Reruntuhan Megah Abadi

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Reruntuhan Megah Abadi

?Bodoh, bodoh, bodoh ? bodoh sekali aku ini. Aku sekarang termangu di bawah reruntuhan penyesalan yang membahana. Aku sudah tertipu. Aku terus saja terseret oleh sang waktu yang keji. Aku ditelan mentah-mentah, lalu dimuntahkan oleh kebodohanku sendiri. Padahal aku telah mengintip ketika sang Rabb berbincang dengan Jibril. Tapi aku tetap saja tertipu.?

Itulah gerutuku, setelah aku mengingat satu kisah suci yang amat menyiksa batinku. Bagaimana tidak? Aku harus berulang-ulang terjatuh ke jurang surga yang sama. Entah untuk yang keberapa kalinya. Lalu aku melakukannya lagi. Lalu aku teringat kembali. Begitulah aku setiap masa. Terkadang aku mengumpat dalam hati, ?Kenapa sang Rabb mesti menyuruh Jibril untuk melakukan hal itu. Coba kalau tidak!!!? Namun, terkadang aku pun bergerutu, ?Ahh, ini pasti gara-gara ucapan Jibril yang terlalu berlebihan. Hingga membuat sang Rabb memutuskan begitu.? ?Ahhhhh ? padahal aku saja yang bodoh.?

Padahal kejadian itu begitu mencengangkan. Atau untuk orang bodoh sepertiku saja mungkin. Tapi meskipun bodoh, setidaknya kejadian itu masih sangat melekat di relung-relung kepalaku. Masih tergambar jelas ketika itu. Saat aku mengintip dari suatu tabir kemilau. Aku melihat sang Rabb. Sesaat setelah Dia menciptakan surga dan neraka. Para malaikat tengah berputar-putar mengelilingi Arsy. Lalu sang Rabb pun memanggil Jibril. Sang pimpinan pasukan cahaya.

***

?Hai Jibril, kemarilah engkau!!? seru sang Rabb.

?Baiklah wahai Rabbku,? jawabnya dengan penuh kelembutan.

?Aku ingin engkau melihat hasil karya-Ku,? sabda-Nya.

?Hasil karya Engkau yang mana wahai Rabbku?? tanyanya heran.

?Lihatlah tempat yang ada di atas sana, lalu katakan apa pendapatmu!!?

?Baiklah.? Jawabnya sembari bergegas.

Tak begitu lama. Sehingga terlihat lagi Jibril datang dengan wajah yang sangat berseri-seri.

?Demi kemuliaan Engkau ya Rabb. Apakah nama yang pantas bagi tempat yang indah itu ya Rabb??

?Itu adalah surga-Ku hai Jibril.?

?Demi kemuliaan Engkau ya Rabb. Tidak akan ada seorang pun yang mendengar kata ?surga? kecuali ia akan sangat ingin memasukinya.?

?Kembalilah, lalu pagarilah surga itu dengan semua hal yang paling tidak disukai. Kemudian laporkan kepada-Ku hasilnya!!?

Lalu ia pun segera melaksanakan titah Rabbnya. Tak sempat mataku berkedip. Jibril pun kembali dengan wajah yang muram.

?Demi kemuliaan Engkau ya Rabb. Setelah aku melihatnya untuk kali kedua ini. Rasanya aku sangat khawatir tak akan ada satu pun orang yang ingin memasukinya.?

Lalu sang Rabb memerintahkan Jibril untuk melihat ciptaan-Nya yang lain.

?Hai pimpinan tentara cahaya-Ku, lihatlah tempat yang ada di bawah sana!!?

?Baiklah Rabb.?

Dengan segera Jibril langsung menjawab titahnya dengan tanpa pertanyaan lagi.

Lagi-lagi, tak sempat nafasku terhela. Jibril kembali dengan wajah yang nampak ketakutan. Sang Rabb pun bertanya kepadanya sembari mencoba menenangkannya.

?Wahai hamba-Ku yang taat, apa yang engkau lihat? Hingga membuatmu begitu ketakutan.?

?Demi kemuliaan Engkau ya Rabb. Tak pernah aku melihat sesatu yang membuat mataku terbelalak seperti ini sebelumnya. Di tempat itu aku melihat api yang saling melahap sebagai makanannya. Daging busuk yang bertebaran di mana-mana. Jilatan gunungan-gunungan api. Tempat di mana batu dijadikan sebagai kayu-kayu bakar. Tempat apa itu hai Rabbku??

?Itulah neraka-Ku hai Jibril.?

?Aku sangat yakin. Takkan ada seorang pun yang mendengar kata ?neraka? kecuali ia akan menutup telinga, wajah dan juga seluruh kepalanya. Hanya karena sangat benci dan takutnya dia kepada tempat itu.?

?Kalau begitu kembalilah!! Segera pagari neraka-Ku itu dengan syahwat-syahwat dan juga seluruh kesenangan duniawi yang menggoda. Lalu sampaikan laporanmu kepada-Ku segera!!?

Tak begitu lama. Sehingga terlihat lagi Jibril datang dengan wajah yang terlihat sangat kebingungan.

?Apa yang engkau lihat hai hamba-Ku??

?Demi kemuliaan Engkau ya Rabb. Aku sangat khawatir tidak akan ada seorang pun yang akan selamat darinya. Dengan setiap duri-duri mawar yang trasnparan. Dengan manisnya racun yang membuai. Dengan harumnya bau lem ?fox? itu.?

***

Begitulah apa yang sering terngiang dalam relung kosong kepalaku. Lalu apa yang bisa ku lakukan? Aku hanya mampu berjerit redam. Menangis kering. Dan juga berteriak dalam hati, ?Wahai reruntuhan yang megah!! Di mana para penghunimu yang saling bersorak itu? Mereka semua telah lenyap!! Kemegahan dan keindahan pun hanya tinggal dongeng sejarah!! Lalu apa sekarang yang tersisa? Hanyalah dosa-dosa yang berkarat!! Sungguh kalau lah aku tersadar lebih awal. Tentu meninggalkan celoteh iblis itu lebih baik dari pada bermain air mata darah saat ini.?

Lalu sang Rabb pun berbisik kepadaku, ?Wahai hamba-Ku, apa yang engkau risaukan? Tak tahukah engkau kalau Aku ini Dzat yang Maha Pengampun??

?Tentu aku tahu wahai Rabbku.?

?Lalu apa yang engkau lakukan??

?Aku hanya merasa malu kepada-Mu, karena aku terus saja mengulang kebodohanku ini.?

?Mintalah maaf kepada-Ku!! Lalu bertaubatlah!! Tentu akan Ku ampuni engkau.?

?Mahasuci Engkau hai Rabbku. Apakah ada Dzat yang lebih pantas untuk dicintai dan diharapkan selain Engkau? Aku kini bersimpuh letih di hadapan-Mu.?

Lalu sang tangis pun tak dapat lagi ku larang. Ketika ia terus mendobrak jendela kecil yang mulai rapuh termakan usia.

?

-Diilhami dari Abu Hurairah, HR. Al Tirmidzi-

?Desah Tangis, 06-02-2011

  • view 141