Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 20 November 2016   20:27 WIB
KurinduITD-Keberagaman, Diskriminasi etnis, dan Pancasila; Fakta, Masalah, dan S

Keberagaman, Diskriminasi etnis, dan Pancasila; Fakta, Masalah, dan Solusi

“Berbangsa satu, bangsa tanpa diskriminasi, berbahasa satu bahasa tanpa diskriminasi bertanah-air satu, Indonesia tanpa diskriminasi...”

Kalimat diatas adalah sebagian dari lirik lagu karya Denny J.A. sebuah lagu yang didalamnya terdapat tujuan mulia beliau untuk mengajak masyarakat bersama-sama menciptakan Indonesia tanpa diskriminasi.

Diskriminasi menjadi hal yang cukup sering terjadi di negara kita. Terutama diskriminasi antar etnis yang berujung konflik antar etnis. Karena kondisi negara kita yang memiliki keberagaman etnis, agama, budaya dan berbagai aspek lainnya, maka tak jarang muncul perselisihan akibat perbedaan pandangan dan tujuan tersebut. Hal ini menjadi penyebab kasus diskriminasi dan konflik antar etnis seolah-olah tak ada habisnya kita rasakan hingga saat ini. Inilah yang terjadi di negara kita. Yang bisa dikatakan sebagai hal yang biasa terjadi di negara kita. Itu semua terjadi karena kurangnya rasa toleransi dan menghargai antar suku di Indonesia. Kita seakan lupa bahwa kita dapat hidup merdeka selama ini, semua itu tidak lepas dari perjuangan para pejuang nusantara yang bersatu untuk mengusir penjajah dari nusantara. Karena persatuanlah kita dapat membebaskan diri dari penjajahan.

Pancasila sebagai dasar negara kita, merupakan hasil pemikiran beberapa orang yang berbeda etnis. Seperti Ir. Soekarno dan Prof. Mr. Dr. Soepomo yang berasal dari Suku Jawa, sedangkan Prof. Mr. Mohammad Yamin, S.H yang berasal dari suku minangkabau. Mereka berasal dari dua suku berbeda, tetapi mereka dapat bersatu dan menghasilkan dasar negara yang kita pegang hingga sekarang ini. Mereka menyadari begitu besarnya arti sebuah persatuan. Menghilangkan rasa benar sendiri sangat penting untuk menciptakan rasa persatuan di negara kita. Semua kasus diskriminasi berawal dari pandangan buruk suatu kelompok terhadap kelompok lain. Hal semacam inilah yang harus kita hilangkan agar tercipta indonesia tanpa diskriminasi.

A. Konsep Pancasila Didalam Suku-Suku Di Indonesia

 

Kekayaan akan suku dan budaya, merupakan kelebihan tersendiri yang dapat kita manfaatkan sebagai pemersatu bangsa ini. Kehidupan kita tidak jauh dari suku dan budaya, karena setiap kita warga asli Indonesia pasti memiliki suku tersendiri. Oleh karena itu, kunci agar terciptanya Indonesia berjiwa pancasila adalah dengan menghilangkan rasa egois dan benci antar etnis. Kita harus menyadari bahwa semua itu sama, semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut akan saya paparkan beberapa tata kehidupan suku-suku di Indonesia yang sebenarnya sudah terkandung makna pancasila didalamnya.

1. Suku Jawa

Narimo ing pandum merupakan sebuah konsep yang dianut oleh orang jawa, ini merupakan sikap hidup pasrah dengan segala keputusan yang telah ditentukan oleh tuhan. Ini tentu merupakan sebuah implementasi dari sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dimana semua itu ada yang mengatur dan tidak dapat ditentang begitu saja.

2. Suku Melayu

Berikut kutipan gurindam 12 pasal 12

            Betul hati kepada raja

            Tanda jadi sebarang kerja

--Raja yang baik atau raja yang mendapat petunjuk dari Allah adalah raja yang adil terhadap rakyatnya

Hukum adil atas rakyat

Tanda raja beroleh inayat

--Hukum harus didasari oleh hak asasi manusia

Ada banyak sekali tata adat suku melayu, disini saya hanya memaparkan pasal 12 dari gurindam dua belas. Jelas tergambar diatas bahwa masyarakat melayu sangat menjunjung keadilan dan hak sebagai manusia, yang merupakan harapan dari pancasila sila kedua. “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”.

3. Suku Minang

“Persatuan Indonesia”, merupakan sebuah kalimat sederhana, namun memiliki makna yang dalam. Didalam adat minang juga ada sebuah falsafat yang menggambarkan pentingnya sebuah persatuan. “Saiyo sakato”, dua buah kata sederhana juga, namun memiliki makna yang dalam pula. Adat Minang sangat menjunjung persatuan dan kesatuan dalam masyarakat Minang. Orang Minang yakin tanpa persatuan dan kesatuan itu akan menjauhkan mereka dari tujuan masyarakat yang ingin dicapai.

4. Suku Dayak

Suku dayak terkenal akan kepemimpinannya yang bijaksana. Tidak hanya itu, suku dayak juga amat mentaati dan setia kepada pemimpin yang telah mereka akui sendiri. Dilain pihak, untuk mendapatkan pengakuan dari penduduk, seorang pemimpin harus benar-benar mampu mengayomi dan mengenal masyarakatnya dengan baik. Seorang pemimpin suku dayak haruslah memiliki beberapa kriteria seperti Mamut Menteng, maksudnya gagah perkasa dalam sikap dan perbuatan. Kemudian Barendeng yang berarti mampu mendengarkan informasi juga keluhan warganya. Telinganya selalu terbuka bagi siapapun. Dan masih banyak lagi konsep kepemimpinan suku dayak. Namun yang pasti dalam kehidupan suku dayak, kepemimpinan adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan. Terdapat kriteria tertentu hingga dirinya dapat diakui sebagai pemimpin. Dan warganya pun akan menaati dan setia kepada pemimpin yang telah mereka akui. Didalam kehidupan bernegara, konsep ini sangat penting untuk dipegang oleh warganya. Karena, untuk menjadi pemimpin tidak hanya sekedar memimpin, namun juga mampu untuk mendengarkan aspirasi rakyatnya. Dan warganya harus berperan aktif dan setia kepada pemimpin yang telah ada. Ini merupakan contoh makna sila ke empat dalam pancasila yakni. “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan” yang sudah ada dalam tata kehidupan suku dayak.

5. Suku Banjar

Bagaimana maruwak banyu di bumbung (seperti menuangkan air dalam bambu)

Makna ungkapan ini adalah berbicara terus menerus tanpa memberi kesempatan kepada orang lain di dalam suatu musyawarah. Adapun maksud ungkapan ini adalah sebagai sindiran terhadap orang-orang yang ingin memborong pembicaraan dalam suatu musyawarah. Sehingga seakan-akan ingin memaksakan kehendaknya sendiri saja. Sementara orang lain juga memiliki buah pikiran untuk disampaikan namun tidak diberi sedikitpun kesempatan. Masyarakat suku banjar saat ini masih berpegang teguh pada nilai-nilai dan maksud yang terkandung didalamnya serta mereka masih menggunakan ungkapan ini sebagai landasan hidup bermasyarakat. Ungkapan ini jelas mempunyai kaitan dengan salah satu sila yang terdapat didalam pancasila, karena dengan jelas ia telah menggambarkan bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku supaya menjadi manusia yang tahu haknya dan menghargai hak orang lain, yaitu sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

Kita hidup di tengah masyarakat yang berbeda etnis. Tidak semua etnis dapat hidup rukun. Masih banyak keegoisan dalam diri pribadi dan rasa toleransi yang kurang sehingga memicu timbulnya perselisihan. Kesadaran akan persatuan masih kurang dalam diri masyarakat indonesia saat ini. Semua etnis di Indonesia sebenarnya sudah memiliki konsep pancasila dalam tata kehidupannya. Tapi kesadaranlah yang belum muncul diantara kita. Padahal sebenarnya setiap orang memiliki dasar kuat yang sudah diatur di dalam tatanan etnisnya.

Menciptakan Indonesia yang hidup tanpa diskriminasi bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan dan kendala yang dihadapi. Namun itu bisa saja menjadi mudah untuk dilakukan, jika kita bisa berhenti memandang buruk kelompok lain. Melainkan dengan memandang baik dan menyadari bahwa kita semua memiliki kelebihan dan kekurangan adalah jalan yang paling efektif untuk menghilangkan kasus diskriminasi yang sering terjadi di negara kita.

Contoh etnis yang saya paparkan di atas hanya segelintir dari sekian banyak hal positif yang ada dari berbagai etnis di indonesia. Menghargai kebudayaan orang lain tanpa ada diskriminasi antar etnis merupakan jalan menciptakan Indonesia tanpa diskriminasi. Karena tidak ada alasan agar kita merendahkan etnis lain. Karena semua etnis memiliki tatanan kehidupan yang bertujuan positif. Selain itu, apabila kita mengerti satu sama lain, maka penanaman nilai pancasila dalam diri kita pun akan semakin kuat. Karena kita akan saling berbagi membentuk kehidupan nasional yang anti diskriminasi.

Karya : Robbi nanda