Ribuan Jam Berikutnya

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 07 September 2016
Catatan yang Patah

Catatan yang Patah


Antologi tak tentu sebelum adanya sajak-sajak duduk semeja, cerita tentang orang kasmaran, patah hati dan kadang pengharapan yang mendayu-dayu.

Kategori Cerita Pendek

1.9 K Hak Cipta Terlindungi
Ribuan Jam Berikutnya

Kamu tercenung mencoba mengalihkan pandanganmu, berharap aku tak melihat matamu yang berkaca-kaca, waktu itu juga hujan senja. Hujan senja, titiknya yang menetes dalam tiap hembusan angin, dan rintikannya yang mengalun dalam helaian daun-daun yang semakin basah. Hujan senja, selalu menyimpan banyak makna.

***

Telah ribuan jam kuhabiskan bersamamu, dalam tiap detiknya kucoba untuk semakin melekatkan cintamu yang bertumbuh dihatimu, kepadaku. Pun juga demikian denganku, berusaha untuk mengenalmu dalam tiap detilnya, menumbuhkan cintamu dihatiku, dan menumbuhkan cintaku dihatimu. Aku juga telah menghitungnya, sudah ribuan jam yang telah aku lewatkan bersamamu, mengenalmu lebih dalam, memahami tiap detil sikap, laku dan cintamu, sejak senja itu – yang berhujan.

            Hatimu merupakan sebuah benteng, benteng yang mesti kuhancurkan untuk kumiliki isinya. Sekarang ku berdiri disisi luar benteng hatimu, satu yang mesti kulakukan. Menghancurkan dindingnya dan masuk, dan melihat apakah jawaban yang ada dibalik dinding yang tebal itu milikku atau milik orang lain. Aku merupakan kesatria, yang berdiri mencoba menundukkan benteng ini sendirian. Strategi telah kususun sedemikian rupa jauh sebelum hari kemenanganku, kemenanganku di senja berhujan.

            Aku mencoba mendekatimu sekian kali, hanya keacuhan yang kudapatkan, tak ada selain itu. Hanya mencoba mengenalkan diriku kepadamu – lebih detail – atau sekedar menyiratkan bahwa akulah kesatria yang akan menaklukkan benteng hatimu, yang sekarang kau coba pertahankan. Setelah beberapa bulan kujalani, menjalankan strategi dan taktik untuk menaklukkan benteng yang masih bisa kau pertahankan. Aku penasaran dengan apa yang ada dibalik benteng itu, apakah sesuatu yang akan membahagiakanku atau mematahkanku. Kadang lagakmu menyiratkan bahwa strategi yang kujalankan akan berhasil, kadang sebaliknya – membingungkan.

            Beberapa bulan setelahnya dengan berbagai strategi dan taktik yang aku rancangkan tak jua membuahkan hasil. Aku kalah, aku layu, mungkin benteng itu bukan akulah penakluknya tapi orang lain, kesatria lain, kesatria yang mungkin lebih hebat daripadaku. Jika memang benteng itu milikku, maka dia akan memberikan ruang kepadaku. Sekarang aku hanya memberikan semua kepada waktu, semangatku telah terkikis habis, tapi harapan untuk menaklukannya masih tersimpan dihatiku. Mungkin belum saatnya atau ada saat yang lain ketika benteng itu memberikan ruang kepadaku.

            Sudah beberapa hari, bagiku juga sepi, tak ada lagi saat ketika aku menggodamu, menyapamu atau sekedar memberikan senyum kepadamu. Aku rasa kamu juga begitu, tak ada lagi dering yang berbunyi di telepon genggammu yang bertuliskan namaku atau senyum simetris yang kuhadiahkan kepadamu setiap kita berpas-pasan. Mungkin kamu merasakan ada sesuatu yang tumbuh dihatimu karena ketidakhadiranku dalam hari-harimu. Sesuatu yang tumbuh dihatimu, entah rasa apa namanya, mungkin itu rindu – kusangka. Rasa itu juga kurasakan sama seperti apa yang kamu rasakan.

            Rindu, memang itu yang kamu rasakan, ketika bagian dirimu tak lagi merasakan kehadiranku walau hanya untuk mengganggu hari-harimu. Mengganggu hari-harimu yang mungkin bernada mengingatkan, “jangan lupa makan” atau sekedar bertanya “baik-baik sajakah?”. Rindu itu sebuah rasa, rasa akan kehilangan dan berharap kehilangan itu datang lagi dalam tiap-tiap detilnya. Dalam hatimu, rindu itu bertumbuh seiring ketidakhadiranku dalam hari-harimu, menjadi rasa yang lain. Rindu itu juga menimbulkan keresahan, keresahan bahwa tak lagi bentengmu yang menjadi tujuan, keresahan yang mungkin ada benteng lain yang menyilaukan dan menarik perhatianku dan tak lagi bentengmu.

            Rindu menumbuhkan banyak rasa. Setelah keresahan itu, ada rasa lain yang tumbuh, tidak seperti rasa biasanya. Rasa yang membuat banyak orang tergila-gila, rasa yang membuat banyak orang untuk melakukan apa saja, rasa yang membuat banyak orang melayang, rasa yang membuat banyak orang patah. Mereka menyebutnya cinta. Rasa itu telah lama tumbuh, tapi belum sekuat sekarang, rasa yang baru berani kamu defenisikan sekarang, setelah berapa bulan lamanya.

            Angin segar menyapa kesatria – aku. Ada suatu harapan, ada ruang yang kamu berikan setelah beberapa hari aku menunggu, sebuah ruang yang menandakan bahwa setengah dari apa yang ada dari balik benteng itu telah menjadi milikku. Dan aku perlu memastikan setengah lagi itu juga hak ku juga atau bukan. Telepon genggamku berdering, sebuah pesan darimu yang menanyakah kabarku. Sebuah angin segar setelah sekian lama aku tak diacuhkan. Strategi lama aku jalankan lagi untuk merobohkan benteng yang perlahan retak, aku perlu mengetahui apa dibaliknya.

            Hari ini adalah hari yang berharga untukku – bagi seorang kesatria. Hari ini hari penaklukan. Senja ini senja dimana semua rahasia dibalik benteng itu akan terungkap. Semuanya, karena aku ingin tahu semuanya dari apa yang ada dibalik benteng itu. Senja ini hujan begitu memberikan hidup, setelah kemarau panjang yang tak berkesudahan, setelah semua ketidakacuhan menjadi sebuah rasa, orang-orang menyebutnya cinta. Hari penaklukan ini berhujan diantara rona jingga senja yang semakin menelusup ke horison langit. Benteng hatimu yang retak perlahan roboh seiring dengan setiap semua rasa kusampaikan. Tiap keping-keping benteng yang roboh itu semakin menjelaskan apa yang ada dibaliknya. Setengah dari sesuatu yang ada dibaliknya itu telah menjadi milikku, dan tinggal setengahnya lagi tergantung dari anggukanmu, terantung dari merah rona pipimu yang malu-malu.

            Momen ini yang kutunggu, inilah yang telah aku perjuangkan. Aku tahu, nasib baik berpihak kepadaku. Nasib selalu berpihak kepada siapa yang yakin dan tak pernah putus asa, kepada para pejuang – pejuang yang selalu mati-matian memperjuangkan harapan-harapannya. Benteng itu telah aku robohkan, pipimu perlahan memerah, merah merona tentunya. Inilah yang aku tunggu, kebahagiaan inilah yang aku tunggu, perlahan kamu mengangguk – malu-malu. Setengah lagi memang milikku dan setengah yang lain, pun juga hakku. Semua misteri dan rahasia dibalik benteng itu telah aku ketahui, semuanya seperti yang aku harapkan walaupun sedikit hujan, tapi itulah yang akan terkenangkan. Semua rahasia itu sama seperti rahasia yang aku sampaikan kepadamu, bahwa aku mencintaimu, demikian juga denganmu, kau juga mencintaiku, setelah lama, yang baru berani kau defenisikan sekarang.

            Senja ini menyisakan hujan, dan hujan disenja ini menyisakan pelangi. Hari penaklukan, di senja berhujan. Rasa yang telah mekar berawal dari hari ini. Dimulai dari jam ini. Sampai ribuan jam berikutnya. Kau mencintaiku, sekarang dan selamanya, sejauh apapun, kau tetap mencintaiku, sampai jam berhenti di satu titik dan tak bergerak lagi.

***

Ribuan jam berikutnya. Rasa yang sama diantara kita semakin tumbuh dan semakin teguh. Rasa yang tak pernah kenal lelah, rasa yang tulus satu sama lain. Sampai hari ini kau masih mencintaiku, dan akan tetap mencintaiku sampai ribuan jam berikutnya. Hari ini, senja ini, juga berhujan. Kamu tahu bahwa aku akan melanjutkan studi master ke Jerman. Kamu tahu kalau aku akan jauh darimu, kamu tahu bahwa ada banyak lautan dan negara yang akan memisahkan kita. Kamu memalingkan wajah dariku, berharap aku tak melihat matamu yang berkaca-kaca. Senja ini juga berhujan, dan hujan menghapus setiap tetes bulir yang jatuh dari kelopak matamu – kelu.

  • view 309