Jangan Berhenti Melangkah Sekarang

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 30 September 2016
Menyampaikan Kebaikan Project

Menyampaikan Kebaikan Project


Project ini adalah salah satu cara untuk menyampaikan kebaikan dengan sastra, dengan tulisan-tulisan artikel, sehingga diharapkan bisa menghapus dahaga orang-orang yang sedang membutuhkannya.

Kategori Spiritual

3.6 K Hak Cipta Terlindungi
Jangan Berhenti Melangkah Sekarang

Tidak perlu iri pada rezeki orang lain. Kamu tidak tahu apa yang telah diambil darinya.

Tidak perlu juga sedih akan cobaan yang kamu terima. Kamu tidak tahu apa yang akan diberi kepadamu.

Bersyukurlah.

Bersabarlah.

 

“Bro, gimana hasil tes lu tadi bro?” tanya kombu kepada temannya

“gak lulus gua interview bro, belum rezeki mungkin bro” jawab temannya yang bernama brojo

“terus yang perusahaan Hezie & Sons yang kemarin gimana bro?” tanyanya lagi

“iya bro, itu juga gak lulus bro, tapi katanya kakak upik lulus bro” gumam brojo lagi

“wah, rezeki kakak upik kali ya bro” jawab kombu menghibur temannya.

 

Waktu terus berjalan, jumlah populasi manusia terus meningkat, ketersediaan lapangan pekerjaan semakin terbatas, Sarjana semakin banyak, tingkat persaingan semakin tinggi. Telah banyak para pelamar kerja berusaha mencoba peruntungan, kadang ada yang beruntung, kadang ada yang masih terkatung-katung. Kadang ada yang telah putus asa, kadang ada yang masih terus berjuang. Apapun yang terjadi, life must go on. Hidup harus terus dilanjutkan.

Kadang kita tidak pernah untuk mencoba merubah sudut pandang kita terhadap sesuatu. Kita hanya fokus kepada apa yang telah kita perjuangkan, lalu kita tidak mencapainya, kemudian menyesalinya, lalu putus asa. Ah! Betapa egoisnya itu. Tidakkah kita melihat mereka yang telah berjuang mati-matian, berkali-kali mencoba, gagal lagi dan lagi. Tidakkah kita tau telah berapa waktu yang mereka habiskan untuk bisa mencapai apa yang mereka inginkan. Telah berapa langkah kaki yang mereka langkahkan, hingga mencapai tujuan, sedangkan kita baru melangkah selangkah, lalu mengeluh, betapa jauh perjalanan yang mesti ditempuh. Tidakkah kita bersyukur? Kita masih diberi kesempatan untuk bisa melangkah, tidakkah kita bersukur? Bahwa kita telah selangkah lebih maju dari orang yang kita tinggalkan di belakang. Tidakkah kita mau bersabar? Atas beberapa langkah lagi perjalanan yang akan kita tempuh. Seseorang akan sampai jika berjalan di jalannya.

Pada saat yang sama, tiba-tiba saja pendatang baru, yang nasibnya baik. Baru sekali saja mencoba, langsung mendapatkan apa yang ia inginkan. Sedangkan kita telah mati-matian mencoba, gagal lagi dan lagi. Smooth sea never made a skilled sailor. Karena kejadian itu kamu lalu mengutuki keadaan, mengutuki orang-orang yang bisa mendapatkan apa yang seharusnya itu menjadi milikmu, pikirmu. Tidakkah kita pernah tau, bahwa saat Tuhan mengambil suatu kebahagiaan, Dia menggantinya dengan kebahagiaan yang lain. Kita tidak pernah tau, orang-orang yang telah mendapatkan apa yang telah dia perjuangkan itu, entah nikmat mana yang telah diambil darinya, mungkin dia tak merasakan lagi nikmat kehadiran seorang ibu, mungkin dia tak merasakan lagi nikmat kehadiran seorang kakak, mungkin dia tidak merasakan lagi nikmatnya makanan junk food karena masalah kesehatan. Karena semua itu, dia dilebihkan atas nikmat yang lain. Bukankah prinsip keseimbangan itu harus terus berlanjut, harus tetap dipertahankan. Bukankah prinsip equilibrium semesta itu harus tetap dipertahankan oleh yang Maha Mengaturnya.

Kita juga tidak pernah tau, bukan? Seseorang yang lain telah mendapatkan pekerjaan lebih dahulu dari kita, mungkin ada rezeki orang lain yang tertumpang kepadanya. Mungkin ia tidak mempunyai ayah lagi, sehingga tulang punggung keluarga itu beralih kepadanya, sehingga rezeki adik-adiknya tertumpang kepadanya. Mungkin seperti itulah Tuhan mengganti nikmat yang telah diambil dengan nikmat yang baru. Mungkin nikmat tanpa kehadiran orang tua telah diganti dengan nikmat bergelimangan harta. Sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya, setiap ada nikmat yang dilebihkan, maka akan ada tanggung jawab lebih yang tertumpang disana.

Sekarang cobalah kita bersyukur, menelisik lagi, merenung lagi, nikmat mana yang telah terlewat bagi kita, sehingga tidak kita syukuri. Nikmat mana yang telah kita dustakan, sehingga tidak ada lagi nikmat-nikmat lain yang ditambahkan.

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.

(QS. Al-Baqarah: 152)

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih

(QS. Ibrahim: 7)

 

Marilah kita bersyukur dengan apa yang telah terjadi, dengan apa yang telah kita jalani, sehingga dengan itu, mudah-muadahan nikmat kita terus ditambah. Janganlah pernah berburuk sangka kepada Allah, atas rangkaian proses yang belum Dia selesaikan.

 

Sebagaimana kata Mas Fahd, “Banyak orang berfikir bahwa sukses adalah tempat tujuan. Bagaimana kalau hari ini kita berfikir bahwa kesuksesan itu hanya sebuah tiket? Tujuan kita adalah memberi kebaikan dan kebahagiaan kepada sebanyak mungkin orang, menjadi sebaik-baik manusia yang mudah-mudahan layak diganjar surga.”

 

Jangan berhenti melangkah sekarang. Smooth sea never made a skilled sailor.

Telalu banyak keindahan yang akan kamu lewatkan di langkah-langkah berikutnya.

 

  • view 326