Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 17 Oktober 2016   22:35 WIB
Pisau

Aku menggambar di rongga dadamu, dulu kugambar dengan setangkai bulu,

geli, kamu tertawa. Lalu kupahat dengan pisau yang ku asah dengan

batu masa lalumu. Batu yang semakin menajamkannya. Dengan pisau itu

kugambar anak sungai, yang airnya mengalir berhulu dari kelopak matamu,

bermuara di rongga dadamu.

 

Anak sungai itu mengairi sawah-sawah di rongga dadamu, yang mencurahkan bulir-bulir

padi kebencian, kepedihan, keperihan, dan teriakan-teriakan lirih. Pisau itu kau asah lagi,

dengan bulir-bulir padi. Kau tancapkan di ubun-ubunku, menembus rongga kepala,

bulir-bulir padi itu tersemai di rongga kepalaku, menumbuhkan batang-batang penyesalan.

 

Ku telah memahat di rongga dadamu dengan pisau yang ku asah

dengan warna-warna berbeda. Warna-warna itu terburai dan kaku.

 

Pisau yang ku pahat di rongga dadamu, mengisyaratkan bahwa hatimu tak akan

pernah lagi mencintaiku. Pisau yang sama, yang kau tancapkan di rongga kepalaku

menyerupakan bahwa otakku tak akan pernah melupakan anak sungai itu.

 

Pisau itu lalu membisu

Pura-pura tak tau.

 

-Sajak duduk semeja 23-

Karya : Robby Jannatan