Sebuah Roman dari Tuhan

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 21 Oktober 2016
Menyampaikan Kebaikan Project

Menyampaikan Kebaikan Project


Project ini adalah salah satu cara untuk menyampaikan kebaikan dengan sastra, dengan tulisan-tulisan artikel, sehingga diharapkan bisa menghapus dahaga orang-orang yang sedang membutuhkannya.

Kategori Spiritual

3.8 K Hak Cipta Terlindungi
Sebuah Roman dari Tuhan

Tuhan duduk di kursi sutradara, mengatur segala, dibantu para malaikat-malaikat yang hilir mudik antara langit dan bumi.

.--—--.

Selena, dari kecil telah hidup susah. Jangankan untuk sekolah, untuk makan sehari-hari saja tidak ada. Saat makan siang, keluarganya befikir, nanti malam, makan pakai apa. Tapi Selena harus tetap sekolah, gumam gadis kecil itu di dalam hati. Selena lalu bekerja dengan Buk Sari, menjajakan jajanan yang biasa di jual di kedainya. Dengan kerja itu, selena bisa sekolah, setidaknya bisa membantu untuk membeli pena, pensil atau sebuah buku tulis. Tahun-tahun berlalu, Selena selalu di hujani kesusahan. Kerja keras menciutkan kesusahan itu. Aku harus tamat SD !, teriaknya, saat pucak susah yang dia rasakan, mimpinya sederhana, hanya untuk bisa tamat SD.

Selena kemudian menyelesaikan SD. Mimpinya tersampaikan. Kemudian dia ingin mimpi selanjutnya, Tamat SMP, lalu tamat SMA. Selena, selalu dirundung pilu, waktu SMP Ibunya meninggal dunia. Sekarang ia jadi pengganti ibu bagi adik-adiknya. Susah adalah bayangan yang selalu melekat pada diri Selena. Bukan Selena namanya kalau dia hanya menyerah begitu saja. SMP akhirnya selesai. Sekarang SMA, pilu kemudian merundung dirinya, sekarang Ayahnya yang meninggal dunia. Hidup di masa SMA bukan lagi masa-masa yang indah bagi remaja seumurannya. Sejak ayahnya tiada, hidup menjadi lebih menantang. Mimpinya tetap sederhana, bisa tamat SMA.

Selena bisa menyelesaikan semua yang telah dia mulai, namun memang dengan kerja keras, dengan air mata, dengan pilu yang slalu berderai seperti air hujan, terus membias dihidupnya. Masa-masa perkuliahan kemudian dia tempuh, namun wajahnya tidak semuda umurnya. Kuliah adalah hidupnya yang paling keras. Susah apa yang tidak pernah dia rasakan, ditangkap dan ditahan oleh pihak berwajibpun pernah, karena dia berorasi di depan rekan-rekan mahasiswanya untuk menjatuhkan rezim Pak Harto pada tahun 1998. Lalu dibimbing oleh dosen yang susahnya juga minta ampun. Selena akhirnya bisa tamat kuliah, setelah 7 tahun lamanya.

Kehidupan Selena kemudian agak membaik, karena setelah kuliah dia telah bisa mendapatkan kerja tetap. Reformasi telah dimulai. Kehidupannya terus membaik dan membaik. Mimpinya telah terpenuhi satu persatu, perlahan-perlahan, dengan air mata, dengan pilu, dengan lara. Namun baginya biasa saja, dia hanya bersyukur, karena dia masih diberi hidup setiap harinya, masih diberi harapan tiap harinya, orang-orang seperti dia, jika tidak bersyukur dan jika tidak dengan harapan, mungkin telah mati.

.--—--.

Kita selalu mengeluh atas hidup yang telah kita jalani. Hidup yang susah, yang sedih, selalu mengeluh. Namun saat menonton film atau membaca novel, atau cerita pendek sekalipun, kita selalu berharap cerita yang penuh tantangan, cerita yang berliku-liku, cerita yang penuh dengan kejutan-kejutan. Kita tidak pernah suka dengan cerita yang datar-datar saja, cerita yang mudah ditebak akhirnya, atau cerita yang tidak ada kejutan di dalamnya. Kita adalah makhluk paling egois se-alam semesta. Saat cerita hidup kita dibuat semenarik mungkin oleh Tuhan, dengan lika-liku yang berkepanjangan, kita selalu mengeluh, tidak pernah bersyukur. Kita adalah makhluk paling kufur nikmat se-alam semesta.

Tuhan, telah menulis skenario dari masing-masing individu manusia di dalam Lauhul mahfuz jauh sebelum semesta diciptakan. Setiap manusia punya cerita terbaiknya masing-masing. Tuhan memberikan kisah yang hebat bagi tiap manusia, dengan kesudahan yang indah. Sekarang Tuhan sedang duduk, menjadi sutradara. Kemudian malaikat mondar-mandir, dari langit menuju bumi, dari bumi menuju langit.

…dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul mahfuz). (QS. Al-An’aam; 59)

 

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhul mahfuz). (QS. Yaasin; 12)

 

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadiid; 22)

 

‘Percayalah hati, lebih dari ini, pernah kita lalui. Tak kan lagi kita mesti jauh melangkah, nikmatilah lara. Jangan henti disini.’ (Float; Sementara)

 

‘Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.’

 

‘Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka apa yang telah dicuri.’ (Aan Mansyur; Menikmati Akhir Pekan)

 

.--—--.

Bagiku, masa depan tidaklah menarik. Masa lalu bagiku lebih menarik, karena dari sana aku bisa menarik sebuah cerita. Tentang sebuah perjuangan, tentang kesusahan, tentang hidup yang kuwarnai dengan beribu warna pelangi, tentang patah hati, tentang seseorang yang selalu bangkit setiap kali dia jatuh, tentang ibu yang selalu tersenyum ketika memelukku, tentang sekolah, tentang hujan bulan Oktober, tentang kamu yang diam-diam menyelipkan surat cinta di buku tulisku, tentang pilu dan lara yang mendera, tentang segalanya, tentang semua dari diriku bermula. Bagiku, masa lalu lebih menarik, tentang seseorang yang kisahnya belum pernah difilmkan oleh sutradara manapun, yang skenarionya dibuat oleh Tuhan. Bagiku, masa lalu lebih menarik, karena dari kisah-kisah yang telah terjadi, membuatku menjadi lebih bersyukur sebagai seorang manusia.

 

 

  • view 220