Catatan Kerinduan H-10

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Maret 2016
Catatan Kerinduan H-10

Hari 10
Jumat, 27 November 2015

Dua hari terakhir ini aku tak mencatat apapun di sini. Semua kerinduan itu aku tumpahkan dalam obrolan-obrolan tidak jelas, yang terputus-putus oleh Tuan Sinyal yang muncul tenggelam layaknya harapan dalam kesendirian. Tak ada lagi hal-hal yang bisa kutulis setelah mengungkapkan semuanya kepadamu. Bagaimana kerinduan, kekhawatiran, kecemasan, dan rasa kehilangan itu aku ungkapkan dalam bahasa yang terlampau sederhana, dalam pertanyaan-pertanyaan bodoh, dan jelas dalam diam yang banyak ku lakukan dalam obrolan kita. Karena dengan tersambungnya saluran telpon ini bahkan telah membuat aku begitu dekat denganmu, kekasihku. Karena bahkan diammu, adalah salah satu yang juga amat kurindukan darimu, sayang.

Maka akan kuganti semua catatan dua hari yang lalu disini. Semua perasaan yang begitu bergelora dalam relung hatiku. Semua khayalan yang terlintas di nirwana pikiranku. Juga dalam semua tindakan yang terwujud begitu rendah melalui indraku.

Aku sengaja memilih waktu malam-malam untuk menelponmu, karena ku kira itu adalah waktu yang paling santai untuk kita berdua. Meskipun terpaut satu jam, namun setidaknya itu masih menjadi waktu yang normal untuk mengakhiri hari. Dua malam berturut-turut, aku tak pernah lupa untuk selalu menggodamu, untuk memberikan ciuman selamat tidur, yang kemarin, di sini, selalu aku minta padamu setiap hari. Ada ketenangan yang begitu menentramkan, mengalahkan setiap gejolak hasratku dalam setiap ciuman kita. Pelukan yang begitu hangat, memberikan kehangatan dalam hati suamimu yang seringkali begitu beku ini. Sering aku tak mengerti keinginanmu, dan begitu sering aku begitu egois untuk terus menambah koleksi buku-buku itu. Engkau pasti kesal, namun sejak dulu aku memang begitu keras kepala jika untuk satu hal tersebut. Maaf ya sayang.

Antara diriku dan buku, memang tak separah mental para kolektor yang rela membayar begitu besar untuk mendapatkan buku yang ia inginkan. Aku tak separah itu sayang. Aku masihlah seorang pembeli buku sederhana, yang mencari orang baik, yang mau menjual buku-buku yang aku inginkan tersebut dengan harga yang murah. Maka apa yang aku paksakan beli, selain karena malu dan menjaga perasaan penjualnya, ya berarti itu adalah harga termurah yang pernah aku temukan. Sekali lagi maaf ya sayang.

Malam kemarin, aku bertanya sesuatu yang lagi-lagi begitu bodoh. Pasti aku belum menguasai betul ilmu komunikasi yang mencukupi ketika menyampaikan pertanyaan bodoh itu. Merindukan sampai menangis itu pekerjaan orang yang cengeng sepertiku. Bukan maqom dirimu kasihku, seorang yang begitu tangguh dan sedikit cuek. Malam itu, dengan polos aku menceritakan tentang hal tersebut. Sesuatu yang semestinya nanti aku ceritakan melalui catatan ini.

Kemudian aku bertanya kembali, ?Adakah kehilangan yang menemuimu dalam setiap kebiasaan kita sewaktu di Kanreapia ini, ketika engkau sudah disana?? Kemudian engkau bercerita tentang apa saja yang begitu membuat engkau rindu kepada tanah Kanreapia ini. Setiap keseharian kita yang begitu sederhana. Tanpa drama apapun. Tanpa sebuah hal yang begitu membanggakan. Justru hal-hal seperti itulah yang menyisakan ruang kosong yang begitu menganga dalam hati kita. Mungkin memang begitulah rumus kerinduan.

Hasil dari kebodohanku, akhirnya mesti aku panen pagi hari ini. Ketika ku tengok pemberitahuan facebook, ku lihat ada kiriman kronologimu, yang membuat aku merasa bersalah dan begitu bodoh. Engkau mengatakan,

?Baru saja, percakapan lewat telpon antara Sulsel-Bandung terputus. Ya, tentu saja dengan ucapan terakhir ?Selamat Tidur?. Tanpa sadar aku menangis, dan kamu tahu kenapa? Karena ternyata aku merindukanmu suamiku. *tears.?

Ya, inilah hasil dari kebodohanku. Sebuah hadiah bagi seorang suami yang egois, tanpa memikirkan perasaan istrinya, yang masihlah seorang wanita yang rapuh. Maaf sayang, semoga tetesan air matamu kelak tak akan menuntutku di akhirat.

Sejak dahulu aku tau, aku seorang yang benar-benar cengeng, apalagi kalau soal wanita. Tangisanku lebih banyak karena ciptaan Tuhan yang satu ini. Sisanya adalah ?aib yang tak perlu diceritakan, karena hanya akan menjadi ?kesombongan atas dosa? pada akhirnya. Engkau jelas sudah tahu sejak dahulu. Kebodohanku bermula dari sifat egois yang betul-betul perlu terapi tingkat tinggi untuk meredakannya. Aku ingin engkau pun merasakan apa yang aku rasakan. Betapa ego bukan?

Selama ini aku selalu menggunakan kaca mata yang salah. Karena aku selalu berpikir, orang lain pun mestinya bisa berpikir seperti sudut pandangku. Padahal setiap orang berhak untuk mengekpresikan perasaannya dengan cara yang berbeda-beda. Selama masih dalam batas-batas syariat dan norma tentunya. Syariat dan norma adalah dua ruh kehidupan yang mesti wujud dalam keseharian kita. Karena itu sebagai ketersadaran kita sebagai makhluk yang diciptakan Allah, yang telah jelas-jelas memberikan bimbingan dan arahan melalui syariatnya yang mulia. Tujuannya apa, jelas untuk kebaikan kita sebagai hamba-Nya. Kemudian norma adalah tanggung jawab sosial. Sebuah kesadaran tentang diri yang begitu membutuhkan manusia lainnya. Penghormatan terhadap hak asasi manusia lainnya, yang terbingkai dalam keluhuran pribadi, tanpa peduli akan tingginya strata dan titel kehidupan. Keduanya saling berkelit kelindan. Menyulam sebuah keluhuran budi, yang telah jadi identitas kita, manusia berperadaban.

Hikayat Malam

Malam memang begitu handal mengajarkan kepada kita tentang kesepian. Tentang keheningan yang terkadang mencekam, meski kadang pula menentramkan. Malam adalah seorang sosok guru besar, yang telah mengajarkan arti sebuah kemunafikan. Malam adalah seorang Sufi agung, yang telah mengajarkan arti kedekatan dan keintiman, dalam diam dan tak saling bicara. Namun malam juga seorang residivis ulung, yang mengajarkan kita sebuah rumus kejahatan yang aplikatif. Tentang gelap yang menutupi setiap serbuan Serigala-serigala kelaparan, kepada seekor biri-biri kebingungan, yang tengah tersesat sendirian di tengah rimba kehidupan. Malam adalah cinta. Malam adalah rindu. Malam adalah kesombongan. Malam adalah kemunafikan. Malam adalah keji, yang menutupi pelangi selepas badai. Malam adalah gelap, yang mengajarkan manusia tentang cahaya. Malam adalah sepi, mengajarkan manusia tentang penat.

Malam adalah aku, yang merindukan fajar senyumanmu.

06.50 WITA

?

?

Siang sampai sore barusan telah menyisakan banyak cerita dan terlebih ceritaan. Sebuah hari yang panjang, menyisakan ketegangan, kenangan dan pembelajaran. Hari ini guru kita, ust. Tiar datang berkunjung. Acara-acara formalnya biasa saja, justru yang luar biasa itu ketika kami berbincang santai soal masa depan sekolah Aliyah Persis di Bulu Ballea ini.

Berbicara soal formal dan semi formal mungkin tepatnya. Jelas dua hal yang begitu kental dalam ranah pendidikan. Berbagai perbandingan diberikan. Berbagai pengungkapan data dan fakta juga beliau ungkapkan kepada kami semua. Sehingga akhirnya berujung pada pernyataan,

?Ikut-ikutan di pendidikan formal itu melelahkan. Kita hanya disibukan dengan administrasi, dan akhirnya tersibukan dari hal yang begitu penting dalam pendidikan. Mendidik siswa dan mengembangkan model pendidikan ideal.?

Ya, tidak ada hal yang begitu membanggakan soal ikut-ikutan. Karena dengan mengikuti, mau tidak mau pasti ada di belakang. Sehingga akhirnya, seperti tragedi ban depan dan ban belakang. Siapa saja yang datang belakangan pasti cepat habis, cepat rusak, dan akhirnya cepat pula disingkirkan.

Akhirnya, perbincangan itu bermuara kepada sebuah tantangan, bagi pihak tuan rumah. Dalam hal ini ust. Nandang, bersama masyarakat Kanreapia-Bulu Ballea. Pendidikan macam apa yang sebenarnya ingin diwujudkan di tanah ini. Pendidikan yang mesti banyak dibumbui kebohongan kah? Atau justru sebuah pendidikan beradab, yang memanusiakan manusia dan mengesakan Allah. Kita tunggu saja bagaimana keputusan finalnya, sinampe pi. (Apaan tuh? ?red). Sebentar ko doooo...

Malam telah larut, aku baru bisa menginjakan kaki lagi di kamar tercinta ini. Sebuah kamar yang jelas memiliki banyak kenangan manis untuk kita. Betapa di kamar ini, kita dianugrahi calon bayi yang begitu kita harapkan itu. Betapa di kamar ini pula, kita belajar menjadi manusia yang lebih baik. Di sini pula, kita menjadi pasangan yang sebenarnya. Sejoli yang saling mencoba mengerti meski terkadang tetap sulit tuk memahami. Mencoba saling mengisi, meski terkadang masih menyisakan kekosongan di hati. Mencoba saling mendekat, meski terkadang masih saja terhalang oleh ego kita masing-masing. Dengan semua itu, kamar ini adalah sekolah yang begitu penting untuk kita. Sebuah laboratorium kehidupan. Sebuah universitas besar, yang semoga telah mewisuda kita sebagai manusia yang lebih baik dalam kehidupan ini.

Sesisanya, tak ada hal menarik. Kecuali isi status melankoli kerinduanmu, yang sepertinya efek samping pembicaraan kita tempo hari.

Terima kasih sayang. Melebihi setiap langit yang ada di atas kepalaku. Melebihi setiap daun yang berguguran di musim kemarau. Kerinduanmu adalah hal yang begitu berharga untukku. Sebuah pelengkap paket kerinduanku, yang makin hari, tidak lagi menyisakan kata-kata untuk sekedar ku tuliskan.

  • view 247