Apakah aku berdosa? jika belum jatuh cinta

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 07 Oktober 2016
Menyampaikan Kebaikan Project

Menyampaikan Kebaikan Project


Project ini adalah salah satu cara untuk menyampaikan kebaikan dengan sastra, dengan tulisan-tulisan artikel, sehingga diharapkan bisa menghapus dahaga orang-orang yang sedang membutuhkannya.

Kategori Spiritual

3.3 K Hak Cipta Terlindungi
Apakah aku berdosa? jika belum jatuh cinta

Senja itu warnanya begitu jingga, angin mendayu-dayu, masuk di sela-sela ventilasi cafe. Aku duduk menunggu di meja paling sudut, meja paling strategis, dari sana cahaya senja selalu membias di kaca. Aku berjanji dengannya disana, pacarku tentunya, sekitar lima menit lagi. Debar itu terus bergetar di dada, menunggu, rindu yang telah tertabung lama.

-o-o-

Sebelum pacarku datang ke kafe itu. Saat aku sendiri, sembari menunggunya, aku tercenung, tercenung lama, aku merasa aku terlalu naïf. Aku merasa aku telah berdosa. Kenapa saat disebut nama-Nya, hatiku tidak berdebar seperti aku dengan pacarku, tak ada getar terasa, apa aku kurang mencintai-Nya? Atau aku tak mencintainya sama sekali? Aku tak merasakan seperti debar aku menunggu pacarku. Aku tak merasakan debar seperti saat pertama jatuh cinta dulu. Mungkin aku belum mencintai-Nya, mungkin belum jatuh cinta pada-Nya. Lalu apakah aku berdosa? Saat aku belum jatuh cinta. Aku masih menatap lama jingga senja itu, lama sekali. Aku ingin jatuh cinta, aku ingin jatuh cinta kepada-Nya. Aku ingin debar itu, debar dengan getar yang lebih, lebih dari yang aku rasakan saat aku jatuh cinta kepada makhluk menawan ciptaan-Nya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…” (QS. Al-Anfaal: 2)

“Orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…” (QS. Al-Hajj: 35)

Aku ingin merasakan getar itu, getar yang dirasakan oleh para ahli ibadah ketika bertemu dengan-Nya, kerinduan yang sangat yang mereka rasakan ketika waktu shalat belum juga datang. Rasa yang mengharu biru ketika sepertiga malam, kebahagiaan dan kasmaran, yang beda, sangat jauh berbeda, kerinduan dan cinta yang tak menuntut balas.

Aku ingin jatuh cinta, apa yang mesti aku lakukan untuk pertama kali. Mungkin aku perlu mengenal-Nya dan mendekati-Nya lebih dekat. Tapi, kepada siapa aku mesti belajar agar bisa mengenal dan mendekati-Nya. Aku terus mencari-cari, kepada siapa aku harus belajar. Aku lalu ingat, Dia punya seorang Kekasih, Kekasih yang namanya telah tersanding di surga jauh sebelum nama Adam ada, Muhammad. Aku mesti belajar kepada Muhammad, Kekasih-Nya, Kekasih pertama-Nya.

Ah…!, aku lupa. Muhammad sudah tidak ada lagi, aku terlambat, aku tidak bisa bertemu Muhammad lagi. Tapi tunggu, Muhammad pernah meninggalkan sebuah kitab, kitab penuntun menuju-Nya, Al-Qur’an. Dan beberapa kitab teknis lainnya, Al-Hadits.

Ah…!, aku lupa. Kitab itu aku lupa menyimpannya dimana. Aku mencari-cari, lama. Seharian tak kunjung juga aku temukan. Aku pernah berniat untuk membeli yang baru saja, terbitan terbaru mungkin, yang lebih berwarna. Tapi kitab yang belum aku temukan ini adalah peninggalan orang tuaku, orang tuaku berpesan untuk membaca dan menyimpannya dengan baik. Memori itu kembali, aku belum memeriksa di atas lemari. Kitab itu, ternyata telah berselimut debu di atas lemari. Sombong sekali rasanya, novel, komik, buku-buku berbahasa inggris untuk para akademisi itu aku simpan baik-baik. Namun, kitab cinta ini, aku terlantarkan saja, tak pernah aku baca. Jangankan jatuh cinta, mengenal-Nya saja mungkin aku tidak bisa. Aku telah menyepelekan kitab penuntunnya. Oh Tuhan, apakah aku berdosa? Jika aku belum jatuh cinta.

Sekarang aku harus mulai baca kitab ini, Al-Qur’an, karena ini jalan menuju-Nya. lalu aku juga harus tahu teknis melangkah menuju-Nya, Al-Hadits. Kemudian aku harus mulai melangkah mendekat, walau hanya langkah yang sangat kecil. Aku harus memberanikan diri untuk mendekat menuju-Nya. Soalnya aku pernah mendengar seorang bijak besari mengatakan, di mengutip ini dari kitab Hadits Qudsi, kira-kira seperti ini “saat kamu melangkah kepada-Ku selangkah, Aku akan melangkah kepadamu sepuluh langkah, Saat kamu melangkah kepada-Ku sepuluh langkah, Aku akan melangkah kepada-Mu seratus langkah, saat kamu mendekat kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekat kepadamu dengan berlari”. Jadi tidak ada salahnya langkah pertamaku adalah langkah yang sangat kecil. Daripada aku diam, tidak bergerak sama sekali, Dia pasti juga akan diam, jika aku diam.

Semua hanya masalah waktu, jika aku terus mendekat, Dia pasti juga akan semakin mendekat. Saat Kami telah dekat, aku pasti akan terbiasa, aku pasti akan menikmati semua hal yang membuatku dekat dengan-Nya, aku pasti akan jatuh cinta. Cinta ada karna terbiasa. Ada akan dikalahkan oleh yang selalu Ada, yang Maha Ada. Cinta pasti bersemi. Aku yakin akan merasakan getar itu, debar itu, kerinduan itu. Debar yang dirasakan para ahli ibadah dan para sufi serta para shalihin. Saat cinta datang, nikmatnya pasti tidak tertanggungkan. Saat tabir dibuka antara aku dan Dia. Nikmat yang luasnya tak bisa dikalahkan oleh Surga Firdaus. Seorang teman mengatakan, bahwa dia mengutipnya dari Hadits Nabi. Kira-kira isinya begini “jika diambil orang yang paling menderita dari zaman Nabi Adam hingga hari kiamat, lalu orang tersebut dicelupkan di dalam surga firdaus, hanya dielupkan sebentar saja, maka dia akan mengatakan bahwa kesengsaraannya selama di dunia itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kenikmatan yang ia rasakan ketika dicelupkan ke surga firdaus. Namun, kata Nabi masih ada yang lebih nikmat dari itu. Yaitu ketika tabir itu dibuka, hanya antara kita dan Allah”.

Aku ingin jatuh cinta, aku ingin mencinta, aku ingin debar itu, getar itu, kerinduan itu.

-o-o-

Senja semakin larut, aku tersadar dari lamunan yang panjang. Pacarku tak juga kunjung datang, padahal telah berjanji. Lambat laun, terdengar adzan magrib menggema, menggertarkan langit-langit senja. Kopiku telah dingin. Apakah aku berdosa? Jika belum jatuh cinta.

 

Cintaku pada-Nya adalah hakikat jiwaku. Hidupku adalah gelora yang selalu merindukan-Nya. Aku hidup seperti seorang gipsi pengembara, aku tak pernah menetap di tempat yang sama, namun setiap malam aku selalu bernyanyi dan menari ditemani bintang-bintang di bawah langit yang sama.

-Jalaluddin Rumi-

  • view 242