Semangat Gerhana, Semangat Pembebasan

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Agama
dipublikasikan 09 Maret 2016
Semangat Gerhana, Semangat Pembebasan

Mughirah bin Syu?bah ra., telah menyampaikan sebuah hadis yang dicatat oleh Imam al-Bukhari (no. 1043) dan Imam Muslim (no. 915). Satu hadis yang tentu cukup dikenal dan mungkin berkali-kali disampaikan di setiap peristiwa gerhana matahari yang kita hadapi ini. Ya, gerhana matahari yang sama dengan yang dialami oleh Rasulullah Saw. tidak lama setelah wafatnya Ibrahim bin Muhammad.

Saat itu, ketika akal sebagian besar manusia tidak sanggup ?menalar? peristiwa hebat semacam gerhana matahari. Sehingga akhirnya membuat sebagian besar manusia menempuh jalan ?cocokologi? (baca: dicocok-cocokan). Orang-orang jahiliyah dan sebagian kaum muslimin yang masih tersisa ?kejahiliyahan?-nya beranggapan, bahwa wafatnya putra Rasulullah Saw. itu adalah sebab terjadinya gerhana ini. Atau misalnya dengan kepercayaan ?kuno? lainnya yang mengatakan bahwa Matahari dan Bulan-nya mau dimakan Buto Ijo, Naga Murka, Bathara Kala, dan lain sebagainya. Nah, kalau dalam diksi penyair dewasa ini mungkin kita pernah menemukan kalimat, ?bahkan hujan pun menangisi kepergiannya?. Tidak terlampau jauh berbeda sebenarnya.

Pada saat seperti itu, meski dalam keadaan masih terpukul dan berkabung, Rasulullah Saw. justru muncul dengan ?semangat pembebasan?-nya, atau ?semangat liberasi? dalam bahasa ilmiah modern hari ini. Beliau dengan tegas menyanggah opini publik saat itu. ?Karena justru gerhana,? tandas beliau, ?tidak layak disangkut-pautkan dengan wafat atau lahirnya seseorang. Gerhana itu terjadi, tidak lain adalah untuk menunjukkan ke-Maha Kuasaan-Nya.?

Semangat pembebasan yang Rasulullah Saw. tularkan kala itu, semestinya menjadi pelecut semangat juga bagi kita, ummat beliau, saat ini. Sebuah kaca diri tentu saja, tentang seberapa jauhkah kita masih dikalahkan oleh sebuah kebodohan. Tentang berapa banyak kita lebih peduli pada opini publik, dibandingkan kebenaran itu sendiri. Sebuah semangat pembebasan, semangat revolusi, dari belenggu mitos yang dipertuhankan.

Tuan Guru M. Isa Anshary, dalam bukunya Revolusi Islam, telah berpesan. Tentang makna hakiki sebuah revolusi. Beliau mengatakan, bahwa revolusi sejatinya haruslah memerdekakan rakyatnya dari belenggu tirani-kedzaliman. Bukan seperti revolusinya Marx, Lenin dan Stalin, yang akhirnya hanya keluar dari mulut harimau lalu masuk ke mulut buaya. Rusia memang merdeka dari terkaman Tsarisme, namun sebagai gantinya mereka terbelenggu dalam penjajahan batin yang tidak mengenal kasih sayang. Rakyat diperlakukan layaknya hewan di kebun binatang. Mereka hanya dicukupi lahirnya melalui ?distribusi? yang telah ditetapkan, sedangkan batinnya terpenjara dalam belenggu pemimpin yang ?menggigit?; otoriter. Maka sekali lagi, semangat pembebasan Rasulullah Saw. adalah satu-satunya contoh ideal dalam model revolusi dunia.

Dakwah tauhid, menurut beliau, adalah dasar revolusi paling asasi. Mengapa demikian? Karena melalui jalan tersebut, justru Islam terlebih dahulu memerdekakan manusia dari ketakutan kepada alam yang asghar ini. Melepaskan ummat manusia dari belenggu penjajahan batin. Menumbuhkan pribadi-pribadi ?Izzatun-nafs?; yang sadar dan tahu harga diri sebagai makhluk Allah yang Maha Kuasa.

Tauhid yang mengajari manusia tentang keikhlasan. Tauhid yang sekali lagi mengajari manusia tentang pengorbanan. Tauhid pula yang mengajari manusia tentang keberanian. Melalui seruan Rasulullah Saw. yang tegas, jelas, dan terang. Melalui sikap dan langkahnya yang tangkas, kesatria, dan perwira. Tidak menyembunyikan kebenaran, tidak menjilat kepada penguasa.

Lebih lanjut, Isa Anshary menjelaskan mengenai pokok-pokok dasar teori Revolusi Islam yang dilaksanakan Rasulullah Saw. sebagai berikut:

  1. Memperbaiki dan membina masyarakat. Hendaklah dengan memperbaiki anggota masyarakat itu terlebih dahulu, dengan pengakuan terhadap kedaulatan pribadi manusia.
  2. Memperbaiki dan membina keadaan lahir. Hendaklah dengan memperbaiki dan membina batin dan ruhani manusia, dengan keyakinan bahwa tenaga kepercayaan Agama dan pembaktian kepada Tuhan adalah dasar kehidupan luhur dan mulia.
  3. Membangun hidup berjama?ah dan berukhuwah. Menolak prinsip persaingan, pertentangan dan perang golongan, dengan pengakuan adanya wujud yang berlain-lain dan bertingkat-tingkat dalam pergaulan hidup manusia itu.

Kemajuan tidak akan membawa peradaban. Politik hanya akan menjadi alat penipuan dan penindasan. Ekonomi selamanya hanya membawa bibit persengketaan. Kehidupan sosial selalu penuh dengan pengkhianatan dan perkelahian. Ketika manusia yang menjalankannya lepas dari nilai-nilai budi dan ruhani, nilai-nilai Agama dan Susila. Impian para pemimpin untuk menjadikan Indonesia yang lebih maju, selamanya sekedar impian. Selama kita belum mampu menangkap api semangat pembebasan Rasulullah Saw.

Melalui semangat pembebasan Rasulullah Saw. inilah sudah semestinya kita meneladani. Melalui momen gerhana inilah semestinya kita bangkit tersadar, lalu bangun dari tidur panjang kaum muslimin, yang kian hari, kian menjadi buih yang dipermainkan gelombang lautan kehidupan. Terombang-ambing di tengah kecamuk fitnah. Masih sudi diperbudak dunia, dengan terus mengejar status dan harta yang tak pernah benar-benar menyelamatkan kita kelak di akhirat sana. Terbelenggu dalam kungkungan hedonisme-materialistik.

Semangat gerhana adalah semangat dakwah. Semangat dakwah adalah semangat pembebasan. Membebaskan manusia dari ketidak-tahuan. Membebaskan manusia dari perbudakan hawa-nafsu. Membebaskan manusia dari belenggu dunia, dari kungkungan mental konsumerisme. Membebaskan manusia dari gelapnya sekat-sekat yang dipasang musuh Islam. Demi tercapainya cahaya Ilahi yang sempurna dalam syari?atnya yang mulia.

Wallahu a?lam bi shawwab.

  • view 131