Jadi, Nikmat Mana Lagi yang Telah Kita Dustakan?

Robby Jannatan
Karya Robby Jannatan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Jadi, Nikmat Mana Lagi yang Telah Kita Dustakan?

“Aduuh….macet lagi, macet lagi” gumam seorang suami, di dalam mobilnya.

“iya sih, bapak lewat jalan ini, jalan ini kan macet terus pak” istrinya juga ikutan mengeluh.

“udah hari panas, gerah, ntar kan aku arisan bisa telat pak” sambung istrinya lagi…

Matahari semakin menusuk, hingga menyengat sampai ke dashboard mobil.

Setiap hari kita selalu mengeluh, dimana saja, kapan saja, pada siapa saja. Tidakkah kita mau sedikit bersyukur, kita telah dilebihkan satu kenikmatan dibandingkan yang lain. Tidakkah kita tau, orang yang mempunyai mobil, telah dilebihkan satu kenikmatan dibandingkan orang yang mempunyai motor. Tidak kita menyadari, pada saat macet, pengendara bermotor akan jauh lebih kepanasan daripada orang yang mengendari mobil. yang punya motor, jika panas, akan kepanasan, yang hujan akan kehujanan. Sedangkan yang di dalam mobil tinggal mengatur suhu di tombol AC, selesailah semua permasalahan, tapi masih mengeluh. Tidakkah sadar bahwa pengendara motor telah dilebihkan satu kenikmatan dibandingkan pengendara sepeda, “aduh, kok panas kali hari ini”, masih saja mengeluh. Dan pengendara sepeda masih saja mengeluh, yang rantai sepedanya berulang kali lepas. Tidakkah dia sadar bahwa dia telah dilebihkan satu kenikmatan atas pejalan kaki. Jadi, apakah setiap nikmat itu memang selalu kita dustakan? Jadi, nikmat mana lagi yang kita dustakan?.

Sekarang kita coba sedikit bahas tentang pergumulan saya pada QS. Al-Baqarah: 286, dan penggalannya dibawah ini:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”

Lalu apa hubungan penggalan ayat ini dengan selalu bersyukur?, mari kita bahas lebih jauh. Kalau menurut saya, ayat ini tidak hanya berlaku untuk orang yang tertimpa bencana saja, tapi penggalan ayat ini berlaku untuk semua hal di dalam hidup ini. Bukankah kita hidup ini adalah cobaan. Bukankah semua hal yang diberikan di atas dunia ini adalah cobaan.

Sekarang kita coba ambil satu contoh. Telah banyak orang yang telah berusaha keras untuk mengais rezki, memperjuangkan karirnya, namun tak juga kaya. Telah banyak mahasiswa yang belajar keras, namun tak juga dapat IPK tinggi. Telah banyak orang berusaha agar dikaruniai anak, namun tak kunjung dapat. Telah wisuda, tapi tak kunjung dapat kerja. Yang kita tahu hanyalah keluhan. Namun tidakkah kita tahu, bahwa Allah telah memberikan yang paling baik. Kenapa kita tidak kaya? Karena kita belum sanggup, karena kaya itu adalah beban. Kenapa IPK kita belum juga tinggi? Padahal sudah berusaha keras, karena kita belum sanggup, karena IPK itu adalah beban. Kenapa belum juga dapat kerja? Padahal sudah Sarjana, karena kita belum sanggup memikul beban tersebut. Sekarang kita coba fikir, jika Allah memberikan semua beban itu saat kita belum sanggup memikulnya? Kita belum sanggup jadi orang kaya, lalu diberi kekayaan, maka ujungnya akan serakah, ujungnya akan sombong. Kita belum sanggup menerima IPK tinggi, lalu diberi IPK tinggi, mungkin kita akan jadi sombong, lalu jadi malas belajar. Kenapa kita belum juga dikaruniai anak, anak itu cobaan, istri cantik itu cobaan, semuanya cobaan, kalau kita sanggup, maka Allah akan berikan beban itu. Maka bersyukurlah, karena Allah tidak membebani kita dengan sesuatu yang kita belum sanggup memikulnya.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghaabuun: 15)

Jadi syukurilah apapun yang terjadi pada hidup ini. Berbaiksangkalah kepada Allah. Kenapa Allah tidak memberitahukan apa yang akan terjadi di masa depan kepada kita? karena agar kita jadi orang yang barbaik-sangka, orang yang sabar atas setiap rangkaian proses yang belum Allah selesaikan, dan akhirnya kita tau bahwa setiap hal untuk kita, agar kita bersyukur.

            Contoh lain lagi, Allah telah menetapkan di ujung jalan bahwa kita akan menjadi seorang pengusaha sukses. Namun rangkaian proses dan jalan cerita yang Allah siapkan menuju ujung jalan itu sangatlah susah, waktu kuliah sudah berusaha keras, IPK tidak juga kunjung tinggi, lalu dapat pembimbing skripsi yang killer, akhirnya tamat lama, terancam DO pula, lalu pada saat itu, berhakkah kita mengeluh, lalu berburuk sangka kepada Allah, bahwa Allah memberikan proses yang sangat buruk. Seharusnya kita bersyukur, bahwa Allah telah menyanggupkan kita atas beban yang ia berikan. Namun kita langsung men-judge Allah tidak adil, karena orang lain IPKnya tinggi, tamatnya cepat dan langsung dapat kerja. Namun kita pengangguran setelah Sarjana. Berhakkah kita langsung mengambil kesimpulan yang kurang baik dan tegesa-gesa atas setiap rangkaian proses yang Allah sendiri belum menyelesaikannya. Apakah kita pernah tau, saat kita tidak dapat kerja setelah Sarjana, kita malah membuka suatu usaha, lalu jadi pengusaha sukses. Tapi kita malah telah men-judge Allah dengan tergesa-gesa bahwa Allah tidak adil.

Kenapa kita tidak berbaik sangka saja terhadap apa yang telah Allah berikan?. Kita telah menonton film-film di TV dan membaca cerita-cerita di novel. Film dan cerita mana yang kita sukai?. Pasti cerita yang penuh lika-liku, cerita yang tidak tertebak akhirnya dan cerita yang jalan ceritanya tidak hanya hambar saja. Begitu pulalah hidup, cerita orang-orang yang berkesudahan bagus di akhirnya pasti mempunyai alur yang rumit dan akhir yang susah ditebak. Allah telah mengatakan dalam QS. Ad-Dhuha, bahwa akhir itu lebih baik daripada awal. Dan apakah kita selalu mendustakan nikmat Allah? Jadi nikmat mana lagi yang harus kita dustakan. Apakah dengan hal itu saja kita berhak tidak berbaik sangka kepada Allah.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” kalimat ini diulang sampai 31 kali. Jadi nikmat mana lagi sekarang yang telah kita dustakan?.

Oleh : Robby Jannatan (robbyjannatan{a}gmail.com)

Foto Oleh : Dio Try Ananda

  • view 227