Biarkan Aku Bercerita tentang Aku

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Februari 2016
Biarkan Aku Bercerita tentang Aku

Perubahan memang bukanlah hal yang mudah diterima semua orang. Selalu ada sang tanya yang tersemat pada setiap kepala yang berpikir tentang perubahan. ?Kamu kok jadi gini? Kamu kan dulu gak begini!? Ya, pertanyaan semacam ini bukanlah suatu yang langka sehingga harus dimasukan Guinness World Record ataupun Museum Budaya dan Cagar Alam. Ini adalah sebuah ungkapan yang bersumber dari akal sehat dan perhatian yang tinggi terhadap yang ia anggap berubah itu.

Dan ternyata ini pun terjadi padaku sekarang. Ya, si Aku yang tengah berbusa-busa bercerita ini konon sedang berubah. Tapi ini bukanlah sebuah cerita tentang baik dan juga buruk, ini juga bukanlah sebuah kisah seorang reformis sejati, ini hanyalah kisah si Aku yang hanyalah Aku, yang mungkin mereka pun tak sempat memikirkan si Aku yang sedang berbusa berkicau ini. Tapi ya sudahlah, biarkan Aku bercerita tentang Aku!

***

Aku tak pernah berharap lebih tentang diriku. Aku juga tak pernah membayangkan diriku menjadi orang lain. Bagiku, diriku cukuplah menjadi diriku, bukanlah untuk menjadi orang lain. Dan apapun yang berubah dariku, bukanlah untuk menjadi orang lain, tapi semata-mata untuk menemukan The Real Me. Bagiku Aku adalah suatu kesatuan, maka tak heran kalian akan menemukanku dalam diri orang lain, dan menemukan orang lain dalam diriku ini. Karena bagiku, itulah aku.

Saat ini, izinkan Aku ceritakan satu kisah yang mungkin benar-benar membuat dindaku heran dan juga kehilangan, ya, dia kehilangan Aku yang dulu, dia rindu Aku yang dulu. Aku bertanya sendiri, ?Aku yang mana ya??

?Aa, teteh rindu banget sama aa yang dulu.?

?Aa yang mana teh??, jawabku sembari tersenyum.

?Aa, teteh pengen tau alesan aa jadi gak suka nulis kata-kata romantis itu kenapa sih??

?Owh, itu,..? bisikku dalam hati.

?Ya, gimana ya, sebenernya aa gak seneng ngomongin ini lagi, karena jujur buat aa ini hal yang menyedihkan, pokoknya banyak hal deh yang mempengaruhi aa sampe kayak gini. Semua faktor, semua orang berpengaruh, aa, bahkan teteh juga.?

?Teteh bingung, gak ngerti a.?

?Ya sudahlah! Nanti lain waktu aa ceritain.?

Kira-kira itulah percakapan telepon yang terjadi sore tadi, Senin 30 Januari 2012, jarak antara Bandung-Garut. Dan mungkin semua pertanyaan dinda akan Aku jawab di sini.

***

Ini adalah satu kejadian yang mungkin terlalu bodoh untuk ku ceritakan dalam sebuah cerpen yang manis untuk dibaca, kejadian ini juga mungkin memang terlalu rendahan untuk ku ukir dalam sebuah diksi yang menarik untuk disimak, ya memang ini juga karena Aku sudah tak begitu suka diksi-diksi rumit yang biasa ku buat itu.

Adinda ku, mungkin tulisan ruwet ini tak lebih layak untuk dibaca dibandingkan dengan coretan-coretan tembok di pinggiran terminal Guntur. Tulisan ini juga tak mungkin lebih layak dibaca dibadingkan status-status facebook dikau yang selalu mendapatkan banyak respon dari kawan-kawan dinda, hanya mungkin lebih panjang iya.

Adinda ku, memang Aku tak pernah sekalipun menang melawan derap seretan sang waktu. Dinda tau, beribu kali Aku tersungkur dalam jurang kekalahan di bawah kaki sang waktu yang mulai menginjak kepalaku ini. Ya bodoh memang, waktu bukanlah lawanku, tapi seharusnya dia menjadi temanku. Karena Aku tau kau pun ada dalam tubuh sang waktu ini. Dan itu berarti sang waktu adalah diriku juga.

Adinda ku, seharusnya waktu mampu mengajariku tentang arti sebuah tindakan bodoh! Tapi kenapa dengan diriku adinda? Aku tak pernah mampu belajar dari masa lalu. Kebodohan terbesarku yang dulu ku lakukan kepada engkau, mesti Aku lakukan lagi kepada orang yang sempat juga singgah menempati tempat ini, di hatiku. Meski tak lama, karena mungkin dia hanyalah singgah tuk melepas lelah saja. Dan mungkin itu juga yang terjadi padaku. Ku berikan rentetan untaian masa lalu, dari masa lalu yang berpanta-panta dalam Epos Waktu-ku. Bodoh memang! Dan apa kau tau dinda? Reaksi engkau yang dulu teramatlah sangat lembut, akan tetapi efeknya, membuat hatiku benar-benar hancur dan membuatku malu tuk melakukannya lagi, kepada siapapun, bahkan untuk kesenanganku seperti dulu. Maka mulailah Aku membenci semua karya-karya bodohku itu dinda.

Adinda, maafkanlah Aku dan juga kebodohanku ini. Hingga kini mungkin engkau merindukan Aku disaat-saat itu. Aku yang bodoh dan sombong. Aku yang tak bisa menjaga lidahku untuk sekedar tak melukai hati bersihmu itu adinda. Engkau tau, sejak engkau memintaku untuk melepaskanmu dulu, Aku berkali-kali membaca ulang semua cerita kesombonganku yang ku tulis untuk mu itu. Mungkin dinda akan teringat judul, Selamat Tinggal Dunia, Gagak Putih yang Indah, dan mungkin berakhir dengan Sepucuk Kertas Harapan (2). Ya, itulah kesombonganku adinda.

Ketika Aku terus membuka setiap kata yang telah terungkap di robekan kesombongan itu yang terbayang adalah kebodohanku adinda. Kesombongan yang dibalut dengan diksi-diksi aneh, demi mempertunjukan si Aku yang benar dan tak pernah salah, si Aku yang bodoh akan tetapi bangga, dan si Aku yang angkuh dan tak mau kalah. Ya, Aku memang sangatlah bodoh adinda.

Adinda, semua ini memang murni kesalahanku. Sehingga Aku dengan suka-rela pergi dari semua diriku dalam retakan-retakan masa lalu itu. Sekarang Aku memang bukanlah Aku yang dulu. Tapi satu hal yang pasti Adinda, dari dulu hingga kini, dirimu belum bisa tergantikan barang sedetik pun, selama Aku sadar. Dan akhirnya Aku berharap, ketika Aku telah berubah, mungkin lebih banyak dari ini, izinkanlah hatiku tetap tuk tak bergeming dalam relung cahaya ketenangan bersama dikau, Adinda ku.

  • view 291