Tiga N i s m a r a

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2016
Hallucia

Hallucia


Hallucia, pengawal dari masing-masing manusia.

Kategori Fantasi

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
Tiga N i s m a r a

 

Nismara merupakan hutan yang penuh dengan ketenangan, diam. Setiap pohon-pohonnya hening dan kadang kala bergemerisik saat angin berhembus. Nismara terletak diantara Chiara dan Clarance serta membentang mengelilingi sebuah negeri dibagian selatan. Banyak cerita yang dipercaya oleh orang-orang bahwa Nismara merupakan tempat yang misterius dan penuh dengan tanda tanya, sangat sedikit sekali orang yang mau mengambil jalan ke dalam hutan, orang-orang yang hendak pergi ke Chiara atau Clarance kadang mengambil jalan memutar agar bisa menghindari Nismara. Nismara mempunyai pohon-pohon tua yang begitu gagah berdiri menentang langit karena banyak dari orang-orang yang takut mengganggu ketenangannya.

Nismara dulu mempunyai dongeng yang masih tersimpan dan dipercayai oleh orang-orang sampai sekarang.  Dalam ketenangan Nismara orang percaya bahwa ada banyak peri hutan yang hidup didalamnya, sebagian dari peri hutan kadang ada yang mengganggu manusia. Sebagian yang lain bermain bersama anak-anak dan membawanya sampai ke dalam hutan lalu meninggalkan mereka disana jika senja telah datang. Karena dongeng ini, banyak para orang tua yang tidak memperbolehkan anak-anak mereka bermain ditepi hutan Nismara karena begitu banyak anak yang hilang didalamnya. Dongeng itu bertahan sampai sekarang dan masih diwariskan ke generasi-generasi berikutnya. Dongeng itu benar atau tidak, masih tak ada yang tau, karena sudah lebih dari seratus tahun tidak ada anak-anak yang diperbolehkan untuk menginjakkan kaki atau mendekati hutan Nismara. Sekarang Nismara menjadi hutan yang begitu rimbun dengan pohon-pohon tuanya dan masih menyimpan sejuta ketenangan.

Lucille beristirahat sambil mendudukkan dirinya diantara dua banir pohon yang tinggi. Sudah dua hari ia berjalan menyusuri Nismara dan belum menemukan ujung jalan dari hutan yang tenang ini. Lucille mengambil tempat minumnya dan hanya menyisakan beberapa teguk air untuk diminum. Cadangan airnya hampir habis tapi jalan ini tak kunjung berkesudahan. Lucille mencoba meneguk air yang tersisa dengan perlahan, ia sangat menikmati tetes-tetes air yang mencoba masuk kedalam tenggorokannya yang kering. Lucille menyandarkan dirinya di banir pohon sambil menikmati sedikit cahaya yang menyelusup diantara dedaunan. Kakinya mulai letih setelah berjalan dua hari berturut-turut sendirian, ketenangan dari Nismara kadang membuatnya terhanyut. Ia mencoba untuk tidak mempercayai beberapa dongeng tentang Nismara, berharap akan baik-baik saja menempuh perjalanan menuju Clarance.

Dalam hutan Nismara yang tenang kadang terdengar gemerisik kelinci yang mengendap diantara rerumputan dan rusa yang malu-malu diantara semak belukar. Lucille yang kelaparan mencoba mengikuti gerak-gerik dari kelinci kecil yang mengendap dan berusaha agar tidak ketahuan. Lucille membuntuti arah perjalanan kelinci, sambil mengekang tali busurnya yang ia pasangkan dibahu. Perlahan dan diam Lucille mengambil anak panah dan membidik anak kelinci kecil yang lengah, tangannya menarik tali busur dengan kuat, berharap buruannya kali ini tidak lari. Sambil membidik dengan arah yang pas, lalu melepaskan anak panahnya.

“tisssk…!!!” anak panahnya lepas dan mengenai ranting pohon, sehingga meleset jauh dari bidikan, rasa lapar telah mengaburkan pandangannya, dengan muak Lucille mengambil anak panah bergantian dan menembakkan pada kelinci yang telah lari karena terkejut, beberapa anak panah terlepas dan tak satupun yang mengenai sasaran. “huuffftt…!” keluhnya sambil merebahkan diri diatas serasah hutan yang lembab.

Wajah Lucille memucat, matanya memerah dan jalannyapun mulai lunglai. Hutan Nismara mempunyai suhu yang berbeda jauh dari hutan lainnya yang menyebabkan berubahnya fisiologis tubuh Lucille secara drastis. Kabut dan embun membuat matanya pedih dan memerah. Dengan sisa tenaga, Lucille tetap meneruskan perjalanannya dengan layu, ia duduk istirahat  dalam waktu yang singkat, dan meneruskan perjalanan lagi, dan duduk lagi, dan berjalan lagi, itu yang ia lakukan, dan duduk lagi. Diantara dua banir pohon yang besar Lucille melepaskan penat sambil kehausan tanpa air. Diatas ranting pohon ada seekor ular yang tertidur pulas, Lucille mengambil busurnya lagi dan membidik dengan sangat hati-hati, berusaha agar buruannya tidak kabur untuk kedua kalinya. Anak panahnya tepat mengenai kepala ular dan jatuh ke tanah. Lucille berlari mengambil pisaunya dan langsung menebas kepala ular yang jatuh dari ranting pohon, ular itupun menggeliat kesakitan kehabisan darah dan akhirnya buruan Lucille pun tertangkap.

Lucille memegang perut yang semakin lama semakin lapar, tenaga yang tersisa hanya untuk menguliti ular yang dia dapatkan, tak mungkin dia memakan ular ini mentah-mentah. Lucille mencoba menghidupkan api dari ranting-ranting dan serasah hutan yang kering untuk membakar ularnya. Butuh cara khusus membersihkan seekor ular untuk dimakan agar tidak keracunan saat kelenjar bisanya pecah dan mengenai semua daging yang akan dimakan. Lucille telah beberapa kali melakukan hal ini, dan memakan ular merupakan cara terakhirnya untuk hidup, karnivora memakan karnivora. Ular yang telah ia bersihkan ditusuk dengan sebilah pedang yang ia bawa, api yang dari tadi telah menyala-nyala menunggu sesuatu untuk dibakar dan disantap.

Lucille memanggang buruannya sampai matang dengan daging yang telah kelihatan empuk untuk dimakan. Daging ular yang panjang ini cukup untuk mengeyangkan perut dan membuat badannya sedikit hangat di tengah dinginnya suhu Nismara. Daging ular panggang yang telah masak dan matang itu ia santap tanpa henti, Lucille tidak menyadari betapa panasnya daging itu karena saking laparnya perut yang ia tahan selama seharian penuh. Beginilah keadaan seekor karnivora jika dimakan seorang pemangsa, posisinya sebagai konsumen tingkat atas semakin luntur dan dimakan tanpa belas kasihan. Lucille memakan dagingnya dengan lahap, menyisakan rangka dan tulang-tulang yang telah copot. Lucille merentangkan kakinya kedepan lalu bersandar ke pohon. Lucille puas dengan lahapan sedapnya seekor ular panggang, ia sekarang hanya mengusap-usap perutnya yang telah kekenyangan.

“saatnya untuk mencari sungai, aku belum minum seteguk airpun setelah makan ular yang sedap ini, air didalam kantong air ini juga telah kosong, jika aku tidak menemukan air, bisa-bisa aku sebagai pemangsa juga akan berakhir tragis dalam hutan yang akan memangsaku setelahnya” Lucille berbicara sendirian dalam Nismara yang sepi. Perutnya yang kenyang menunggu beberapa teguk air.

Lucille mengeluarkan peta dan sebuah kompas dari dalam tasnya. Mencoba mencari arah menuju sungai terdekat yang akan melepaskan kehausannya. Jari-jarinya mulai bermain dengan peta menelusuri arah kompas berharap ada sungai terdekat disekitarnya.

“dapat…!” ucapnya sambil menunjuk sebuah sungai didalam peta. Ia bergegas dan memasukkan peta ke dalam tas dan segera bangkit. Lucille mencari arah mana ia hendak melangkahkan kaki, “di dalam peta sungainya tidak begitu jauh dari sini” ucapnya sambil berjalan menuju arah yang ia inginkan.

Lucille melangkahkan lagi kakinya dengan semangat, berjalan diantara perdu yang tumbuh. Ada banyak hal aneh yang ia temui didalam hutan menyangkut semua kemisterian dari Nismara, mulai dari pola angin yang berubah-ubah sampai pada krepuskular merah yang aneh pada sore hari. Lucille berusaha untuk biasa saja dan tidak terlalu menanggapi hal-hal  aneh yang ia temui selama diperjalanan. Setelah bejalan lama tanpa henti, ia istirahat sambil mendudukkan dirinya diatas sebuah batu. Ia berusaha menghemat cairan tubuhnya untuk tidak terlalu banyak menguap ke lingkungan luar.

 Lucille duduk diatas batu mengatur nafasnya lagi, ada pola gerakan semak yang ia lihat, aneh dan bergerak sendiri, tidak ada angin ataupun sesuatu yang ia lihat menggerakkan semak tersebut. “srk, srk, srk, srk, srk” ada bunyi aneh yang ia dengar dari balik semak-semak. Lucille terkejut dan langsung bangkit dari duduknya, sambil menggenggam pedang yang masih tersarung dipinggang. Lucille waspada dengan menoleh ke sekeliling, semak semakin bergerak kencang seperti ada sesuatu yang menggerakkannya dari belakang, bulu kuduknya berdiri, tangannya bergetar dan tak biasanya ia seperti ini, sepertinya hawa Nismara telah banyak mempengaruhi proses fisiologis tubuhnya. Tangan Lucille bergetar menggerakkan pedang yang tersarung, semakin cepat tanpa bisa ia hentikan. Lalu diam, diam seketika, gerakan itu berhenti, semak tadipun berhenti bergerak, bulu romanya kembali biasa, bias wajah takutnya hilang. Semak kembali tenang, angin yang berhembuspun berhenti seketika, Lucille melihat sekelilingnya, ia menahan nafas, waspada. Semak lalu bergoyang lagi, ada sesuatu yang kencang berusaha keluar menampakkan dirinya. Dengan cepat, dari semak keluar tiga ekor peri hutan menyambar wajah Lucille, Lucille terkejut dan langsung terduduk.

“hihihihihihi” ketiga peri tertawa senang melihat wajah Lucille yang memucat, nafas Lucille terengah-engah karena menahan rasa takut, bahwa peri itu ternyata bukan hanya cerita yang diceritakan orang-orang tentang Nismara. Setelah puas tertawa lepas, ketiga peri ini pergi meninggalkan Lucille. Lucille masih terperangah dan bangkit dengan cepat, Lucille berlari tunggang langgang meninggalkan tempat itu dengan muka yang masih pucat.

Lucille terengah-engah, mukanya masih pucat setelah kejadian yang baru ia alami. Ia masih duduk diantara semak-semak. Ternyata cerita yang selama ini ia sangka dongeng berwujud nyata tepat didepan matanya sendiri. Pupilnya mengecil, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat, tiga ekor peri hutan bersayap terbang tepat didepan mata kepalanya sendiri, mengejutkan dan menertawakannya. Lucille mencoba menenangkan diri dan menstabilkan nafasnya kembali agar ia dapat melanjutkan perjalanan lagi. Sekarang lucille mencoba bangkit dan menyarungkan pedangnya, ia berjalan pelan dan tetap waspada akan hal aneh lain yang mungkin terjadi dalam hutan misterius ini. Lucille memperhatikan langkahnya dengan hati-hati, tangan kanannya masih memegang hulu pedang. Gemerisik daun dan sepoi angin sore menemaninya mencari sungai.

Lucille berharap menemui sungai secepatnya karena matahari akan pulang keperaduannya. Malam akan semakin gelap pada awal bulan ini, karena bulan takkan menampakkan dirinya menemani perjalanan Lucille. Jika Lucille menemukan sungai, ia dapat menelusuri sungai menuju hulu, karena hulu sungai berasal dari negeri Clarance.

Sungai sudah semakin dekat, karena alirannya begitu deras terdengar, Lucille semakin semangat akan hal itu serta rasa takutnya juga semakin berkurang. Lucille berlari dengan semangat seakan-akan ingin melompat menceburkan dirinya. Ditepian Lucille mengambil air dengan tangan dan meminum air itu perlahan-lahan sambil menikmati tiap tetes yang mengalir kedalam kerongkongannya. Lucille membasuh muka dengan puas dan membersihkan kotoran yang menempel ditubuh dan bajunya. Lucille merasa segar setelah sekian lama berjalan dan kali pertama ia menemukan sungai. Lucille duduk di tepian melepaskan penatnya sambil meminum air dengan puas, ia merebahkan dirinya ditemani angin sore yang membelainya untuk tertidur.

Kelopak mata Lucille mencoba untuk menutup karena angin terus membelainya untuk tertidur – tapi berat – matanya menolak. Ada sesuatu yang membuatnya agar terus tetap waspada, karena ada hal ganjil yang ia rasakan, bulu romanya berdiri, pupilnya juga semakin mengecil dan jantungnya berdetak kencang. Lucille menoleh kekiri dan kekanan berharap tidak terjadi apa-apa, mencoba menenangkan dirinya agar sesuatu baik-baik saja.

Lucille melihat diseberang sungai ada seseorang yang berlari diantara pohon dan semak seperti ketakutan. Lucille berharap ia tidak mengalami hal yang aneh lagi kali ini, lucille buru-buru mengeluarkan tempat air dari tasnya dan mengisinya dengan air sungai yang mengalir, ia menutup tempat airnya dengan erat dan menyimpannya di dalam tas. Lucille segera bangkit dan beranjak dari tepian sungai seraya menyandang tasnya. Lucille berlari menghindar dan bersembunyi dibalik sebuah pohon yang besar agar ia tak telihat.  Dari balik pohon ia duduk dengan tenang agar keberadaannya tidak diketahui, lalu memperhatikan – mengintip – semua hal yang terjadi dari tempat persembunyiannya tersebut.

Orang yang ia lihat berasal dari seberang sungai sambil berlari ketakutan, ia seorang lelaki tua yang berwajah pucat karena rona ketakutan itu menghambat aliran darah menuju wajah tuanya. Lelaki tua ini berperawakan tinggi dengan struktur wajah lonjong, ia mempunyai kepala botak dan tatapan mata tajam. Lelaki tua kelihatan seperti seorang bangsawan atau mungkin seorang thinker karena pakaian yang ia pakai telah menggambarkan siapa dia sebenarnya atau ini semacam tipuan untuk mengelabui orang-orang.

            Lelaki ini berlari menuruni jurang menuju sungai, nafasnya kelihatan terengah-engah, parasnya menjadi merah padam dengan rona yang ketakutan sangat. Dia tak dapat mengontrol langkah kakinya untuk melangkah, beberapa kali ia terjatuh tapi berusaha untuk bangkit kembali. Kawanan pasukan yang mengejarnya dari belakang membuat gugusan semak dan pohon-pohon kecil bergoyang, begitu ribut dengan pekikan dan teriakan – seperti perburuan – mengejar buruan yang telah lepas. Lelaki itu terus berlari menuju sungai, berharap ia dapat menyebrangi sungai dengan cepat melewati arus yang begitu deras.

            Kawanan pasukan yang mengejar lelaki tua ini kelihatan begitu beringas. Mereka memakai topeng prajurit yang menutupi seluruh wajah, membawa tongkat dan pedang. Mereka seperti kawanan monster yang menemukan seekor buruan, saling berebut dengan yang lain berharap mendapatkan bagian yang banyak. Mereka menuruni jurang dengan penuh semangat sambil menghentak-hentakan tongkatnya.

            Lelaki tua tadi menyebrangi sungai dengan sisa tenaga yang ia punya. Jubah kebangsawanan yang ia pakai membuat langkahnya menjadi terhambat karena arus deras membawanya ke hilir dari aliran sungai. Tangannya menggengam sebuah gulungan yang erat. Lelaki tua ini berusaha menjaga gulungan ini agar tidak basah dan hanyut dibawa derasnya sungai. Sedangkan kawanan pasukan tadi telah semakin mendekat dibelakangnya dan menyebrangi sungai. Lelaki tua ini diuntungkan oleh baju zirah pasukan yang menghalangi mereka untuk menyebrang, karena baju zirah akan memberatkan ketika menyebrangi arus sungai yang deras, membuat pengejaran mereka jadi terhambat.

            Lelaki tua ini telah sampai ditepian sungai, membawa gulungan yang masih ia jaga baik-baik, ia berlari menuju hutan. Lucille terus memperhatikan gerak-gerik lelaki tua yang berlari kearah persembunyiannya. Wajah lucille pucat pasi, semburat merah yang keluar dari wajahnya tadi karena kepanasan langsung hilang seketika. Bulu romanya berdiri karena lelaki tua itu semakin mendekat kearahnya, tangannya menggenggam hulu pedang yang tersarung, bersiap-siap untuk menyerang – tapi tangannya gemetar – jika terjadi apa-apa. Si lelaki tua kelelahan dan jatuh terjungkang kedepan karena tak dapat mengontrol dirinya. Dia tak sanggup berdiri dengan nafas sesak dan muka merah padam mewarnai rona parasnya.

            Si lelaki tua terjatuh tepat didepan persembunyian Lucille, ia sudah tergeletak tak berdaya disana. Lucille masih tetap diam dan bisu memperhatikan – tak berbuat apa-apa – hanya kaku. Lucille menoleh ke pasukan yang semakin dekat, Lucille menduga kalau lelaki ini bukan ancaman, yang perlu diwaspadai hanya pasukan yang berperawakan monster yang berlari semakin mendekat. Lucille segera belari ke arah si lelaki tua dan menarik tubuhnya yang tak berdaya ke arah persembunyian. Nafasnya sesak – menyandarkan tubuh – tak dapat bernafas dengan normal, pasukan monster juga semakin mendekat dengan beringas.

“terima kasih telah menolongku” rintih lelaki tua

Lucille hanya menatap diam dan belum dapat berkata-kata.

“namaku Roland bertin, aku thinker dari Concordia” tambahnya lagi.

Pasukan yang mengejarmu itu, mereka siapa?” tanya lucille heran.

“terlalu panjang jika aku jelaskan, mereka juga semakin dekat”

Lucille melirik ke arah pasukan yang semakin dekat.

“aku sekarang sudah tak punya banyak waktu, tolong kau jaga ini baik-baik. Karena ini adalah harta negeriku yang tersisa” seraya memberikan gulungan yang ia pegang dan sebuah pedang mewah tersarung erat.

“apa ini ?” tanya Lucille heran

“aku tak dapat menjelaskan sekarang, suatu saat kau pasti akan tau dengan sendirinya. Sekarang sebaiknya kau pergi, mereka telah datang, kau harus sembunyi” sambil mendorong Lucille.

“lalu apa yang akan kau lakukan disini? Apa kau tak lari denganku bersembunyi dari mereka?”

“aku tak punya kekuatan lagi untuk berlari, sebaiknya kau pergi saja dan tak usah pikirkan aku. Aku hanya berharap kau dapat menjaga harta negeriku itu baik-baik dan jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat”

“ya aku akan menjaganya, tapi siapa kau sebenarnya”

“aku Roland bertin, Thinker dari Concordia. Pasukan itu berusaha mengambil harta itu dari genggamanku” nafasnya menjadi semakin sesak dan susah untuk bicara.

Lucille hanya diam melihat gulungan dan sebilah pedang yang diberikan kepadanya.

“sekarang kau pergi, tak usah hiraukan aku, cepat pergi” ucap Roland

Lucille berat untuk melangkahkan kakinya meninggalkan Roland sendiri, tapi harus bagaimana lagi pasukan telah dekat. Lucille menggenggam gulungan dan pedang itu dengan erat, lucille berlari meninggalkan Roland bertin mencari tempat persembunyian lain. Lucille hanya tak tega dan menoleh lagi kebelakang melihat si lelaki tua telah terkulai lemah. Roland tersenyum kepadanya serasa semua bebannya telah lepas. Tidak jauh dari sana Lucille mengintip dari balik semak apa yang akan terjadi selanjutnya, tangannya masih memeluk gulungan dan pedang – resah.

Pasukan monster bertopeng telah sampai ditepian, mereka beringas berlari mengejar buruan. Sampai didalam hutan mereka kehilangan jejak. Masing-masing monster berpencar mencari dibalik pohon dan semak. Roland hanya bisa diam membisu berharap tidak diketahui dari balik pohon. Masing-masing monster berpencar mencari dibalik pohon dan semak. Roland hanya bisa diam membisu berharap tidak diketahui dari balik pohon, mukanya memucat dan menahan nafas yang tersengal-sengal. Salah satu monster mendekat ke arah persembunyian Roland, Roland semakin resah dan memucat. Roland berusaha berlari menghindar dari tempat semula, diam-diam.  

Roland bertin merangkak diam-diam diatas serasah yang kering, membuat rangkakannya terdengar bergemerisik. Tapi dia berusaha untuk meredam gemerisik itu. Monster tadi berjalan menghampiri persembunyiannya, semakin mendekat. Roland semakin resah, mempercepat geraknya agar tidak terlihat. Tapi gerakan yang cepat itu membawa malang untuknya, rangkakannya membuat gemerisik serasah menjadi lebih besar dan ribut.

“ssrrkk, ssrrkk, srrkk” bunyi serasah semakin keras, monster tadi menoleh ke kiri dan ke kanan mencari asal bunyi. Mungkin hanya angin dan tikus tanah, pikir sang monster dalam hati. Monster kembali mencari, tapi gemerisik itu tetap terdengar dan membuatnya semakin penasaran.

Roland berusaha mempercepat gerakannya, degup jantungnya semakin cepat dan wajahnya semakin memerah – merah padam tepatnya – resah dan takut. Monster terus menelusuri asal bunyi gemerisik yang membuatnya semakin keheranan, dia berjalan menelusuri semak-semak. Sementara itu Roland bersandar dibalik sebuah pohon besar,  mengatur nafasnya, tenaganya terkuras habis, dia hanya bisa duduk sebentar dibalik pohon dan diam-diam bersembunyi.

Monster bertopeng berperawakan tinggi dan berotot ini, memiliki postur seperti manusia biasa tapi dengan lapisan kulit yang agak kasar seperti kulit gajah, tebal dan kumal. Dia memakai jubah, menyandang zirah besi yang menutupi separuh bagian badannya. Tongkatnya panjang dengan mata pedang disalah satu ujungnya. Topengnya polos dengan dua lubang mata untuk melihat, ditopengnya terdapat sepasang tanduk yang salah satunya patah. Jika dia geram akan ketahuan dari balik topeng, dan akan semakin menakutkan. Dia mencoba menguakkan semak-semak dengan tongkatnya dan menebas semua yang menghalangi jalannya. Dari gayanya bersikap, akan terlihat bahwa dia sedang marah besar karena merasa dipermainkan oleh si lelaki tua.

Dari kejauhan kaki Roland kelihatan dari balik pohon, tapi Roland tak menyadari hal ini, dia hanya terengah-engah mengatur nafasnya yang masih belum stabil. Monster mendekati Roland diam-diam dan menyiapkan tongkat yang siap untuk membunuh ditangannya. Lucille masih mengamati hal ini dari jauh, dia tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong Roland. Lucille mengamati sekelilingnya, dia hanya melihat batu yang berserakan. Lucille menggenggam batu ini erat dan melemparkannya ke arah si monster, monster terkejut dan membuatnya menoleh kearah Lucille. Lucille pucat pasi, dia memutar badan dan berlari sekuatnya menjauh dari si monster. Hal ini mengejutkan Roland yang sedang lengah, Roland bangkit dari duduknya dan berusaha melangkahkan kaki untuk berlari dengan tenaga yang tersisa.

Dua buruan telah lepas, membuat si monster bingung untuk mengejar salah satu dari mereka. Roland dan lucille berlari ke arah yang berbeda dengan semua tenaga yang mereka punya. Si monster berteriak lantang memberitahukan teman-temannya bahwa buruan telah ditemukan, dia memberikan isyarat dengan tangan menunjuk ke arah mana Lucille dan Roland berlari. Beberapa monster berlari mengejar ke arah Lucille dan sebagian lain mengejar Roland dengan penuh tawa senang dan bengis, berlari dengan semangat menembus semak belukar.

Lucille menembus semak tinggi berharap bisa menyembunyikan dirinya karena kawanan monster tertinggal jauh dibelakang. Lucille memanfaatkan badannya yang lincah sehingga meninggalkan kawanan monster begitu jauh. Lucille tak tau arah, ia hanya bisa menoleh ke kiri dan ke kanan mencari tempat persembunyian. Karena lengah tanpa sadar ia melangkahkan kakinya kedalam lubang bekas pohon yang tumbang. Lucile terperosok ke dalam, ia masuk ke dalam lubang setinggi dua meter. Lucille mencoba bangkit dan naik lagi dari lubang, tapi tak kunjung bisa. Dalam lubang terdapat sebuah celah yang belumut dan berjamur, tak ada pilihan lain. Lucille hanya bisa bersembunyi dalam celah itu dan menutupnya dengan semak yang ada, lucille mencoba setenang mungkin agar tak ketahuan walau terasa agak pengap dan sesak.

Si monster menoleh ke kiri dan ke kanan mencari dan memperhatikan keberadaan sosok Lucille, mereka telah menyisir seluruh semak-semak tapi tak menemukan seorang perempuanpun. Mereka menebas semak dan pohon-pohon kecil sambil mengamuk, karena baru kali ini seekor buruan kecil mempermainkan pemangsa besar seperti mereka. Mereka mencoba menelisik semak dan pohon lagi untuk mengejar buruan ini, Lucille. Tapi tak kunjung mereka temukan. Dari sisi lain terdengar teriakan dari sang tuan monster, semacam komandan yang memimpin perburuan. Pasukan yang mengejar Lucille berlari ke arah teriakan dan membiarkan jejak Lucille begitu saja. Disatu sisi Lucille selamat, tapi disisi lain mungkin ada masalah.

Seluruh gerombolan monster berkumpul menghadap tuannya, mereka menyebutnya dengan Kenothecaster. Dia mencengkram erat jubah Roland bertin dan menghempaskannya ke tanah, menginjak dadanya kuat seraya tertawa senang. Monster lainnya menghentak-hentakkan tongkat mereka ke tanah dengan bersemangat. Menunjukkan sebuah euforia karena buruan yang paling mereka cari telah ditemukan. Kenothecaster mengangkat jubah Roland dengan bengis, lalu mendekatkan wajahnya yang menyeramkan ke arah Roland.

“mana gulungan dan pedang raja yang kau bawa !” tanya Kenothecaster sambil menghardik.

“aku tak memegangnya”

“kau bohong !!!” hardik Kenothecaster lagi dengan menggenggam jubah Roland lebih erat.

“aku tak ada memegangnya” jawab Roland dengan wajah pucat.

Kenothecaster memeriksa jubah Roland dengan kasar dan tak menemukan apa-apa. Dia memegang dan mencengkram kuat jubah Roland dan menghentakkannya ke tanah. Roland terhempas dan terjungkang kebelakang, dia meringis kesakitan. Kenothecaster melihat Roland lama sambil berpikir dan memegang hulu tongkatnya yang bermata pedang. Semua kawanan monster yang lainnya juga ikut diam dan berhenti menghentak-hentakkan tongkat mereka. Roland hanya bisa diam membisu dengan nafas sesak dan muka yang semakin pucat. Roland mencari celah untuk melarikan diri, tapi tak mungkin karena bisa saja semua tongkat mengarah kepadanya dan menusuk ulu hatinya.

Lucille merangkak dalam semak-semak dan memperhatikan keadaan yang semakin memburuk itu dari jauh. Dia bersembunyi diantara semak-semak dan memperhatikan sambil menahan rasa takut dan cemas. Dia tak dapat membantu apa-apa, karena tak sebanding dan keadaan telah semakin memburuk, dan itu juga akan menjadi mimpi buruk bagi Lucille dan Roland. Jika itu ia lakukan, sama saja memberikan gulungan dan pedang yang telah dijaga mati-matian oleh Roland.

Lucille mencoba mengubur gulungan itu dalam tanah dan menolong Roland apapun yang akan terjadi, karena dia tak tau apa rahasia yang tersimpan dari gulungan dan pedang yang ia pegang. Tapi hatinya menolak karena rasa takut, dia tetap mencoba dan mengulang caranya tadi. Dia mengambil batu dan menggenggamnya untuk dilayangkan. Tapi apa boleh buat, batu yang ia genggam lebih lambat melayang daripada tongkat yang bermata pedang Kenothecaster. Lucille hanya terdiam, bisu, tak dapat berbicara apa-apa. Lucille terpaku lama terhadap apa yang telah terjadi – kaku. Pemangsa itu telah memangsa buruannya.

 

*              *             *

  

Ditaman istana, dalam ruah merah mentari siang yang menyengat, Meissa asyik berlarian bersama teman-temannya tanpa menyadari foton cahaya dari sinar ultraviolet telah menyentuh kulit lembutnya. Angin begitu sepoi menyapa tiap ranting yang dilaluinya, bergumam air yang beriak-riak. Keriangan mereka tak tergantikan pastinya. Senyum Meissa lepas seakan tiada beban hidup yang ditanggungnya, air mukanya menggambarkan kebahagiaan yang sangat, ketika ia berlari, ketika ia mengejar teman-temannya dan ketika ia berhenti karena lelah, senyumnya tetap lepas, senyum yang tanpa beban – senyum Damara cathilin.

            Mereka berlarian mengelilingi taman istana, berkejaran penuh semangat.

“tunggu, aku capek” tukas Meissa berhenti berlari dan membungkuk memegang lututnya.

Temannya ikut berhenti dan mencoba mengatur nafas, sambil mengelus-elus dada yang ngos-ngosan. Sementara mereka lengah Meissa mengambil ancang-ancang, dan lanjut berlari meninggalkan teman-temannya yang ketinggalan jauh.

“Tungguuuuu.......” kata teman-temannya.

Meissa hanya melambaikan tangan dan tersenyum, lanjut berlari. Meissa lalu meninggalkan temannya jauh dibelakang, dia hanya tersenyum senang karena yang lain tak dapat mengejarnya. Meissa bersembunyi dibalik sebuah tembok dekat semak-semak berharap dia tidak kelihatan, meissa menghela nafas perlahan-lahan dan mengaturnya lagi dengan seksama.

“hai...” peri hutan secara tiba-tiba dihadapannya dan menyapa.

Meissa lalu terhentak kaget melihat peri hutan yang tiba-tiba muncul – wajahnya pucat pasi, memutih seperti tanpa darah – dan peri hutan itu seketika terbang meninggalkannya jauh dalam hitungan kedipan mata. Nafas Meissa lalu sesak karena tertahan melihat peristiwa barusan. Matanya tak sanggup berkedip tadi – hanya melongo – karena sesuatu hal yang membuatnya tak percaya. Meissa lalu terduduk dan berusaha mengatur nafas dengan baik.

            Teman-temannya berteriak mencari.

 “ Meissaaa.....Meissaaa......!”

“ Meissaaa...kamu dimana”

“ Meissa”

“iyaaa... aku disini” jawab Meissa sambil melambaikan tangannya dan beranjak dari balik tembok, Meissa berusaha bersikap dengan biasa – seakan tidak terjadi apa-apa – dan merahasiakan semua yang ia lihat. Tapi wajahnya masih menggambarkan rasa kaget yang tak tertanggungkan, membuat ronanya masih memucat seakan tak ada darah sedikitpun dalam setiap vena dan arteri wajahnya, perlahan, aliran darah itu mengalir dengan lambat ,membuat raut wajah yang biasa lagi.

“Meissa, kamu tidak apa-apa?” tanya temannya lagi

“ya, aku baik-baik saja” jawab Meissa sambil terhentak

Temannya lalu berhenti dan memperhatikan wajah Meissa sejenak, karena ada sesuatu yang beda yang ia lihat dari sebelumnya.

“apa kamu sakit ?”

“gak, gak...gak kok, aku tidak sakit” jawab Meissa terbata-bata

“lalu kenapa pucat begitu?”

“ooh, aku tadi melihat Megophris yang besar disana” ucap Meissa mencoba berkilah dan menunjukkan tempat ia bersembunyi tadi. Temannya melihat ke arah Meissa, lalu berlari meninggalkan Meissa sambil tersenyum.

“ayo kejar aku !” ucapnya.

“iyaa” jawab Meissa sambil membalas senyum.

Sembari temannya telah jauh berlari, Meissa mencoba menoleh kebelakang lagi melihat sesuatu yang begitu mengherankan dan tak pernah ia jumpai sebelumnya dan hanya dapat ditemukan dalam dongeng-dongeng – Meissa melihat panjang ketempat tadi.

“Meissaaa........ayooo....”teriak temannya sambil melambaikan tangan dengan penuh semangat.

“iyaaa....”

Meissa memalingkan pandangannya dan mencoba membuat keadaan baik-baik saja seperti tidak ada kejadian apa-apa. Meissa lalu berlari lagi meninggalkan pertanyaan besar dalam benaknya – apakah yang tadi itu kenyataan?.

 

*                      *                      *

Pedang Kenothecaster menembus tubuh Roland bertin yang rapuh, bak daging yang dicabik-cabik cakar elang – mengenaskan. Roland menatap kenothecaster penuh dengan kebencian sebelum nafas terakhirnya berhembus, raut wajah dan air mukanya menggambarkan sebuah kepuasan dan kemerdekaan. Darah yang begitu pekat terus mengalir diperutnya yang telah robek, tapi pancaran matanya menyiratkan “kau tak akan mendapatkannya, racun yang buruk rupa”. Lalu Roland tertawa seakan mengejeknya. Selang beberapa saat, nafas itu berhembus dan pergi sambil memicingkan mata.

            Lucille menatap kejadian itu dengan jelas, jelas terjadi tepat di depan pelupuk matanya tak dapat dihindari, batu yang telah ia pegang begitu lamban dan menyiratkan sebuah keputusasaan. Keputusasaan yang berarti, bahwa nyawa roland bertin beberapa detik lebih cepat melayang daripada batu yang beberapa detik lebih lambat ia lontarkan. Mukanya pucat pasi, tak tau mau bilang apa – bak es yang mulai mencair karena ditimpa panas – hanya membisu.

            Lucille menggenggam gulungan dan pedang itu semakin kuat, menggenggamnya erat, seerat simpul yang mengikat. Lucille mengambil ancang-ancang untuk berlari secepat kilat – tunggang langgang. Lintang pukang – meninggalkan Kenothecaster bersama pasukannya. Lucille berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu berharap dapat meniggalkan Nismara lebih cepat juga. Karena Nismara adalah keheningan, keheningan yang mengikat, keheningan dalam kebisuan dedaunan yang diam.

            Kenothecaster meninggalkan tubuh Roland yang mengenaskan itu begitu saja, berharap ada harimau ataupun pemangsa lain yang mau memakan tubuh orang yang bijak ini, karena setiap darahnya yang menetes bak keharuman pengorbanan yang besar dan kemerdekaan yang lepas. Kenothecaster mengumpulkan pasukannya lagi dan bersiap untuk berburu mangsa selanjutnya yang memegang gulungan dan pedang. Satu persatu telunjuknya menunjukkan arah yang harus ditempuh oleh masing-masing pasukan yang telah dibagi.

“Gaaaaa...........” kenothecaster berteriak sekencang-kencangnya dan mengacungkan pedangnya ke ufuk timur, tanda ini menyiratkan bahwa, sekarang pergilah kalian semua mencari buruan kalian di daerah masing-masing. Lalu para pasukannya mengacungkan tongkat keatas langit dan menyambut teriakan Kenothecaster.

“Gaaaaa.........” secara serentak, lalu mereka berlalu, berlari dan mencari mangsa yang telah lepas karena kesembronoan mereka juga.

            Lucille berlari ke arah barat, tidak tau kemana arah dan tujuan yang akan membawanya. Membawa raganya lepas dari jeritan keheningan Nismara ini, dia hanya berharap Nismara hanya memberikan kenangan buruk yang satu ini kepadanya. Lucille berlari tak tau arah mana yang akan ia tempuh, kemana kakinya melangkah, maka kesanalah raganya pergi. Mimosa yang berduri itu seringkali menusuk tangannya, kadang terjatuh di serasah hutan yang licin. Apapun yang terjadi, ada sesuatu didalam dirinya yang membuatnya tetap teguh untuk bangkit lagi.

            Dalam setiap tubuh manusia, ada sebuah potensi yang akan selalu membawanya kedalam sebuah kekuatan terbesar yang melebihi dirinya dan pun itu tak ia sadari. Potensi ini adalah kekuatan dari manusia itu sebenarnya. Karena ia tak menyadari potensi itu ada dalam dirinya, karena potensi ini tersirat, jauh dalam dirinya dan menunggu untuk dibangunkan. Potensi ini kadang datang secara tiba-tiba dan tak terduga karena saat kita terdesak potensi ini akan timbul dan semakin besar. Inilah potensi terbesar yang ada dalam tubuh manusia, potensi untuk hidup lebih dari yang manusia itu sendiri inginkan. Dan manusia kadang tak mengenali potensi itu karena ia juga tak terlalu mengenali dirinya sendiri.

            Lucille berlari dan berlari, berlari lagi, lalu berlari, berhenti sejenak dan berlari lagi tak berhenti dan berlari, tapi ujung Nismara masih tak kunjung tampak. Hanya pohon-pohon yang menjulang tinggi yang ia dapatkan, kadang semak belukar dan perdu yang melukai tangan dengan duri-durinya. Kapanlah hutan ini berujung katanya dalam hati. Hatinya meronta dalam keheningan, pikirannya berteriak “tolong aku”. Tapi pepohonan hanya membisu, dedaunan juga hening, kadang gemerisik angin yang ia dengar diantara sela daun yang saling berbisik “kasihan gadis itu”.

 

*                      *                      *

 

Akhirnya, sungai menjawab semua keluh kesah Lucille. Disana, di depan sana terbentang Clarance dengan semua kemegahannya. Disana, dibelakang sana terbentang hutan Nismara dengan semua keheningannya. Disini, tepat disini, berdiri Lucille dengan semua kepuasan dan semua kelegaannya melepas lelah. Lelah yang berkepanjangan tak berhenti-henti. Tangan kanannya masih memegang gulungan dan tangan kirinya masih memegang pedang, lalu pundaknya masih menyandang busur dan tas lusuh. Lucille tertawa puas, air mukanya menyiratkan “akhirnya aku sampai”.

            Kenothecaster memperhatikan Lucille dari dalam, memperhatikan dari dalam Nismara, karena mereka tak sanggup melangkahkan kaki keluar menuju Clarance, kenapa? Karena ada suatu bayang yang membatasi mereka – hallucia. Kenothecaster menggerunyam dari dalam Nismara, dibalik pohon.

“buruanku lepas lagi” katanya dalam hati. Lalu Nismara dengan keheningannya, diantara dedaunan yang saling berbisik “kasihan pemburu ini”.

 

*          *          *

  • view 301