Catatan Kerinduan H-7

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Maret 2016
Catatan Kerinduan H-7

Hari 7
Selasa, 24 November 2015

Kerinduanku hari ini telah berwujud menjadi sesuatu yang benar-benar merepotkan. Malas keluar rumah. Tidak bisa berhenti cari makanan atau minuman. Gak bisa tidur siang. Bahkan membuat kondisi badan udah mulai gak jelas apa yang dirasa. Pantas kemarin kakak kelas ku bilang, ?Hati-hati, kelamaan rindu gitu bisa bikin hidup serba burem,? dan ternyata itu beneran kejadian.


Bayangkan, sehabis shalat Subuh aku langsung ?cumi?-in nomor istri dan ibu saya. Padahal biasanya gak secepet itu. Ketika ku lihat jam, baru sadar, di sana baru jam empat pagi. Masa-masa seperti di zaman pacaran mulai muncul lagi. Kesel karena BBM cuman di Read. Kesel karena dia lupa sesuatu yang aku minta. Kesel karena gak ngehubungi duluan. Aaakh, pokoknya kekanak-kanakan banget deh. Nah, dalam kondisi yang sudah gak jelas inilah aku memulai mengetik catatan ini lagi. Banyak konsep yang terlintas dalam pikiranku untuk mengisi kekosongan kertas dalam catatan ini. Walau sudah dibuat bagaimana pun, tetap saja aku masih lebih sering ngecek HP, daripada ngecek keimanan. (Lah kalo itu sih udah gak usah dibandingin ?red). Owh iya yah, hehe.


Tapi itu sebetulnya belum seberapa, dibandingkan dengan kerinduan yang engkau rasakan, sepertinya. Kenapa sepertinya? Karena aku tak pernah berbakat menjadi seorang cenayang. Membaca pikiran apalagi isi hati manusia bukanlah keahlian yang Tuhan berikan kepadaku. Beda halnya jika engkau mencoba menunjukannya kepadaku. Mungkin ada kalanya akupun akan belajar paham dan mengerti bentuk dan wujud kerinduanmu. Namun jika dipikirkan, kerinduan yang paling merepotkan adalah kerinduan yang tak bisa lagi diwujudkan. Kerinduan macam itu hanya akan menyisakan kesepian dalam hati, tanpa penyaluran, tanpa pengungkapan. Ini adalah level yang sepertinya mesti kita hindari. Bahaya!


Karena kepala sudah betul-betul penat. Izinkan aku bercerita satu hal yang aku perhatikan di Kanreapia ini. Karena kamus cinta ku stuck di percetakan, dan menyisakan aku yang masih terbengong-bengong tak paham dengan semua realita yang mesti ku hadapi saat ini. Maka izinkan aku menuliskan sesuatu yang lain.

Bumi Kanreapia ini menurut saya adalah bumi perjuangan tak berujung, semua tempat juga sebetulnya sama saja sih, hehe. Mengapa demikian? Karena perjuangan di Kanreapia ini memang belum usai. Upaya "Revolusi Pertanian" sebagai salah satu metode dakwah yang ditempuh oleh H. Ilyas sekeluarga belum benar-benar berhasil. Para pencuri kelaparan, sekarang berubah menjadi para pencuri kerakusan. Mereka yang dahulu tidak ke Mesjid karena jauh, sekarang tidak ke Mesjid karena sibuk. Kita seakan berkata, ?Maaf Tuhan, tapi kali ini kami sedang sibuk.? Mereka yang dahulu tidak menutup aurat karena tidak paham dan kurang bahan, sekarang karena alasan mode dan tren. Jika dahulu orang tak saling sapa karena malu, maka sekarang tak saling sapa karena sombong.


Sebenarnya itu bukan hanya masalah di tanah perjuangan ini saja. Tapi hampir di setiap tempat yang bisa kau singgahi hal ini selalu ada. Namun hal ini tidak akan membutakanku dari sisi positif penghuni Kanreapia ini. Setidaknya dari sisi sosial masyarakat di sini masih begitu luhur, jauh jika dibandingkan dengan jiwa sosial mayoritas masyarakat perkotaan. Contoh kecil saja, ketika pesta pernikahan, tuan rumah biasa akan menyediakan tempat-tempat khusus untuk tambah nasi dan semua menu makanan yang ada. Kita akan dipaksa untuk tambah lagi makan, meskipun sudah mengambil begitu banyak makanan di piring kita. Belum pernah rasanya hal ini terjadi di masyarakat Jawa. Namun kepedulian mereka terhadap agama belumlah seluhur itu. Bahkan sosial yang tinggi itu juga hanya terjadi dalam hal ?makanan? saja. Belum sampai di level pendidikan yang merata. Barometer kesuksesan masihlah pada bertambahnya pundi rupiah, bukan pada meningkatnya kedewasaan berpikir. Ibadah Haji masih sebagai pembuktian strata sosial. Pun begitu dengan ibadah Qurban. Sangkaan? Silahkan saja pelajari sendiri di sini.

Para pembawa agama hanyalah pelengkap upacara adat yang masyarakat butuhkan. Belum pada tahap diapresiasi dan diperlakukan selayaknya. Guru saya yang sudah puluhan tahun saja di sini masih pada level ?pemerdekaan?, bukan ?kemerdekaan?. Ini bukan soal ingin dihormati, namun setidaknya dihargai usahanya. Kemudian ini juga bukan tentang diriku, tapi tentang mereka yang punya tugas mulia mencerdaskan anak bangsa. Sebuah program yang jelas menjadi salah satu andalannya pemerintah Indonesia yang merdeka dan berbudi ini. Setidaknya ini bukan hal yang bersifat doktrin. Semua ini hanya apa yang bisa aku lihat dengan mata yang begitu buram ini. Sebuah pandangan yang jelas tidak akan mengakomodir pengetahuan para peneliti yang handal. Sebuah refleksi yang jelas mesti dilempar kembali kepada para pejuang pendidikan dan dakwah di tanah Kanreapia ini. ?Telah pantaskah kita semua untuk dihargai??

Selesai dengan pikiran-pikiran tidak jelas itu. Kali ini aku menutup malam dengan menelponmu. Sebuah perbincangan malam yang cukup sebagai parasetamol kerinduan hati ini. Tawa dan canda, yang tak akan pernah bisa dibayar dengan pulsa dan uang sejumlah apapun. I Love You, kasihku. Semoga malam yang kita rindukan segera datang kembali.

Selalu ada cahaya di ujung terowongan tergelap sekalipun. Tapi berbeda halnya kalau yang kau masuki adalah Gua dan bukan terowongan, hehe. (Jadi gimana nih? ?red). Terserah deh ah!

  • view 122