Dari Balik Jendela

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 07 September 2016
Catatan yang Patah

Catatan yang Patah


Antologi tak tentu sebelum adanya sajak-sajak duduk semeja, cerita tentang orang kasmaran, patah hati dan kadang pengharapan yang mendayu-dayu.

Kategori Cerita Pendek

979 Hak Cipta Terlindungi
Dari Balik Jendela

Ribuan jam yang telah kita lalui bersama menumbuhkan banyak rasa, kadang tawa, sedih, senang, marah dan yang lainnya, rasa yang tak pernah dirasakan oleh orang lain. Ribuan jam sebelumnya, aku selalu memperhatikanmu. Kamu tidak pernah mengetahuinya. Ribuan jam sebelumnya, sebelum kamu mendefenisikan rasa yang kamu rasakan sekian lama, aku selalu melihatmu, tanpa kamu ketahui.

            Kamu dalam tiap detil sikap yang kuperhatikan dalam tiap laku yang ku pahamkan, semua itu menumbuhkan rasa. Menumbuhkan banyak rasa. Sebelum senja berhujan, aku selalu memperhatikannmu, diam-diam. Aku selalu menanyakanmu pada teman-temanmu, kurahasiakan. Kamu tak pernah tau, kalau aku telah begitu lama mengagumimu. Melihatmu merupakan sebuah kebahagiaan buatku, memperhatikanmu memberikan sebuah sensasi, sensasi yang tak pernah dirasakan oleh orang lain. Sehingga melihatmu selalu menjadi penantian.

            Aku selalu memperhatikanmu dari jauh, tanpa kamu sadari. Dalam tiap suap nasi di makan siangmu. Dalam tiap teguk air dalam tiap minummu, aku selalu memperhatikan setiap detilnya. Sampai kamu beranjak, dan tak ada lagi dalam pandanganku, sensasi itu masih kurasakan. Hingga melihatmu untuk kali berikutnya adalah sebuah hal yang kucari-cari dan sebuah kerinduan. Karena sensasi itu sesuatu yang beda. Saat jantungku berdebar cepat, saat darah ku berdesir, saat keringat dinginku mengalir dan setiap salah tingkah yang aku rasakan setiap melihatmu. Sensasi itu hanya dirasakan oleh orang-orang jatuh cinta.

            Sekarang aku disini, ribuan selanjutnya setelah senja berhujan. Aku di laboratorium yang berjendela kaca. Jendela yang mengarah ke rumah kaca dimana kadang kamu disana. Laboratorium di lantai dua, berjendela kaca, tempat aku mengerjakan sebuah penelitian, dan kamu di rumah kaca mengerjakan sebuah percobaan. Aku selalu memperhatikannmu dari balik kaca jendela laboratorium dimana kamu tidak bisa melihatku.

            Setiap hari, aku selalu merindukan kamu untuk ada dirumah kaca. Karena dari balik jendela laboratorium aku selalu bisa memperhatikanmu. Melihatmu, pesonamu dan senyumanmu. Sekarang, setelah ribuan jam kita lalui bersama. Dari balik jendela aku selalu memperhatikanmu. Karena memperhatikanmu memberikan sensasi, sensasi yang tak pernah orang lain rasakan. Sampai sekarang aku masih merasakan sensasi itu, aku selalu merindukannnya.

            Dari balik jendela kaca, aku memperhatikanmu, setelah sekian lama kita bersama. Aku masih merasakan sensasi itu. Sensasi ketika aku pertama kali jatuh cinta kepadamu. Sensasi yang akan selalu aku jaga, karena dalam tiap hariku aku selalu merindukanmu. Tiap hari aku akan selalu jatuh cinta kepadamu. Seperti pertama kali kita bertemu pandang dulu. Pertama kali aku jatuh cinta kepadamu.

 

***

  • view 181