Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 7 Oktober 2016   15:30 WIB
Ruang Tengah

Hujan bulan Oktober ini begitu deras, membadai. Seorang pengembara tertatih di dalam hujaman badai yang tiada ampun. Tempat persinggahannya telah terlihat dari kejauhan, sebuah rumah yang sederhana.

 

Pengembara mengetuk pintu, seorang perempuan membukakannya.

“siapakah gerangan yang berhujan ini?” tanya sang perempuan.

“aku seorang pengembara, sudikah kiranya ibu memberikan sejenak tempat berteduh di rumah ini? hujan berderai begitu deras di luar”

“silahkan, naik ke beranda”.

“terima kasih bu, atas kemurahan hatinya” ucap sang pengembara.

“hendak kemana engkau pergi, nak? Begitu banyak bawaanmu” tanya sang perempuan penasaran.

“aku hendak mencari sebuah Ruang Tengah dan bawaan ini adalah perbekalanku di perjalanan yang mungkin panjang. Katanya ibu adalah seorang Puan pengagum hujan yang sekarang berderai di luar” ungkap si pengembara.

Perempuan itu terdiam beberapa saat.

 

“oh, silahkan duduk” kata si ibu.

Pengembara duduk di kursi yang ada di beranda tersebut. Disana ada dua buah kursi dan sebuah meja kecil, si Ibu duduk di kursi satunya. Mereka berdua memandang derai hujan yang sekarang sudah tidak membadai lagi.

 

“aku memang pengagum hujan, aku suka melihat bias derai rinainya dari balik kaca jendela, namun kagumku kadang berubah menjadi rasa takut, saat derai-derai yang perlahan itu membadai” gumam si perempuan.

“dari siapa engkau tau perihal ini, nak?” sambungnya lagi.

“seorang Tuan yang memberitahuku, dia juga mengatakan bahwa jika di dalam perjalanan hujan berderai menjadi badai, untuk berteduh di sini. Katanya disini nyaman. Ibu merupakan Puan yang bisa memberikan perlindungan dan kenyamanan, kata si Tuan.” Pengembara menjelaskan.

“jadi si Tuan yang mengutusmu?”

“iya, dia mengutusku untuk mencari ruang tengah, dan dia juga bercerita tentang pesan yang banyak tentang Ibu”

“apa saja pesan si Tuan kepadamu tentangku? Aku sudah lama menunggu kabar dari Tuan yang kau ceritakan.” Tanya perempuan itu lagi.

“Ruang Tengah merupakan suatu ruangan yang kosong, disana hanya ada satu meja yang terletak di tengah-tengah ruangan. Apakah ibu tahu perihal meja ini?”

“meja seperti apa yang dimaksud si Tuan kepadamu” perempuan itu seakan-akan tidak tahu.

“meja itu adalah kebahagiaan” sambung si Pengembara.

Perempuan itu menoleh ke derai hujan yang menetes dari atapnya, perlahan-lahan, dia kemudian tersenyum. Ada banyak hal yang mungkin ada di dalam fikirannya.

 

“lalu apa lagi kata si Tuan itu kepadamu?” perempuan itu semakin antusias.

“di ruang tengah itu, pada akhirnya hanya ada kalian berdua, si Tuan dan si Puannya. Darisana kalian akan melihat bias derai rinai hujan perlahan-lahan di kaca jendela, melihat bintang jatuh dan menangkapnya, di sana kalian menjaring bidadari, di sana kalian melihat malaikat meniti pelangi, di sana kalian selamanya, sampai menua. Di ruang tengah itu, hanya ada kalian berdua, di meja itu, kalian saling menopang dagu, lalu tersenyum, berpandangan”.

 

Hujan kemudian surut. Semakin mereda dan berhenti.

“Ibu, hujan telah teduh, sebaiknya saya melanjutkan perjalanan” ucap si Pengembara.

“terima kasih telah memberikan tempat berteduh sejenak dan kenyamanan yang sangat di hujan yang dingin tadi” sambung si Pengembara lagi.

“hati-hati dalam perjalananmu” ucap Perempuan itu, kemudian tersenyum, menawan.

 

Pengembara pamit pergi, melangkahkan kaki.

“Tunggu!” si Perempuan bersahut.

“sampaikan kepada Tuan itu, aku menunggunya di ruang tengah, dimana meja itu berada” gumam sang perempuan berpesan.

“baik, nanti akan aku sampaikan” ucap si Pengembara sambil tersenyum.

“Oh, iya. Aku lupa mengatakan tadi kepada ibu. Kata Tuan, aku adalah penjelmaan dari kalian berdua” sambung Pengembara dan kemudian tersenyum lagi.

 

Perempuan itu kemudian tersentak kaget. Tadi dia juga tidak habis fikir, pengembara itu begitu mirip dengan wajahnya, begitu mirip juga dengan wajah si Tuan. Perempuan itu tercenung lama, menatap setiap langkah pengembara yang pergi, kemudian hilang, diantara kabut setelah hujan.

 

--o-o--

 

Perempuan itu kemudian masuk ke dalam rumah, melangkah perlahan. Dia kemudian mengambil sebuah kotak yang tersimpan di dalam lemari. Kotak yang dia jaga baik-baik, kotak yang hanya dia yang tahu dimana letaknya. Kotak itu diikat dengan tali yang tersimpul erat. Simpul itu dibuka perlahan, dengan sangat hati-hati. Kemudian kotaknya dibuka. Di dalam kotak terdapat sebuah kunci. Entah kunci apa. Kunci itu kemudian diambilnya dengan dua tangannya, pelahan. Seakan-akan itu adalah benda yang sangat berharga.

 

Perempuan itu kemudian berjalan ke sebuah pintu. Pintu dari ruangan yang telah terkunci lama. Kunci itu dia pegang. Kemudian pintu itu dibuka dengan kunci tadi, perlahan juga. Ada debar terasa, debar sangat, ketika daun pintu itu dibuka.

 

Ruangan yang terkunci rapat itu, adalah sebuah ruangan kosong, di tengah ruangan terdapat sebuah meja. Perempuan itu kemudian tersenyum, tersenyum manis, matanya berbinar. Di salah satu sisi ruangan terdapat jendela kaca yang besar. Hujan yang tadi reda, kembali rinai. Rinai hujan itu, kemudian berderai, berbias di jendela kaca ruang tengah, tempat meja berada. Derai rinai yang terbias itu, melambai-lambai ingin masuk.

 

Perempuan itu ingat, selalu ingat, sebaik dia mengingat hujan bulan Oktober. Setiap Tuan merindu, rindu itu dia sampaikan kepada awan. Awan mengirimnya dalam derai rintik-rintik hujan, perlahan-perlahan, membias dikaca jendela si Perempuan.

 

Si Perempuan masih tersenyum, matanya masih berbinar. Dia Menunggu, menunggu Tuan datang. Meja itu, di ruang tengah itu, adalah kebahagiaan.

 

seperti derai rinai hujan, perlahan-lahan, aku jatuh cinta. Gumam Puan dalam hati.

Karya : Robby Jannatan