Empat H a d y a M e i s s a

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2016
Hallucia

Hallucia


Hallucia, pengawal dari masing-masing manusia.

Kategori Fantasi

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Empat H a d y a   M e i s s a

aun jendela bergoyang-goyang disapa angin menelusup ke dalam ruangan yang hening. Pikiran meissa masih melayang jauh pada kejadian sore itu, yang membuat keadaan Jarvis dipermalukan di depan teman-temannya – di depan meissa itu sendiri. Pikirannya melayang ke sepoinya angin yang membelai daun-daun Filicium, meneteskan embun dari daun Homalomena ke bunga Widelia dan mengantarkannya ke jalanan kerikil berbatu diantara Themeda yang menyeruak menutupi jalanan. Mengantarkan lamunannya kepada erangan Jarvis yang menggema karena mimpi-mimpinya diinjak-injak, kepada bulir air mata Jarvis yang menetes seiring tetesan embun yang jatuh dari daun Homalomena ke daun Widelia dibawahnya.

“hai...! hai...!” dua ekor peri yang memperhatikannya menyadarkan Meissa dari lamunan yang semakin jauh mengikuti tetesan embun, Meissa tersentak dan tersadar dari lamunannya.

            Meissa masih ternganga dan bingung. Matanya melongo seakan tidak percaya dengan apa yang baru ia saksikan, kejadian kali kedua yang membuatnya semakin percaya bahwa apa yang ia saksikan ketika bermain dengan teman-teman sebelumnya juga merupakan kenyataan. Tapi ia masih belum percaya, masih belum yakin dengan apa yang ia saksikan; dua ekor peri. Peri itu terbang mengelilingi tubuh Meissa sambil tertawa dan menari-nari, perlakuan yang mereka lakukan membuat meissa semakin tak percaya dicampur takut dan keheranan. Meissa mencoba meraih dan menangkap peri nakal itu, tapi tak kunjung bisa.

            Dua ekor peri itu terbang menjauhi Meissa mendekati jendela dan keluar dari kamar Meissa yang menenangkan. Meissa mengejar dua ekor peri kearah jendela dan memperhatikan peri tersebut terbang melingkar-lingkar di udara. Meissa turun dari kamar, berlari keluar mengejar peri nakal yang telah membuatnya terkejut, keheranan dan penasaran. Meissa mengambil jala serangga di gudang yang biasa ia gunakan untuk menangkap Graphium di taman. Dia berlarian mengejar dua ekor peri dengan mencoba menjalanya. Setiap dia melayangkan jala, setiap itu pulalah peri itu mengelak dengan lincah.

            Meissa, gadis yang keras hati itu pantang untuk dipermainkan. Meissa mengejar peri itu tanpa henti, hingga dua ekor  peri itu kelelahan dan tak tau arah kemana hendak terbang.

“hei ! lihat kesana, kita terbang ke arah sana”  ucap peri pertama kepada peri kedua sambil mengelakkan setiap layangan jala serangga Meissa yang semakin geram.

Peri kedua menoleh ke arah yang hendak mereka tuju, lalu mengangguk, kepakan sayap mereka semakin cepat membuat Meissa semakin kewalahan. Meissa berlari lintang-pukang, semakin geram dibuatnya setelah dipermainkan oleh dua ekor peri kecil. Tapi Meissa mendadak berhenti, mengerem langkah kakinya yang telah berlari lebih cepat dari impuls syarafnya, lebih cepat dari potensial listrik yang mengalir di selubung mielin saraf-sarafnya. Nafasnya terengah sambil menatap peri yang lepas dari buruannya. Dua peri tersebut tertawa riang sambil meremehkan Meissa pongah, karena mereka tau bahwa Meissa tak akan sanggup melangkahkan kaki melewati batas itu, batas yang telah dibuat oleh ayahnya, batas yang telah dibuat oleh kerajaannya, batas yang hanya boleh dilewati oleh orang-orang tertentu saja, batas dimana kita harus mengambil jalan memutar untuk pergi ke kerajaan diseberang batas tersebut, batas yang tak bisa dipintasi, batas yang penuh misteri.

            Meissa hanya tercenung melihat peri itu tertawa riang, geram yang dia simpan dalam hati sambil menatap peri yang pongah, “tunggu pembalasanku” itulah kira-kira yang tergambar dalam kernyit keningnya. Karena batas itu , dia tak sanggup melangkah lagi. Batas itulah yang membatasi Clarance dengan Chiara, dimana Lucille mencoba bertahan hidup didalamnya, kemisteriusan yang penuh dengan keheningan; Nismara.

 

                      *                        *                      *

 

Dua ekor peri itu masih terbang melayang-layang didalam pikiran Meissa, dia tak dapat mengalihkan perhatiannya dari dua ekor peri yang telah membuatnya kesal. Tapi Jarvis juga membayang-bayang dalam kepalanya karena sudah beberapa hari ini mereka tak bertemu sejak kejadian itu. Teman sepermainannya tak ada kabar, cukup untuk membuat Meissa kesepian dalam beberapa hari.

            Meissa adalah putri kerajaan Clarance yang berumur sebelas tahunan, seumuran dengan Jarvis, Carlin, Berwin dan Chiko. Meissa dengan mata ungu yang ia warisi dari ibunya Damara cathilin, membuatnya semakin anggun. Gadis kecil yang keras hati dan pantang menyerah menjadi karakter tersendiri yang membedakan Meissa dengan teman-temannya.

            Meissa berjalan menapaki jalan setapak yang biasa dilalui oleh Jarvis. Meissa mencari Jarvis dan ingin menceritakan semua yang ia alami tadi. Karena menurut hemat Meissa, hanya Jarvis yang akan percaya cerita-cerita dan semua yang ia alami serta hanya Jarvis yang bisa ia percayai. Dari semua hal aneh yang Meissa alami, sebagian besar ia alami bersama Jarvis dan semua hal aneh yang Meissa alami pasti akan diceritakan kepada Jarvis.

            Pekarangan luas terhampar, jika berdiri disana akan dihadapkan dengan sebuah pekarangan besar, peternakan, padang rumput, ladang gandum dan jagung. Dan diantara itu semua berdiri sebuah rumah kecil yang sederhana. Rumah itu dipagari dengan kayu disekelilingnya, berwarna coklat muda, kontras dengan keadaan sekelilingnya yang hijau dan kekuningan karena jagung dan gandum. Meissa melangkahkan kaki menginjakkan kaki untuk pertama kalinya disana, di kediaman Jarvis. Selama hidupnya sejak ia mulai mengenal Jarvis belum pernah sekalipun Jarvis mengajaknya kesini, ke tempat kediamannya. Meissa hanya tahu dari cerita-cerita yang ia ceritakan, Meissa tau jalan menuju kediaman Jarvis juga dari cerita. Tempat yang ia temui sekarang sudah pernah ia temui, setiap lekuknya, warnanya, aromanya, semuanya, tapi didalam cerita, cerita yang Jarvis ceritakan untuknya.

            Meissa mengelilingi semua, ia kenal semua lekuknya, bunga yang ada dipekarangannya, warna catnya, aroma gandumnya, semua diceritakan oleh Jarvis. Itulah yang membuat Meissa betah mendengar cerita Jarvis, karena Jarvis menceritakannya secara detail, detail sampai ke lubang yang ada di dinding peternakannya. Meissa menikmati suasana disana yang begitu menenangkan. Meissa masuk ke dalam kandang sapi perah yang begitu besar dimana terdapat puluhan sapi membentang. Meissa berjalan diantara dua sapi yang berhadapan dimana terdapat sebuah koridor tempat para pemerah sapi lalu lalang, dari kejauhan dia melihat Jarvis sedang memerah sapi dengan tenang. Begitu mengesankan, anak seumuran Jarvis telah mahir memerah susu sapi, seperti orang dewasa atau para pemerah lainnya yang notabene umurnya berbeda jauh dengan Jarvis.

            Meissa mencoba mendekati Jarvis, tapi Jarvis tak sadar kalau ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Dalam radius beberapa meter dari Jarvis, Meissa duduk disebuah kursi dan tetap memperhatikan Jarvis sambil senyum-senyum. Jarvis hanya merasa tak ada seseorangpun disana, dia juga tak merasakan adanya kehadiran seseorang disana. Seraya duduk dan tersenyum, Meissa terus memperhatikan, memperhatikan setiap gerak yang dilakukan Jarvis. Setelah lima belas menit disana, Jarvis masih tak merasakan kehadiran seseorangpun. Jarvis bangkit dan berdiri mencoba mencari sesuatu, ia menoleh kekanan dan kebelakang, lalu kekiri. Jarvis melongo, terkejut atau mungkin dalam selang beberapa detik detak jantungnya berhenti. Seakan tak percaya apa yang ia lihat, seseorang dengan mata ungu, seseorang yang telah ia kenal sejak lama, tapi ia tetap tak percaya. Meissa masih tersenyum memperhatikan tingkah Jarvis yang aneh, tersenyum-senyum, lalu tertawa.

            Jarvis bingung, mengusap-usap matanya. Masih tetap tak percaya, bagaimana mungkin Meissa gadis bemata ungu itu bisa sampai di kediamannya, pun tak pernah ia membawa meissa ke peternakannya. Meissa masih tetap tersenyum dan tertawa melihat tingkah Jarvis yang kebingungan dan sedang mencoba untuk berfikir.

“Hai Jarvis...!”

Meissa menyapa dan melambaikan tangannya kearah Jarvis, lalu tersenyum.

“Hai Me..me...meissa....”

Jarvis tergagap dan membalas lambaian tangan Meissa, lalu membalas senyuman itu. Jarvis sekarang yakin kalau yang ia lihat memang benar-benar Meissa. Meissa yang selama ini ia kenal, tapi ia masih belum mengerti kenapa Meissa bisa sampai kesini.

“nanti aku jelaskan”

Ucap Meissa mengerti dengan apa yang ada difikiran Jarvis.

“aku punya banyak cerita untukmu”

Sambung Meissa lagi. Lalu Jarvis membalasnya dengan senyuman yang berarti sebuah persetujuan. Persetujuan bahwa ia akan menjadi pendengar yang baik Meissa hari ini.

            Mereka duduk diberanda depan rumah, dihadapan mereka terbentang padang rumput yang luas. Meissa lalu memulai ceritanya, semua kejadian yang ia lihat, dua peri yang selalu mengikutinya, Nismara dan semua yang ia fikirkan. Jarvis diam, menjadi pendengar yang baik dan mendengarkan semua cerita itu secara seksama. Quentin mengintip dari balik jendela, dan tersenyum.

 

*                                  *                                  *

 

Jarvis mengendap-endap di kamar bibinya, Meissa menjaga pintu dari luar memperhatikan dan mengawasi agar tak ada seseorangpun yang mengetahui apa yang mereka lakukan. Bibi Jarvis pernah menceritakan semua tentang Clarance dan Scorpia kepada Jarvis sebagai sebuah dongeng sebelum tidur. Melalui sebuah buku catatan, bibinya menceritakan semua, tapi dengan cerita yang digantung-gantung, tak pernah selesai. Banyak hal yang bibinya ceritakan, mulai dari sejarah Clarance, Nismara, Peri, Hallucia dan semua tentang sesuatu yang tak pernah diketahui oleh orang awam, dan mereka hanya menganggap itu hanya rumor dan dongeng biasa.

            Jarvis mencari-cari diatas meja, di etalase, di lemari dan di semua tempat yang mungkin bibinya untuk menyimpan sebuah rahasia, pun Meissa terus mengawasi dengan cermat didepan pintu. Jarvis pernah meminjam buku catatan itu kepada bibinya, tapi bibi Jarvis tidak mau meminjamkan sesuatu yang belum seharusnya Jarvis ketahui, tentu itu menyisakan pertanyaan dipikiran Jarvis dan membuatnya semakin penasaran. Apalagi cerita yang diceritakan oleh Meissa sama persis dengan salah satu cerita yang pernah didongengkan oleh bibinya, tentang peri-peri dari Nismara.

            Jarvis memeriksa laci lemari bibinya, dia mencoba memeriksa buku satu persatu, membongkar laci-laci tersebut dan menemukan beberapa buku. Disana ada buku-buku catatan, dan diantara buku catatan itu ada salah satunya bercerita tentang Nismara, buku catatan yang ditulis oleh pamannya. Jarvis mengambil buku itu dan melarikannya menuju Meissa.

“cepat...cepat....”

Ucap Meissa sambil berbisik dan melongo kekiri dan kekanan berharap tak ada seseorangpun melihat mereka.

            Jarvis membawa buku itu ke gudang tempat penyimpanan peralatan-peralatan peternakan dan ladangnya. Jarvis membuka buku itu halaman demi halaman bersama Meissa. Matanya berbinar melihat tulisan-tulisan yang tergores di setiap halaman tersebut, tapi ada sedikit raut kekecewaan didalam air muka Jarvis sembari matanya membaca setiap tulisan yang ada didalamnya, tapi juga bercampur dengan wajah senang membalikkan halaman demi halaman.

 

                           *                   *                 *

 

“bodoh sekali kalian, untuk menangkap seorang gadis kecil saja tidak bisa !!!”

Bentak Humam ignatius sambil mondar-mandir di depan para prajuritnya yang dipimpin kenothecaster. Humam begitu marah, wajahnya geram. Ada seorang prajuritnya yang berusaha membela diri, sambil terbata-bata.

“ta..ta...pi....tuan”

Ucapnya agak gugup.

Humam memalingkan wajah kearah prajurit tersebut dan menatap tajam. Humam menatap lama.

“tapi tuan.....”

“braaaak...!!!”

Kaki Humam menohok perut prajuritnya yang berusaha membela diri. Prajuritnya terpental jauh karena hantaman kaki humam yang begitu keras. Prajurit yang lain langsung surut dan terlihat ciut melihat salah satu temannya kena hantam.

“kau harus mendapatkan pedang dan gulungan itu secepatnya, persiapkan semua prajuritmu dan cari gadis kecil itu...!!!”

Bentak Humam Ignatius yang geram kepada Kenothecaster.

“baik tuan”

Jawab Kenothecaster dan menundukkan kepalanya kepada Humam.

Humam membalikkan diri dan melihat jauh ke horizon langit dari kekuasaannya di lembah hitam. Beribu-ribu prajuritnya sedang dipersiapkan untuk ekspansi ke Scorpia. Dia tersenyum sinis, karena kekuasaannya  akan semakin meluas dari lembah hitam dimana kerajaannya yang gelap itu semakin mengerikan di setiap detilnya.

            Humam Ignatius dengan perawakan besar, memakai jubah hitam. Wajahnya sebagian ditutupi topeng, membuatnya semakin menakutkan. Dia telah menguasai lembah hitam selama lima tahun lamanya, lembah hitam sebelumnya merupakan sebuah kerajaan yang penuh dengan keselarasan. Lembahnya yang hijau penuh dengan keindahan. Tapi setelah Humam ignatius mengambil alih kekuasaan kerajaan ini dengan membunuh raja beserta seluruh prajurit, membakar seluruh rumah penduduk yang mencoba melawan kekuasaannya. Lembah yang hijau itu menjadi gelap dan gersang karena dijadikan sebagai pusat untuk mengembangkan kekuasaannya. Melatih makhluk-makhluk yang dianggap monster bagi manusia dan tunduk kepada pengampuannya. Dibawah kendali Kenothecaster sebagai laksamana perang lembah hitam. Humam ignatius sedang menyiapkan lembah hitam yang akan menjadi malapetaka bagi Scorpia. Tapi kekuatannya belum lengkap – pedang dan gulungan itu mesti ditemukan.

 

*          *          *

 

Meissa mengumbar senyum berjalan melenggak-lenggok di kerumunan pasar yang hiruk pikuk, ada rasa kepuasan yang ia rasakan karena semua yang ada dalam pikirannya telah ia ceritakan kepada Jarvis dan jawabannya juga telah ia temukan didalam buku catatan bibi Jarvis, Indurasmi adena. Meissa, dengan tenangnya berjalan di antaran kerumunan orang-orang, dengan segenap keberanian tak ada sedikitpun rasa takut akan bahaya yang akan menimpa atau orang berniat jahat kepadanya karena dia adalah salah satu putri kerajaan Clarance. Anak satu-satunya Raja Najdah fadey yang akan mewariskan tahta Clarance.

            Setiap orang yang melihatnya menundukkan kepala mengangguk dan tersenyum, Meissa – gadis kecil yang menawan – selalu membalas dengan senyuman terbaik. Dia adalah anak yang disayangi oleh setiap penduduk Clarance, ada sebuah aura yang terpancar dari wajahnya yang merona.

            Meissa terus berjalan pulang mempercepat langkah kakinya karena siang telah tergerak menuju senja, meissa berjalan cepat dan kemudian berlari diantara rerumputan yang tumbuh disekitar jalan tersebut. Meissa berlari dan tak melihat Lucille yang menggenggam sebuah gulungan berjalan dan memperhatikannya.

“buuuk..”

Meissa menabrak Lucille yang berjalan dengan arah yang berlawanan, Meissa menjatuhkan gulungan itu dari genggaman Lucille. Meissa terkejut lalu berbalik dan melihat gulungan yang bergulir di atas tanah. Meissa berusaha mengambil gulungan itu dari tanah dan mengembalikannya ke tangan Lucille.

“Maafkan aku karena telah menabrak kakak, aku harus bergegas pulang”

Ucap Meissa sambil memberikan gulungan yang ia jatuhkan dari tangan Lucille. Meissa lalu memberikan senyuman terbaiknya. Lucille menerima gulungan itu dan membalas senyum Meissa.

“terima kasih” ucap Lucille

Tetapi mata Lucille terpaku kepada kalung yang melingkar di leher Meissa, kristal yang ada dikalung itu pernah ia lihat, pernah ia lihat di sebuah buku, buku yang ia baca sebelum ke Nismara, sebelum sampai di Clarance. Selma birney, buku yang ia baca di perpustakaan besar Chiara. Kristal itu pernah ia lihat yang menggabungkan dua warna, berwarna hijau seperti bentangan hutan dan biru lautan, kristal itu seperti Kristal Berly.

            Meissa melangkah mundur sambil melambaikan tangan, lalu tersenyum lagi. Meissa membalikkan badan dan bergegas pulang, ia menoleh lagi ke belakang dan memberikan senyum lagi ke Lucille, tapi Lucille masih terpaku. Matanya masih melongo ke arah leher Meissa dimana terlingkar kalung dengan Kristal hijau kebiruan atau biru kehijauan – indah. Meissa telah hilang dari pandangan Lucille, tapi Lucille masih tetap tak percaya apakah itu memang Kristal Berly atau tidak, masih tak bisa meyakinkan dirinya.

 

*          *          *

 

  • view 155