Daun Waru Berwarna Merah Jambu (VMJ)

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 14 Oktober 2016
Menyampaikan Kebaikan Project

Menyampaikan Kebaikan Project


Project ini adalah salah satu cara untuk menyampaikan kebaikan dengan sastra, dengan tulisan-tulisan artikel, sehingga diharapkan bisa menghapus dahaga orang-orang yang sedang membutuhkannya.

Kategori Spiritual

3.6 K Hak Cipta Terlindungi
Daun Waru Berwarna Merah Jambu (VMJ)

Virus ini bukan virus baru, namun virus lama, yang telah diklasifikasikan oleh sekelompok orang. Virus ini menyerang otak pada Substantia nigra, Ventral tegmental area dan bagian-bagian tertentu lainnya di otak. Virus ini kemudian menginduksi bagian tersebut menghasilkan 3,4-Dihydroxyphenethylamine atau biasa disebut Dopamine. Lalu timbullah gejala, angin terasa lebih sepoi, senja terasa lebih jingga, hati berdesir, semua terasa lebih berwarna, bahagia saja rasanya. Sekelompok orang tadi kemudian memberikan simbol pada virus ini, dengan daun waru, dan memberinya warna merah jambu. Sampai sekarang lekatlah nama virus itu dengan nama panggung VMJ (virus merah jambu), dengan beberapa turunan VMJ yang kadang biasa disebut rindu, debar, gugup, tersipu, malu-malu dan beberapa turunan lainnya.

Saya agak berbeda pandangan dalam hal ini. Daun waru dengan warna merah jambu itu, bukanlah sebuah virus, kitalah yang membuatnya menjadi virus. Jika kita telah menganggapnya sebagai sebuah virus, maka kita telah membuka diri untuk menjadi sebuah inang. VMJ atau secara universal orang awam menyebutnya dengan Cinta. Cinta bagi saya bukanlah sebuah virus. Cinta sifatnya universal, Cinta itu sakral, karena Cinta kita bisa hidup di dunia. Fatal kalau itu merupakan sebuah virus, kitalah yang menjadikannya virus, kitalah yang pasrah untuk jadi inangnya. Cinta menimbulkan degup, mungkin degup kerinduan kepada ibu, yang Allah rela kita lebih dahulu menyebut namanya sebelum kita kenal nama-nama-Nya. Cinta sifatnya universal dan sakral.

Sebagai manusia, kita selalu egosentris. Karena kita khalifah di muka bumi sehingga kita berhak menyalahkan apapun, mengkambing-hitamkan Cinta. Aih, betapa kasihannya cinta yang mulia itu sehingga disebut dengan virus. Cinta bukanlah sesuatu yang menimbulkan dosa, Cinta bukanlah sesuatu yang buruk, dan pada akhirnya kita takut mendekati Cinta.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS.Al-Isra : 32 )

Zina bukanlah akibat dari Cinta. Zina adalah akibat dari setan yang menjelma menyerupai cinta. Zina adalah sebuah proses yang merupakan buah dari bisikan, yang kita bersedia menjadi inang dari bisikan tersebut. Cinta yang bersifat universal itu kita umbar, sehingga setan mengetahui bentuk rupa Cinta, kemudian setan menyamar, menjadi cinta palsu yang dia telah tahu detilnya, setelah kita umbar. Tidakkah kita ingat, Cinta dalam diamnya Fatimah Az-zahra. Dia mencintai Ali dalam diam, hingga setanpun tak mengetahuinya. Bayangkan, cinta yang disimpan baik dalam sanubari, setan tidak akan mampu menjelma, menjadi cinta yang palsu, karena dia tidak tahu detil cinta yang akan dia jelmakan. Cinta yang tersimpan baik dalam sanubari adalah cinta yang rupawan, cinta yang menawan, hanya Allah yang tahu, tak ada yang tahu selain-Nya. Hingga suatu saat, Allah tidak menghadiahkan Abu bakar, atau Umar, atau Usman, Allah menghadiahkan Ali yang hanya punya sebilah pedang dan sebuah zirah. Semua itu hadiah dari Cinta yang terbungkus dengan rapi, disimpul dengan erat, disimpan dengan baik. Pada suatu saat, Cinta akan tau kemana dia bermuara.

Sekarang kita terlalu lengah, mudah sekali ditipu setan yang menjelma menjadi cinta yang palsu. Setan selalu mengincar diri yang pasrah untuk menjadi inang. Semua tergantung kepada kita masing-masing, apakah kita akan jadi inang, atau setannya yang kita buru dengan vaksin. Kita tahu bahwa Nafsu sebenarnya berasal dari bahasa Arab, yaitu Nafs (diri). Secara bahasa, Nafs berarti ‘diri’ kita sendiri. Jika kita bisa mengendalikan diri, menjadi tuan atas diri sendiri, setan tak akan pernah bisa mengambil alih. Oleh sebab itu, agar tidak menjadi inang bagi cinta yang palsu, kita harus bisa melakukan tindakan preventif.

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. An-Nissa: 30)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya……” (QS. An-Nissa: 31)

Cinta adalah manusiawi, Cinta adalah anugerah, namun jangan sampai menduakan Cinta kepada Allah. Kadar Cinta kepada Allah adalah kadar tertinggi, kemudian kepada kekasih-Nya, Muhammad. Dengan kadar Cinta yang tinggi itu, gempa bumilah hati ketika disebut nama-Nya dibandingkan getar yang disebut nama yang lain. Keagungan cinta yang tinggi itu telah diajarkan oleh Rumi, ada dalam ajaran Rumi, sang sufi cinta, sang sufi humanis, sang penyair mistik. Kita boleh memilih jalan cinta siapa yang akan kita pakai, sungai memang berbeda-beda, namun laut slalu jadi satu muara. Banyak yang mengajarkan kita agar tidak jadi inang dari cinta yang palsu, mulai dari Rumi, Abdul Qadir Al-jailani, dan lain sebagainya, cara mereka memang berbeda-beda, namun muaranya sama. Kita sebagai manusia, tuan atas diri kita sendiri, terlalu malas membaca. Bukankah ayat yang pertama kali tiba di bumi itu adalah Iqra’, bacalah.

Cinta bukanlah virus, cinta bersifat universal, cinta itu sakral, cinta itu dibungkus rapi, disimpul erat, dan disimpan baik-baik.

Jangan katakan lagi, daun waru berwarna merah jambu itu sebagai virus.

 

Bagiku, Cinta itu…

degup jantung ibu, ketika mendekapku dalam pelukannya

genggaman tangan ayah, ketika mengajarkanku cara berenang

torehan gambar kakak di buku tulis, dibawah meja makan ketika hujan belum juga reda

senyum bahagia adik, saat dia berhasil membawa sepeda dengan roda dua

sapa istri, di kala pagi saat menyiapkan sarapan

dekap hangat suami, saat malam ketika lampu mati dan hujan terus membadai

kerut kening anak, saat pertama kali dia menyimpulkan tali sepatu

 

Cinta itu, kuhimpun

Pada-Mu semuanya bermuara

Pada-Mu cintaku segalanya

Andai semesta dunia bisa kuhimpun

Sebesar itu cintaku kepada-Mu

 

Kumohon, jangan ambil cinta-cinta itu dariku

Engkau tau, cintaku kepada-Mu, atas dari segala cinta.

 

-Cintaku Pada-Mu Bermuara; Robby Jannatan-

  • view 303