Catatan Kerinduan H-14

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Maret 2016
Catatan Kerinduan H-14

Hari 14
Selasa, 1 Desember 2015

Mengakhiri perjalananku di bulan November, kegalauan itu kembali hadir. Satu hal yang begitu menyedihkan dan hina, karena lagi-lagi aku terjebak dengan ego, buku, utang, dan keterbatasan dana. Semalam, Mas Jan lagi-lagi mengusik ketenanganku hari itu. Setelah cukup lama ia tak begitu cerewet, malam ini ia kembali mengusik malamku yang tenang. Aku tak akan menceritakan sisi negatif dari sistem penjualannya yang melelahkan. Tak sesimpel, lewat batas waktu, maka cancel, dan dilego ke yang lain. Ia malah menawarkan sesuatu yang akhirnya beliau khianati lagi pada akhirnya. (Lah itu cerita.. ?red). Masa sih? Hehe...

Hidupku mungkin terlampau optimis. Ketika dahulu memutuskan untuk menikahimu, dalam kondisi belum punya kerjaan apapun, jelas aku terlampau optimis. Ketika kemarin aku meminjam uang untuk modal ini pun, tampak aku terlalu optimis. Pun begitu ketika aku menawarkan bantuan untuk membeli buku-buku dari pedagang kecil itu, sepertinya aku pun terlalu muluk-muluk. Setengah hati ingin memiliki bukunya, dan setengahnya lagi berniat untuk membantu. Karena seperti yang mereka bilang, ?Kami bukan berjualan untuk membangun gedung mewah. Kami hanya berjualan untuk sekedar menyambung nyawa dengan cara yang baik.? Mereka para langgananku, hanya berharap bisa memberi makan anak dan istrinya. Belajar mandiri dalam hidupnya.

Terpaksa, mau tidak mau, utang kepada pamanku, mesti aku tangguhkan kembali untuk waktu yang belum bisa aku pastikan. Maaf sayang, lagi-lagi aku terpaksa melakukan ini semua. Karena saking cintanya aku pada dunia ini, pada buku-buku yang belum pasti menjadi ilmu untukku. Sebuah optimisme buta, bahwa kelak aku menjadi orang yang lebih bijak dan berilmu, setelah memiliki begitu banyak buku itu.

Buku-buku yang banyak ini adalah alat bantu. Untuk orang yang memang tak pintar seperti diriku. Aku bukanlah Gus Dur, yang sekali baca tak akan lupa lagi hasil bacaannya. Aku bukanlah Rumi, yang tak lagi membutuhkan buku untuk mendapatkan ilmu. Aku hanyalah mantan mahasiswa yang masih begitu bodoh. Masih banyak hal di dunia ini yang belum bisa aku pahami. Aku belumlah sampai pada tingkat ma?rifat, yang cukup merenung beberapa saat, lalu mendapatkan limpahan ilmu laduni dari Allah.

Jujur saja, dahulu aku bukanlah apa-apa, lah emang sekarang aku sudah jadi apa yah? *garuk-garuk bingung. Sekedar membayangkan lulus kuliah dari STAI Persis Garut saja, rasanya aku tak mungkin sanggup. Karya ilmiah, bukanlah hal yang begitu akrab dalam kehidupanku. Kerjaku dulu hanya berkhayal. Merasa, kemudian meracau tidak jelas. Aku hanyalah orang sok bijak dan sok tau. Mencontek gaya tulisan Kahlil Gibran, dari buku yang aku pinjam dari temanku. Mencoba memuaskan keingin-tahuanku, dari koran-koran bekas, yang biasa ayah gunakan untuk pola jaitannya. Peer Kecil, terbitan hari Minggu, mungkin satu-satunya hal yang aku kenal dari dunia penerbitan. Maka pantas saja, karya tulisku, paper semasa Mu?allimin dulu, terlampau fiktif untuk dikatakan karya non-fiksi.
Jika bukan karena perkenalanku dengan kang Kinkin, kakak kelasku, aku selamanya tak akan pernah pantas menyebut diri sebagai seorang mahasiswa, meski sekarang juga masih gak pantas sih haha. Jangan bayangkan aku telah membaca begitu banyak buku semasa mudaku seperti beliau. Sampai aku masuk kuliah, buku yang ku baca hanyalah buku-buku pelajaran, dua buku Kahlil Gibran, dan satu buku motivasi yang begitu mahal dulu kubeli, Membuat Orang Jatuh Cinta dalam Satu Detik. Ya, buku yang dulu jauh-jauh ku beli dari Gramedia Merdeka. Namun aku tak akan memungkiri semua peran yang dimainkan para penulis buku tersebut. Setidaknya aku masih merasakan dampak bacaan itu sampai hari ini.

Perkenalanku dengan dunia buku adalah dari perpustakaan ust. Tiar yang "sialnya" begitu menawan. Aku pertama terpana pada sajak-sajak Iqbal, ?Asrar-I-Khudi? dalam buku Rekontruksi Pemikiran Agama dalam Islam, milik guruku tersebut. Pertemuan itu sayangnya tak segera berakhir. Aku mulai terjerumus lebih dalam, lalu mengenal ?buku-buku lurus? khas orang-orang Salafi, melalui ust. Husein. Kemudian ?tersesat? ke dunia filsafat melalui Panorama Filsafat Islam-nya Mulyadhi Kartanegara. Lalu terjebak dalam romantisme masa lalu, karya Tafsir Nusantara, melalui ust. Teten dan mata kuliah tafsirnya. Kemudian aku terlena dengan novel-novel ?berat?, seperti Ian Caldwell dan Umberto Eco. Sebagai hasil provokasi saudara Imam. Kemudian aku terjerumus semakin dalam, dan mengenal nama Syed Naquib al-Attas melalui mata kuliah kakak kelasku saat itu. Islam dan Sekualarisme, sebuah buku yang tak pernah benar-benar aku pahami sampai sekarang. Aku pun sempat terjebak bersama ?buku-buku sesat?, karena penelitian yang memaksaku untuk objektif, dan mau belajar dari mereka yang ?sesat? ini.

Terpaksa aku mesti masuk ke dalam dunia yang melenakan ini. Terdorong oleh mata kuliah yang terus saling berganti, memaksaku untuk membaca banyak hal, lagi-lagi karena kebodohan dan keterbatasanku. Kemudian aku mengenal nama Hamka, A. Hassan, HM. Rasjidi, Syamsudin Arif, Adian Husaini, Hamid Fahmy Zarkasyi, HB. Jassin, dan seabreg nama lainnya yang tidak pernah benar-benar aku hafal semuanya. Aku sekarang mengenal banyak jenis penerbitan buku. Pustaka Imam Syafi?i, Mizan, Serambi, GIP, dan banyak penerbitan lainnya. Dari sana aku pun mengenal dunia penerbitan lebih dekat. Market penyebaran buku di wilayah Bandung, aku kenali melalui Bazzar Buku STAIPI EXPO. Bermula sebagai seorang asisten pengiriman surat, sampai menjadi ketua Bazzar itu sendiri dalam beberapa tahun berikutnya.

Sejak saat itu tempat ?main?-ku adalah lapak buku si Mas Sarjito, Pak Cece Jatinangor, Toko Buku 20.000-an Jatinangor, Pasar Palasari, Lapak-lapak buku Dewi Sartika, Toko Buku samping UIN Bandung, samping kantor Mizan di Cinambo, gudang penerbit GIP di Cibaduyut Lama, Toko Kitab Dahlan dan al-Falah. Selalu menjadi persinggahan ku semasa kuliah. Ya, aku benar-benar terjebak di dunia yang sialnya lagi, sangat memesona.

Satu tahun terakhir ini, akhirnya aku tergoda untuk mengenal dunia lapak buku online. Dunia ini lebih gila lagi. Melalui mereka, aku mengenal lukisan abstrak Bentang Budaya, aku mengenal kebodohanku di dunia sastra yang dulu aku begitu pede telah mengenalnya. Aku mengenal nama Roem, Kuntowijoyo, Pram, Natsir, Isa Anshari, Cak Nun, dan karya-karya langka yang tak biasa. Tiga bulan pertama sebelum aku mengenal lapak online, aku merasa petualanganku di dunia buku sudah selesai. Sudah banyak tumpukan buku di lemari bajuku, pikirku. Namun semuanya berubah ketika negara api menyerang! Ehh, hehe..

Sebuah pengakuan dosa, sebuah ungkapan penyesalan. Aku tak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk ceritaku di atas. Namun setidaknya aku masih lebih beruntung, karena masih mengoleksi benda yang bisa bermanfaat seperti buku. Bukan mengoleksi mantan, bungkus rokok, dan batu-batu mulia yang tak pernah semulia logam mulia. Sebuah pembelaan? Ya, mungkin saja.

Setidaknya ini adalah curahan hati seorang suami, yang tengah dilanda kebimbangan meski telah meminta izin kepadamu pagi tadi. Masalahnya apa? Ya itu tadi, keterbatasan dana dan utang yang tak kunjung selesai. Setidaknya aku pernah mencoba untuk mencari pendapatan sampingan. Beberapa email aku kirimkan bersama artikel sederhanaku. Beberapa formulir perlombaan aku kirimkan, dilampiri sebuah cerpen yang mungkin masih kurang enak dibaca. Bahkan engkau sampai harus mengirimkan sebuah puisi, berharap mungkin ada keajaiban bagi karya-karyaku itu bisa singgah di hati para juri.

Sejak semalam aku tidak enak tidur sebenarnya. Sampai mungkin pukul dua belas malam kemarin, aku baru berpikir untuk mengistirahatkan mataku. Aku menyusun beberapa kata dalam foto, yang akhirnya aku lampirkan dalam beberapa halaman buku ini. Entah bagus atau tidak, yang pasti aku hanya berpikir untuk mengungkapkan perasaan rindu ini dengan cara yang aku bisa. Semuanya baru usai pagi ini. Semua hal yang mungkin akan kau pikir sebagai usaha permohonan maaf. Meski nyatanya tidak.
?
Nama untuk Anakku

Sudah sejak berbulan-bulan yang lalu, engkau memaksaku untuk mencari nama, untuk anak kita kelak. Sebagai seorang ayah, jelas ini adalah sebuah hal besar. Berbagai informasi kita kumpulkan, namun sampai saat ini belum juga aku tuliskan secara serius rencana nama untuk anak kita ini. Catatan kecil yang kita tulis bersama-sama kemarin, bukanlah ditulis oleh hatiku. Itu baru sebuah kepingan informasi kecil, yang sama sekali tidak menyimpan doa dan harapan kita di dalamnya. Alhamdulillah, catatan itu hilang dan sama sekali belum tersimpan. Sehingga akhirnya aku bisa menulis hikayat pendek yang berjudul Nama untuk Anakku, hari ini. Sebenarnya aku masih mempertahankan beberapa informasi yang kemarin kita cari bersama. Memadukannya dalam sebuah catatan kecil, dari hatiku yang tengah sepi. Menanti saat-saat dimana kelak ia terlahir, mengunjungi dunia yang tak lagi nyaman, namun tetap bermakna bagi hidupnya kelak.

Nama adalah identitas, yang menunjukkan betapa orang tuanya ini benar-benar peduli kepada dirinya. Nama adalah doa, yang tersemat abadi di dalam hidupnya. Nama adalah kasih sayang, yang berwujud sebuah harapan besar, sebuah doa terhalus, jauh dari hingar-bingar, lembut ia menunjukan jalan kehidupan bagi anaknya kelak.

Satya Latief Nurrohman
Jelas sebuah nama untuk laki-laki. Harapan kami dalam nama ini, kelak engkau akan menjadi pejuang besar. Setia memperjuangkan kebenaran cahaya ilahi melalui cara yang lembut; dakwah bil hikmah dan mau?idzoh hasanah. Kebenaran memang harus disampaikan, namun kebenaran akan klop di hati ketika ia disampaikan melalui cara yang lembut. Tidak membawa kerusakan, bahkan justru memberi ketentraman di hati yang diajaknya. Cukup! Laki-laki memang tak biasanya cerewet kan?

Jika kelak anakku adalah seorang wanita. Kami pun telah memilih beberapa nama untukmu. Lagi, sebagai harapan utama kami dari sosok dirimu kelak, anakku.

Reynara Afsar Nurrohman
Puncak mahkota cahaya ilahi. Nama yang berasal dari bahasa campuran, Nippon Namaewa: Reynara yang berarti puncak. Persia: Afsar yang berarti mahkota. Arab: Nurrohman yang berarti cahaya ilahi. Harapan kami dalam nama ini, kelak jika ia hidup sebagai manusia, ia menjadikan Allah yang Maha Pengasih, dijunjung tinggi sebagai panutannya dalam hidup. Jadilah ia manusia yang mengasihi sesama. Menebar cahaya kasih ilahi, mewujudkan Islam sebagai agama yang layak dicintai dan dihormati.

Reynara Afsheen Nurrohman
Puncak cahaya ilahi, yang bersinar bak bintang (Afsheen: Arabic Name). Bintang memiliki satu pelajaran yang begitu besar, untukku. Memberi petunjuk bagi yang tersesat. Melalui cahaya yang indah, jauh dari menyilaukan. Pribadi besar yang sederhana. Pribadi hebat yang tidak sombong. Tidak terkenal di bumi, namun sohor di seantero langit.

Nama yang kami siapkan untukmu, mungkin tak seindah kasih Tuhan yang mewujud pada dirimu.? Namun kita tak pernah diizinkan merendahkan diri di hadapan manusia. Jadilah hebat, menebar manfaat. Dunia hanya persinggahan. Tapi akhirat kekal, selama-lamanya. Jauh dari hingar-bingar.

Kehidupan yang baik, adalah hidup yang sahaja.
Mungkin kelak akan ada yang bertanya, kepada nama anakku ini tidak memasukan kata ?Muhammad? dan ?Siti?. Pertama, nama itu sudah kadung ?pasaran? dan mungkin tidak akan dianggap spesial lagi kelak oleh anakku. Kedua, Muhammad adalah seorang Nabi yang menebarkan cahaya ilahi dalam hidupnya. Ia seorang manusia bersahaja. Sederhana, namun senantiasa menjunjung tinggi kebenaran. Maka nama anak laki-laki yang kami siapkan pun, telah menunjukan harapan itu. Ketiga, ada banyak pribadi yang ingin ditunjukan oleh nama Siti. Aku hanya tak ingin kepribadian anakku kelak terpecah, karena saking banyaknya tokoh yang bisa ditunjukan melalui nama itu. Harapanku sederhana, meski wanita ia mesti memiliki keluhuran budi seorang Muhammad. Ia bisa menjadi Muhammad, Sang Cahaya Ilahi, meski dalam tubuh seorang wanita.

Lalu kenapa mesti ada nama Reynara: Puncak. Sebanarnya kami hanya ingin mengajarkan sebuah pelajaran penting. Puncak adalah tempat terindah bagi para pendaki. Untuk sampai di puncak, kita mesti banyak berkorban. Usaha, tenaga, harta, bekal, dan semua yang pasti akan dipersiapkan oleh para pendaki. Puncak adalah perhiasan termahal, yang tidak bisa dinikmati kecuali melalui perjuangan panjang yang melelahkan. Keindahannya tak dapat dibawa pergi, dan tetap akan menjadi perhiasan untuk Sang Puncak itu sendiri. Ia tak berpindah tangan. Hanya berloncatan dalam kenang dan imajinasi pendaki. Ia tetap milik Allah, Tuhannya. Hanya saja ia singgah menghiasi kehidupan orang tua, keluarga, suami dan anak-anaknya. Selebihnya, tidak ada alasan spesial dari pemilihan nama-nama tersebut.