ESENSI SHALAT SEBAGAI PENOLONG

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Project
dipublikasikan 23 Agustus 2016
Menyampaikan Kebaikan Project

Menyampaikan Kebaikan Project


Project ini adalah salah satu cara untuk menyampaikan kebaikan dengan sastra, dengan tulisan-tulisan artikel, sehingga diharapkan bisa menghapus dahaga orang-orang yang sedang membutuhkannya.

Kategori Spiritual

2.9 K Hak Cipta Terlindungi
ESENSI SHALAT SEBAGAI PENOLONG


“Adeek….shalat dulu !, waktu shalatnya dah hampir habis tu”
“iya Maa…, tunggu bentar, lima menit lagi”
“ayo Deek…!, ntar dapat dosa trus masuk neraka lho”
“iya Ma, iya deh Ma, ni Adek shalat lagi Ma…”

Begitulah percakapan yang sering kita dengar sehari-hari, shalat seakan-akan menjadi beban dalam hidup. Kenapa demikian?, karena orang tua menanamkan doktrin kepada kita dari kecil, bahwa jika kita tidak shalat, kita akan dapat dosa dan akan dimasukkan ke dalam neraka. Kita selalu menanamkan akibat dari suatu perbuatan ke dalam memori anak-anak, sehingga perbuatan tersebut menjadi berat. Kita selalu menanamkan doktrin bahwa jika tidak shalat akan mendapat dosa, sehingga perbuatan shalat itu sendiri menjadi berat untuk dilakukan. Apakah kita pernah menikmati shalat? Sehingga ketika kita shalat, kita tidak pernah ingin untuk menghentikannya, saking nikmatnya yang kita rasakan. Oleh sebab itu, Seharusnya kita menanamkan bahwa shalat itu adalah sebagai kebutuhan dan penolong kita, salah satu metoda pemecahan masalah keduniaan kita dengan cara berinteraksi dan bertemu dengan Pencipta. Sebagaimana diungkapkan dalam Al-qur’an:

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.
(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 45-46)

Allah SWT telah berfirman bahwa shalat adalah penolong bagi manusia, salah satu metoda pemecahan masalah keduniaan dengan jalan berinteraksi dengan Pencipta. Tapi apakah kita pernah menjadikan shalat sebagai penolong? pasti itu hanya dilakukan oleh ahli ibadah yang telah merasakan nikmatnya shalat dan esensi dari shalat itu sendiri. Lalu bagaimana dengan kita? Kita pasti merasakan shalat itu hanya sebagai beban, sehingga shalat itu menjadi sangat berat. Dan memang demikian, shalat sebagai penolong memang sungguh berat, telah dipaparkan dalam ayat di atas, namun ada pengecualiannya, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Apakah kita pernah mencapai khusyu’? dan tahukah kita seperti apa khusyu’ tersebut?. Ayat di atas kembali memaparkan bahwa, khusyu’ akan didapat oleh orang-orang yang yakin dengan sepenuh hati bahwa ketika shalat dia sadar akan menemui tuhannya dan akan kembali kepada-Nya.

Jika memang ingin khusyu’ ketika shalat, sadarilah bahwa kita sedang menemui Tuhan. Jika ingin menemui Tuhan, pakailah pakaian terbaik yang kita punya. Jangan memakai pakaian terbaik saat menemui Bos saja. Lalu bersihkanlah diri, sucikan dengan wudhu’ yang sempurna. Rasulullah pernah mengatakan bahwa, jika seseorang melakukan wudhu’ dengan sempurna, maka Allah tidak hanya menyucikan bagian tubuh yang terkena wudhu’ saja, melainkan menyucikan seluruh tubuhnya. Lalu bentangkanlah Sajadah terbaik yang telah ditaburi dengan harumnya minyak wangi. Karena minyak wangi adalah salah satu cara dalam metoda aroma terapi. Bukankah Rasul telah menjelaskan tuntunannya? Apakah pernah kita baca tuntunan tersebut? bagaimana whudu’ yang sempurna, bagimana tata cara shalat yang sempurna. Ingatlah, kita sedang menemui Allah, kita harus persiapkan diri kita sebaik mungkin untuk bertemu dengan-Nya.

Lalu khusyu’ itu adalah orang-orang yang yakin bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. Shalat adalah jalan kita kembali kepada Pencipta. Rasulullah pernah mengatakan bahwa shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang Muslim. Mi’raj adalah naiknya jiwa, naiknya jiwa kembali kepada pencipta. Shalat adalah salah satu metoda untuk memberikan jalan bagi jiwa agar terlepas dari kungkungan diri yang fana, diri yang berasal dari tanah. Ketika orang-orang shalat dengan khusyu’ (bahwa dia yakin jika sedang kembali kepada Pencipta) maka seperti apapun keributan yang terjadi, dia tidak akan terganggu, karena pada saat itu jiwa sedang mi’raj. Niat dan konsentrasi shalat orang-orang yang sedang khusyu’ adalah seperti salah satu perlombaan tujuh belas agustusan. Lomba membawa kelereng dengan sendok, kemudian sendoknya digigit dengan gigi. Apakah kita pernah melakukan perlombaan itu? Pasti pernah. Ketika seseorang melakukan perlombaan tersebut, dia berusaha dengan fokus dan konsentrasi agar kelerengnya tidak jatuh dari sendok, walaupun dilakukan sambil berlari, ketika fokus dan konsentrasi kepada kelereng, apakah kita terganggu dengan teriakan orang-orang yang berusaha memberikan semangat, keributan orang-orang yang berteriak. Pasti kita akan menghiraukan mereka, karena kita sedang fokus agar kelereng tidak jatuh dari sendoknya. Seperti perumpamaan tersebutlah hendaknya kita mengerjakan Shalat.

Ketika salah seorang sahabat Nabi tertusuk oleh panah, beliau tidak sanggup menahan sakit ketika panah tersebut dicabut oleh sahabat lain. Karena saking sakitnya, beliau meminta agar panah itu dicabut ketika beliau shalat. Saat shalat telah didirikan, sahabat yang lain mencabut panah tersebut. Lalu apa yang terjadi, beliau tidak merasakan apa-apa, beliau tidak merasakan sakit. Karena jiwa beliau sedang mi’raj, lepas dari kungkungan tubuh yang fana.

Secara umum, esensi ibadah sebenarnya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Tuntunan-tuntunan yang di gariskan agama adalah untuk kebaikan diri dari manusia itu sendiri. Shalat dan ibadah secara umum adalah salah satu metoda untuk memberikan jalan kepada jiwa agar lepas dari penjara keduniaan, agar lepas dari raga atau tubuh yang fana. Jiwa suka kebaikan dan hal yang bersifat kepada akhirat, karena akhirat adalah tempat kembali jiwa. Dan jiwa ingin selalu menemui jalan pulangnya, menuju Pencipta. Sedangkan tubuh atau jasad yang fana ini, diciptakan dari tanah, dan tanah adalah milik dunia. Tubuh suka kepada hal yang bersifat keduniaan. Oleh sebab itu, Rasulullah pernah mengatakan bahwa, musuh terbesar manusia itu adalah dirinya sendiri. Dirinya sendiri yang dimaksud disini sebenarnya adalah tubuh yang fana. Jika kita selalu menuruti keduniaan dan nafsu, maka itu akan menghambat jalan jiwa, sehingga jiwa terkungkung dalam penjara tubuh. Nafsu di dalam bahasa arab berasal dari kata Nafs, yang berarti diri. Nafsu adalah kehendak diri, dan lawan terbesar kita adalah diri itu sendiri.

Jika seseorang melakukan shalat karena beban dan terpaksa, maka Rasulullah mengatakan bahwa kita hanya akan mendapatkan capek dan lelah semata, padahal shalat itu sendiri adalah sebagai penolong. Abu sangkan mengatakan bahwa shalat itu adalah meditasi dalam Islam, untuk apa kita mencari jalan meditasi lain, padahal agama kita telah mengajarkan cara meditasi terbaik, yaitu shalat, sebagai salah satu jalan menemui ketenangan dan kebahagiaan. Oleh sebab itu, shalat manfaatnya adalah bagi manusia itu sendiri. Sekarang ambillah whudu’, luruskan niat dan fokuslah seperti seseorang yang sedang lomba membawa kelereng di dalam sendok, kenakanlah pakaian terbaik, bentangkan sajadah yang bersih, bukan sajadah yang sudah berbulan-bulan tidak dicuci, lalu bernafaslah dengan tenang dan teratur, rasakan dan jangan tergesa-gesa, karena tuma’ninah adalah tenang dan tidak tergesa-gesa. Setelah itu bacakanlah setiap do’a-do’a di dalam shalat. Kemudian sujudlah dengan tenang, karena jarak terdekat antara hamba dengan Tuhannya itu adalah ketika sujud. Lalu mintalah ampun ketika sujud itu, berdolah ketika sujud itu, karena ketika itu kita pada jarak terdekat dengan Allah. Kalau memang ingin mencapai kebahagiaan sejati dan ingin mendapatkan solusi dalam setiap permasalahan hidup. Maka sempurnakanlah shalat.
Rasulullah mengatakan bahwa, amalan yang pertama kali dihisab itu adalah shalat. Jika seseorang diterima shalatnya, maka amalan lainnya akan diterima. Allah akan menghisab shalat, jika shalatnya sempurna, maka ibadah lainnya juga akan sempurna. Shalat adalah pencegah manusia melakukan yang mungkar, sehingga orang yang sempurna shalatnya, mustahil melakukan sesuatu yang mungkar. Jika seseorang telah merasakan nikmatnya shalat dan merasakan bagaimana jiwa itu menemui jalannya menuju Pencipta, maka ia tidak akan melakukan hal yang mungkar yang menjadikan jalan jiwa untuk mi’raj menjadi terhalang. Sahabat ketika melihat Rasul shalat, mereka mengatakan bahwa, jika beliau sujud, maka seakan-akan tidak akan bangkit, ketika beliau ruku’, seakan-akan beliau tidak akan I’tidal karena saking lamanya. Beliau juga mengatakan bahwa pekerjaan yang paling ia sukai adalah shalat. Karena Beliau telah merasakan nikmatnya shalat dan mendapatkan kebahagiaan karenanya. Rasul pernah mengatakan kepada Bilal bahwa, “hai Bilal, jadikanlah shalat sebagai istirahatmu”.

Shalat adalah untuk manusia itu sendiri, penolong bagi manusia itu sendiri, maka sempurnakanlah shalat. Dan sampaikanlah kepada anak-anak bahwa shalat itu adalah sebagai penolong. jika mereka mendapat permasalahan, maka suruhlah mereka shalat dan mintalah pertolongan kepada Yang Maha Pemberi Pertolongan.

 

Oleh : Robby Jannatan
e-mail : robbyjannatan{a}gmail.com

Dilihat 181