Tunggu Aku Pulang

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 07 September 2016
Catatan yang Patah

Catatan yang Patah


Antologi tak tentu sebelum adanya sajak-sajak duduk semeja, cerita tentang orang kasmaran, patah hati dan kadang pengharapan yang mendayu-dayu.

Kategori Cerita Pendek

1.4 K Hak Cipta Terlindungi
Tunggu Aku Pulang

Disana terhampar bunga-bunga yang begitu anggun, kadang disapa angin dalam tiap helai daun dan kelopaknya. Mawar, melati, sedap malam, anggrek, kembang sepatu dan berbagai macam lainnya. Berwarna seperti pelangi. Saat pagi, embunpun kadang merayu pada kelopak anggrek yang megah. Mereka disinggahi berbagai macam serangga yang berbaris begitu rapi. Berjalan di daunnya, tangkainya, batangnya dan kelopak-kelopaknya.

            Halamannya tidak begitu luas dan juga tidak begitu sempit. Pagarnya sederhana, dari kayu yang tersusun rapi setinggi pinggang, berwarna putih, tidak terlalu mencolok dan juga tidak terlalu jenuh. Dari pagar, ada sebuah jalan masuk. Jalan di tengah-tengah halaman yang langsung mengarah ke pintu rumah. Jika berjalan didalamnya, di kiri dan kanan akan ada bunga-bunga tadi yang mewarnai, di setiap langkahmu. Disana di pintu pagar, juga ada berdiri dua pohon megah yang menghimpun dan menjadi pilar halaman yang membuatnya begitu teguh. Pohonnyapun juga belum terlalu besar, berumuran sekitar satu tahun. Pohon itu ditanam sepasang, yang ditanam di pintu pagar kita dulu, setahun yang lalu. Pohon itu sekarang begitu anggun, meneduhkan, menentramkan serta menceritakan semua tentang kenangan, menyimpan kisah-kisah.

            Jika masuk kehalamannya, kita akan dituntun oleh jalan langsung menuju pintu rumah. Rumah yang tidak begitu besar dan juga tidak terlalu kecil. Bercat putih dan setiap kusen pintu dan jendela bercat biru muda. Begitu teduh. Di dekat pintu ada sebuah beranda, beranda depan rumah. Disana ada dua buah kursi kayu yang mengapit sebuah meja kecil, tempat biasanya kamu meletakkan teh hangat dan beberapa potong kue. Aku duduk di sebelah kiri dan kamu disebelah kanan. Di setiap minggu pagi, saat kita tidak kemana-mana, kita selalu duduk disana. Kamu selalu membuatkanku teh hangat dan membawakan beberapa potong kue. Disana, setiap kenangan tentang cerita-cerita yang kita ceritakan tersimpan.

            Aku selalu merindukan suasana itu, suasana ketika aku menyeruput teh hangat yang kau buatkan, suasana ketika kau memberikanku sebuah senyum ketika aku selesai menuntaskan meneguk teh yang kupegang erat cangkirnya. Aku merasakan aromamu, ketika aku menyesap harumnya teh hangat yang kau buatkan. Aku selalu merindukan suasana saat bersamamu, suasana ketika aku melihat air mukamu, air mukamu yang selalu memberikan senyuman terbaik untukku.

            Aku selalu merindukan setiap hal. Setiap pagi sebelum aku berangkat kerja, kamu selalu merapikan setiap kerah bajuku yang terlipat, membetulkan setiap pasang kancing bajuku, meluruskan pasang dasiku yang agak miring dan membenarkan sisir rambutku yang masih agak kacau. Setiap hari aku selalu merindukan hal itu, melihat air mukamu yang tulus ketika kamu mengusap rambutku. Sebelum pergi melangkahkan kaki, kamu selalu mencium tanganku dan mendoakan setiap hal tentangku, agar Tuhan selalu mejagaku hingga pulang kembali, kepadamu. Aku selalu merindukan hal itu setiap hari, mengecup keningmu, mengusap kepalamu lalu melangkahkan kaki. Berangkat kerja, lalu menoleh kebelakang kepadamu, melambaikan tangan dan kamu memberikan seluruh senyum terbaikmu untukku. Semua tentangmu adalah semua semangat yang aku punya. Senyum yang akan selalu kurindukan sampai aku pulang lagi, ke rumah kita – kepadamu.

            Aku selalu bergegas pulang, untuk bertemu kamu. Disana, di depan pintu rumah kita yang bercat biru muda, kamu sedang berdiri. Menantikanku pulang, menyambutku, bahwa dengan semua itu telah menghapus penatku. Aku mempercepat setiap langkah kakiku, kamu telah berdiri disana. Menantikanku pulang. Kamu mencium tanganku, aku mencecup keningmu. Kamu membawakan tasku. Semua senyum yang kamu berikan itu telah melebihi apapun, melebihi apapun yang aku punya.

            Kita punya dua beranda, beranda depan dan belakang rumah. Di belakang rumah juga ada halaman, tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu sempit. Di halaman belakang, selalu ada bunga yang menghiasi dengan rumput hijau yang menghampar. Disana juga ada ayunan. Dua buah ayunan, yang menyimpan semua kebahagiaan. Saat malam datang, saat malam begitu cerah dengan semua hamparan bintang, kita bercengkrama di beranda belakang, kamu selalu membawakanku teh hangat, dengan beberapa potong kue. kita memandang bintang yang berkerlip, kita sama-sama menyukai Orion, kita selalu berusaha mencari sabuknya, sampai tengah malam, kita bercanda, melupakan waktu, menghabiskan waktu. Kita selalu memandang Orion saat langit cerah. Dan kamu tersenyum, tersenyum puas – menenangkan.

***

            Sayang, selalu tunggu aku pulang. Selalu tunggu aku di rumah kita. Di pintu kebahagiaan kita. Tempat semua kenangan tersimpan, tempat semua kebahagiaan terukir disetiap kusen pintu dan jendela. Selalu tunggu aku dengan senyuman itu. Pemberi semangat ketika aku berangkat dan pelepas penat ketika aku pulang. Sayang, aku tak menginginkan banyak hal. Aku hanya menginginkanmu, menginginkan air muka itu selalu ada menghiasi hari-hariku, hidupku. Senyuman itu, senyumanmu. Air mukamu selalu menggambarkan masa depan. Yang membuat aku selalu tegak dan melihat hari-hari dengan optimis dan tanpa menyerah. Sayang, selalu tunggu aku pulang. Selalu tunggu pulang kepadamu.

***

  • view 375