Lima H i l l d a n A n k s

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2016
Hallucia

Hallucia


Hallucia, pengawal dari masing-masing manusia.

Kategori Fantasi

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Lima H i l l    d a n   A n k s

 

Hi, coba kau perhatikan itu, kalungnya”

Kata peri pertama sambil menunjuk kalung yang melingkar di leher Meissa.

“iya, itu yang kukatakan sejak kemarin, yang di kalung itu adalah pecahan kristal Berly tapi kau masih tak mau tau”

Bantah peri kedua mencoba membenarkan pernyataan yang diungkapkannya sejak kemarin.

Di pagi-pagi yang masih berembun, dua peri hutan itu memperhatikan Meissa sejak lama. Ada sesuatu yang menarik bagi mereka, dan di pagi ini mereka memperhatikan Meissa dari balik jendela ketika meissa masih nyenyak tertidur.

“aku ingin memilikinya”

Sambung peri pertama semakin tertarik dengan kalung Meissa yang berkilauan.

“Jangan !, kau tau kan akibatnya jika bangsa kita memiliki kristal Berly, sebaiknya jangan”

Ucap peri kedua menerangkan.

“aku harus memilikinya !”

Dia membentak dan menatap temannya tajam dan sinis.

“kau harus mengerti, bangsa kita tak sanggup menyimpan benda seperti itu, Nismara adalah tempat yang buas jika kau memiliki benda itu. Jika kau, bangsa kita membawa pecahan kristal Berly yang ada di kalung itu ke Nismara, keheningan Nismara akan terpecah, karena bangsa kita tak cukup kuat untuk memikul semua kekuatannya, yang bisa memikulnya hanya orang-orang terpilih”

“lalu kau pikir gadis kecil itu terpilih?”

“ya, aku rasa mungkin begitu”

“apa kau becanda?”

“yang aku tau orang-orang yang dapat memegang dan membawa kristal Berly adalah orang-orang terpilih, walau itu hanya pecahannya”

“jadi menurutmu karena inilah Scorpia semakin lemah kekuatannya?”

“saya rasa iya, karena Scorpia tak punya lagi pengendalinya”

“pengendali apa?”

“pengendali Hallucia”

Peri pertama menatap lama dan agak termenung memperhatikan Meissa.

“tak mungkin gadis kecil ini dapat mengendalikan Hallucia dan memikul pecahan kristal Berly yang terlingkar di kalungnya” ucapnya dalam hati.

“aku tetap akan memilikinya” kata peri pertama berkeras hati.

            Peri pertama masuk melalui ventilasi jendela. Dia terbang menuju Meissa, setelah sampai dihadapan Meissa, dia memperhatikan Meissa lama. Kilau kristal Berly itu semakin menyilaukan matanya juga. Dia mendekati Kristal itu, memegang dan merasakan kilau biru kehijauannya, kadang berwarna hijau kebiruan. Lalu dia memegang erat-erat kristal itu dan mencoba menariknya dari leher Meissa. Peri pertama menariknya pelan-pelan agar Meissa tidak terbangun, tapi tak kunjung lepas. Peri kedua hanya memperhatikan dari balik jendela temannya yang keras kepala.

            Peri pertama menarik kristal itu dengan sekuat-kuatnya dengan penuh emosi, karena kristal itu masih belum kunjung lepas. Dia lalu menarik terus kristal itu tanpa menghiraukan Meissa akan terbangun atau tidak. Meissa tidak percaya akan hal ini, seekor peri hutan terbang didepannya sambil menarik-narik kristal di kalungnya. Meissa dari tadi hanya pura-pura tidur. Dia telah terbangun sejak awal peri pertama menarik-narik kalungnya. Meissa hanya memperhatikan peri pertama yang keras kepala dan pantang menyerah itu dari kelopak mata yang hanya dibukanya sedikit. Meissa terus memperhatikan mencoba menahan rasa kagetnya, karena baru pertama kali dia melihat peri hutan yang bersayap itu terbang didekatnya, hanya berjarak 20 sentimeter dari pegangannya. Mencoba menjaga nafasnya agar tetap stabil.

            Meissa lalu bangkit mengejutkan peri pertama yang masih berusaha menarik-narik kalungnya. Meissa bangkit dari tidurnya yang dari tadi hanya pura-pura. Peri pertama terkejut dan terpental sejauh dua meter dari Meissa. Peri pertama itu tersentak tak tau mau buat apa, dia hanya melongo dan termenung memperhatikan Meissa. Meissa pun juga demikian, dia juga tak percaya ini memang kenyataan dan bukan hanya mimpi yang ia lihat ketika tidur. Mereka saling pandang lama. Peri pertama menahan nafasnya dan memandang Meissa lama.

            Setelah beberapa lama mereka saling pandang dan saling tatap dan saling terdiam, juga lama. Peri pertama melirik ke peri kedua yang ada dibalik jendela.

“cepat keluar”

Bisik peri kedua, melalui gerak bibir untuk menyuruh peri pertama lari keluar dari kamar Meissa. Peri pertama balik memandang Meissa. Meissa sudah tau apa yang akan mereka lakukan – lari tentunya. Peri pertama mengangguk kepada peri kedua dalam mata awas memperhatikan Meissa. Dengan isyarat jarinya peri kedua memberi aba-aba.

“satu. . .dua. . .tiga. . .!”

Peri pertama langsung kebut terbang keluar menuju ventilasi. Meissa tak tinggal diam, Meissa langsung bangkit dan turun dari tempat tidurnya mengejar peri pertama yang telah berusaha mencuri kristal Berly di kalungnya. Meissa berlari mengejar peri pertama, tapi apa boleh buat, mereka telah keluar. Meissa membuka pintu jendela dan memperhatikan mereka terbang di awang-awang. Peri pertama yang keras kepala itu senang bukan kepalang karena telah lepas dari Meissa. Lalu mencibir Meissa dengan penuh bangga. Meissa tetap memperhatikan dua peri itu – lama.

 

*          *          *

 

“akhhh...padahal aku tadi sudah hampir berhasil”

Celoteh peri pertama yang kesal karena gagal mencuri kristal Berly yang ada di kalung Meissa.

“jangan kau paksakan, bangsa kita tak akan kuat memikul kekuatan Berly yang besar itu”

Nasehat peri kedua. Tapi peri pertama tetap kesal dan berceloteh tak karuan kepada dirinya sendiri karena gagal dan hampir berhasil mencuri kristal impiannya.

            Sementara itu Meissa berjalan disisi istana dan tanpa sengaja dia melihat dua ekor peri tadi sedang berceloteh di atas bunga-bunga taman. Meissa menyembunyikan dirinya agar tak terlihat oleh dua ekor peri tersebut. Meissa terus memperhatikan dan mengintip apa yang mereka kerjakan. Setelah lama berselang meissa berlari ke gudang, tempat peralatan-peralatan apapun lengkap tersimpan disana. Meissa mencari-cari, memainkan matanya mencari apa yang ia maksud, disana ada pancingan, ember, kapak, tangga dan banyak yang lainnya. Meissa masih memilih lama, peralatan yang tepat masih belum ia temukan.

“ha, ini dia yang aku cari-cari” ucap Meissa sambil mengacungkan telunjuknya.

Meissa mengambil jala serangga itu dari gantungan, jala serangga itu mempunyai tongkat yang panjang untuk memegangnya. Cukup untuk menangkap serangga yang terbang tinggi.

            Meissa berlari lagi ke tempat semula, mengintip dua ekor peri itu dari belakang sambil siap siaga untuk menangkap mereka. Dua ekor peri itu masih asyik berceloteh di atas bunga-bunga taman. Meissa berjalan mengendap perlahan-lahan mendekati dua peri yang lengah. Meissa semakin dekat dan berusaha untuk lebih hati-hati lagi agar tidak ketahuan.

“braak. . . ! ! !” Meissa menginjak ranting yang tidak ia sadari.

Peri kedua melihat kebelakang, Meissapun telah bersiap menganyunkan jala serangganya dengan mantap.

“Hill. . . !!! awaaas. . . !!!”

Peri kedua terkejut dan berusaha menghindar dari ayunan jala serangga Meissa, terbang menjauh, sedangkan peri pertama yang ia panggil Hill itu masih asyik berceloteh menumpahkan semua kekesalannya tanpa menyadari Meissa yang telah tersenyum dibelakangnya. Peri pertama menoleh kebelakang, Meissa lalu tersenyum.

“tap”

Sepersekian detik peri pertama telah terperangkap dalam jala serangga Meissa.

“Anks. . . . . !!!, tolong aku !!!”

Teriak peri pertama yang berusaha meminta tolong dari tangkapan jala Meissa, meronta-ronta. Tangannya menggapai-gapai disela-sela jala, Ketakutan.

            Meissa yang tersenyum sinis dari tadi seakan senang bukan kepalang. Semua rasa yang ada dalam kepalanya bercampur aduk jadi satu. Suatu hal yang hanya ia dengar dari cerita-cerita dan buku-buku, tapi sekarang ada di depan matanya sendiri, nyata dan bukan sebuah ilusi. Dua ekor peri, yang nakal. Meissa juga gamang apakah peri yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri adalah sesuatu yang baik dan bukan sesuatu yang mencelakakan dirinya.

            Meissa memperhatikan peri yang ia tangkap. Setiap detilnya, setiap alur sayapnya. Semuanya dari ujung kaki ke ujung rambut sampai ke ujung sayap. Kemudian memasukkan tangannya kedalam jala dan menggenggam peri yang sesak nafas melihat Meissa yang berusaha meraih dan menggenggamnya dalam tangan yang begitu besar bagi seukuran peri. Meissa memegang peri itu dengan lembut. Berusaha agar sayapnya tidak rusak karena genggaman yang begitu kuat. Meissa mendekatkan peri itu kedepan matanya. Memperhatikan wajah peri yang semakin ketakutan dan memerah. Sedangkan peri yang lain berusaha sembunyi dan memperhatikan dibalik bunga-bunga yang tumbuh.

“apakah kamu memang seekor peri?”

Meissa berusaha membangun komunikasi dengan peri yang ia genggam erat tapi pelan.

“i...i...i...i...iiiiya, aku seekor peri, aku daaatang dari Nismara”

Jawab peri tersebut sambil tergagap karena ketakutan dan genggaman Meissa yang semakin kuat di tubuhnya.

“apakah kamu punya nama?” tanya Meissa lagi.

“na..na..namaku Hill, dan temanku yang satu lagi na..na..namanya Anks” jawabnya sambil tergagap lagi. Dan menunjuk ke temannya yang dari tadi bersembunyi dibalik bunga-bunga.

“apakah aku dapat mempercayaimu?” Meissa mencoba meyakinkan dirinya.

“ya, kau bisa mempercayaiku...!” jawab Hill dengan yakin dan tegas.

            Meissa lalu melonggarkan genggamannya, dan perlahan melepaskan pegangannya dan membiarkan Hill lepas. Badan Hill yang lepas terasa agak pegal-pegal dan sayapnya terasa agak kaku. Hill terbang melingkari Meissa dan kembali ke hadapan semula tepat di hadapan Meissa. Anks yang dari tadi bersembunyi di balik bunga-bunga memberanikan diri mendekat kepada Hill dan Meissa. Dua ekor peri itu memandang Meissa lama, pun juga dengan Meissa.

“oh ya , perkenalkan namaku Meissa”

Meissa memperkenalkan dirinya sambil mengacungkan telunjuknya, karena ukuran tangan mereka yang tidak sepadan dan rasio ukuran tangan Meissa yang lebih besar. Hill lalu menjabat telunjuk Meissa yang besar.

“Perkenalkan aku Hill” Ucapnya.

“aku Anks” kata Anks sambil bergantian menjabat telunjuk Meissa.

            Mata Hill yang dari tadi tidak beranjak dari kalung Meissa yang tergantung pecahan kristal Berly disana. Semakin kehijaun jika terkena cahaya matahari, mata Hill silau karena kemilaunya yang mengagumkan. Meissa juga memperhatikan Hill dari tadi sejak lama, Mata Hill yang hanya fokus ke leher Meissa yang menggantung kalung yang ia incar-incar. Anks juga memperhatikan mereka berdua yang saling awas, walaupun keakraban sudah hampir terbangun antara mereka berdua tapi masih ada tatapan kecurigaan. Anks menyikut Hill yang semakin terlena dengan kemilau kristal Berly.

“sssttt” Anks memperingatkan Hill yang tercenung. Hill terkejut dan kembali memperhatikan Meissa.

“kalian berasal dari mana?” meissa mencoba mencairkan suasana dengan mengajukan pertanyaan.

“kami dari Nismara, kami peri yang menghuni hutan hujan itu. Kami berdua memang sudah biasa bermain disini, di dunia manusia, di wilayah dan teritori manusia”

Jawab anks mantap.

“jadi kalian adalah sebuah kenyataan dan bukan hanya sebagai dongeng yang hanya diceritakan dalam cerita-cerita manusia?” Meissa meneruskan pertanyaannya.

“sebelum masa damai datang dan dunia manusia sedang dalam masa peperangan kami menyembunyikan diri dalam Nismara, karena bangsa kami adalah bangsa yang paling lemah daripada bangsa-bangsa lainnya, untuk menghindari kehancuran dan kepunahan, kami berusaha membangun sebuah populasi di dalam nismara untuk mempertahankan bangsa kami agar tetap bisa meneruskan keturunan dan bertahan hidup. Perang yang berlangsung selama ratusan tahun itu membuat kami terus bersembunyi di dalam Nismara dan membangun komunitas baru yang lebih besar tanpa di ketahui oleh dunia luar, sehingga selama ratusan tahun perang berlangsung dan berangsur-angsur menuju masa damai. Kami mulai hilang dari pikiran manusia dan bangsa lain, karena tidak pernah  lagi menunjukkan dan menampakkan diri kepada dunia luar, kami hanya bermukim di Nismara. Hal itu menjadikan kami menjadi sebuah cerita di dalam pikiran manusia, yang setiap generasi semua cerita tentang kami diturunkan ke generasi berikutnya, bahwa kami pernah eksis di dunia manusia yang saling hidup berdampingan satu sama lain. Dan cerita-cerita itu berkembang menjadi dongeng-dongeng dan fabel-fabel yang kadang dilebih-lebihkan dan ditambah-tambahkan”.

Anks menjelaskan semuanya tanpa beban.

            Meissa setelah mendengarkan semua penjelasan Anks membuatnya semakin penasaran dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain setelahnya. Sebuah pertanyaan yang membuka tabir untuk pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.

“lalu kenapa kalian disini?, bukankah kalian setelah sekian lama di Nismara dan tak berani lagi menampakkan diri di dunia manusia” Meissa melanjutkan pertanyaannya.

“saya tadi telah mengatakan bahwa seiring tidak ada lagi kehadiran kami di dunia manusia sejak peperangan berlangsung, kami hanya menjadi cerita-cerita dan dongeng diantara manusia, cerita dan dongeng yang kadang dikurangkan dan kadang dilebih-lebihkan. Kau tau itu kan, dan kau pasti juga telah tau semua cerita tentang kami dari buku-buku dan cerita-cerita orang tuamu”.

Anks menjawab dengan seksama. Lalu pernyataan anks tadi disambung oleh Hill,

“seiring berkembangnya cerita di dunia manusia tentang peri yang diturunkan kepada setiap generasi, begitu juga dengan kami. Setelah kami tidak pernah lagi melihat manusia setelah ratusan tahun selama masa peperangan dan setelah seratus tahun masa damai berlangsung dan kami hanya berdiam di Nismara, kadang kami hanya melihat manusia yang tersesat di dalam hutan dan mati karena keheningan Nismara. Kami memperhatikan mereka dari jauh, kadang beberapa teman kami yang nakal berusaha mengganggu manusia yang tersesat itu karena takut nantinya manusia mengganggu kediaman kami di Nismara.”

Anks mulai menambahkan dan menguatkan pernyataan Hill.

“cerita tentang manusia juga telah berkembang di dunia kami, dunia peri. Kami telah hidup lama di Nismara, dan kami telah meneruskan keturunan kami disana. Seiring itu, karena kami tidak pernah melihat manusia lagi, manusia sekarang juga menjadi cerita-cerita bagi kami yang hanya diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya. Seiring berkembangnya cerita itu, manusia bagi kami hanya menjadi sosok jahat karena seakan-akan telah mengusir kami ke Nismara. Hal itulah yang membuat Nismara menjadi sebuah tembok dan tabir bagi kami dari dunia manusia, dan memasuki dunia manusia adalah sebuah ketakutan dan kebencian bagi kami. Juga karena itulah kami tidak pernah lagi memperlihatkan diri kepada manusia”.

“jika memangnya seperti itu, lalu mengapa kalian disini, untuk apa kehadiran kalian disini? Apakah untuk mencuri kalungku? Ataukah kalungku juga sudah berkembang cerita bahwa kalung ini akan menyelamatkan dunia kalian?”

Meissa bertanya banyak dan melirik kepada Hill yang dari lama berusaha untuk mencuri kalungnya.

“iya, kalungmu itu.....aauu!” Hill menjelaskan dan langsung disikut oleh Ank, memotong pernyataan Hill.

“kami disini sebenarnya mencoba menjawab penasaran kami, apakah manusia memang seperti yang diceritakan oleh cerita-cerita di bangsa kami, kami mencoba keluar dari tempurung yang melingkupi kami, Nismara. Bahwa kami berusaha untuk menambah pengetahuan tentang dunia kalian. Kami telah mengambil resiko yang besar karena bagi siapapun peri yang berani keluar dari Nismara dan mencoba memasuki dunia kalian akan dihukum.”

“apakah aku dapat mempercayai kalian?” Meissa mencoba menanyakan lagi hal yang telah ia tanyakan.

“kamu dapat mempercayai kami” jawab Anks lagi dengan mantap.

“baik, nanti kita bertemu lagi disini, aku kembali dulu ke dalam, nanti orang tuaku mencari-cariku”

meissa menutup percakapan mereka. Dan membalikkan badan menuju gudang untuk meletakkan lagi jala yang diambilnya.

“apakah kita teman?” tanya Anks lagi.

Lalu Meissa menolehkan kepalanya ke belakang dan menjawab dengan mantap.

“jika kalian menganggap kita teman, berarti kita adalah teman” lalu meissa tersenyum diiringi oleh kemilau Kristal Berly yang melingkar di lehernya. Anks kembali menjawab senyum itu dengan membalas senyum Meissa, dan itu merupakan senyumannya yang pertama kepada seorang manusia. Tapi di sisi lain Hill masih menggerutu – tak jelas.

 

*                      *                      *

 

Hill memegang kerah baju anks dengan gerutuan yang datang sesudahnya. Dia menyalahkan anks yang telah berbicara dengan blak-blakan kepada Meissa. Karena anks telah mencoba membangun sebuah komunikasi yang baik antara bangsa peri dengan bangsa manusia. Sebagai salah satu cara untuk memperbaiki hubungan mereka. Bahwa cerita yang telah berkembang selama ratusan tahun itu merupakan cerita-cerita tambahan oleh generasi sebelumnya.

“kenapa kau? Ha? Kalau sempat para penjaga mengetahui hal ini, kau akan dipenjara seumur hidup !!! apa kau tidak tau apa hukuman bagi bangsa peri yang berani membangun sebuah hubungan dengan seorang manusia?”

Hill begitu marah kepada anks yang telah melanggar peraturan yang telah dibuat di dunia peri. Bahwa siapapun yang keluar dari Nismara dan mencoba mendekati dunia manusia akan diberikan hukuman yang berat apalagi mencoba membangun hubungan dengan seorang manusia.

“kenapa kau menyalahkanku? Kan kau yang duluan mengganggu manusia. Karena kau mencoba mencuri kristal berly dikalungnya, kau jadi tertangkap kan? Aku bersikap bersahabat hanya untuk mencoba agar kau tidak terbunuh saja dari genggaman gadis itu.”

Anks mencoba membela diri. Bahwa pihak yang salah bukanlah dari dirinya.

            Hill membalikkan tubuhnya dari anks, Hill terbang berputar-putar untuk memikirkan hal apa yang mesti mereka lakukan berikutnya. Anks tetap tenang-tenang saja dengan apa yang telah terjadi.

“lalu bagaimana selanjutnya menurutmu? Apa yang harus kita lakukan?”,

tanya anks menanyakan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi.

“lebih baik kita pulang saja, sebelum penjaga mengetahui apa yang telah kita lakukan dan pelanggaran-pelanggaran yang kita buat”

Anks memberikan solusi terbaiknya kepada Hill, tapi Hill masih melayang-layang berputar-putar – pusing – mencoba berpikir.

“ayolah kita pulang, tak ada gunanya kita di dunia manusia, lupakan semua rencana-rencanamu tentang menembus batas yang dibuat oleh bangsa kita, kita sudah tau kan bahwa manusia adalah bangsa yang tamak. Bangsa yang haus akan harta, bangsa manusia adalah bangsa yang rakus. Kau tau kan semua ceritanya, bahwa seorang manusiapun mau mengambil hak orang lain hanya untuk memperkaya dirinya sendiri. Kau juga tau bahwa manusia adalah bangsa yang paling jahat yang pernah dicatat oleh sejarah. Kamu lihat di Nismara bahwa tak ada satupun binatang yang berani membunuh anaknya sendiri, tak ada binatang yang mau mencelakakan anaknya sendiri. Tapi bangsa manusia bisa melakukan hal itu, bangsa manusia mampu melakukan hal itu, manusia berani membunuh anaknya sendiri, berani meninggalkan anaknya sendiri di tengah jalan karena mereka tak mau menghidupi anaknya sendiri.”

Anks menjadi menyesal telah melanggar peraturan yang dibuat oleh bangsa mereka. Dan mencoba menyakinkan Hill lagi.

“kau tau kan, bahwa bangsa kita dulu pergi ke Nismara karena takut akan kepunahan dan kehancuran karena perang yang berlangsung ratusan tahun, perang yang awalnya disulut oleh bangsa manusia. Apakah kau mau Nismara sekarang, tempat tinggal kita yang damai dihancurkan oleh manusia karena mereka tau tentang kenyataan dan keberadaan kita sekarang? Apakah kau mau cerita tentang bangsa kita benar-benar menjadi sebuah dongeng?”.

Hill masih tak mendengarkan Anks yang sudah lama berceloteh.

“baiklah, kalau kau tak mau mendengarkanku, aku akan pulang duluan. Aku tak akan lagi menginjakkan kakiku di wilayah teritori manusia.”

Perlahan Anks membalikkan badan dan terbang menjauhi Hill yang masih terbang tak tentu, Berputar-putar. Anks meninggalkan Hill menuju Nismara. Hill sedang menyusun strategi, sebuah strategi agar dia bisa mendapatkan Kristal Berly yang melingkar indah di leher Meissa.

 

*                      *                      *

 

Anks terbang sendirian di antara pepohona menuju Nismara. Dia memikirkan apa yang ia fikirkan tadi. Dia telah berkata kepada Meissa bahwa mereka adalah teman, apakah teman semudah itu untuk dikatakan, ucapnya dalam hati. Apakah Meissa juga telah menganggap mereka teman karena sekedar pembicaraan pembuka basa-basi pertemuan mereka. Apakah semudah itu saja, semuanya kembali terfikir di dalam kepalanya. Dia telah menemukan seorang teman dan mendapatkan seorang teman baru dan itu bukan teman dari bangsanya. Tapi dari bangsa yang paling ditakuti, bangsa yang paling tamak, rakus dan jahat di dunia – Manusia.

            Apakah salah berteman dengan manusia, sosok yang menjadi sebuah ketakutan bagi bangsa peri. Anks mencoba mencerna lagi baik-baik apa yang telah dia lakukan, dia memang telah melakukan sebuah kesalahan. Melanggar peraturan yang telah dibuat oleh bangsanya. Peraturan yang bisa jadi dihukum mati atau diasingkan seumur hidup jika melanggarnya. Tapi dari sudut pandangnya sebagai seorang peri jika melihat Meissa, baginya manusia adalah bangsa yang baik dan ramah serta mau dijadikan teman. Dari sekian banyak manusia yang ia lihat, setelah dikalkulasikan mungkin lebih banyak manusia yang tamak daripada manusia yang baik seperti Meissa.

            Cerita-cerita yang diceritakan lintas generasi di dunia peri tentang manusia juga merupakan sebuah kebenaran, kadang ada dari sebagian cerita tersebut dikurangkan dan dilebihkan karena cerita itu tidak tersampaikan seluruhnya ketika diceritakan, kadang membuat bangsa manusia dirugikan. Anks masih memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan selanjutnya, sementara Hill juga sedang merencanakan sesuatu yang tidak diketahui Anks. Antara dua peri ini sepertinya mereka telah berjalan masing-masing.

 

*                      *                      *

Casey hermes masuk melalui lorong yang mengerikan, setiap lorongya penuh dengan kegelapan. Setiap detil dari lorong tersebut menyiratkan kejahatan, kejahatan yang baru menempel disetiap dindingnya. Dia berjalan dengan sangat hati-hati dalam setiap langkah kakinya, dikawal oleh dua orang prajurit kerajaan yang tampangnya semakin mengerikan. Mereka berjalan menuju singgasana, singgasana tempat Humam Ignatius bertahta.

            Humam ignatius telah merampas kekuasaan dan kerajaan lembah hitam. Lembah hitam menjadi pusat persiapannya menuju penyerangan besar-besaran ke Scorpia. Humam telah membunuh seluruh isi kerajaan, membantainya tanpa rasa kasihan, karena setiap pembantaian yang ia lakukan adalah sebuah kenangan yang menyakitkan bagi mereka yang masih bertahan hidup. Humam mempengaruhi dan memantrai setiap prajurit kerajaan dan memanfaatkannya. Mengambil kekuasaan dengan sekejam-kejamnya. Setiap prajurit yang terpengaruh menjadi semakin mengerikan, tidak berperikemanusiaan, dan seperti binatang persis seperti orang yang telah memantrainya. Setiap zirah yang dipakai prajuritnya akan berubah menjadi hitam legam – gelap, segelap kerajaan yang diciptakan oleh Humam ignatius.

            Casey hermes berjalan dikawal dengan ketat oleh prajurit kerajaan yang terberdaya oleh mantra Humam. Mewaspadai setiap gerakan Hermes kalau terjadi pelanggaran dalam kesepakatan yang mereka buat. Hermes  hanya melihat sekelilingnya dengan mantap. Mencoba mempelajari setiap lorong yang ia lalui, memperhatikannya dengan seksama – agar tidak diketahui oleh prajurit kerajaan yang mengawalnya. Mereka sampai di singgasana kegelapan yang begitu mengerikan.

“selamat datang dikerajaanku. . .silahkan kau menikmati setiap pemandangan dan suasananya. . . hahahaha.....!!!”

Ucapan selamat datang Humam ignatius yang terdengar begitu sombong menggaung dalam ruangan tersebut, kesombongan yang tidak seharusnya ada dalam ruangan itu, singgasana yang seharusnya tak menjadi miliknya.

“sekarang laporkan apa yang telah kau ketahui, mata-mata”

Ucapnya pongah.

“namaku Casey hermes, kau mungkin bisa memanggilku dengan nama itu”

Hermes menjawabnya dengan begitu tenang.

“sekarang silahkan kau persiapkan bayaranku, sesuai dengan kesepakatan kita tentunya”

“baik, aku telah mempersiapkan semuanya sesuai dengan apa yang telah aku janjikan kepadamu, Casey hermes”

Humam memberikan penekanan pada namanya, seakan-akan merendahkan.

“sekarang apa yang telah engkau dapat !!!”

Sambil mengacungkan tongkatnya ke arah Hermes dengan nada yang sedikit mengancam. Sebagai salah satu isyarat bahwa dialah yang berkuasa disinggasananya.

“baik, baik...aku akan mengatakan sesuatu yang paling penting yang mesti kau tau selama pengintaianku”

Hermes menyingkirkan tongkat yang teracung itu dengan tangannya.

“gadis yang kau suruh cari, aku menemukannya diperpustakaan Chiara. Aku rasa dia telah menemukan sesuatu di dalam perpustakaan tersebut, sesuatu yang mungkin benar-benar kau inginkan”

“silahkan ceritakan semuanya, Casey hermes. Aku akan memberikanmu bayaran yang lebih jika apa yang kau dapatkan lebih mengagumkan”

“aku telah menguntitnya di perpustakaan, di sana aku melihat dia telah membolak-balikkan banyak buku, mencari apa yang juga ingin kau cari, setelah dia mendapatkan apa yang dia ingin, dia pergi.”

“apa yang kau dapatkan ketika kau melihat bukunya?”

“buku yang dia temukan berjudul Selma birney tapi dengan beberapa halaman yang telah robek, aku rasa kau membutuhkan halaman yang robek itu”

Hermes menyengir dan melanjutkan pembicaraannya,

“dia masuk ke dalam Nismara, aku terus menguntitnya. Sampai daerah yang ingin dia tuju”

“kemana dia pergi ?”

“dia menuju Clarance”

“apa itu sudah semua yang kau sampaikan Casey hermes? Aku rasa kau menyembunyikan hal lain yang tidak aku ketahui”

Humam ignatius mendekati Hermes dengan menatap tajam matanya. Mata yang sedang menyembunyikan informasi lain yang ingin diketahui oleh Humam.

“aku tak sanggup mengatakan ini, karena aku rasa hal yang akan aku sampaikan akan membuat kemarahanmu menjadi semakin besar dan membuat amukanmu menjadi-jadi...hahahaha”

Hermes tertawa dan semakin senang melihat Humam yang menggeram.

“cepat katakan...!!!”

Humam mengancam dengan mengacungkan lagi tongkatnya ke arah Hermes.

“baik, aku akan katakan. Gadis yang kau incar adalah orang yang telah mengambil pedang dan gulungan yang dibawa oleh Roland bertin, gadis yang sama yang diburu oleh Kenothecaster, ‘Lucille errol’. ”

            Humam ignatius berbalik dan membelakangi Hermes, dia berusaha menahan kemarahannya, lalu berteriak sekeras-kerasnya. Melepaskan semua kemarahannya, membalik-balikkan meja dan melemparkan semua yang ada di ruangan itu.

“aku merasakan kalau masalah kau semakin bertambah karena informasi yang aku berikan, dan aku rasa itu juga semakin mempermudah kau dalam mencari gadis itu. Karena kau akan mencari orang yang sama dari masalah yang berbeda”

Hermes menambahkan itu sebagai sebuah ejekan, lalu meminta bayarannya.

“sekarang silahkan tepati kesepakatan kita, karena aku telah memberitahu apa yang kau butuhkan”

            Humam ignatius lalu menyuruh salah satu prajurit untuk memberikan bayaran sesuai dengan apa yang mereka sepakati sebelumnya. Lalu membiarkan Hermes pergi dan berlalu dari hadapannya. Humam memanggil salah satu prajurit pilihannya dan membisikkan sesuatu.

“ikuti dan bunuh dia !”

Humam ignatius lalu tersenyum dan tertawa, tertawa sepuas-puasnya menggema ke seluruh ruangan singgasana tersebut.

 

*                      *                      *

 

Hill mendekati Meissa yang sedang bermain, kelihatannya dia sedang mendapatkan sebuah ide brillian untuk mewujudkan keinginannya terhadap kilau kristal Berly yang semakin mendayu-dayu memanggilnya, jauh di dalam keinginannya. Keinginannya untuk memiliki kristal Berly.

“hi, Meissa, boleh aku bergabung bermain bersamamu?”

“hi Hill, apa kabar? Boleh, ayo kita bermain bersama”

Setelah beberapa jam mereka bermain bersama, ada sesuatu hal lain yang terfikir oleh Meissa.

“Hill, bagaimana kalau kita bermain bersama-sama dan melihat Nismara lebih dekat?”

Meissa mengemukakan sebuah ide nekad untuk masuk ke Nismara.

‘wah, ini sebuah kesempatan bagus, sebuah ide cemerlang bagiku, sesuai sekali dengan ide yang aku punya’. Hill berbicara dalam hati. Hill ternyata juga mempunyai ide yang sama seperti yang dikemukakan Meissa. Ide yang cemerlang untuk merenggut Kristal Berly dalam genggamannya.

“wah, apa kamu yakin Meissa, untuk masuk ke dalam Nismara?”

Hill pura-pura terkejut dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“baik-baik, ayo kita bermain ke Nismara, aku kenalkan kepadamu dunia peri Nismara”

Hill mengiyakan dengan cepat sebelum Meissa berubah pikiran.

            Meissa dan Hill berjalan memasuki Nismara. Hutan dengan semua keheningannnya. Mereka bermain bersama, tertawa, dan berlarian diantara pohon besar Nismara yang menyimpan banyak rahasia. Meissa masih tak mampu melihat ada sebuah keinginan tersembunyi di balik keinginan Hill, Meissa juga belum banyak tau mengenai peri Nismara, kelakuan, kebiasaan serta semua tentang peri tersebut.

            Jauh di dalam semak dan pepohonan, diantara daun-daun yang menghijau dengan rimbunnya. Anks mengintip mereka berdua dari kejauhan, anks telah mengikuti mereka dari tadi, melihat setiap niat yang ada di dalam diri Hill, sebuah niat buruk untuk mencelakakan Meissa.

“apa lagi yang akan dilakukan Hill, mengapa dia berani membawa manusia ke dalam Nismara, jika penjaga tau maka dia pasti akan diberi hukuman, hukuman dua kali lipat. Pertama, karena telah memasuki dunia manusia, kedua karena telah membawa seorang manusia ke dalam dunia peri yang sengaja di lindungi dari campur tangan kekuasaan manusia”.

Anks berbicara sendiri, seakan-akan dia berbicara kepada Nismara, kepada daun-daun yang semakin kencang berhembus dalam tiap helai daun semak-semak dan pohon.

“Meissa akan celaka, jika senja datang, dan gelap semakin menyelimuti Hill harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi”

Anks telah merasa Meissa menjadi temannya, sejak mereka bertemu. Sejak Meissa mengatakan mereka adalah teman. Anks menaruh rasa kasihan kepada Meissa seandainya sesuatu yang buruk akan terjadi pada Meissa.

            Anks terus menguntit mereka berdua, diantara daun-daun dia mengintip setiap hal yang terjadi. Meissa dan Hill telah semakin jauh masuk ke dalam hutan, ini sebuah keuntungan bagi Hill untuk meluncurkan niat buruknya dalam merenggut kristal Berly, karena kristal Berly telah merenggut semua kesadarannya sebagai seorang peri yang baik. Sebagai seorang peri yang selalu menaati peraturan Nismara. Ketika Meissa sedang lengah dengan semua bunga-bunya liar yang tumbuh menjalari pohon-pohon. Anks menarik Hill menuju ke balik pohon. Anks memegang kerah baju Hill dengan kuat lalu menekan Hill ke pohon.

“apa yang ada di pikiranmu Hill?!”

Anks membentak Hill dengan keras, menekan hill semakin kuat dengan tangan yang tercengkram kuat di kerah bajunya.

“apa kau mau mencelakakan Meissa? Apa kau tidak berfikir apa akibat yang kita terima dari penjaga jika kita nanti ketahuan membawa manusia masuk menuju Nismara? Kau telah membawanya masuk terlalu jauh Hill. Apa kau tidak berfikir jika telah gelap dia akan tau jalan pulang?”

Anks semakin geram dengan apa yang telah dilakukan temannya.

            Tanpa mereka sadari, senja semakin turun. Krepuskularnya menjalar dalam tiap helai-helai daun, membentuk rona yang semakin indah menyentuh lantai hutan. Senja semakin jauh turun dan gelap juga akan menyelimuti setiap keheningan Nismara menjadi semakin hening tak bertuan. Yang ada hanya suara angin malam yang sepoi menghembus dan membelai tiap helai daun.

“lihat apa akibat dari perbuatanmu! Dia akan tersesat Hill, Meissa tidak akan tau jalan pulang. Sekarang gelap hampir menyelimuti, ayo kita pergi dari sini Hill jika kau ingin selamat dan tidak tersesat.”

Anks pergi dan melepaskan cengkramannya dari kerah baju Hill. Anks terus berlalu dalam tiap detik waktu yang semakin berjalan. Hill mulai ragu, niat buruknya belum sampai ia laksanakan, merenggut kristal Berly tentunya. Hill berlalu, menatap Meissa dengan kejauhan harapannya yang tak tersampaikan untuk merenggut kemilau Kristal Berly. Hill dan Anks berlalu seiring dengan gelapnya malam menyelimuti Nismara.

 

*                      *                      *

 

Meissa terlena dengan bunga liar yang menjalar menuju pepohonan, bunga yang mengeluarkan setiap aromanya masing-masing dalam memikat.  Meissa tersadar dari lena dan pengaruh bunga tersebut, tersadar bahwa dia sekarang sendirian, tidak ada lagi Hill yang telah menghilang pergi. Sekarang hanya keheningan yang ada disekitarnya, lalu kedinginan dan krepuskular senja yang akan menghilang ditelan malam.

            Setiap peri di Nismara akan pergi melarikan diri dari kegelapan malam menuju rumah mereka. Dari dongeng yang ada peri-peri sering mengajak anak-anak bermain ke dalam Nismara, mengajak anak-anak bermain semakin jauh ke dalam menjauhi perbatasan, dan setelah malam datang menyelimuti, peri-peri akan pergi menghilang meninggalkan anak-anak tersesat jauh didalam Nismara.  Menurut cerita yang ada, Nismara pada saat malam juga bukan tempat yang aman bagi dunia peri. Peri-peri mempuyai daerah tersendiri di dalam Nismara yang telah mereka lindungi, peri membuat batas tersendiri untuk tempat mereka berlindung. Saat malam datang mereka akan aman jika berada di dalam batas. Dan bagi mereka yang ada di luar batas, mereka akan bergegas pulang menuju batas yang mereka buat didalam Nismara.

            Setiap orang tua selalu melarang anak-anak mereka untuk tidak bermain di garis perbatasan Nismara, apalagi memasukinya. Banyak anak-anak yang hilang di dalam Nismara dan tak pernah kembali lagi. Kadang ada yang selamat, tapi mereka seperti dianggap gila. Mereka melihat keajaiban, mereka melihat banyak hal yang tidak masuk akal bagi orang dewasa. Hal-hal yang hanya ada di dalam dongeng-dongeng yang pernah mereka dengar dari bebuyut mereka dulu. Sesuatu yang hanya ada dalam cerita-cerita yang diturunkan lintas generasi.

“Hill....... !!! Anks.....................!!!! Kalian dimana?!!.........Hill......!!!”

“Anks.............!!! Kalian dimana......!!!??!!”

Meissa memanggil-manggil dua peri yang telah meninggalkannya dalam kesunyian, kesunyian yang penuh dengan keheningan – Nismara. Teriakan Meissa memecah keheningan tersebut, memecah relung-relung daun yang semakin diam, dan agak bergemerisik ketika disapu oleh lembutnya angin malam.

“Hill...Anks.... kalian dimana?”

Suara Meissa semakin mengecil, lalu suara tersebut terdegar agak serak. Sebuah bulir jatuh mengalir di sela pipinya yang ronanya semakin hilang ditelan gelap. Lalu semakin deras mengalir bulir demi bulir, sederas suaranya yang semakin tersedu, lalu mengusap dan tersedu lagi, begitu berulang kali.

            Meissa duduk meringkuk disamping sebuah banir pohon yang begitu besar, tangannya mengapit dua kakinya yang semakin rapat karena kedinginan. Tersedu-sedu dalam keheningan yang memecah. Tak ada satupun manusia disana, hanya dedaunan, serasah, kanopi, semak, perdu, pohon, semut dan angin malam. Meissa menangis semakin terisak-isak, dia telah dikhianati oleh dua ekor peri. Dia juga telah melanggar sebuah larangan yang dibuat ayahnya untuk tidak pernah menyebrangi garis batas Nismara.

            Hari ini adalah hari pertama Meissa melakukan hal paling besar dalam hidupnya. Melanggar sebuah larangan yang telah ditetapkan ayahnya. Keluar dari batas yang telah dibuat ayahnya. Sebuah penyesalan yang dalam semakin bergemuruh didalam dadanya, bahwa tak ada hal paling sakit yang dibuatnya selain menyakitkan hati ayahnya sendiri. Tak ada pelanggaran terbesar yang ia langgar selain melanggar larangan ayahnya sendiri, dan tak ada kekecewaan terbesar yang ia rasakan selain membuat kecewa ayahnya sendiri.

            Meissa semakin terisak-isak meringkuk diantara dua banir pohon yang mengapitnya. Tangisnya tak henti-henti. Hanya ada kegelapan, kedinginan dan keheningan. Sesekali cahaya bulan masuk melalui kanopi jika angin menyapa daun-daunnya. Ayahnya selalu mengiang-ngiang di kepalanya. Wajah ayahnya yang teduh selalu mewarnai pikirannya yang semakin berkecamuk yang membuat dadanya semakin sesak dan hatinya semakin remuk.

            Tangannya yang halus mengusap pipinya yang basah karena air mata. Matanya semakin sembab. Tak ada sesuatu yang perlu ia tangisi. Bahwa semua yang telah terjadi hanya sebuah masa lalu, dan masa lalu itu membuatnya menjadi kabur melihat masa depan. Masa lalu yang ia lihat adalah gambaran penyesalan karena telah mengecewakan ayahnya. Sedangkan masa depan yang akan ia lalui adalah sesuatu yang akan membuat ayahnya bangga. Hanya satu kata-kata ayahnya yang selalu ia ingat untuk jangan pernah menyerah. Jangan pernah menyerah dalam kondisi apapun, seperti apapun, dan dalam cekaman apapun. Bahwa seluruh yang ada pada dirimu hanya butuh perjuangan dan kerja keras.

            Meissa lalu bangkit, mengangkat kepalanya. Mengusap air matanya yang telah berhenti mengaliri anak sungai di pipi sembabnya. Meissa lalu melihat disekelilingnya, hanya ada kegelapan dan melangkahkan kaki berjalan pelan mencari jalan pulang. Tak ada satupun yang membuat dia gentar dan takut. Karena setiap semangat yang ada dalam dirinya adalah semangat hidup ayahnya. Kelembutan ibunya. Kata-kata jangan pernah menyerah itu telah mendarah daging baginya. Dan tak heran jika itu membuat Meissa menjadi orang yang keras hati dan tak pernah menyerah.

            Meissa terus berjalan, tak tau arah. Dia berjalan menyusuri hutan sendirian. Perutnya yang lapar dan haus tidak menjadi alasan untuknya. Kakinya yang mulai gontai terus ia langkahkan, bahwa akan ada secercah cahaya yang menantinya. Meissa tidak tau apakah dia melangkah pulang atau semakin jauh dari jalan pulang. Rasa lapar dan asam lambung sudah mencapai bagian paling rentan dalam otaknya. Membuyarkan konsentrasi Meissa, pemandangan matanyapun juga semakin kabur.

            Setelah semalaman berjalan, Meissa melihat secercah cahaya. Tidak tau apakah cahaya lampu kota atau hanya kunang-kunang dalam imajinasinya. Senyumnya melebar, tapi perutnya yang lapar juga semakin geram. Melilit-lilit lambungnya yang kosong, yang ada hanya rasa asam. Pemandangannya semakin kabur, kakinya telah goyah, tak bisa lagi melangkah. Dua langkah selanjutnya, Meissa tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang telah layu. Lalu perlahan jatuh kehamparan rerumputan yang lembut. Pandangannya yang kabur, menjadi semakin gelap. Lalu semua kelam, hitam dan hening. Meissa terbaring pingsan diatas hamparan rerumputan yang basah oleh embun malam. Tak ada sesuatupun disana, kecuali keheningan Nismara yang semakin sunyi. Sesekali sepoi angin dan embun malam yang membasahi rumput dan semak-semak. Meissa telah lelap dalam pingsannya, apakah dia bermimpi atau tidak, tapi disana, selalu ada seekor rusa yang mengikutinya. Menjelma dalam tiap bayang-bayangnya. Dari jauh rusa itu memperhatikan, sembunyi dibalik pohon, memperhatikan Meissa dengan tenang.

 

*                      *                      *

 

Kerajaan heboh dengan kehilangan Meissa. Seluruh prajurit dikerahkan mencari ke seluruh sudut istana, Raja Najdah fadey semakin panik karena kehilangan anak satu-satunya. Raja berjalan mondar-mandir menunggu kabar dari seluruh prajurit yang mencari keberadaan Meissa. Dari kejauhan dia melihat Damara cathilin menangis terisak, istri yang paling dicintainya. Dia berjalan gontai menuju jendela yang terbuka dan ternganga. Tak ada lagi energi yang tersisa di tubuhnya. Semuanya seperti meleleh, tak ada lagi semangat hidupnya yang tersisa, dalam ruangan itu semua terasa sepi dan hening – kelu.

            Dari lorong yang panjang terdengar suara seorang prajurit berlari kejauhan, dia tergesa-gesa dan tak terkendali. Raja lalu berjalan dengan tidak sabar ke arah prajurit tersebut, berharap kabar yang diberikan adalah sebuah kabar baik. Dihadapan raja, prajurit itu terengah-engah mengambil nafas panjang, dia lalu mengatur nafasnya menjadi normal kembali.

“Apa yang kalian temukan prajurit?” raja bertanya dengan tidak sabar.

“ma..maa...maaaf yang mulia, prajurit pelacak jejak menemukan jejak tuan putri” prajurit itu masih tergagap menjawab pertanyaan raja karena ritme nafasnya yang masih belum teratur.

“dimana kalian menemukan jejak itu?”

“maaf yang mulia, jejak tuan putri mengarah ke dalam Nismara”

Prajurit itu lalu menunduk, berusaha untuk tidak melihat kesedihan dan kekecewaan raja.

Raja lalu menoleh ke arah jendela, melihat bentangan Nismara dari ruangan itu, melalui jendela yang terbuka, keheningan Nismara menjelma diantara sudut-sudut perabotan, lalu masuk ke dalam setiap pori raja yang melemahkan seluruh tubuhnya.

            Raja tertegun lama, matanya hanya memperhatikan Nismara dengan semua keheningan. Raja lalu menoleh kepada istrinya yang semakin terisak, bulir itu terus keluar dari kelopaknya. Setelah menoleh lama kepada istrinya, dia termenung beberapa saat.

“Besok pagi kita akan melakukan pencarian ke Nismara” Raja lalu mengambil keputusan dan menoleh lagi ke arah istrinya.

“apakah yang mulia serius? Nismara akan membunuh kita” prajurit itu mencoba memberi pertimbangan.

“silahkan siapkan pasukan untuk pencarian tuan putri !. jika tidak ada yang berani melakukannya, aku akan melakukannya sendiri”

Raja lalu berpaling meninggalkan prajuritnya yang hanya terdiam.

“ba..ba...baaaik yang mulia”

Prajurit itu masih tergagap, lalu menundukkan kepalanya ke arah raja dan pergi keluar dari ruangan itu.

            Raja menghampiri istrinya, duduk disamping istrinya. Raja hanya bisa termenung lama. Dia lalu menyandarkan kepala istrinya ke dalam dekapannya, setidaknya untuk menenangkan istrinya yang masih terisak. Lalu raja mendekap erat istrinya, isak tangis itupun semakin menjadi-jadi – begitu kelu.

“Meissa akan baik-baik saja, dimanapun dia berada, dia pasti bisa menjaga dirinya. Sesulit apapun kondisi yang ia hadapi sekarang, dia pasti tidak akan pernah menyerah, karena aku begitu merasakannya, seperti aku merasakanmu”.

Raja lalu mengusap-usap rambut istrinya yang tergerai dengan lembut. Mencoba menenangkan setiap isak tangis istrinya. Bahwa, anak mereka, Hadya Meissa adalah seorang yang pantang menyerah dan mempunyai kekuatan hati. Damara cathilin menoleh ke arah raja, mata ungu itu semakin cerah. Raja, Najdah fadey lalu memberikan senyuman terbaik itu untuk istri yang paling ia sayangi, bahwa di dalam kedalaman binar mata Damara, dia juga melihat binar mata anaknya yang sedang tersenyum. Damara lalu membalas senyuman itu. Perasaan itu sama seperti perasaan mereka lima belas tahun yang lalu – begitu sendu.

 

*                      *                      *

 

Jarvis adelard mendengar kabar hilangnya Meissa, kabar tersebut telah tersebar ke seluruh pelosok kerajaan. Jarvis tersentak, terkejut dan tak tau harus bagaimana. Jarvis juga telah mengetahui bahwa jejak Meissa mengarah ke dalam Nismara, tentu saja dia resah, karena setiap anak-anak yang masuk ke dalam Nismara tak pernah kembali lagi. Pagi itu raja beserta beberapa orang prajuritnya berniat untuk mencari Meissa, menelusuri Nismara untuk mencari anaknya yang hilang. Jarvis juga mendengar kabar tersebut.

            Jarvis langsung berlari mengambil jalan pintas agar perjalanannya semakin cepat. Dia berlari menelusuri ladang gandum yang tingginya melebihi tinggi dia sendiri. Wajahnya terasa pedih ketika bergesekan dengan daun-daun gandum, tapi dia tidak peduli, rasa yang dia rasakan begitu kuat yang membuat dia tak begitu peduli dengan semua yang terjadi pada dirinya sendiri. Dia berlari tak tentu arah, kadang terjatuh karena batu kecil, kadang karena akar yang melintang di jalan. Jarvis memasuki semak-semak, perdu dan lainnya, dia tidak mengambil jalan biasa, tapi mengambil jalan pintas agar perjalanannya semakin pendek.

            Sesampainya di pintu Nismara, disana telah banyak kerumunan orang-orang yang melihat kepergian raja beserta beberapa orang prajuritnya. Tak ada yang tau apakah raja bisa kembali atau tidak. Semua hanya bisa melihat dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Dari setiap tatapan orang-orang yang melihat kepergian raja mencari Meissa, mereka merasa bahwa tak akan ada yang akan bisa kembali setelah masuk melalui Nismara.

 

*                            *                      *

 

Lucille memperhatikan dari jauh kerumunan orang-orang yang melihat kepergian raja beserta prajuritnya, dia baru menyadari bahwa gadis kecil berkalung kristal Berly yang ia temui adalah seorang anak raja, seorang yang begitu penting, dan ia juga merasakan. Semua peristiwa yang ia lihat setelah sampai di Clarance dan jalan menuju ke sana, menyimpan sebuah pertanyaan besar di dalam kepalanya, bahwa kristal Berly yang ia lihat terlingkar di leher Meissa adalah sebuah pecahan, tapi darimana Meissa mendapatkannya, siapa yang memberinya, sebuah pertanyaan yang sedang melayang-layang di dalam fikiran yang ingin sekali ia ketahui jawabannya.

            Setiap buku yang ia baca di perpustakaan Chiara, menuntunnya ke sini, bahwa di sini – Clarance – akan memberikan jawaban dari setiap pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam kepalanya, tapi setelah sampai di Clarance, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semakin banyak, seperti labirin teka-teki yang harus ia pecahkan, di tambah lagi sebuah rahasia yang ia pikul dengan semua ketidakjelasannya – gulungan dan pedang yang diberikan Roland bertin – yang masih ia simpan baik-baik. Sekarang, Lucille hanya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Meissa, semua keheningan Nismara mungkin akan melindunginya, atau mungkin akan menerkamnya.

            Jarvis berdiri di samping Lucille dari kejauhan kerumunan, memperhatikan prajurit terakhir yang melangkahkan kaki melintasi batas larangan Nismara. Jarvis tak tau hendak berbuat apa, dari semua yang ia lihat dan ia rasakan, ada rasa bersalah di dalam dirinya. Ada rasa penyesalan yang dalam atas kehilangan Meissa, kalau mereka tidak mengendap-endap mencuri buku catatan bibi Jarvis, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Semua isi buku catatan itu semakin menerangkan binar mata Meissa, dari semua rahasia yang pernah tersimpan sepanjang sejarah hidup manusia, bibi jarvis, Indurasmi adena menyimpan sepenggal cerita di dalam catatannya. Dan sepenggal catatan itu berkaitan dengan Meissa, Nismara, Hill dan Anks. Lalu sepenggal lainnya menunggu untuk dipecahkan.

            Mata jarvis berkaca-kaca, mungkin hilangnya Meissa bukan kesalahannya atau bukan karena kesalahannya sepenuhnya, tapi rasa itu tetap ia rasakan dalam hatinya, dalam tiap fikirannya, matanya memerah. Bulir itu tak sanggup untuk jatuh, isi dalam kepalanya sekarang berkecamuk, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

            Lucille memperhatikan jarvis dari tadi, seorang anak laki-laki yang berdiri di sampingnya memperhatikan kerumunan orang-orang yang melihat kepergian raja untuk mencari Meissa. Lucille melihat binar mata yang berkaca-kaca, ada air mata di kelopaknya, tapi tak bisa jatuh dan tak bisa pula menganak sungai di pipinya. Ada sesuatu yang Lucille rasakan dari jarvis, walaupun mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Lucille melihat Jarvis dan mendekatinya, berniat ingin menanyakan gerangan apa yang terjadi. Lalu perlahan Lucille bersimpuh dengan kaki kanan agar sama tinggi dengan tubuh Jarvis, Jarvis memandang Lucille yang mendekatinya, Jarvis menatap Lucille dalam, demikian juga dengan Lucille.

“kamu kenapa?”

Lucille memulai percakapannya dengan Jarvis.

Jarvis hanya menatap Lucille, Lucillepun juga menatap Jarvis lebih dalam, berharap dapat merasakan apa yang dirasakan Jarvis. Tapi perlahan bulir itu mencoba untuk jatuh, Jarvis hanya mencoba untuk tidak cengeng, mengingat pesan Meissa bahwa laki-laki tidak boleh cengeng, tapi apa boleh buat, dia tak dapat menahannya, bulir itu mencoba untuk tetap jatuh menganak sungai di pipinya.

“nama kamu siapa?’

Lucille menanyakan hal lain, berharap dapat mengalihkan topik agar Jarvis mau berbicara dengannya. Jarvis masih menatap Lucille sendu, perasaan sedih semakin dirasakannya seperti merasakan perasaan bersalahnya kepada Meissa.

            Jarvis memalingkan wajahnya dari Lucille dan berbalik, lalu berlari sekencang-kencangnya, seperti seorang pecinta yang patah hati. Lucille lalu membiarkan ia pergi, menatap dengan perasaan dalam, melihat Jarvis yang patah berlalu, lalu hilang di antara jalanan yang semakin panjang, berkerikil dan sedikit rerumputan. Lucille menatap kepergian Jarvis dan mengikuti arah jalan yang ditempuh Jarvis. Berharap ia menemukan Jarvis lagi, karena dalam hatinya bergumam bahwa apa yang terjadi pada Jarvis mungkin ada kaitan dengan hilangnya Meissa, karena kehancuran dan rasa bersalah itu terpancar dari wajah Jarvis. Lucille hanya ingin tahu sedikit dari apa yang telah terjadi atau setidaknya mengetahui tentang gadis yang berkalung pecahan berly itu, dan mungkin semua informasi itu dapat membawanya menuju Hallucia, sesuatu yang benar-benar ingin ia ketahui dari seluruh perjalanan yang telah ia tempuh.

 

*                      *                      *

“tuk...tuk...tuk...”, Meissa lalu terbangun dari tidur panjangnya, tanpa disadari, dia telah terbaring di atas kasur empuk yang tebal, diselimuti oleh selimut dari kulit beruang. Di sebelah tempat tidur itu ada sebuah meja berkaki tiga, di atasnya terdapat segelas susu dan sepotong roti hangat, seperti baru siap dimasak. Meissa melihat disekelilingnya dengan rasa penuh penasaran, setidaknya yang ia ketahui bahwa tadi malam dia masih terbaring di atas rumput dengan kedinginan yang sangat. Tapi setelah siang tiba, dia sudah berada dalam sebuah rumah sederhana, dengan selimut beruang yang hangat.

            Meissa bangkit dari tempat tidur dimana ia terbaring, ia masih merasakan rasa sakit dan pegal-pegal di seluruh kakinya karena begitu lama berjalan. Meissa turun dari tempat tidur mencoba untuk berdiri, memaksakan kakinya yang kaku untuk berjalan. Meissa melangkah perlahan dengan gontai menuju jendela, wajahnya agak meringis kesakitan dan menahan rasa kaku dikakinya jika ia melangkah. Setelah sampai di jendela, Meissa memperhatikan sekelilingnya, melihat seorang laki-laki yang telah tua memotong kayu.

            Laki-laki tua yang ia lihat mempunyai postur tubuh tinggi dengan tenaga yang masih kuat bagi seorang seumuran dia. Dia memotong kayu demi kayu menggunakan seluruh tenaganya yang masih muda, agaknya kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilan dan umurnya saja. Meissa masih terpaku melihat si bapak tua. Meissa memperhatikan setiap laju kampak yang bapak tua ayunkan, menyayat setiap keping kayu demi kayu, lalu bapak tua mengumpulkan semua kayu yang telah siap dan mengikatnya. Dia juga tidak sadar Meissa telah memperhatikannya lama.

            Bapak tua berjalan menuju gudang dan tanpa sengaja dia melihat Meissa yang telah memperhatikannya dari tadi di jendela. Bapak tua lalu tersenyum.

“kamu sudah bangun ya?” Ucap si Bapak dengan ramah.

“uhmmm....sudah pak” jawab Meissa agak ragu-ragu.

“bagaimana istirahatmu? Banyak hal yang ingin aku tanyakan perihalmu”

“Tidurku begitu pulas, juga banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu, pak”

Bapak tua berjalan menuju gudang dengan memanggul kepingan kayu di punggungnya. Dia menyimpan kayu dan berjalan kedalam rumah menghampiri Meissa, mengambil secangkir susu dan sepotong roti diatas meja, lalu menyodorkonnya kehadapan Meissa.

“Makanlah ini, kamu pasti lapar, tadi pagi aku menemukanmu di pinggir hutan dalam keadaan tak sadarkan diri, lalu aku membawamu kesini dan membuatkanmu ini” bapak tua memulai pembicaraan mereka dan memberikan Meissa sepotong roti yang ia masak sendiri. Meissa lalu mengambil roti itu dan memakannya, dia makan dengan lahap, terlihat raut wajah lapar dari air mukanya, tapi binar matanya masih berkilau bagaimanapun keadaan Meissa. Bapak tua itu memperhatikannya sambil tersenyum, memperhatikan setiap gigitan roti yang ia makan dan tiap tegukan susu yang ia minum.

“oh ya, maaf, aku hampir lupa memperkenalkan diri, namaku bapak Radella danadyaksa, selamat datang di rumahku yang mungil dan sederhana ini, selamat datang di Scorpia” ucap bapak tua yang ramah sambil tersenyum dan membentangkan tangannya seakan-akan menunjukkan setiap inchi rumahnya yang sederhana.

“siapa namamu dan dimana rumahmu?” tambahnya lagi.

Bapak Danadyaksa mengambil kursi, lalu duduk didekat Meissa. Dia tersenyum agar Meissa tidak merasa takut.

“uhmmm...namaku Hadya Meissa, aku dari Clarance” jawab Meissa yang masih merasa agak kaku.

“kenapa kamu bisa sampai kesini, apa yang membawamu bisa sampai kesini? Padahal jarak Clarance dengan Scorpia begitu jauh, oh ya, aku memanggilmu siapa Hadya Meissa?”

“bapak panggil saja Meissa” Meissa melengkungkan senyumnya, lalu melanjutkan lagi ceritanya.

“kemarin, aku menemukan dua ekor peri hutan Nismara, mereka mengajakku bermain dan tanpa sadar mereka telah membawaku ke dalam Nismara, setelah senja datang mereka menghilang, tidak tau entah kemana, aku hanya sendiri, tak tau mau kemana, tapi aku terus berjalan dan berjalan tanpa tau arah, hanya hati yang menuntunku, hingga sampai kesini ketika aku melihat cahaya di kejauhan, lalu semuanya hilang karena aku tak sadarkan diri.” Tutur Meissa menjelaskan kronologi hingga ia bisa sampai di Scorpia.

            Cahaya matahari siang cukup terik, sehingga masuk ke dalam jendela rumah dengan tegasnya, cahaya itu memancar ke arah Meissa, kalung yang dipakai Meissa memantulkan cahaya dan mengenai wajah pak Danadyaksa, menyilaukan matanya. Pak Danadyaksa lalu memperhatikan kalung itu dengan seksama, warna biru kehijauan itu semakin silau jika terkena cahaya matahari.

“kalung yang indah” pak Danadyaksa memuji kalung Meissa, berharap Meissa mengatakan perihal kalung itu sebelum ia bertanya.

“oh, kalung ini? Ini merupakan pemberian ibuku sejak aku kecil, dia menghadiahkan aku ini dan menyuruh aku untuk menjaganya” Meissa menjelasakan perihal kalungnya sambil menggenggam kristal yang berwarna biru kehijauan itu.

“siapa nama ibumu” tanya pak Danadyaksa lagi.

“Damara Cathilin” jawab Meissa lugas.

Pak Danadyaksa lalu mengangguk-angguk paham, seakan-akan kalung itu mengantarkannya ke memori masa lalu yang tak harus ia ingat.

Meissa lalu mengalihkan pembicaraan dengan balik bertanya kepada pak Danadyaksa.

“bapak Thinker ya?”

“kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu ?” pak Danadyaksa membela diri mencoba untuk memancing analisa Meissa akan dirinya.

“bapak mempunyai sebuah jubah Thinker yang bapak gantung disana” Meissa mengarahkan telunjuknya ke arah lemari dimana sebuah jubah tergantung disana.

“coba kamu jelaskan darimana kamu tau kalau itu adalah jubah seorang Thinker ?”

“Clarance dan Scorpia merupakan dua kerajaan yang dulunya adalah kerajaan dengan hubungan persaudaraan yang sangat dekat, dua kerajaan ini saling membantu satu sama lain, dan itu terjalin sampai sekarang walaupun sekarang hubungannya tidak seerat dulu. Hal itu bisa dilihat dari jubah Thinkernya yang hampir sama, dan hanya beberapa desain yang dibedakan.” Meissa lalu tersenyum dan membuktikan bahwa anak seumuran dia sudah mempunyai analisa yang bagus.

“Tapi sekarang hal yang ingin saya tanyakan adalah kenapa bapak tinggal disini? Bukannya Thinker tinggal di istana, kenapa bapak lebih memilih tinggal di rumah kecil yang sederhana ini?” tanya Meissa penasaran.

“hahaha.....kamu ternyata pintar juga ya Meissa” Pak Danadyaksa tertawa dan mengusap kepala Meissa.

“Bapak tinggal disini karena bapak hanya ingin bisa berkebun, menanam semua yang ingin bapak tanam, menggembalakan ternak yang bisa makan di padang rumput belakang rumah ini, di sini udaranya juga segar, nyaman dan tidak terlalu banyak hiruk-pikuk orang-orang yang berkeliaran dengan kesibukannnya masing-masing, disini bapak lebih bisa merasakan menyatu dengan alam dan menjadi bagian dari alam itu sendiri.” Senyumpun melengkung dari bibir bapak tua ini, serasa dia telah hidup kembali,  “bapak juga tidak mau tenggelam dalam kemewahan istana dan semua kegemerlapannya, bapak hanya ingin kesederhanaan, dan hidup dengan apa adanya, dengan apa yang bapak butuhkan, bukan apa yang bapak inginkan”.

            Thinker merupakan pemikir kerajaan, hampir sama dengan seorang cendekiawan kerajaan, tapi mereka diberikan hak khusus, mereka dipilih oleh masyarakat dan mewakili masyarakat di kerajaan. Dalam sebuah kerajaan terdapat beberapa orang Thinker. Thinker memiliki hak untuk memegang kekuasaan jika raja tidak memiliki keturunan atau hilangnya pewaris tahta. Jika pewaris tahta telah ditemukan kembali maka Thinker akan menyerahkan kekuasaan kepada pewaris yang sah. Semua Thinker memiliki tempat di Istana dan mereka tinggal di Istana. Mereka juga diberi kebebasan, seperti halnya pak Danadyaksa yang memilih tinggal di rumah sederhananya di sebuah kaki bukit di tepi hutan Nismara. Thinker lebih tepatnya adalah seorang yang menyuarakan suara rakyat di Istana dan para penjaga tahta.

“oh ya, apa yang kamu tau tentang Scorpia, Meissa?” bapak ingin tau wawasanmu tentang negeri ini, dan apa pengetahuan yang telah ibumu berikan kepadamu tentang Scorpia” Bapak Danadyaksa mencoba memancing Meissa untuk bercerita, setidaknya menjawab penasarannya karena kalung itu telah membuka gerbang ke hippocampus di kepalanya tentang ingatan masa lalu, tentang kristal Berly.

“Scorpia adalah negeri para Hallucia, hihihi...itu yang aku tau bapak”

Meissa tau bahwa bapak Danadyaksa memcoba memancingnya, dan dia juga menggantung pernyataannya tentang Scorpia.

“wah...! pemandangan yang bagus di luar sana, ternyata Scorpia punya lanskap yang bagus ya pak?”

Meissa mengalihkan pembicaraan mereka dengan berlari ke arah jendela, lalu melihat keindahan yang nampak dari dalam rumah. Pak Danadyaksa juga tidak memaksakan rasa ingin taunya kepada Meissa tentang kristal Berly yang ia pakai. Pak Danadyaksa hanya takut jika kalung itu dilihat oleh Humam ignatius atau antek-anteknya, dan itu akan menimbulkan bahaya besar.

“iya, tenang saja, kamu akan punya seorang teman disini, dan dia akan mengajakmu menikmati keindahan Scorpia”

Pak Danadyaksa menjawabnya dengan lembut, lalu Meissa mengangguk dan melengkungkan senyum.

*                      *                      *

 

Casey Hermes terus berjalan keluar dari kerajaan Humam Ignatius yang menakutkan, dia berjalan terus agar dapat keluar dari lembah hitam yang gersang dan beraroma kematian. Casey terus berjalan semakin cepat, tangannya memegang gagang pedang yang ia sarungkan. Dia menoleh ke belakang, ada beberapa prajurit Humam yang mengikuti dan menguntitnya terus kemanapun ia pergi. Casey berlari diantara rumah-rumah yang telah ditinggalkan para penghuninya, rumah-rumah usang tak berpenghuni, rumah-rumah yang mati.

            Sejak Humam Ignatius mengambil alih tanah dan negeri itu, semua menjadi gersang, pohon-pohon telah ditebang, semua tumbuhan telah diracuni, tak ada yang hijau di sana, semua telah habis, hitam dan gelap. Semua rakyatnya telah mengungsi dan pindah ke negeri Scorpia maupun Clarance meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan. Semua prajurit istana yang tersisa dimantrai dan disihir agar tunduk kepada pengampuan Humam Ignatius, menjadi prajurit hitam. Lembah yang dulu hijau dan indah telah gersang, kerajaan yang dulunya damai sekarang telah beraroma kematian, setelah di ambil alih oleh Humam.

            Casey melihat seekor kuda yang diikatkan oleh salah satu prajurit Humam, kuda tua yang memang tidak dipakai lagi, kuda yang disuruh untuk menunggu kematiannya sendiri, secara perlahan. Casey berlari menghampiri kuda tersebut, menunggangi dan mengambil tali kekangnya. Casey berlalu dengan cepat meninggalkan lembah hitam dengan kuda tersebut. Di belakangnya, prajurit Humam yang diperintahkan untuk membunuh Casey terus membuntuti di belakang, tapi sekarang jumlah mereka semakin banyak, seperti seekor rusa yang diburu oleh sekawanan serigala.

            Puluhan tombak prajurit hitam melayang diantara kuda Casey, dia dihujani tombak-tombak. Kudanya berlari semakin kencang, pertama karena berusaha untuk menyelamatkan diri dan yang kedua karena ketakutan akan terbunuh. Casey menunggangi kuda tua yang memang tak lagi terpakai bagi para prajurit hitam Humam, kuda yang sekarang hanya punya kemampuan yang terbatas. Kuda Casey tak sebanding dengan kuda-kuda prajurit hitam yang gagah berani, kuda-kuda yang telah teracuni oleh hawa pembunuh, kuda yang berubah menjadi karnivora, kuda yang rakus akan mangsa tuan yang menungganginya.

            Casey adalah mata-mata bayaran yang dibayar oleh siapapun yang membutuhkan jasanya. Dia professional, jika bayarannya pas, dia akan memberikan jasanya, memata-matai orang yang diinginkan kliennya. Casey tidak memihak siapapun, dia hanya bekerja untuk uang, dia tidak hitam maupun putih, dia diantara keduanya.

            Prajurit hitam telah menyusul Casey, mengepungnya di kedua sisi, kanan dan kiri. Kuda yang lamban itu telah membuat dirinya dalam keadaan bahaya, dan dia juga telah salah bekerjasama dengan seseorang, seseorang yang paling kejam; Humam Ignatius. Nyawanya sekarang menjadi imbalan atas informasi yang ia berikan kepada Humam, nyawanya sekarang berada pada keputusan dan ayunan pedang prajurit hitam yang berada di sebelah kiri atau sebelah kanannya. Casey menggenggam erat pedangnya yang tersarung, mengeluarkannya pedang tersebut dari tahtanya. Casey memegang pedang dengan tangan sebelah kanan dan tali kekang di sebelah kiri. Serangan dari prajurit hitam sebelah kanan dengan mudah ia tangkis, tapi ia kewalahan dengan prajurit di sebelah kirinya.

“Hahahaha….hahahaha… kau akan mati mata-mata malang ! ! !”

Hardik prajurit yang ingin melibasnya dengan pedang.

Dengan gesit Casey menunduk dan berbelok secara mendadak ke arah kiri, dia telah keluar dari lembah hitam yang menakutkan, tapi di depan sana terdapat hamparan hutan yang sangat luas, tak ada pilihan, hanya itu satu-satu jalan yang dapat ia tempuh agar dapat keluar dari kejaran para prajurit hitam.

            Hamparan hutan yang sangat luas itu adalah hutan yang sangat ditakuti oleh manusia karena keheningannya, keheningannya membunuh, tapi itu adalah satu-satunya jalan yang mesti di tempuh oleh Casey, hutan itu adalah Nismara.

“hai ! kau telah mengambil jalan yang salah ! hahahaha…”

“itu pilihanku”

Jawab Casey tegas.

Setelah sampai di tepi hutan Nismara, kudanya mendadak berhenti, tak ada kuda yang sanggup masuk kedalam hutan tersebut karena keheningannnya, kuda itu ketakutan luar biasa, keheningan nismara begitu membunuh. Saat prajurit hitam sibuk menenangkan kuda-kuda mereka, itulah kesempatan Casey untuk kabur dari pengejaran itu. Casey melompat dan berlari meninggalkan kuda tua yang juga telah ketakutan. Dia terus berlari, sesampai di tepi hutan dia tertegun. Dadanya tersentak, tapi tak ada jalan lain, inilah jalan satu-satunya, Nismara selalu punya cerita; tempat pelarian orang-orang, tempat pelarian berbagai bangsa. Tanpa pikir panjang Casey terus berlari ke dalam nismara yang hening.

            Prajurit hitam kewalahan dengan kuda mereka yang semakin ketakutan dan melihat Casey yang telah kabur menuju Nismara.

“tinggalkan kuda kalian !!! kejar mata-mata sialan itu, kita harus membunuhnya, jangan sampai dia menjual informasi tentang kita kepada petinggi Scorpia !!!”.

Salah satu prajurit hitam itu berteriak lantang dan melompat dari kudanya. Dia diikuti oleh prajurit lain, mereka terus berlari menuju Nismara, mengikuti dan memburu  Casey Hermes yang telah hilang ditelan oleh keheningan hutan itu.

 

*                      *                      *

  • view 198