MENJADI IBU

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 09 September 2016
Menyampaikan Kebaikan Project

Menyampaikan Kebaikan Project


Project ini adalah salah satu cara untuk menyampaikan kebaikan dengan sastra, dengan tulisan-tulisan artikel, sehingga diharapkan bisa menghapus dahaga orang-orang yang sedang membutuhkannya.

Kategori Spiritual

4 K Hak Cipta Terlindungi
MENJADI IBU

Dalam sebuah rumah mungil, perabotannya tak terlalu banyak, lantainya juga tidak dimarmer. Seorang perempuan memberi semangat kepada anaknya, di ruang tengah rumah itu.

“ayo…ayo… Kamu pasti bisa, ayo sini jalan ke ibu…!”

Anaknya senyum di dalam perasaan yang takut dan dicampuri rasa bimbang, mencoba melangkahkan kaki pertamanya. Tanpa dipegangi, tanpa berpegangan, dengan satu langkah yang mantap, dia berhasil, untuk satu langkah yang pertama. Langkah kedua diayunkan, namun agak goyah, tapi dia bisa mempertahankannya, dan langkah kedua dengan mantap juga telah berhasil. Senyumnya semakin mengembang, matanya semakin berbinar, lalu langkah-langkah selanjutnya dengan mudah dilewati. Di langkah terakhir, dia menjatuhkan badannya ke perempuan yang dipanggil ibu itu. Ibu lalu menangkapnya dengan lembut, lalu memeluknya.

“horeee…. ! akhirnya kamu berhasil, kamu udah bisa jalan…”

senyum ibu juga mengembang, merekah, melihat anaknya yang memberikan perkembangan yang luar biasa.

Mungkin kita tak pernah memikirkan, kepada siapa kita harus berbakti, Kata Nabi “Ibumu”, lalu “Ibumu lagi”, lalu “Ibumu lagi”, kemudian “baru ayahmu”. Apakah kita pernah menyadari, langkah kita yang mantap sekarang ini, berjalan dengan pelan hingga berlari dengan penuh semangat, itu buah dari pengajaran ibu. Pengajaran ibu yang lebih mendominasi dibandingkan ayah. Saya rasa ibu berhak mendapatkan pahala dalam setiap langkah yang kita ayunkan menuju jalan kebaikan, setiap langkah kita menuju sekolah, setiap langkah dalam menuntut ilmu, ibu berhak mendapatkan pahala dari setiap langkah tersebut, karena itu buah dari pengajarannya. Lalu sudikah kita melangkahkan kaki ini menuju hal-hal yang buruk, sehingga itu akan menghapus pahala ibu, bahwa hasil dari pengajarannya digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat.

Menjadi ibu bukanlah suatu yang sederhana, dibutuhkan komitmen, dibutuhkan konsistensi, dibutuhkan totalitas dan loyalitas. Di dalam kehati-hatian yang panjang, ibu berusaha menjaga kehamilannya selama lebih kurang 9 bulan 10 hari. Selama itu, ibu harus menjaga semuanya, menjaga makanannya, menjaga kesehatannya, menjaga ucapan dan tingkah lakunya, karena semua hal itu sedikit banyaknya akan mempengaruhi janin yang ibu kandung. Selama 9 bulan 10 hari inilah proses penentuan, apakah anak yang ibu kandung adalah anak yang sempurna secara fisik, anak yang sempurna secara mental. Saya rasa, ibu memang berhak mendapatkan setiap pahala dari apa yang telah ibu ajarkan, mulai dari berjalan, setiap satu langkah adalah satu pahala. Lalu dari berbicara, setiap satu kata yang terucap adalah satu pahala untuk ibu, karena bebicara adalah hasil dari apa yang telah ibu ajarkan. Saya rasa semua hal yang dilalui dan diajarkan oleh ibu, setimpal dengan apa yang beliau dapatkan di akhirat nanti. Merugilah para ibu, jika mereka menyerahkan pengajaran ilmu yang bermanfaat itu kepada para pembantu, para babysitter atau tempat penitipan anak.

Menjadi ibu pada fase pertama telah selesai, membesarkan anak dari fase zigot menjadi janin, fase pertama adalah fase pembentukan fisik. Lalu fase kedua dimulai, membesarkan anak dari bayi menjadi dewasa, fase kedua adalah fase pembentukan mental.

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya……..

(QS. Al-Baqarah: 233)

Fase kedua tidak kalah penting dengan fase pertama. Fase pembentukan mental adalah fase untuk mempersiapkan anak, sehingga dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Untuk persiapan tersebut, diperlukan kehadiran ibu. Kata Nabi, “Ummu al-madrasatul ula”, ibu itu adalah madrasah yang pertama bagi anak-anaknya. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak mereka, karena ibu yang memberikan bekal-bekal tersebut, seperti berbicara dan berjalan tadi, ibu yang akan mengenalkan kehidupan kepada mereka. Pada fase inilah, seorang anak akan dibentuk, kalau di dalam Al-Quran dikiaskan dengan “setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang akan menjadikannya nasrani ataupun majusi”. Merugilah para ibu, yang memberikan pembentukan mental tersebut kepada para pembantu dan Babysitter.

Sekarang begitu banyak perempuan yang begitu ingin menjadi seorang istri, tapi tak mau menjadi ibu. Begitu banyak perempuan yang ingin menikah, namun tidak mempersiapkan diri dan mental menjadi seorang ibu. Perempuan yang hanya sibuk dengan kepentingan dan pencapaian pribadinya, tapi tidak mau menjadi sekolah pertama bagi anak-anak mereka. Para istri yang tidak mau melahirkan para generasi yang dinanti-nanti. Perempuan yang tidak mau menerima pahala dari setiap langkah yang dilangkahkan dan setiap kata yang diucapkan anak-anak mereka.

Nanti, kamu pasti akan menemukan suatu momen

Dimana kebahagiaan itu merekah di hatimu

Merambat dalam darah di nadi-nadimu

Ketika melihat mereka sibuk menyimpulkan tali sepatu

Membetulkan dasi dan memasukkan buku ke tas sekolah

Kemudian, pulang menujumu

Berjalan setengah berlari

Memperlihatkan nilai tugas sekolahnya

Yang nyaris sempurna

--oo--

  • view 328