SUDAH SATU JAM – LEWAT

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 07 September 2016
Catatan yang Patah

Catatan yang Patah


Antologi tak tentu sebelum adanya sajak-sajak duduk semeja, cerita tentang orang kasmaran, patah hati dan kadang pengharapan yang mendayu-dayu.

Kategori Cerita Pendek

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
SUDAH SATU JAM – LEWAT

Aku menunggu selama lebih dari satu jam, mungkin sekitar itu kira-kira. Katanya kita akan bertemu dibawah pohon ini tempat biasanya dia bermain. Aku duduk lama. Ya, hampir satu jam, mungkin sudah dari itu kira-kira. Katanya kita akan bertemu jam empat tepat disini, aku tetap menunggu. Sambil duduk manis dan menatap kejauhan, berharap sosokmu keihatan.

Oh. Hari mendung di langit kali ini, kulihat kejauhan sosokmu masih belum kelihatan, kuharap tak hujan. Ku duduk manis sambil berdoa, agar tak hujan. Disini dibangku tua, kayu mahoni yang terstruktur rumit dalam tiap lapisan bilangan tahunnya, coklat. Kau tau, sudah satu jam, aku sabar. Tak apalah untuk pemula sepertiku.

Tetesan air membasahi puncak hidungku, basah. Lau menetes kepipiku perlahan. Gerimis, akhirnya turun juga di akhir bulan ini, tak apalah. Masih belum hujan, baru gerimis kecil. Kulihat dari kejauhan, orang-orang berlari mencari tempat berteduh. Tapi tak ada satupun sosok dirimu.

Oh, akhirnya langit mencurahkan air kepada sang bumi yang kekeringan di akhir bulan ini. Aku berdiri dan berlari, berharap bisa berteduh. Gerimis perlahan ini akhirnya menjadi deras dengan hujan diujung ronanya. Aku berdiri disini, dihalte melindungi diriku dari curahan tetesan hujan. Lama, ini sudah satu jam – lewat.

Aku menyerah, ternyata ini adalah kesekian kalinya. Duh – patah – begini kalau diabaikan cinta, semestapun mendukungnya. Kasihan sekali aku ini, sudah sejam – lewat. Menunggu. Sebodoh apa diriku ini, terobsesi dengan yang tak pasti, aku pastikan kau tak datang kali ini. Karena ini adalah ketidakberuntungan pemula seperti diriku. Mencoba cinta – ah – pahit ternyata. Kenapa kau tak kunjung datang? Kulihat kepada kejauhan, hanya tetesan dan gugusan hujan. Kenapa kau belum datang? Apa kau baik-baik saja. Oh maaf, jika ku melukaimu waktu itu.

Hei, bukankah malam itu aku telah meminta maaf, apa masih belum cukup? Oh, maafkan aku kali ini jika satu jam penantianku ini masih belum bisa menebusnya. Hujan ini mewakili lukamu? Ah, tak mungkinlah, tapi kalau itu memang, pasti kau benar-benar terluka.

Awan kali ini bertambah murung dengan melepaskan hujan sepuas-puasnya. Ternyata begitu besar kesalahanku, begitu membuatmu terluka. Apakah kau akan mengerti dan memberiku maaf kali ini? Pasti kau benar-benar terluka, maafkan aku. Ah, tapi ku merasa kau akan memberiku maaf seiring berhentinya hujan kali ini, karena kau adalah perempuan yang paling baik dengan naluri keibuan yang kuat – yang pernah ku kenal. Maaf ketidakpandaianku, ku hanya berusaha untuk menjadi lelaki yang menenangkan.

Akhirnya, gugusan hujan ini mereda – aku rasa. Karena tak sebegitu deras sebelumnya. Ini sudah satu jam – lewat. Tapi kau tak kunjung datang, apa aku harus menunggu hujan ini mereda sempurna? Tak apalah, kurasa aku bisa mengerti.

Aku hanya menatap kepada kejauhan, berharap. Ada sosokmu disana, ini sudah lama. Apa kau begitu terluka? Apa yang harus kulakukan untuk membuat ini reda, tapi aku mengerti, pasti nanti kau juga akan mengerti.

Seseorang memegang bahuku dari belakang, aku terkejut dengan hujan ini reda tiba-tiba, kurasa kau telah mengerti. Kau berjalan ke dekatku dari belakang.

“maaf aku telat, sudah lama ya?”

Lalu aku tersenyum mengangguk kepadanya dan dia balas tersenyum malu – anggun. Wajah ini, rona ini dan air muka ini baru sekali, seperti pelangi setelah hujan reda diakhir bulan ini, anggun.

  • view 276