Dua L u c i l l e e r r o l

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 08 September 2016
Hallucia

Hallucia


Hallucia, pengawal dari masing-masing manusia.

Kategori Fantasi

860 Hak Cipta Terlindungi
Dua L u c i l l e   e r r o l

 

Hutan hujan merupakan hutan yang akan sangat dingin pada malam hari, sepoi angin malam akan membuatnya semakin dingin, bak es yang membeku dibawah suhu rata-rata. Pohon-pohon menjulang tinggi dengan gagahnya menentang langit yang membujuk hujan untuk turun. Pohon yang berumur ratusan tahun membentuk kanopi-kanopi yang menutup lantai hutan dan membuat cahaya yang masuk akan kurang. Hutan adalah sesuatu yang eksotis dengan ragam kilau cahaya krepuskular ketika pagi dan senja hari. Kanopi akan membuat cahaya disisihkan ke lantai hutan, anggun. Jatuh menghempas dengan bunyi yang senada, udara akan lembab dan dingin akan menusuk, beku.

            Kita akan tau hutan Nismara yang tenang dengan aliran sungai yang senada dengan sepoi angin tapi dalam ritme yang berbeda, hutan hujan dengan pohon-pohon tua membentang dari utara ke selatan. Setiap pohon berumur ratusan tahun dan meneruskan generasi yang sudah berumur ratusan tahun pula. Setiap pohon membentuk kanopi-kanopi yang akan membuat kelembaban semakin tinggi dilantai hutan, krepuskularnya sangat indah jika pagi dan senja datang.

            Gemerisik daun menemani setiap langkah Lucille errol di hutan Nismara, mentari mulai pulang keperaduannya dengan meninggalkan orange senja di horizon langit. Dia terus melangkah diantara ketenangan hutan dengan mengambil jalan lurus kearah barat melintasi Nismara. Dia telah berjalan selama dua hari menempuh hutan sendirian tanpa kudanya yang ia biarkan pergi karena ketakutan ketika akan memasuki Nismara.

 

*         *         *

 

Lucille errol baru melanjutkan perjalanan dari kerajaan Chiara dengan kuda putihnya yang melenggok anggun ketika berjalan dan tampak gagah ketika berlari. Obsesi telah membawanya kepada Chiara – Hallucia. Obsesi ini telah membawanya menjelajah ke berbagai perpustakaan di seluruh negeri, dan obsesi tersebut telah membawanya disini dan berdiri di negeri dengan pustaka yang besar, Chiara.

Chiara merupakan sebuah negeri yang mempunyai perpustakaan besar dengan beribu-ribu buku didalamnya. Buku-buku tua dengan ketebalan hampir 20 cm, kertas lusuh dan manuskrip ilmu semua terangkum didalam perpustakaan ini. Rak-rak buku menjulang sampai lima meter. Bangunan yang megah menunjukkan megeri ini sangat mementingkan ilmu pengetahuan. Lucille berjalan diantara rak-rak sambil memegang buku-buku tua, melayangkan matanya mencari sebuah buku, Hallucia.

Obsesi telah membawanya kesini, keingintahuannya membawa dirinya menempuh perjalanan ribuan kilo demi mengumpulkan informasi untuk melepaskan dahaga keingintahuannya. Rak terbuat dari kayu pohon ek yang keras, dipoles dengan cat coklat tua dengan sedit ukiran Fleur de lys. Buku-bukunya dibalut dengan kulit binatang untuk menjaga kertasnya yang telah lusuh, setiap judul buku diolesi dengan tinta hitam yang telah memucat, menandakan manuskrip-manuskrip didalamnya telah berumur sangat tua.

Lucille mengambil beberapa tumpuk buku dan meletakkannya diatas meja. Tangannya mulai lihai menggerakkan lembar demi lembar dengan sangat hati-hati agar tidak ada hal penting yang terlewatkan. Matanya menari dari kiri ke kanan membaca tiap kalimat dalam buku tersebut. Jika satu buah buku sudah siap ia akan beralih ke buku lainnya, sampai semua buku yang tertumpuk itu telah habis ia bolak balik, tapi apa yang ia dapat, nihil. Lucille bangkit dari tempat ia duduk, dan mulai berjalan diantara jajaran rak buku yang tinggi. Lucille mulai mencari lagi, ditelusurinya tiap rak dan memeriksa dengan mata jeli. Akhirnya ia mendapatkan dua buah buku dengan ketebalan sampai 15 cm, disampul menggunakan kulit rusa dengan tulisan pada kulit buku berwarna abu-abu tua. Lucille membuka perlahan buku sampul buku ini, mulai membolak-balikkan kertas lusuhnya dengan teliti, matanya berbinar.

Lucille errol sangat antusias dengan apa yang ia temukan, matanya berbinar dengan mulut sambil komat-kamit membaca isi buku dan membolakkan halaman demi halaman. Lucille memulai buku kedua dan melakukan hal yang sama, tapi pada halaman ke-91 bab ke-2 lucille tertegun, lama. Air mukanya menyiratkan bahwa ia telah menemukan sesuatu yang tak mungkin atau semacam kebetulan, matanya tertegun lama. Lucille tak sabar lalu membalikkan halaman demi halaman dengan cepat mencari sesuatu yang mungkin ia lewatkan dalam buku tersebut. Tak ada hubungan bab ini dengan bab selanjutnya, Lucille mencari halaman tadi yang membuatnya tertegun. Halaman ini halaman ke-91 tapi halaman selanjutnya hilang sampai halaman ke-100. Lucille mencoba menoleh ke kiri dan ke kanan, sepi. Tak ada satupun orang diperpustakaan itu selain dirinya. Lucille merobek halaman ke-91 tadi dengan cepat dan menyimpannya di dalam sebuah tas.

Lucille bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki dengan cepat menuju pintu perpustakaan dan berjalan diantara rak-rak tanpa menoleh sedikitpun. Di salah satu rak, seseorang telah menguntit dan mengintipnya dari tadi, dari awal ia berada disini. Seseorang tersebut bersembunyi diantara rak sambil memerhatikan kepergian Lucille menuju kudanya. Lucille duduk di pelana dan menunggangi kudanya dengan tergesa-gesa. Orang tadi menghampiri meja Lucille dengan dua buku yang masih terbuka. Buku pertama berjudul Selma birney dan buku kedua salah satu babnya yang terbuka berjudul, Scorpia.

 

*         *         *

 

Lucille errol menyebrangi savanna yang luas menggunakan kudanya. Savanna dengan rumput-rumput kering disapa angin yang berhembus. Lucille mempercepat laju kudanya agar bisa sampai sebelum malam di gerbang hutan Nismara. Hutan Nismara akan sangat gelap dan penuh misteri jika malam datang. Sobekan kertas tadi membuatnya semakin antusias, hanya satu tujuannya sekarang, Clarance. Lucille menunggangi kudanya bak angin pada senja itu, agar ia sampai tepat waktu sebelum malam datang di gerbang hutan Nismara. Ia mengarungi savanna yang didominasi oleh padang rumput, pohon yang terpencar merupakan bentuk peralihan antara padang rumput dan hutan. Semakin mendekati Nismara, vegetasi mulai didominasi oleh pohon-pohon yang semakin rapat.

Nismara sudah kelihatan dari kejauhan, hutan yang didominasi oleh pohon-pohon besar berumur ratusan tahun, hijau. Daunnya rimbun dan anggun terlihat dari luar. Semakin mendekati Nismara suhu semakin turun dan kelembaban semakin naik, semakin menjauhi savanna udara akan terasa semakin dingin. Entah obsesi apa yang membuat Lucille nekat menyebrangi hutan misterius ini pada saat malam hari. Semakin dingin kudanyapun semakin gelisah, ini dingin yang beda rona parasnya dengan dingin-dingin pada umumnya.

Obsesi adalah sesuatu dorongan dari dalam diri seseorang yang akan membuat dia tidak akan berhenti sampai apa yang ia inginkan tercapai, obsesi adalah hal yang membuat seseorang bergerak di luar Kendali normal. Obsesi adalah sesuatu abstraksi yang nanti akan mendorong sel-sel tubuh agar bekerja sama untuk mencapai semua yang diobsesikan itu. Semacam sebuah impuls dari system saraf yang memberikan gerakan dibawah kendali normal.

Lucille berhenti, kudanya tampak gelisah didepan pohon-pohon tua, pohon yang menjulang ratusan meter kelangit dan berdiri gagah diatas tanah yang kehitaman karena serasah yang mulai mengering. Lucille mencoba mengendalikan kudanya agar tenang, seakan-akan kuda ini melihat sesuatu yang mengerikan. Lucille turun dari pelana dan memegang tali kekang dengan kuat agar kudanya tidak lari. Kuda ini menarik Lucille dengan kuat dan lepas. Kudanya berbalik dan berlari lintang-pukang ketakutan menuju jalan yang mereka lewati tadi, meninggalkan Lucille sendirian di gerbang hutan Nismara yang dingin.

Lucille errol sekarang sendiri di depan gerbang hutan Nismara yang misterius dan dingin. Lucille agak ragu untuk melewati gerbang hutan Nismara dan melangkahkan kakinya, lantas ia hanya diam dan menunggu kakinya yang berat untuk dilangkahkan, didalam hatinya mulai meresap ketakutan yang senyap dan memasuki aliran darah yang mengalir keseluruh tubuhnya, lalu menggigil kedinginan. Perasaan ini menghasutnya untuk mengurungkan diri dan berkata dalam hati

“ akankah ada jalan lain?”

Sekarang ia ragu dan berbalik ingin meninggalkan hutan Nismara, langkahnya terasa ringan saat dia meninggalkan gerbang Nismara, tapi dia masih ragu. Sambil berjalan pulang Lucille menoleh kebelakang, menoleh kepada hutan yang merupakan jalan menuju negeri tujuannya, obsesi mulai menurun dari dalam dirinya seakan takut telah mengalahkan obsesi besar Lucille. Ketakutan juga merupakan sebuah abstraksi yang jika impuls tersebut dialirkan ke otak, hal ini bak predator yang akan memangsa mangsanya. Predator tersebut akan mengalir di keseluruhan sel darah, memakan setiap obsesi tadi – habis.

            Lucille berhenti, ia menoleh lagi, tapi kali ini lebih lama, seperti ada sesuatu dalam hutan yang menariknya untuk berbalik, ada suatu perasaan yang menyuruhnya untuk memasuki hutan. Sesuatu ini mencoba menarik Lucile kembali, tapi yang ini lain, mungkinkah hutan ini telah mempengaruhi Lucille dengan kemisteriusannya atau ini hanya sebagai firasat yang menariknya untuk menempuh jalan menuju Nismara yang dingin. Lucille membalikkan badannya lagi dan melangkahkan kaki menuju jalan gelap Nismara yang misterius. Kaki kanannya telah melewati gerbang hutan sambil berjalan terus tanpa rasa gentar sedikitpun.

            Jalanpun mulai gelap, krepuskular senja mulai menghilang seiring matahari bersembunyi di horizon menuju peraduannya. Kanopi-kanopi hutan membuat jalan bertambah gelap, hanya lentera dan beberapa bekal makanan yang ia bawa dari Chiara, lentera ini redup, sinar rembulanpun menusuk menuju celah kanopi. Lucille berjalan perlahan, angin malam berhembus – dingin – dan perasaan lucillepun terasa mulai aneh.

 

*         *           *

 

Meissa masih belum tidur, wajahnya hanya menatap bulan pada malam itu lewat jendela kamar yang ia biarkan terbuka. Angin malam ia biarkan masuk dan berhembus menuju ranjangnya yang manis. Meissa masih memikirkan Jarvis yang pulang tanpa pamit kepadanya. Ia hanya tak tenang saat Jarvis pergi, serasa ia merasa bersalah akan hal itu.      

            Meissa masih tertegun di jendela, pikirannya masih melayang diantara bintang, malam itu sungguh cerah sehingga bibir malampun berucap kepada angin agar behembus kepada gunung. Meissa berjalan keranjang dan melompatinya dengan badan lesu, ia mengambil buku yang dihadiahkan ibunya tentang cerita-cerita dongeng yang menarik. Meissa mulai membaca, akhirnya ia tertidur pulas dengan buku yang terbuka dan tak selesai ia baca sepenuhnya.

            Jendela masih terbuka, angin malam yang dingin berhembus masuk menjilati epidermis kulit dari gadis mungil ini. Tampak dari luar dua ekor peri sedang mengintip dari jendelanya yang terbuka. Peri itu saling pandang dan tersenyum, senang.

 

*         *           *

  • view 196

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    11 bulan yang lalu.
    Ahhh.. suka. Terima kasih telah menulis cerpen tentang buku, terutama manuskrip tua. Favorit saya banget, hehe.

    • Lihat 1 Respon