Satu J a r v i s A d e l a r d

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 08 September 2016
Hallucia

Hallucia


Hallucia, pengawal dari masing-masing manusia.

Kategori Fantasi

1 K Hak Cipta Terlindungi
Satu J a r v i s   A d e l a r d

 

Bhadrika Carlin langsung mendorong Jarvis dengan bengis, mukanya memerah menatap Jarvis, keningnya bekernyit mengerikan, wajahnya merah padam dan mendorongnya sekali lagi dengan sekuat tenaganya. Jarvis jatuh terjungkang ke belakang, ke atas tanah berkerikil yang membuat sakit yang diarasakannya semakin pedih. Hadrian Berwin dan Clovis Chiko hanya tersenyum, berdiri di belakang Carlin sambil tertawa terbahak-bahak, menertawakan Jarvis yang menyedihkan. Jarvis tak berkata apa-apa, diam dan menatap Carlin yang menghina dan menertawakannya. Meissa hanya bisa membantu Jarvis berdiri, Jarvis menegapkan langkahnya dan menyuruh Meissa mundur beberapa langkah ke belakang. Jarvis langsung mengambil ancang-ancang untuk menyeruduk Carlin. Jarvis berlari, menyeruduk bagai banteng yang hilang kendali. Tapi apalah daya, Jarvis hanyalah bocah yang jauh lebih kecil dibandingkan Carlin. Kepalan tinju Carlin pada saat yang bersamaan juga mendarat tepat dengan mulus di ulu hati Jarvis. Carlin dengan semakin bengis mencoba mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, mencoba mengenai titik lain dari tubuh Jarvis. Jarvis hanya meringis kesakitan, tangannya yang kecil mencoba memegang ulu hati yang semakin sakit, mukanya memerah dan tertolak beberapa langkah ke belakang.

            Bukanlah Jarvis Adelard namanya jika hanya mengalah dengan begitu mudah. Kepalan kecil Jarvis diarahkan ke pipi kiri Carlin dengan segenap kekuatan. Carlin yang seperti raksasa, mukanya keras, bulat, geram, hitam, keriting dan mempunyai tubuh 2 kali lebih tinggi dari tubuh Jarvis. Kepalannya besar dan cukup kuat untuk menumbangkan tubuh kecil Jarvis. Berbanding terbalik dengan Carlin, Jarvis hanya punya tubuh kecil, lunglai tapi semangatnya membara dan menggebu-gebu bagai api yang menyala-nyala jika disulut, pantang kalah.

            Kepalan Jarvis jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kepalan Carlin, pukulan Jarvis tak berarti apa-apa baginya. Carlin hanya berdiri tegak seperti semula, tak ada efek yang begitu berarti yang diterimanya, tapi tangan Jarvis seolah-olah mau patah serasa memukul tembok. Jarvis tak mau surut, tak mau surut walau tubuhnya tak seimbang dengan Carlin. Carlin juga begitu dan terus melayani Jarvis dengan senang hati karena pukulan Jarvis hanya serasa gigitan nyamuk baginya. Sekarang kepalan kiri Jarvis yang dilayangkan ke pipi kanan Carlin. Tapi, Carlin hanya meringis kecil terkesan mengejek. Carlin dengan begitu mudahnya menangkap tangan kecil itu – memegang pergelangan tangannya, menariknya dan melayangkannya sampai terhempas tak bertepi di atas tanah gersang berkerikil dan ber-Marchantia, begitu perihnya.

            Carlin adalah anak terbandel diantara teman-temannya yang lain. Dia anak dengan umur sebelas tahun berbadan besar diantara teman-teman sebayanya. Bisa dikatakan jika dia menindih Jarvis dengan tubuh sebesar itu, tulang dada Jarvis, rusuk sejati dan rusuk melayangnya akan remuk serta ditambah beberapa ruas tulang belakang.

            Jarvis tergeletak lemah di tanah, terhempas begitu keras. Menurut Carlin itu belum seberapa. Carlin mundur mencoba mengambil ancang-ancang seakan-akan ingin berlari sprint. Jarvis hanya menatap pasrah, menatap – melihat Carlin dengan kerelaan, dicoba untuk bangkit, tak sanggup – mengelakkan tindihan Carlin tapi tak tersisa tenaga yang begitu berarti di ruas jari-jari kakinya.

            Sambil tertawa sinis Carlin berlari puas kearah Jarvis, mengambil posisi yang tepat, melayang dan . . . . .

“bruuk……!!!”

Tubuh Jarvis yang kecil – kurus, pendek dan lunglai. Wajahnya otomatis merah seketika, seakan-akan ia tak sanggup mengambil nafas – sebuah beban besar mendarat ditubuhnya, oksigen yang masuk melalui hidung, faring dan laring tak bisa sampai ke bronkiolus karena terlibat macet dibagian laring disebabkan tindihan raksasa Carlin yang semakin lama terasa semakin berat. Tubuh Carlin menutup jalur oksigen ke beronkiolus Jarvis, tak bisa diteruskan. Akibatnya hemoglobin kekurangan pasokan oksigen, sehingga terjadi keterbatasan energi untuk membalas serangan Carlin bak singa mengamuk.

            Jarvis dengan segenap kekuatan yang tersisa mencoba mengumpulkan kekuatan ditangan kanannya – hasta, pengumpil, berkaitan erat dan saling menyokong telapak tangan untuk membuat sebuah kepalan yang kokoh. Sisa-sisa oksigen dalam bronkiolus paru-paru mencoba dirubah menjadi energi, untuk titransfer ke tangan kanannya.

            Carlin sinis sambil tersenyum, sedikit tertawa pada wajah Jarvis yang memerah, Jarvis yang sepenuh hati menahan berat yang belum pernah dirasakan oleh tubuhnya. Jarvis berusaha untuk sabar sampai seluruh glukosa diubah menjadi asam piruvat dan terkumpul menjadi beberapa ATP di tangan yang akan dilayangkan tepat di mata kiri Carlin. Kesabaran Jarvis terbatas, ATP telah terkumpul, inilah yang ia tunggu-tunggu – Carlin hanya meringis remeh. Tapi, jab kanan Jarvis telak dimata kiri Carlin – mengerang kesakitan – semakin memerah, memerah dan membengkak serta membiru. Jarvis yang sedari tadi ia tindih, dibiarkan begitu saja.

            Jarvis berusaha bangkit terengah-engah mengambil nafas seperti orang yang baru saja tenggelam di dalam air dengan tekanan 1 atm. Jarvis berusaha mengumpulkan oksigen agar hemoglobinnya kembali mengikat dengan normal. Jarvis masih sesak ditindih oleh daging yang beratnya puluhan kilo. Jarvis dibantu Meissa untuk berdiri dan menatap Carlin dengan penuh bangga, seolah-olah di dalam hatinya ia berkata “rasakan itu Carlin”.

            Jemari lembut Meissa yang halus membantu Jarvis untuk bangkit lagi. Tatapan mata indah Meissa warisan dari ibunya memancarkan binar – memberi semangat – kepada Jarvis untuk bangkit dan jangan menyerah.

            Di sisi lain berdiri Hadrian berwin dan Clovis chiko, kaki tangan Carlin yang hanya menatap bos mereka dari kejauhan. Mereka hanya berdiri dan tak melakukan sebuah tindakan yang berarti, dari tadi mereka berdua hanya bergetar ketakukan karena perkelahian antara Jarvis dan Carlin, sedangkan Meissa seorang gadis kecil malah semakin geram, tak ada rasa takut sedikitpun tepancar dari binar mata ungunya yang manis dan selalu berpendar jika terbias matahari.

            Jarvis masih mencoba untuk meneruskan oksigen yang masih macet di laringnya, mencoba meneruskan ke bronkiolus untuk menormalkan nafasnya kembali. Meissa menopang Jarvis yang mencoba menahan dan mengenali keseimbangannya kembali, tangannya memegang dada yang hampir remuk dan masih tersengal-sengal mengatur nafas.

“ Carlin jangan kau anggap remeh lagi diriku”, hardik Jarvis.

“Memangnya orang pendek, kecil dan lemah sepertimu bisa untuk menjadi panglima negeri Clarance yang megah ini?”, remeh Carlin yang sinis, tapi masih meringis kesakitan memegang matanya.

            Jarvis berjalan mendekati Carlin dan memegang kerah baju Carlin dengan bengis.

“suatu saat aku akan menjelajahi penjuru negeri dan menyatukannya dibawah komando Clarance”

Jarvis semakin geram, Carlinpun menggenggam tangan Jarvis dan meremasnya, lalu menyingkirkan tangan Jarvis dari kerah bajunya.

“tak ada panglima Clarance yang sehebat ayahku dan akulah yang akan menggantikannya”

Raut wajah carlin memerah seraya berkata hal tersebut.

“Carlin, akulah yang berhak menjadi panglima jika aku sudah mendewasa nanti”

Jarvis berteriak kencang.

            Jarvis berlari dan melompati tubuh Carlin, sehingga Carlin jatuh terjungkang dan tertindih, Jarvis telah menyiapkan kepalan yang berarti. Tanpa pikir panjang, beribu kepalan berulang mengarah ke wajah Carlin yang dilayangkannya tanpa perasaan itu. Jarvis dengan penuh kegeraman tampak terbias jelas dari sudut wajahnya. Meissa terhentak kaget, Jarvis yang ia kenal pendiam, lembut dan tak kasar itu mendadak menjadi seorang monster karena mimpi dan harga dirinya diinjak-injak. Pertahanan yang tangguh sebagai sebuah pembelaan diri.

            Meissa khawatir melihat Jarvis yang tak terkendali dan cemas melihat Carlin yang semakin merah padam, takutnya jika Jarvis kena hantam untuk kedua kalinya. Meissa mencoba menahan Jarvis – apalah daya – orang keras hati seperti Jarvis takkan pernah bisa dihentikan. Jarvis berlari dan melompati Carlin sekali lagi, mendaratkan pukulan bertubi-tubi telak di wajahnya, dijejalkan jab demi jab satu persatu, Carlin tak bisa mengelak. Jarvis yang marah, naik ke pundak Carlin dan terus menyerang tanpa henti, digenggam erat dahi dan dicekik leher Carlin. Sungguh kejam, sungguh-sungguh sangat kejam.

            Carlin kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke tanah yang penuh dengan Marchantia, berkerikil dan berpasir. Jarvis seperti kerasukan setan – tak bisa dikendalikan – Carlin si raksasa akhirnya bisa ia tumbangkan.

“ rasakan ini…jangan kau pernah remehkan lagi, jangan kau ganggu lagi mimpiku, akan kukomandokan seluruh prajurit negeri Clarance ini dan berdiri menantang digaris depan, jangan lagi…!!! Dan satu pukulan tepat dipundaknya – keras – sampai Carlin terhentak.

            Meissa takut, menutup mata tak sanggup melihat Jarvis seperti kerasukan setan, Berwin dan Chiko semakin – pucat – tak tau mau apa melihat Carlin dipukuli Jarvis yang menggila.

            Carlin bermimpi menjadi panglima yang nanti akan menggantikan ayahnya, menjadi panglima negeri Clarance. Ia ingin sekali ayahnya mau meluangkan waktu walau hanya sedikit untuk mendengar apa yang ia impikan. Tapi ayahnya, panglima Faust fitzpatrick terlalu sibuk di kerajaan mengurus prajurit-prajurit negeri Clarance. Tak ada sedikitpun waktu yang terluangkan bersama Carlin yang hanya ingin perhatian dari seorang ayah. Carlin terus memendan mimpinya dalam-dalam, hanya Berwin dan Chiko temannya yang tau kalau suatu saat Berwin ingin menggantikan ayahnya. Perasaan seorang anak, khususnya Carlin akan merasa terasingkan jika apa yang ia impikan tak bisa ia luapkan sepenuhya, dan akan menjadi beban bagi dirinya diantara lingkungan yang tak mau mengacuhkannya. Anak seperti ini akan marah jika ada orang yang menyainginya dan akan berambisi meraih hal tersebut.

            Suatu hari ia bertemu Jarvis adelard anak seorang petani dari desa, bagian utara desa tersebut berbatasan dengan sungai elfegra. Carlin merasa tersaingi karena mereka memimpikan hal yang sama, semenjak itulah mereka bermusuhan dan terus berkelahi untuk menentukan siapa yang lebih pantas dan semenjak itu pulalah Carlin tidak menginginkan kehadiran Jarvis.

            Begitulah sensitifnya mimpi, mimpi tidak akan hancur di hati seseorang – akan tetap teguh – seteguh keyakinan orang yang memimpikannya, dan akan hilang berkeping diantara orang yang putus asa, serta akan marah jika disinggung sedikit saja. Akan geram jika digores begitu saja dan akan murka jika diinjak-injak tak berperasaan. Ya, itulah mimpi. Seseorang akan sekaligus menjadi orang yang sensitif jika impiannya disinggung-singgung – orang akan melakukan apa saja demi mimpinya jika ia seorang yang berambisi, bertahan mati-matian jika ia orang yang keras hati dan akan berseteru jika impiannya dalam bahaya. Walau mengorbankan nyawanya sekalipun.

            Mimpi itu bagai makhluk bersayap yang berdiri di anak tangga yang keseratus. Akan setia menunggu majikannya yang masih dianak tangga yang pertama, itu jika majikannya adalah orang yang teguh menggapai mimpi. Begitu sebaliknya, mimpi tersebut akan terbang jauh meski majikannya sudah berada di anak tangga yang ke-99. Mimpi akan setia menunggu jika orang yang teguh dan takkan patah. Setelah itu, mimpi akan membawa kita terbang kepada kenyataan.

            Defenisi mimpi oleh Jarvis dan Carlin mungkin persis sama, karena sama membentuk mereka menjadi orang yang keras hati dan sensitif. Carlin yang ditindih menerima telak pukulan Jarvis. Carlin juga keras hati – tak mau kalah – ini waktunya yang ditunggu-tunggu, lengan Jarvis dipegang dengan erat oleh Carlin, melayangkannya ke tanah. Jarvis tercampakkan jauh. Sekarang adalah saat untuk Carlin menggila, ia mengalah berusaha untuk mengumpulkan tenaga demi satu pukulan dirahang kanan Jarvis. Digenggamnya kerah baju Jarvis dan dicengkramnya kerah baju tersebut dengan kuat sehingga Jarvis tercekik. Kepalan raksasanya telak mengenai rahang kiri bawah dan tepat di hidung Jarvis. Dicampakkannya Jarvis tak berperasaan, Jarvis terhempas keras – hidung remuk, berdarah – ke tanah yang keras. Babak belur sungguh babak belur. Jarvis langsung tunduk dengan satu pukulan telak, ia hanya menatap, tercenung kelu. Tangannya mengusap darah yang mengalir – merah pekat – kental. Carlin mencoba menyerang sekali lagi, tapi Meissa telah berdiri dihadapannya, sambil menunjuk kearah Carlin dan menempelkan jari telunjuknya di dada Carlin.

            Wajah putih merona Meissa memerah, dan semakin memerah seiring gelak tawa Carlin. Pupil Meissa semakin membesar, pun mata ungunya menunjukkan kemarahan, terbias sebuah kebencian. Meissa menghampiri Carlin sambil mengacungkan telunjuk ke arah Carlin dan menempelkannya di dada Carlin yang lebar. Meissa menatap tajam – tak berkedip – mata ungunya tak lagi indah sehingga binarnya tak lagi berpendar membuat Carlin menjadi gemetar. Meissa dengan penuh keseriusan menatap tajam Carlin. Carlin terhentak, dan diam seribu bahasa, mukanya memerah.

“ sebaiknya kau tinggalkan tempat ini “

Tambah Meissa lagi.

Carlin mundur kebelakang – perlahan – ke arah Berwin dan Chiko, wajahnya ciut, matanya kemecut. Carlin langsung terdiam tanpa alasan, ada suatu aura dan kekuatan yang tersimpan dalam perkataan Meissa, kekuatan yang mana dengan berkata saja, membuat orang-orang ciut. Meissa menyimpan sesuatu yang besar dalam dirinya, dalam sosok yang lembut itu, dia mempunyai sesuatu yang akan mempesona. Berwin dan Chiko telah ambil tindakan terlebih dahulu berlari meninggalkan Carlin tunggang-langgang. Carlin menyusul mereka berdua berlari ketakutan, berlari dan berlari lintang-pukang meninggalkan Meissa dan Jarvis.

            Jarvis mengusap hidungnya yang berdarah dan darahnya perlahan berhenti, bola matanya berkaca-kaca, dia berusaha memalingkan wajahnya dari Meissa, berharap Meissa tak melihat dua bola matanya yang merah dan berair, berkaca-kaca. Dalam hatinya hancur, patah. Meissa melihat Jarvis di kejauhan, terduduk putus asa, hancur, dan masih terus mencoba memalingkan muka dari tatapan Meissa.

            Mata Jarvis berkaca-kaca, terus berkaca-kaca, kelopaknya tak sanggup lagi menahan dan perlahan bulir itu mengalir di sela pipinya, dan di sela pipinya bulir air mata itu semakin deras mengalir. Sungguh tak tertahankan, hancur. Jarvis bangkit dan berlari di jalan setapak berbatu, diantara pepohonan, embun sore dedaunan membasahi bajunya, seperti bulir air mata yang membasahi pipinya – diusap – sembab. Berlari dan tak menoleh lagi, tak ingin Meissa melihat kehancurannya. Hilang di balik pepohonan, meninggalkan Meissa menatap dari kejauhan. Meissa tercenung – terpaku – tapi ia masih tegar. Kelopak matanya masih sanggup menahan, masih teguh. Sekarang Meissa berdiri sendiri di lapangan itu, di tanah berbatu, berkerikil, berumput – lembab – ditumbuhi Marchantia dan sedikit gersang. Meissa masih berdiri dan terus berdiri, menatap di sela-sela semak bergoyang. Terus tercenung sampai matahari ditelan cakrawala, terbias di kaki senja menunggu sampai keperaduannya, indah tapi beku.

 

*               *               *

 

Angin berhembus serasa berkata-kata dari dahan satu ke dahan yang lainnya. Memanggil ranting-ranting agar bergeretak jatuh karena hembusannya, seperti menembus sela-sela daun Filicium. Bunga-bunga menari-nari mengikuti alunan angin serasa dimantrai oleh sepoinya. Alunan angin malam ini menyentuh tiap helai rambut Jarvis adelard yang tercenung, menyentuh alis tebalnya. Menyapu lembut wajahnya yang menerawang semakin jauh. Pun begitu air tak kalah untuk mengalir, tunjukkan merdu alirannya di sela-sela batu, ditambah gemericik ikan yang beradu pandang di dalam air, dan pendaran sinar bulan yang membuat malam ini begitu indah diantara kebun jagung dan gandum yang menghampar luas.

            Setelah peristiwa tadi, Jarvis tak pulang ke rumah, dia hanya berpikir dan tercenung. Jarvis tidur di hijaunya rumput yang menghampar, menatap purnama malam itu yang berpendar diantara kerlipan bintang. Kepalanya dipenuhi bermacam pikiran yang membuatnya bimbang, sedih dan penasaran, pikiran itu semakin membuatnya hanyut dalam penasaran. Jarvis mencoba menghilangkan pikiran-pikiran itu, tapi ada satu pikiran yang tak bisa dihilangkannya. Pikiran itu selalu menjadi pertanyaan baginya diantara beribu pertanyaan lainnya yang tak bisa ia jawab. Pertanyaan itu menimbulkan sebuah rasa yang semakin membuat perih dan sedih hatinya.

“ aku rindu ayah dan ibuku “

Ia berbisik dihatinya sendiri, berbincang sendiri tentang ayah dan ibunya.

“ aku rindu “ ucapnya lirih.

Seakan angin mendengar rintihan hatinya, menyampaikan ke sela daun yang melambai menghibur. Air juga serasa mendengar rintihan hatinya dan mencoba membuat irama dalam setiap alirannya. Jarvis menatap sayu ke langit malam seakan bintang membentuk wajah ayah dan ibunya, entah seperti apa isi di dalam hati dan rindu yang ia rasakan. Hanya bulir air mata yang mengalir di sela pipi yang bisa menggambarkan bagaimana rasa itu. Walaupun tak dapat bertemu setidaknya ia dapat melihat wajah orang tuanya seperti apa, apakah hidungnya seperti hidung ayahnya, atau mungkin lonjong wajahnya seperti wajah ibunya, ia hanya ingin tahu sebetapa anggun dan cantik wajah ibunya. Ia juga ingin tahu betapa gagah ayahnya, seberapa mahir ayahnya jika sedang bermain pedang.

            Apa yang Jarvis harapkan, waktu telah menghancurkan segalanya, Jarvis tak pernah melihat sekalipun wajah orang tuanya, hanya dulu – dulu sekali – ketika ia masih bayi. Jarvis hanya tau tentang orang tuanya dari cerita yang disampaikan bibinya, bibinya juga tak menceritakan semuanya, malah membuatnya semakin penasaran. Tiap ia tanya ayahnya dulu seperti apa dan ibunya secantik apa, dia tak pernah tau, bibinya juga tak pernah menceritakan tentang asal-usulnya. Bibinya Cuma menjawab,

“ suatu saat kau akan mengetahuinya, lebih dari apa yang kau harapkan “.

Malam semakin larut, pendaran bintang di garis bima sakti semakin menyamankan malam itu, mengantarkan Jarvis terlelap dalam keheningan malam.

 

*         *         *

 

 

Tetesan embun menetes dari tiap sela daun Homalomena, jatuh dan membasahi bunga Widelia dibawahnya. Cahaya matahari menembus ozon menyentuh kening Jarvis yang tidur nyenyak diatas rumput setelah khayalannya tadi malam.

“ kak “

“ kak…bangun kak !”

“ kak…!”

Seorang gadis kecil menggoyang-goyangkan tubuh Jarvis, agar terjaga.

Cahaya matahari yang semakin hangat menusuk sampai kebalik pelupuk matanya yang lebar. Jarvis tersentak, sambil membuka pelupuk matanya pelan-pelan seiring rasa pening yang ia rasakan. Jarvis mencoba untuk bangun dan terjaga secara perlahan sambil menatap gadis kecil tadi.

“ Nathania? “

“ Nathania darimana kamu? “ ucap Jarvis lagi.

“ kakak tidak pulang semalaman, bibi susah mencarimu, dia sudah tanya tetangga, tapi tak ada yang melihatmu satu orangpun“.

“ maafkan aku Nathania “

            Nathania, ya. Nathania nama gadis kecil itu. Lengkapnya Quentin nathania, nama yang bagus dan cocok untuk gadis kecil seanggun dia. Quentin nathania adik dari seorang Jarvis adelard yang mempunyai garis wajah seanggun bulan memecah hening malam. Garis dan stuktur wajahnya mengalahkan keindahan mata ungu Hadya meissa. Zigomatiknya tidak terlalu lebar sehingga menghasilkan stuktur yang pas pada bagian pipi. Mental protuberance dan Mental foramen-nya menyatu dengan sempurna menghasilkan struktur memanjang yang cocok pada bagian dagu – anggun – dengan pigmen kulit sawo matang.

“ kakak, kenapa pipimu lebam dan membiru seperti itu”

Tanyanya lagi penasaran.

“Maafkan aku”

Balas Jarvis sambil menutup wajahnya yang lebam.

“apakah kakak berkelahi lagi dengan Carlin dan teman-temannya?”

“ya…maafkan aku”

Ia tergagap menjawab pertanyaan adiknya.

“ayo kita pulang kak, bibi sudah resah dan obati lukamu” sambil memegang pipi Jarvis yang lebam dengan lembut, sambil tersenyum kepada kakaknya. Jarvis memperhatikan barisan gigi yang rapi melekat kuat pada maxilla dan mandibulla, membuat senyum Nathania bisa sedikit mengobati perih hatinya.

            Mereka berjalan pulang menembus semak dan liana yang menyebar sepanjang perjalanan pulang. Menembus ilalang, mematahkan beberapa batang Themeda gigantea. Jarvis berteriak “ayo maju…!!!” sambil mengacungkan batang Themeda layaknya tombak. “ayo…” sambung Nathania, mereka berlari menembus ilalang, muka lebam itupun serasa hilang ditutupi rasa gembira dan bahagia berlari menuju perkebunan jagung dan gandum di seberang desa sana, rumah mereka – itulah keluarga – tempat segala kebahagian bermula dan bermuara.

 

*           *         *

  • view 164