Catatan Kerinduan H-12 & 13

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Maret 2016
Catatan Kerinduan H-12 & 13

Hari 12
Ahad, 29 November 2015

.............................................................................................

Maaf, sepertinya aku tidak jadi menyisakan halaman kosong di sini. Karena setelah kupikir-pikir, ternyata cukup banyak pula hal yang ?lumayan? menarik di hari Ahad ini. Namun begitu, kalimat pembuka di halaman berikutnya tidak serta merta terbantahkan. Karena catatan ini pun baru bisa ku catat dan bahkan baru kuingat hari ini, H-13.

Bermula dari percakapan kami selepas Maghrib di Mesjid Subulussalam, atap rumah kita selama di sini. Hari itu memang masih seperti hari-hari lainnya bagi masyarakat Kanreapia. Masih berisi harapan yang mulai terkhianati, doa-doa yang mulai kelam dari penerimaan (ijabah), dosa-dosa yang makin beragam dan baharu, dilengkapi pemakluman dan penerimaan putus asa dari sebagian besar masyarakat terhadap pelanggaran sebagian kecil anggota masyarakat lainnya. Hujan yang turun siang tadi, menyisakan harapan setali dengan kecemasan yang juga hanyut terbawa bersamanya. Rintik-rintik kecil, yang turun tidak lebih dari lima menit saja. Bahkan tidak mampu melepas dahaga tanah kering di depan mesjid, sehingga masih begitu berdebu ketika langkah-langkah putus asa itu menginjaknya.
Percakapan malam itu pun masih berkisar pada harga bawang perei yang tinggi, wortel, tomat, kentang, dan sayur-mayur lainnya, yang memang sedang paceklik di tanah yang katanya subur ini. Logika ekonomi akademisi memang tidak begitu menguntungkan untuk para petani kini, di sini. Ketika mereka berharap banyak dari tanaman tomatnya, justru saat itu hanya bernilai sepuluh ribu tiga kantong. Enam puluh kilogram hanya dibayar sepuluh ribu rupiah. Celakanya hari ini, ketika bibit-bibit dan pohon tomat mereka mati, karena tidak mendapatkan pasokan air yang memadai, satu kantong berisi dua puluh kilogram tersebut dihargai seratus ribu lebih. Akhirnya mereka hanya bisa gigit jari. Disusul oleh kecemasan akan datangnya hujan angin bulan satu-dua. Melengkapi kegalauan para petani Kanreapia ini.

Kemudian berganti topik menjadi syarat sah shalat Jumat, dan tragedi yang terlupakan Jumat kemarin disini. Ketika aku bergalau dengan ust. Nandang yang tak kunjung datang, ternyata jama?ah Subulussalam mendapatkan kegalauan tanpa henti siang itu. Berawal dari tidak datangnya pak Lellu, Sang Jagoan dari Negeri Dongeng. Celakanya, karena ia tak izin dulu ketika tidak bisa datang. Kondisi jama?ah satu mesjid pun kalut. Mencari na'ib yang juga tak kunjung hadir, raib di negeri sendiri. Hingga berujung di tangan seorang mahasiswa, yang kadung disematkan gelar intelektual serba bisa oleh masyarakat, sehingga akhirnya menyisakan tanya besar pada jama?ah sepulang dari mesjid saat itu, ?Jumatan saya hari ini sah atau tidak, yah??.

Selesai Isya, kami pun bubar. Kembali ke habitatnya masing-masing. Karena akan sangat tidak relevan jika aku mengatakan kembali ke laptopnya masing-masing. Menjelang malam aku menelponmu. Berharap kerinduan di hari Sabtu itu, bisa aku tuntaskan malam ini. Beberapa pertanyaan nakal telah ku siapkan, beberapa keberanian pun mulai ku tenun dalam diam. Namun tidak lama ada panggilan lain yang masuk, Dilan, kawanku yang lama hilang. Akhirnya, panggilanmu aku tunda. Awalnya ku pikir, mungkin takkan begitu lama. Bertanya kabar, bertukar cerita, berbagi kegalauan, berbagi tawa dan berbagi doa sederhana tentu saja. Tak terasa panggilan itu berlangsung lebih lama dari perkiraanku. Panggilanmu sudah tertutup lama, sepertinya. Ketika aku mencoba menghubungimu, jelas sudah saatnya engkau beristirahat dalam lelap dan lelah. Tak bisa lama, aku mengakhiri dengan cepat panggilan terakhir itu.


Hari 13
Senin, 30 November 2015

Hari Ahad kemarin betul-betul waktu yang tidak produktif, terlebih jauh dikatakan efektif. Hampir tidur seharian, nonton anime, sedikit makan, kurang minum, dan jelas kurang kasih sayang darimu, kasihku, hehe. Makanya tak ada satupun kalimat yang bisa aku tuliskan pada hari itu.

Pagi ini ku mulai dengan sebuah penyesalan dan kebingungan. Bunga tidur malam tadi memang sedikit berbeda. Bukan soal mimpi basah atau apapun yang begitu ku nantikan. Tapi ini benar-benar membuatku menyesal, karena tidak segera bangun kemudian menuliskannya. Sebuah mimpi yang betul-betul langka, untukku. Aku tengah berpikir sembari berbincang dengan seseorang, yang aku tak pernah bisa ingat isi pikiranku saat itu. Namun diakhir mimpi tersebut aku terpikir sebuah gagasan menarik, yang kiranya bisa pula ku ceritakan di sini. Namun sayang, ombak mendobrak karang. Bukan abadi dicapai, malah mati yang menggapai.

Fenomena mimpi ini memang cukup unik. Betapa tentang apapun mimpi itu berkisah, mayoritas manusia akan segera melupakannya sesaat ketika terbangun. Seburuk apapun, seindah apapun, otak kita tidak pernah menyimpannya begitu khusus. Ia akan segera berlalu, layaknya janji-janji mayoritas calon pemimpin kita, yang segera udar pasca pelantikan. Layaknya pula tekad sedekah yang begitu menggelora ketika miskin, yang segera sirna ketika Sang Harta itu datang.

Kehilangan ideku hari ini, mengajarkan sebuah hakikat penerimaan dan usaha. Kadang ada sesuatu yang telah kau cari habis-habisan, tidak jua menemuimu. Kadang ada sesuatu yang datang dengan segera kepadamu, namun mesti segera pula kau relakan kepergiannya. Namun satu hal yang aku cangkam betul dari kejadian pagi ini. Relakan yang telah pergi, lalu berusaha meraih yang lebih baik!
Sebetulnya ada beberapa hal yang sejak lama ingin aku tuliskan pula di sini. Beberapa gagasan yang masih hangat diperbincangkan tentunya. Mengenai maraknya penipuan dimana-mana. Penipuan berkedok hadiah, bertopengkan ?mama minta pulsa?, yang mengatas-namakan belas kasihan, dan masih banyak lagi macam penipuan lainnya. Namun sebenarnya, jika kita berusaha menarik sebuah benang merah dari kasus-kasus penipuan ini, akan ditemukan satu hal yang sama. Sebuah penjajahan yang begitu lembut, sebuah kebiadaban yang begitu manis, dari Sang Iblis Kapitalisme. Ketika yang terpenting adalah menambah pundi rupiah. Tidak lagi ia pikirkan mesti mendapatkan dengan cara apa. Sehingga ia tega mengambil keuntungan dari belas-kasihan orang, dari rasa cemas orang lain kepada sanak-saudaranya, dari kebodohan si rakus yang juga sama-sama kapitalisnya dengan si penipu itu, hanya sayang, saat itu ia hanya kalah bodoh dari si penipu. Si Bodoh itu termakan angan-angannya sendiri yang ingin cepat kaya tanpa usaha. Akhirnya ia dikelabui oleh undian berhadiah bersyarat itu. Akhirnya ia pun dikhianati oleh barang-barang tersier yang menggoda itu. Bukan meraih sejuk, malah ditenggelamkan oleh Sang Beku.

Kemudian juga tentang berita hoax yang akhir-akhir ini dijadikan sebuah media untuk melecehkan orang lain. Ya, hanya orang lain, bukan dirinya sendiri. Selintas pikiranku berjalan-jalan menuju empat tahun yang lalu. Ketika saat itu para ?penyair? sedang senang betul membuat cerita ?hikmah? tentang Kyai yang masuk neraka, dan si sopir angkot pemabuk yang masuk surga. Sepertinya ini kisah yang cukup menarik dan mudah ditemukan di Internet. Ketika saat itu aku keberatan, kemudian menyatakan sikap, bahwa surga dan neraka ini bukan bagian kita. Apatah lagi ini sedang membicarakan suatu hal yang benar-benar gaib, bahkan untuk level Muhammad, Sang Nabi Allah. Ketika itu ada seorang ?sastrawan? datang membela, ?Dunia fiksi itu memiliki standar kebenarannya sendiri. Ini adalah realitas dalam dunianya sendiri. Ia tak mesti bergantung dengan kebenaran yang ada di alam non-fiksi.? Kemudian ia pun pernah berkata, betapa setiap kejadian di dunia nyata, yang kemudian dikisahkan dengan cara yang mendayu-dayu, kemudian dilengkapi dramatisasi, telah jelas menjadi sebuah rangkaian cerita fiksi, yang tak bisa dihakimi dengan hal-hal non-fiksi, meskipun itu adalah nyata dan berlaku.
Lalu dimana letak kebodohan para pembuat cerita hoax islami yang secara fiktif menceritakan soal penemuan hal gaib dan aneh, yang kemudian berakhir dengan penerimaannya kepada kuasa Allah. Kemudian dimana letak kedunguan si hoax islami ini, ketika ia menceritakan tentang adzab yang diterima manusia yang melecehkan agama dan hal-hal sakral yang bahkan dilindungi konstitusi negara Indonesia. Lalu apa bedanya dunia fiksi ?hoax islami? dengan dunia fiksi ?para penyair? itu? Keduanya bodoh karena mengandalkan kebohongan. Keduanya dungu karena mendasarkan pada khayalan pribadi. Begitukah? Atau bagaimana?

Menurut saya, tak ada satu pun kebohongan yang baik. Tidak ada kebohongan yang benar. Kebohongan tetaplah kebohongan, meski diniatkan untuk kebaikan sekalipun, layaknya kebohongan sebagai sindiran Ibrahim kepada kaumnya. Karena kebohongan itulah akhirnya Ibrahim, kekasih Allah itu kehilangan hak spesialnya di akhirat, untuk memintakan syafa?at kepada umat Manusia. Karena kebohongan itu pula, Ammar, dari keluarga Syahid pertama dalam Islam, kehilangan kesempatannya untuk segera bersua menikmati janji Allah, Tuhannya.

Hikayat Hujan

Alhamdulillah, siang ini hujan yang dinantikan banyak petani itu akhirnya berkunjung jua. Melalui lintasan-lintasan doa yang dekat, melalui harapan-harapan si kecil yang sederhana, melalui kecemasan-kecemasan si tua yang mengharukan. Tetesan-tetesan air itu Allah turunkan di tanah ini. Titik-titik api itu mulai berpamitan pergi. Tumpukan debu itupun perlahan diam dalam tentram. Menikmati kemesraan bersama kasih Tuhannya yang sempurna. Masih sudi memberi, bahkan kepada kami yang sering lalai menyembah-Mu ini.

Air hujan yang singgah di bak kamar mandiku, jelas tak jernih, membawa debu dan dedaunan kering. Namun karena itu pula udara yang kita hirup menjadi lebih segar, menjadi lebih bersih. Mesti ada air keruh, untuk memberikan udara segar bagi semua orang. Mesti ada genangan air, untuk meluruhkan keringat di punggung-punggung kita semua. Semua telah berpasangan sejak dahulu. Meski sebagian terlihat begitu cocok berpasangan. Namun ada pula pasangan-pasangan yang tidak terlalu nyaman di mata dan hati kita sebagai penontonnya.

Manusia itu memang makhluk yang unik. Keinginannya yang bergonta-ganti. Harapannya yang sering kali saling bertentangan. Aku hanya berpikir tentang dua golongan manusia, seorang penjual es krim, es cendol, dan jenis es-es lainnya. Kemudian para ojek payung di sudut lainnya. Ketika jam makan siang tiba, keduanya berdoa dengan isi doa yang jelas-jelas bertentangan. Si penjual es ingin supaya panas dan terik, harapannya jelas barang jualannya laku diburu orang. Sedang si ojek payung berharap keras hujan akan datang, supaya jasa ojek payungnya banyak dicari orang. Mungkin jika aku menjadi Tuhan, aku jelas akan kebingungan mengikuti keinginan siapa. Namun akankah Tuhan jadi tidak adil dan aniyaya pada satu pihak, ketika Tuhan mengabulkan keinginan yang satu dan menangguhkan keinginan yang lain? Inilah dimensi keadilan semu manusia. Apa yang ada dalam pikirannya adalah mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Tanpa memikirkan penderitaan orang lain pada saat yang bersamaan. Inilah pasangan yang aku bilang tadi, bukan pasangan ideal bagi mata kita.

Sebenarnya ada pelajaran berharga yang lupa, tak ku tuliskan dari beberapa hari yang lalu. Soal rezeki, harta, gelar, dan pekerjaan. Aku sempat berpikir, berapa banyak lapangan pekerjaan yang bisa digapai oleh orang yang tidak lulus SMA. Mau jadi pengajar TK saja mesti lulusan S1. Namun mengingat satu fakta lain, soal berapa banyak Sarjana yang berakhir menjadi pengangguran karena mentok di pekerjaan yang cocok dengan gelar perkuliahannya.

Mungkin kelak ada saatnya para orang tua memberikan nama-nama yang aneh bagi anak-anaknya. Karena sudah saking urgennya akhiran nama dalam kehidupan manusia modern. Mungkin ada orang tua yang terpaksa menamai anaknya dengan S.Ud (Soleh Udin, haha..); S.Pd.I (Sersan Perang Dunia I); S.Sos (Sarang Sosis); S.Kom (Sadang Komplek); S.Th (Si Tukang Hui); Ph.D (Passed High school with Difficultly, kalau kata Dr. Malki); dr. (dari); Prof. (double o, dibaca: atap, namun sayang tak bertiang dan berkaki-kaki). Jadi sebenarnya gelar ini mesti dikawinkan dengan dunia formal. Namun sayang ia sering berselingkuh dengan urusan harta dan rezeki.
Ilmu bukan untuk diperjual-belikan. Karena hal itulah yang akhirnya mengurangi keberkahan hidup manusia modern. Orang yang berilmu memang mesti berbagi ilmunya. Urusan uang jasa, itu berada pada ranah ?saling mengerti? dan ?saling peduli?. Bekerja adalah menebar manfaat. Bekerja adalah melayani kebutuhan bersama. Sedangkan pundi rupiah sebagai fadhlillah, hanya singgah untuk menguji pribadi kita sebagai manusia. Pemurah atau perhitungan. Itulah nilai kita.

Rezeki berdiri pada posisi yang lain, tidak bersama harta dan hak milik. Kadang rezeki kita, bukanlah milik kita. Menikmati teduhan di bawah pohon rindang milik tuan tanah, mungkin salah satu contohnya. Kemudian juga terkadang, hak milik kita, tidak menjadi rezeki kita. Makanan yang sudah kita idam-idamkan, ikan goreng dengan sambal sepulang kerja, misalnya, telah terbayang betapa nikmatnya. Namun sampai dirumah, ikan kadung digondol kucing. Jelas hak milik kita, tak menjamin akan menjadi rezeki kita.

Rezeki itu layaknya gelas kosong yang diisi air. Ia tak pernah berubah, tetap hanya bisa diisi 500ml, misalnya. Ia terus menerima tetesan air. Lama-kelamaan, gelas pun penuh. Setelah penuh airnya seharusnya bisa kita pindahkan ke gelas lain. Tak perlu dibiarkan meluap dan akhirnya terbuang. Tidak karena didiamkan, maka isi gelas itu menjadi bertambah, 550ml. Ia tetap berisi 500ml, hanya bedanya ia tak memberikan kebaikan apapun dengan membagi air tersebut ke gelas lainnya.

Begitupun rezeki. Allah terus menerus menambah rezeki kita. Wadah kita telah tentu kapasitasnya. Ketika kita memilih untuk menuangkannya di gelas lain, yang bernama Sabilillah, kita sebenarnya sedang menyimpan persediaan air untuk nanti kita nikmati lagi. Lebih dari itu, tetesan rezeki kita belum berhenti dan akan penuh kembali. Ketika kita menolak untuk menuangkannya pun, air itu tetap tumpah, hanya bedanya ia jatuh ke tanah gersang, kemudian hilang diuapkan matahari. Kita akhirnya tidak bisa menikmatinya kelak, karena jelas ia tumpah, bukan dituangkan. Ia akan hilang apakah karena jatuh di jalan, misalnya. Ia akan pergi, dengan cara dicuri, misalnya. Atau bahkan ia akan mendobrak keluar, melalui penyakit yang butuh biaya besar. Itu sudah jadi semacam ketentuan, karena jika tidak gelas itu mungkin akan pecah pada akhirnya.

Aku pun mengakhiri siang ini dengan sejenak memejamkan mata. Sekedar melepas penat dan kantuk yang begitu berat. Selain bermanfaat pula untuk melupakan rasa laparku, sebagai efek samping dari sifat malasku. Akhirnya Sang Kantuk pun mampu menaklukan Si Lapar. Lalu aku pun baru terbangun saat adzan ashar berkumandang.

Hujan yang telah reda, mengiringi kabarmu sore ini. Sebuah kabar yang telah lama kita tunggu-tunggu. Selain karena banyaknya hujatan soal kehamilanmu yang memang tidak besar. Berat badanmu yang tak kunjung naik. Maka kabar sore ini adalah sebuah ketentraman. Aku selalu yakin, Tuhan selalu mempersiapkan skenario terbaik untuk kita. Pertanyaannya adalah tentang seberapa ikhlas kita sudi menjalankannya.

Hasil USG sore itu menunjukan, bahwa bayi kita baik-baik saja. Beratnya satu kilogram lebih tiga ons. Usia kehamilan tujuh bulan. Kondisi air ketuban normal. Serta data-data lain, yang jujur saja aku kurang paham. Namun satu saja yang terpenting, bahwa anak kita baik-baik saja. Berat badanmu naik lima kilogram. Jelas sebuah kabar gembira, setelah kemarin terakhir kita periksa di sini, berat badanmu malah turun satu kilogram. Empat puluh sembilan kilogram, berat badan yang cukup untuk hamil dara sepertimu, katanya. Tidak terlalu banyak masalah, kecuali darahmu yang kembali agak tinggi karena kurang istirahat, nampaknya. Alasannya jelas padat, karena telpon malamku. Semoga engkau selalu ada dalam lindungan-Nya, begitupun bayi kita ya Sayang.

Sisa sore tadi aku gunakan untuk sedikit menghias layout catatan ini. Hasilnya, ya lihat dan nilai saja masing-masing. Bertambahnya satu elemen dalam kehidupan, terkadang berdampak begitu besar bagi keseluruhan hidup kita. Layaknya sebuah aksen sederhana yang bertengger diujung kertas ini, seakan memberikan sebuah nyawa baru bagi catatan tak karuan ini.