Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 3 Maret 2016   06:19 WIB
Catatan Kerinduan H-5

Hari 5
Ahad, 22 November 2015

Selamat pagi para pembacaku sekalian. Hari Ahad, atau lebih kita kenal dengan hari minggu. Sebelum para pembaca protes kepada penulisan hari yang terlampau kearab-araban ini, izinkan saya bertanya, memangnya kata ?Minggu? datangnya dari mana yah? Oke, tak usah dipusingkan. Perdebatan biasa dilakukan oleh orang-orang yang egonya tinggi, dan ilmunya belum terlalu berbobot untuk membuat ia luluh dan tertunduk. Orang-orang berilmu itu bukan berdebat, tapi bertukar pikiran. Jadi syaratnya apa? (Punya pikiran! ?red). Nah gitu dong pinter kali-kali.

Pagi-pagi kau sudah menyapa. Faktor dari kangen mungkin ya. (Cie.. cie.. ?red). Awalnya tidak ada agenda apapun yang ku siapkan hari ini. Mestinya aku bisa malas-malasan seharian, meskipun malas juga dirasa pas mau malas-malasan. Mengunduh beberapa episode anime langganan, kemudian menyiapkan makan pagi. Tapi kita memang hanya bisa berencana, Tuhan yang akhirnya memutuskan. Melalui perantaraan pak Sholih dan teh Hasni, akhirnya semua schedule time yang sudah aku rancang sedemikian rupa itu hancur! Sembari mengorbankan uang dua puluh ribu untuk isi bensin, yang langsung habis pula dipakai pulang-balik. Aku diajak pergi balap-balap sekaligus touring ke Manipi, Sinjai Barat. Sedikit terpaksa, akupun bersiap untuk pergi. Selebihnya dari itu, tidak banyak hal yang bisa aku tuliskan disini, kecuali apa yang sudah aku ceritakan di telepon tadi sore.


Namun hari ini aku sedang menikmati betul beberapa lagu yang baru aku unduh kemarin. Ya, Unravel Ghoul versi Indonesia yang dinyanyikan oleh Sasyachiru. Entah kenapa, keren saja rasanya. Penasaran? Googling aja sendiri *emotikon julur-julur lidah. Juga beberapa lagu anime-anime lawas, yang betul-betul pernah mewarnai kehidupan anak-anak 90-an, yang konon katanya sebagai generasi paling bahagia di Indonesia ini. Entahkah ini berlaku pula untuk orang-orang pedalaman yang bahkan belum masuk listrik, atau hanya untuk para sosialita dan anak gaul 90-an saja.
Minggu pagi biasanya kau akan merengek, minta dibelikan Nangka ke Malino. Sebuah permintaan yang sebenarnya sangat berat aku kabulkan. Karena bukan hanya akan mengurangi jatah belanja pasar hari Rabu. Tapi saat itu aku berpikir, pergi sendirian malas. Ajak kamu pergi juga bukan pilihan yang lebih baik. Perjalanan yang cukup rentan, aku takut anak kita dalam rahimmu protes-protes. ?Pelan-pelan kenapa, gak tahu apa dede lagi bobo,? tuh kan repot. Belum lagi jalanan yang penuh orang-orang dari berbagai daerah yang mencari kesejukan di tanah Malino ini. Paling ?memalaskanku?-nya apa coba? Mobil-mobil yang parkir sembarangan. Tuan-tuan pemilik jalanan yang memaksa pemakai jalanan lain untuk bersujud menyambut kedatangan mereka yang berasa di Sentul. ?Ededeeehhh...? begitu kalau kata orang-orang konre (orang sini maksudnya ?red). Banyak juga ya alasannya. Ya, orang kan paling jago bikin alasan. Sudah sunnatullah kalau kata pak Kyai. (Ya, Allah... malah ceramah! ?red).

Perut keroncongan yang belum sempat ku isi apa-apa sejak pagi tadi, akhirnya mendapat pelampiasan di rumahnya Mang Aep, kawan ngobrol saya sepanjang perjalanan waktu mengantar engkau ke Bandara kemarin dulu. Alhamdulillah, akhirnya. Hampir saya mau kabur saja pulang duluan saking laparnya itu hari. Karena katanya lapar ini betul-betul bahaya. Knut Khamsun sampai-sampai bikin novel tentang lapar ini. Meski saya belum pernah baca, dan tak tahu pula bagaimana isinya, tapi saya simpulkan secara hermeneutis, bahwa lapar ini bahaya. Saking bahayanya mesti sampai banyak Warteg tersebar diberbagai tempat, kecuali di Kanreapia.


Sesampainya dari Manipi aku terpaksa beristirahat, sambil ku teruskan pula catatan ?rarawuan? ini. Hampir maghrib memang. Singkat cerita, waktu isya pun datang. Segera aku bersiap untuk melaksanakan shalat. Selepas shalat, aku tak berlama-lama meninggalkan laptop. Karena akhirnya aku menemukan kembali ide yang kemarin aku lupakan. Sewaktu shalat, iya, inspirasi memang terkadang datang pada waktu yang tidak tepat. Bukan hanya cinta ternyata yang bisa begitu yah. (Ciee... lagu Fatin ?red). Tahu banget ya!

Kesampingkan dulu soal gagasan apa-apanya. Tenang, sudah aku catat di bawah tulisan ini kok. Jadi in sya Allah gak akan lupa lagi. Ini soal segera mencatat inspirasi kalau tak mau lupa dan hilang, dan juga soal inspirasi yang datang pada waktu yang tak tepat. Hal ini benar-benar menggangguku. Masa sewaktu shalat juga aku mesti bawa-bawa catatan, dan langsung ku tuliskan. Karena hal ini benar-benar beda dengan prakteknya Imam al-Bukhari. Kalau beliau itu hendak memasukkan hadis shalat istikharah dulu, takutnya hadis yang beliau masukan ini kurang shahih. Kalau saya memang awalnya tak terpikir apapun sebelum shalat, dan malah saya dapatkan ketika shalat itu. Satu hal yang ku sadari saat itu. Betapa sesuatu yang baikpun mesti datang pada saat yang tepat! Karena bayangkan saja, hadirnya ide yang baik itu, bahkan bisa mengganggu kefokusan dan ketenangan shalat si empunya ide, aku tak bicara soal khusyu yang memang levelnya agak terlalu tinggi untukku.

Akhirnya aku teringat juga sosok Muhammad, yang kata Fahd Djibran, hanya mampu ku tatap punggungnya. Maksudnya, ya hanya bisa melihat cerita dan peninggalannya, mungkin. Pikirkan ya, jika dulu Muhammad langsung melarang kepada orang Arab untuk minum arak, yang sudah seperti kita yang dilarang minum air putih, yang aslinya bening ini. Jangankan ada yang mau ikut ajarannya Muhammad, mungkin beliau hanya akan berakhir sebagai salah satu Nabi yang pernah diutus Allah, lalu akhirnya dilupakan, karena tidak ada pengikutnya yang menceritakan dan melanjutkan ajaran-ajarannya.

Tapi saat itu Allah mengajarkan kepada Muhammad sebuah strategi besar. Tadarruj fil hukmi, kalau para Ajengan bilang. Sebuah proses pembiasaan. Sebuah usaha bertahap. Ya, inilah yang akhirnya membuat Islam seperti hari ini. Bagaimana? Terkenal, sohor, agama dengan penganut terbanyak kedua di dunia. Lalu apalagi yah? Banyak deh. Lalu apa hubungannya dengan inspirasi yang datang tak diundang dan pulang tak diantar ini? Ya, pokoknya kalau mau jadi baik, mesti datang dengan cara dan waktu yang baik juga tepat.


Nah sekarang baru ke gagasan intinya. Para pembaca kenal dengan Syed M. Naquib al-Attas? Kalau belum kenal, maka para pembaca sekalian mungkin belum pernah lihat iklan jualan buku saya di fac*book. Beliau pernah menulis begini, ?Betapa sejarah itu adalah apa yang kita pilih untuk kita sampaikan kembali kepada yang lain.? Analoginya begini menurut beliau, jika kita hendak menuliskan sejarah satu desa saja. Apakah mungkin untuk kita mencatat setiap percakapan yang ada, dan terjadi di desa tersebut. Entah antara ayah dan anaknya. Antara seorang pacar dengan selingkuhannya. Antara ibu desa dengan pak RK. Baik yang terjadi bersamaan maupun berlainan tempat. Percakapan di kamar mandi. Percakapan di kebun. Percakapan di atas ranjang. Tentu saja kita mesti kerepotan, dan akan terlalu banyak yang harus kita catat. Bahkan untuk jangka waktu satu hari saja. Kecuali jika pembaca sekalian adalah malaikat pencatat amalan manusia yang buku catatannya sangat besar dan istimewa.

Hal ini bisa aku benarkan malam ini. Karena bahkan aku saja tidak bisa menuliskan secara lengkap semua kejadian, terlebih percakapan semua orang yang hadir dalam acara lamaran anaknya pak Caca, kemarin. Betapa ada yang saat itu, mungkin sedang berbicara tentang bisnisnya. Obrolan tentang hal-hal mistis yang sedang seseorang paksakan untuk didengar dan diimani saja. Keluh dan umpatan yang disampaikan oleh orang bagian dapur yang sudah mulai lelah. Apatah lagi obrolan anak ca?di-ca?di (bocah ?red) yang entah berbicara tentang apapun, melompat, berlari, yang akhirnya dimarahi pak Imam yang sejenak lewat menawarkan es krim.

Akhirnya aku sedikit paham, kenapa sejarah itu banyak yang beda-beda yah. Karena setiap orang punya perhatian dan kepentingannya masing-masing dalam menuliskan tentang kejadian apapun. Kalau orang Sunda dulu pernah punya hikayat seperti ini:

Ada lima orang buta berdebat soal bentuk Gajah. Si A bilang, Gajah itu panjang, berlubang ujungnya. Si B bilang, Gajah itu lembek bergelombang, pipih. Si C bilang, Gajah itu besar, bulat, sepelukan orang dewasa. Si D bilang, Gajah itu berbulu, kecil, panjang. Si E bilang, ahh Gajah itu kan cuman mitos saja. Karena mungkin dia tidak mau ambil pusing.
Siapa yang salah? Si A berkata demikian, ternyata ia memegang belalainya. Si B menyampaikan begitu karena memegang daun telinganya. Si C sebab memegang kakinya. Si D sedang menyentuh ekornya. Nah kalau si E sih sudah tak usah dihiraukan. Adakalanya cerita akan suatu tragedi ya begitu. Ingat ramai-ramai orang membahas soal terorisme dan kemanusiaan pasca tragedi Prancis beberapa hari lalu. Ya sudahlah, karena aku bukan sedang bikin essai sejarah dan kemanusiaan di sini. Tapi karena itu yang sedang mampir di pikiranku, ya itu mamo yang ditulis, hehe.


Ya sudah, saya mau masak dulu, laper nih, maklum bapak RT ya begini kerjanya, hehe. Sampai berjumpa kembali. See you next time, selamat mendengarkan beberapa tembang pilihan yang sudah kami siapkan untuk beberapa menit kedepan. (Ettttdaaahhh.. dikiranya penyiar radio malem kelesss... ?red).

Karya : M Ridwan Nurrohman