaian besar tidak layak lagi disebut sebagai seorang pemimpin, karena mereka tidak mampu bertanggungjawab terhadap orang yang dipimpinnya secara akhirat. Hingga waktu dan zaman terus berkembang, sehingga tugas seseorang yang kita sebut pemimpin, hanya bersifat masalah administratif, keduniaan dan tidak bertanggung jawab terhadap akhirat. Jadi Presiden, Gubernur, dan lain-lainnya bukanlah ‘pemimpin’, mereka hanya orang yang diberikan jabatan secara struktural dan fungsional oleh regulasi dan konstitusi di dalam suatu wilayah tertentu baik itu Negara, Provinsi, Kecamatan maupun Kabupaten. Baik di dalam suatu Negara ada namanya Kementrian Agama, Kementrian Agama tidak bertanggung jawab secarang langsung terhadap akhirat seseorang, apakah orang tersebut akan masuk surga atau neraka. Kementrian Agama hanya bersifat regulasi, mengatur kemashalatan umat, seperti ‘memfasilitasi’ naik haji, nikah, penentuan akhir dan awal Ramadhan, mengatur regulasi pendidikan Islam.

Menurut saya Pemimpin pada saat sekarang ini, pada zaman sekarang ini, adalah seorang suami atas istri dan anak-anaknya. Karena suami bertanggung jawab penuh atas istri dan anak-anaknya di keduniaan dan keakhiratan. Oleh sebab itu, tidak boleh seorang istri mengambil seorang suami yang kafir, karena itu berkaitan dengan keakhiratan sang istri. Jadi untuk sekarang ini, bagi saya Pemimpin itu adalah seorang suami atas istrinya, seorang ayah atas anak-anaknya. Jika setiap Suami atau Ayah tersebut bisa bertanggungjawab penuh atas keluarga yang mereka pimpin, secara dunia dan akhirat, saya rasa setiap keluarga yang ada di dunia ini akan masuk surga. Dan saya rasa jika peran pemimpin tersebut telah terjalani dengan baik, seseorang yang diberi tugas sebagai gubernur, atau presiden, atau camat oleh orang-orang akan terselesaikan dengan baik.

Bagi saya Pemimpin tidak terikat waktu, pemimpin itu selamanya, hingga mereka mati, dan pertanggungjawabannya akan diminta setelah mereka mati oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, ketika Abu Bakar akan meninggal, dia menangis sedu sedan, dia mengatakan “Pemimpin adalah pekerjaan yang tidak akan mampu dipikul oleh langit dan bumi” karena saking beratnya pertanggungjawabannya di depan Allah SWT nanti. Itu makanya Khalifah Ar-Rasyidin, tidak terikat waktu, mereka memimpin hingga mereka meninggal dunia, karena mereka mempertanggungjawabkan apa yang mereka kerjakan kepada Khaliq, bukan kepada Makhluk. Jadi menurut sudut pandang saya, Gubernur bukanlah pemimpin, Gubernur hanya orang yang bekerja dan diberi tugas oleh DPRD atas pemilihan yang telah diatur sedemikian rupa dalam regulasi dan konstitusi, dan mereka menandatangani pekerjaan mereka tersebut dengan kontrak kerja selama lima tahun. Setelah habis masa kontrak, mereka mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka kepada DPRD dan mereka juga diberikan hak untuk memperpanjang kontrak mereka lima tahun lagi. Jika mereka tidak dapat menjalankan kerja dengan baik, DPRD berhak memecat mereka. Sesimpel itu.

Pada Zaman sekarang ini, Jadi Pemimpin itu yang sulit, ketika kita menikah dan mempunyai anak, maka kita telah dibebani oleh suatu pekerjaan yang tidak dapat dipikul oleh langit dan bumi. Karena keluarga adalah sarana pertama dan selamanya dalam pembentukan Aqidah, Akhlak dan lain sebagainya, yang akan berkaitan langsung dengan keduniaan dan keakhiratan. Kemudian status Pemimpin itu akan dipikul sampai mati, dan kita akan mempertanggungjawabkannya nanti dihadapan Khaliq atas makhluk yang kita pimpin. Oleh sebab itu, bagi para calon istri, janganlah menerima Pemimpin yang kafir, karena istri akan digolongkan atas golongan suami mereka.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.

(QS. Al-Maidah: 51)

 

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami lah mereka selalu menyembah,

(QS. Al-Anbiyaa’: 73)

 

  • view 402