Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 3 Maret 2016   06:54 WIB
Catatan Kerinduan H-6

Hari 6
Senin, 23 November 2015

?

Hari senin pertama dalam catatan ini yah? Betul gak? Nah, lagi buka-buka halaman belakang yah? Udah, udah, lagian ini beneran kok hari Senin pertama yang aku lewati tanpamu. *hiks. Hari senin adalah hari istirahat yang sejati bagi saya. Karena saat ini tak banyak hal yang mesti aku lakukan dan pikirkan. Tak perlu belanja ke pasar. Tak perlu pergi ke Aliyah, karena bukan jadwal saya. Senin kali ini pun aku banyak tidur, dengan harapan bertemu dengan istriku dalam mimpi. (Ketemu gak? ?red). Mau tahu aja deh! (Fuiii, pelit mi senggg... ?red). Sok-sok bahasa konre lo -red.

?

Pagi-pagi aku langsung kepikiran soal curhatanmu beberapa hari ke belakang. Masih soal bentuk perut dan masalah wajar dan tidak wajar. Makanya pagi itu aku menyempatkan diri untuk masuk ke area yang bukan wilayahku. Kesetanan, eh kesehatan. Masuk ke area ini kita akan dihadapkan orang-orang yang begitu jenius, yang mungkin kehebatannya hampir menyamai Tuhan, dalam pikiran sebagian mereka. Ketika pasiennya sehat sebagian dari mereka akan berkata, ?Untung bapak segera membawanya kemari, sehingga kami dapat segera memberikan perawatan.? Namun jika pasiennya makin parah, atau malah meninggal, mereka berkata, ?Kami telah melakukan yang terbaik, namun Tuhan berkehendak lain.? Jadi yang salah bukan mereka, salahin aja Tuhan.

?

Padahal sebenarnya, hakikat para saintis ini hanyalah merekam kejadian yang pernah berlalu, kemudian mengubahnya menjadi rumusan teoritis. Tidak lebih dari itu. Seperti misalnya ilmu gramatikal, atau nahwu-shorof dalam bahasa Arab. Para penggagas ilmu ini hanya membuat rumusan teoritis dari apa yang mereka temukan di dalam al-Quran. Namun karena keterbatasan keilmuan manusia yang tak pernah menjangkau ilmu Allah, akhirnya ada beberapa kondisi yang mereka istilahkan sebagai pengecualian teori. Jadi rasanya tidak masuk akal jika ada orang mau ?merekontruksi? al-Quran dengan menggunakan pisau analisis nahwu-shorof. Layaknya anak yang melahirkan ibunya. Lho kok jadi kesana? Ya udah, kembali ke laptop.


Hamil dan perut besar itu sudah kadung di-identik-an. Apalagi di kalangan ibu-ibu hari ini yang kebanyakan memang sudah menumpuk banyak lemak, karena hobinya makan bakso. Tidak di kampung, tidak di kota, makanan kesukaannya sama saja. Sehingga akhirnya mereka yang berperut kecil ini mendapat diskriminasi secara langsung maupun tidak langsung. Seperti aku bilang dulu, yang beda dengan dirinya, berarti ia salah dan pasti celaka. Padahal masih banyak pula di luaran sana yang mengalami hal yang sama, tapi mampu melahirkan seorang anak yang normal dan sehat. Emang yang ciptakan anak itu para komentator di pinggir lapangan apa? Ketika mengingat hal ini semestinya santai saja, karena pasti Tuhan telah merancangnya dengan begitu sempurna untuk seluruh makhluk-Nya, termasuk kamu, iyaa kamuu!! *mesem-mesem ala Dodit.

?

Berbeda dengan Senin kemarin. Kita hampir seharian jalan-jalan, mendatangi banyak sekali orang yang secara status ?kenal dan dekat? denganmu. Berpamitan tujuannya. Kalau dikasih bekal dan oleh-oleh sih itu reaksi, bukan aksi, hehe. Sebuah akibat saja, karena memang seperti dikatakan Cak Nun, harta itu cuman singgah, kepada mereka yang memang biasa bergerak dan bekerja. Bukan tujuan. Menarik mengingat respon beberapa orang yang kita datangi, bahkan semenjak hari Ahad sebelumnya. Mengapa tidak sejak dulu kita main-main ke rumah orang begini yah? Ahh, ini saja tidak lain tidak bukan, hanya untuk pamitan. Namun hasilnya alhamdulillah, bisa wakili saya yang tidak bisa memberi bekal untuk sebulan ke depan.

?

Senin ini semuanya berbeda. Kegiatanku seharian ini tidak jauh-jauh dari laptop ini saja. Sepulang anak-anak TK, aku mulai merancang cover buku tak jelas ini. Hampir lewat pukul 12.30 WITA, alhamdulillah ternyata jadi juga.
Hidup sendirian di kamar yang luas begini memang cukup menyedihkan. Kasur dua, isinya satu. Bantal dua, ditiduri kepala sama perut saja. Bahkan sudah hilang rasanya suara di kamar ini, kalau bukan suara musik yang ku putar untuk menutupi sepinya kamar ini. Tapi sepi memang tak selamanya buruk. Itulah juga yang kenapa akhirnya membuatku bertahan tinggal sendirian di kolong mesjid ini. Selain karena untuk mempertahankan pendapatan seratus lima puluh ribu per-sabtu,haha.. dan menjaga diri tetap berada di luar jangkauan masalah orang lain. Namun dari sepi ini pula akhirnya saya punya kesempatan untuk membuat catatan aneh ini. Sekali lagi jangan bandingkan saya dengan Hamka. Ketika beliau berterima-kasih kepada Soekarno yang telah memenjarakannya. Hamka telah melahirkan sebuah karya monumental, Tafsir al-Azhar, yang bukan karena beliau mengenang Ayu Azhari, hehe, tapi betul-betul merefleksikan pemikirannya tentang ayat-ayat al-Quran yang mewarnai komentar-komentar beliau terhadap kondisi sosial-politik Indonesia pada saat itu. Kesepian betul-betul bisa menjadi teman baik untuk orang-orang yang tidak terlalu produktif sepertiku. Kalau diingat lagi, bahkan kumpulan puisiku dari zaman kordon pun bisa ku tulis karena memang sedang menjomblo dan kesepian. (Owh gitu ya bro? Ngikut aaah.. ?red). Betulan, mungkin itu satu-satunya kumpulan tulisan ku yang selesai, selain dari Skripsi saya, karena cuman itu satu-satunya tulisan ku yang selesai. Sisanya, stuck di konsep.

?

Tapi ngomong-ngomong soal ?kata orang?. Aku sendiri juga pernah down mental, seperti yang pernah aku bahas sebelumnya. Waktu yang lain sudah pada hamil, dan kita belum kemana-mana. Saking galaunya aku selalu melambatkan pulang dari mesjid kalau sudah shalat berjama?ah. Lagi-lagi, ingin curhat sama Tuhan. Satu doa yang sering sekali aku ulang-ulang baca, ?Rabbi hablii minas-Shalihin, Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyatinaa qurrata a?yun waj?alnaa lil muttaqiina imaaman.? Sebuah teman pengharapan. Saat itu aku sedang membayangkan sosok Keluarga Imran, ayah dan ibu dari Maryam, Sang Perawan Suci. Aku membayangkan pula sosok Zakaria, seorang Tua yang beristrikan wanita mandul. Mengharapkan seorang keturunan, layaknya pungguk merindukan bulan.
Penantian yang begitu panjang, sehingga akhirnya Tuhan hadiahkan kepada mereka keturunan yang sangat luar biasa penting dalam sejarah umat manusia. Seorang Ibu dari sosok Yesus, atau yang kita kenal dengan nama Isa al-Masih. Satu lagi menjadi seorang Nabi bernama Yahya.

?

Jika tidak salah fokus, hal ini terjadi setelah ayah dan ibu Maryam ber-nadzar. Sebuah janji setia kepada Allah, mereka menyampaikan, ?Jika aku mempunyai anak, akan aku berikan anakku ini untuk hanya berbakti kepada Engkau ya Allah.? Kemudian datanglah kabar gembira tersebut. Semua berawal dari kebergantungan diri kita kepada Tuhan. Keberserahan, yang tentu saja diikuti dengan usaha yang maksimal. Ahli Hikmah berkata, ?Usaha tanpa doa itu sombong, kalau doa tanpa usaha sama saja bohong.? Maka tugas kita apa, tak lelah berdoa, dan tak bosan berusaha. (Gak kebalik nih kata-katanya? ?red). Bebas aja sih. Mau dibilang tak bosan berdoa, dan tak lelah berusaha juga bisa. Jadi enak yang mana kalimatnya? (Tanya saja pada rumput yang bergoyang, hehe. ?red).

Karya : M Ridwan Nurrohman