Catatan Kerinduan H-11

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Maret 2016
Catatan Kerinduan H-11

Hari 11
Sabtu, 28 November 2015

Seharian ini tidak banyak kegiatan yang ku lalui. Selain pergi ke pasar, ditraktir makan bakso, mendampingi Ust. Tiar memberikan kuliah umum di Aliyah, lalu pergi ke Makassar untuk mengantar ust. Tiar dan seperangkat kegiatan lainnya. Semua itu tidak menyisakan sedikitpun waktu untuk menulis catatan ini. Tidak terlalu banyak juga hal menarik yang bisa ku tuliskan dari kejadian-kejadian hari ini. Sejak pagi sampai malam aku terus terpisah dengan laptop ini, Hp habis daya, perut kembung, gerah, dan lelah, lengkap sudah.
Satu hal yang cukup menarik adalah obrolan sarat data sejarah dalam perjalanan dari ust. Tiar bersama pak Caca. Bermula dari asal-usul Malino yang seperti sudah banyak dikenal, dijadikan sebagai tempat peristirahatan Kompeni Belanda di Sulawesi Selatan. Posisi Malino dalam sejarah memang hampir mirip dengan Bandung. Kemudian berlanjut kepada hitungan 350 tahun penjajahan Belanda yang menurut konsep ust. Tiar tidaklah bisa digeneralisir. Angka 350 tersebut muncul khususnya untuk penjajahan Batavia, bukan seluruh Indonesia. Kenapa demikian? Karena bahkan Aceh tidak pernah sekalipun dikuasai Belanda, khususnya, penjajah pada umumnya. Maka dari itu Aceh sejak awal keberadaannya tidak pernah dijajah sekalipun. Maka layak jika misalnya Aceh adalah simbol kemerdekaan, yang pada akhirnya diberikan sebuah gelar Daerah Istimewa. Namun ceritanya tidak sama dengan Jogjakarta, meski sama-sama daerah istimewa, keduanya memiliki latar belakang yang berbeda. Jogja sangat terikat dengan sejarah perpindahan ibu kota dari Jakarta, dalam masa-masa kritis republik Indonesia.

Hikayat Syekh Yusuf al-Makassari

Lalu obrolan yang paling menarik ketika kami sampai di Jalan Syekh Yusuf. Pemandangan berupa alun-alun kota yang cukup manis. Menyisakan sedikit kenangan masa lalu yang agung. Tentang sosok guru besar umat Islam di tanah Makassar. Gelanggang olah raga sederhana, bangunan mesjid yang masih bergitu tegap dengan pakaiannya yang mulai kusut. Kemudian ditutup oleh pemandangan menarik bertatahkan sejarah, ?Makam Syekh Yusuf al-Makassari?. Namun sayang, ketika masuk ?lorong?, susana jalan Syekh Yusuf berubah. Banjir yang terjadi bahkan ketika kemarau panjang. Sampah yang bertumpuk di bawah saluran air. Lalu disempurnakan oleh sikap acuh-tak acuh dari para penghuni, pikirku, mungkin sedikit menodai nama besar manusia bergelar ?Tuanta?, Syekh Yusuf al-Makassari ini.

Makam dalam pemahaman mayoritas masyarakat Indonesia memang biasa kita artikan sebagai pekuburan. Selepas nyawa tak lagi dikandung badan, maka tubuhnya yang tak lagi berarti itu, ditanam dalam hening di tanah yang kelak dipanggil sebagai kuburan. Sebuah tempat yang masih begitu sakral, melebihi kesakralan mesjid, apatah lagi hanya halaman mesjid yang memang sudah biasa orang gunakan sebagai tempat pacaran. Tapi penggunaan makna ini memang tidak tepat untuk memahami realitas Makam Syekh Yusuf ini. Kenapa demikian, karena setidaknya sudah ada empat tempat di Indonesia yang mengaku sebagai tempat peristirahatan terakhir Syekh Yusuf. Banten, Gowa, Seion, dan Tanjung Harapan, itu baru di Indonesia. Belum lagi ada yang mengatakan juga bahwa makam beliau ada di Afrika Selatan, Philiphina, dan mungkin masih ada lagi yang lainnya.

Maka semestinya kita bisa menengok makna lain dari kata ?makam? dalam kamus kita. Kamus kita setidaknya memiliki lima penjelasan makna dari kata ?makam?. Tempat tinggal atau kediaman. Lalu, jalan panjang yang berisi tingkatan yang harus ditempuh oleh seorang sufi, yang penuh dengan kesulitan dan memerlukan usaha yang sungguh-sungguh sehingga tercapai keadaan yang tetap menjadi milik pribadi orang sufi. Makam Ibrahim: pahatan bekas telapak kaki Ibrahim ketika membangun Ka?bah. Terakhir, ia juga bermakna kedudukan mulia (tinggi).

Namun aku tidak akan berkutat pada kebingungan soal makam Syekh Yusuf ini. Karena bagiku, sebagaimana disampaikan pula oleh ust. Tiar, keberadaan makam ini adalah sebagai bentuk penghormatan dari murid-murid beliau, yang dengan maksud terus mengingat kebaikan dan jasa-jasa beliau, yang dengan keinginan untuk selalu dekat dengan gurunya, dari itulah mereka membuat satu simbolisasi yang entah mengapa, yaitu kuburan atau sekarang kita kadung mengenalnya dengan sebutan ?makam?. Namun satu hal yang mesti menjadi satu pesan agung dari realita yang sudah ada ini. Betapa guru agama yang hebat akan selalu memiliki murid-murid yang ingat akan bimbingannya, kemudian saling bepeluk mesra dalam doa-doa lirih. Ketika murid itu memiliki murid lagi, terus berkelit panjang menebar kebaikan dan dakwah Tauhid, maka dalam itulah kebaikan itu mengalir kepada dirinya, tanpa batas jarak dan waktu. Menegaskan namanya yang tak kunjung habis dimakan zaman. Tak seperti tubuhnya yang jelas habis dimakan cacing. Tak juga seperti hartanya yang jelas ludes dimakan siapa saja yang hendak.

  • view 113