Enam R a d e l l a d a n a d y a k s a

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2016
Hallucia

Hallucia


Hallucia, pengawal dari masing-masing manusia.

Kategori Fantasi

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Enam R a d e l l a  d a n a d y a k s a

Nismara pada zaman dulu merupakan hutan yang dihormati, pada masa peperangan hutan merupakan pengecualian. Hutan tidak boleh diganggu baik digunakan untuk perlengkapan selama perang. Zaman dulu pada masa peperangan manusia maupun antar bangsa, hutan adalah tempat yang sakral. Bagi pihak manapun yang melanggar larangan, perang ini dianggap melanggar perjanjian perang dan merupakan sebuah genosida. Bagi bangsa manusia dan bangsa-bangsa yang lain, hutan adalah berharga. Hutan, paru-paru mereka, warisan berharga yang mesti diwariskan kepada anak cucu mereka, tempat sebagian Hallucia bersemayam. Tidak hanya Nismara, hutan lainpun adalah daerah damai, daerah yang tak boleh merusak apapun di dalamnya.

            Nismara adalah daerah damai, daerah aman. Oleh sebab itu, bangsa peri pada masa itu tidak mau ikut campur dalam peperangan antar manusia maupun antar bangsa karena mereka merupakan bangsa yang paling lemah dan berukuran paling kecil dibandingkan bangsa-bangsa lainnya, Untuk menghindari dan mencegah kepunahan dari bangsa mereka. Bangsa peri memilih untuk berlindung dan berdiam diri di Nismara. Kenyamanan yang diberikan Nismara membuat mereka betah dan jauh dari manusia yang menyukai perang. Pada akhirnya mereka beranak pinak dan berkembang biak di Nismara serta membatasi diri dari dunia luar. Mereka menjadikan Nismara sebagai daerah teritori hingga sekarang.

            Puluhan tahun telah berlalu sejak perang besar terjadi, bangsa peri tidak pernah lagi keluar dari Nismara. Manusia menganggap bangsa peri adalah bangsa yang hilang. Manusia menyangka Nismara telah menelan bangsa-bangsa peri tersebut. Nismara menjadi penyebab hilangnya bangsa peri sejak saat itu. Kemudian Nismara menjadi mencekam bagi manusia, Nismara adalah hutan dengan keheningannya. Cerita itu terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam bangsa manusia. Dan pada saat ini, manusia melarang anak-anak mereka maupun orang dewasa menempuh Nismara. Mitospun berkembang bagi siapa saja yang ke Nismara akan hilang ditelan Nismara dan disesatkan oleh bangsa peri karena menginjak daerah teritori mereka.

            Generasi ke generasi berikutnya, cerita tentang peripun terus berkembang saat peri tidak pernah lagi memperlihatkan dirinya. Mereka yang dulu kenyataan sekarang tinggal menjadi dongeng, kadang dengan cerita yang dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangkan. Peripun akhirnya menjadi cerita misteri yang hanya dihakimi oleh manusia.

            Sekarang, Nismara dilambangkan sebagai tanah pelarian sejak peristiwa pelarian Peri ke Nismara. Nismara adalah ujung jalan, akhir dari jalan, jalan yang buntu. Mereka yang tak tau akan jalan, maka akan pergi ke Nismara, mereka yang galau, ketakutan, putus asa atau menggebu-gebu akan keingintahuan tentang Nismara, pergi ke sana. Hutan selalu punya banyak cerita diantara gemerisik daunnya, bulir embunnya yang jatuh, aliran sungainya, bunyi jangkrik dan lainnya, kadang keindahan itu akan tetap jadi keindahan yang harmoni, tak peduli cerita misteri apapun yang mengikutinya.

 

*                      *                      *

 

Prajurit hitam terus menelisik semak-semak, perdu ataupun daerah tertutup lainnya di dalam Nismara untuk mencari Casey Hermes. Hermes adalah gudang informasi, dia pria yang berbahaya, disegani para lawannya, karena dia juga yang bisa menjual informasi, demi uang tentunya. Oleh sebab itu, Hermes mesti dihancurkan, dibunuh dan dihabisi dari muka bumi ini, Hermes adalah ancaman terbesar Lembah Hitam.

            Casey Hermes telah mengetahui semua informasi tentang Nismara, dia juga telah bertemu dengan peri Nismara. Mengetahui rahasia peri adalah mengetahui rahasia Nismara. Dia adalah informan. Hermes terus berlari ke arah yang dia sendiri tidak tau kemana. Prajurit hitam ia lihat semakin mendekat. Semua ini bukanlah masalah ia pengecut atau tidak. Tapi ini adalah masalah hidup dan mati.

            Setelah jauh memandang, di ujung jalan Hermes melihat sungai panjang melintang menghambat jalannya, jalan pelariannya kini telah buntu, di tepi sungai Hermes menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari tempat persembunyian agar tidak tertangkap prajurit hitam. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat sebuah celah antara tanah dan pohon yang tumbang. Hermes belari ke arah itu dan menyelinap di celah tersebut.

            Tidak lama berselang, Prajurit hitam datang. Mereka menelisik semak-semak dan mencari-cari ke tepian sungai. Hermes mencoba untuk diam disana agar tidak ketahuan. Salah satu prajurit hitam berjalan semakin dekat dengan tempat persembunyiannya.

“dia tidak ada disini, cari ke tempat lain !”

Ucap salah satu prajurit hitam.

“aaaaakkhh…! Pengecut itu mempermainkan kita lagi, jika aku bertemu dengannya, menangkapnya dan akan kutusuk perutnya dengan kejam, tanpa belas kasihan.”

Ucap yang lain. Dia tidak menyadari bahwa dia telah dekat dengan Hermes, bejalan terus mendekati persembunyiannya.

            Hermes mencoba setenang mungkin, karena jika bergerak barang sedikitpun, maka persembunyiannya akan diketahui. Dia hanya memperhatikan dan mengintip dari balik ranting-ranting yang menutupi celahnya.

“cari ke tempat lain, saya tidak mau kehilangan dia !”

Prajurit pertama mulai melangkah pergi, tapi temannya hanya berdiri disana merasa belum pasti dan ragu, mungkin karena perasaan dia telah dekat dengan persembunyian Hermes.

             Hermes berusaha membatu di dalam semak-semak tempat persembunyiannya, dari celah-celah dia mengintip para monster yang kebingungan mencarinya. Salah satu monster berdiri di dekatnya dengan sebuah tongkat bermata pisau di salah satu ujung tongkat tersebut dan digenggam erat. Ia kebingungan dan terengah-engah mencari keberadaan hermes.

            Hermes terus diam membeku, tidak bergerak. Satu gerakan mendadakpun akan membuat persembunyiannya diketahui. Kaki hermes masuk ke dalam semak terlalu dalam, tanpa sadar, kakinya menohok salah satu sarang semut Odontomachus, semut ini mempunyai mandibula panjang – mempunyai gigitan yang sangat cepat sepersekian detik – dan jika menggigit akan terasa sakit dan meninggalkan bekas merah dikulit serta gatal.

            Beberapa ekor semut tentara Odontomachus telah menjalari kaki Hermes, Hermes merasakannya, merasakan setiap ekor semut yang mejalari kakinya. Sedikit saja gerakan mendadak dan tiba-tiba yang ia timbulkan, semut tersebut akan langsung menggigitnya. Namun Hermes terus mencoba menahan kebekuaannya, karena nyawanya sedang dipertaruhkan.

            Salah satu monster menelisik semak-semak, berharap menemukan Hermes. Jaraknya juga tidak jauh dari Hermes, sedangkan dua monster lainnya mencari di sudut yang berbeda. Hermes menahan geli yang sangat pada kakinya, semut-semut berjalan semakin banyak dikakinya. Hermes sudah tidak tahan lagi, geli yang tidak tertahankan, ia tahu bahwa ia tidak akan bertahan lama, kemudian ia mulai menggenggam gagang pedangnya yang masih tersarung. Sambil diam tertelungkup, Hermes telah menyiapkan ancang-ancang serangan jika monster tersebut menelisik semak persembunyiannya, posisi serangpun telah disiapkan.

            Hermes tidak tahan lagi, kaki kanannya menggaruk kaki kiri yang dijalari semut. Akhirnya, sepasukan semut Odontomachus yang bermandibula garang itu menggigit kakinya sepersekian detik. Impuls-impuls sarafnya langsung mengirim pesan ke otak, kemudian terdengar suara teriakan dengan lembut dan lunak. Pasti kalian bisa membayangkan bagaimana suara teriakan yang lembut dan lunak itu, suara teriakan yang tertahan oleh rasa ketakutan yang sangat.

“aakkkh…!”

Suara itu terdengar oleh salah satu monster dan mulai mencari arah sumber suara tersebut, Hermes telah bersiap, sesiap kakinya menerima serangan sepasukan semut. Monster itu semakin mendekat dan juga dalam posisi sereng yang sepersekian detik. Hermes keluar dari persembunyiannnya, melayangkan pedang dalam gerakan tiba-tiba.

            Pedang Hermes menghujam perut monster, darah langsung tersembur, mengerang kesakitan, untuk mencegah monster menyerang balik, dia semakin menekan hujaman pedangnya hingga menembus punggung. Erangan itu menyadarkan monster yang lainnya, mereka menoleh melihat ke sumber suara. Mereka telah menyadari, bahwa tombak berujung mata pisau itu telah siap untuk mengambil nyawa Hermes.

            Hermes mencabut pedangnya dari korban pertama, bersiap menanti korban kedua, kedua senjata pencabut nyawa itu bertemu, desingannnya membawa maut, masing-masing saling menyerang. Tubuh monster yang gempal, dan ayunan yang sangat kuat, membuat tangan Hermes gemetar menangkisnya. Serangan demi serangan gencar menyerang Hermes. Hermes semakin mundur dan tersudut, sampai suatu momen yang ia dapatkan. Monster itupun lengah, dilangkahkan satu kaki dan berputar ke belakang tubuh monster tersebut. Hermes dengan sigap dan langkah yang mantap, menusukkan pedangnya dari belakang, sampai ke ulu hati. Monster itu berlutut, Hermes menarik pedangnya, lalu menebas batang leher lawannya yang telah lumpuh. Nafas Hermes ngos-ngosan dan tersengal, namun masih ada satu lagi lawang yang harus ia lenyapkan.

            Hermes berbalik, ia lihat monster terakhir tercenung melihatnya, yang juga menggenggam tongkat bermata pisau di salah satu ujungnya. Dengan gerakan terlatih, dia mengayunkan tangan untuk melemparkan tongkat itu, berharap itu masuk ke dalam ulu hati Hermes. Namun, tongkat itu belum bernasib baik, tongkat itu melenceng jauh, karena tongkat itu dillayangkan oleh monster yang telah gemetar dan menggigil ketakutan. Dia lari lintang-pukang, tunggang langgang meninggalkan arena pertarungan di dalam hutan yang sunyi, Nismara.

            Hermes selamat dari monster ketiga, dia sedang bernasib baik, karena jika si monster menyerang, tenaganya tidak akan cukup lagi untuk melakukan perlawanan. Namun dia harus menanggung konsekuensi bahwa dia akan jadi buruan kedua Humam Ignatius setelah buruan pertamanya, Lucille Errol, orang yang ia mata-matai sendiri.

*                      *                      *

  • view 163