Catatan Kerinduan H-3 & 4

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Catatan Kerinduan H-3 & 4

Hari 3
Jumat, 20 November 2015

Jumat ini, aku sama sekali tidak sempat menuliskan apapun sebenarnya. Hari ini, kehadiran dua pertanyaanmu yang paling membosankan sialnya sangat ku rindukan. Ya, ?Acuk nu mana nya? (Pakai baju yang mana yah?)? dan ?Makan sama apa yah??. Pertanyaan sepele, yang selalu kau ulang-ulang. Tapi mengapa justru hal-hal seperti ini yang membuat aku semakin merasa kehilangan. Namun Jumat kali ini kerinduan itu tak hanya tertuju padamu. Tapi juga pak Nandang. Ya, pengajian tanpa ada pak Nandang itu seperti sayur tanpa garam. Kalau diriku tanpa dirimu itu, bagai pesan Mie Ayam, sayurnya ajah, haha.

Sejak pagi sampai sore, aku tak punya banyak kesempatan untuk menulis catatan ini. Full banget deh pokoknya. (Sok sibuk lo! ?red). Tapi seriusan, ada waktu luang pun aku pakai untuk nonton Anime di laptop, hehe. Jadi mau cerita apa lagi? Owh iya, sore itu aku paksakan beli telur, karena makan mie terus memang tidak baik untuk perut, meskipun dengan beli telur juga memberikan efek samping berbahaya untuk kantong. Ku rogoh kantong, dan ku ambil uang sepuluh ribu perak. Ku tukar dengan tiga butir telur, dua buah susu, satu kantong kerupuk, aduk sebentar, campur jadi satu, dan tiriskan. (Mau cerita, apa mau bikin resep masakan? ?red).

Hal yang paling menyedihkan hari Jumat ini diawali dari dongeng telur tadi. Saat aku hendak memasak telur, ku lihat penggorengan yang teronggok begitu saja, mungkin terakhir kali kau pakai untuk masak kiciwis kemarin dulu. Ada temuan fakta terbaru yang mesti segera aku patenkan ke MUI (lho kok malah MUI ?red): ?Hati yang galau ternyata bisa bikin badan meriang, dan mencret-mencret.?

Kok bisa yah? Atas nama kerinduan, aku pun tidak serius mencuci penggorengan tersebut. (Itu sih males bro, ngeles aja loo.. -red). Aku hanya menyiramkan sedikit air saja ke atas penggorengan tersebut. Ku kocok-kocok sedikit, dan ku buang airnya. Setelah itu langsung saja aku gunakan untuk menggoreng telur tadi. Al-hasil, semalaman aku kaya orang mau piknik ke akhirat. Nafas sesak, mata perih, dada sempit, dan hati membeku. (Alay lu! ?red). Kebingungan, ya, bingung betul itu malam. Mau minta tolong sama siapa? Rumah isinya cuma sendiri. Orang sudah musim tidur, atau enggak, lagi pada gangguin orang tidur. Ah, pokoknya kalau kata orang Bugis-Makassar itu, ?Kodoooonggggg...?
Akhirnya tidak ada pilihan lagi, Tuhan. Ya, akhirnya aku hanya bisa berdoa. Memohon supaya Tuhan mau memberikan kesempatan untukku hidup lebih lama. (Ya elah, sakit perut doang sampai segitunya ?red). Tapi jangan salah, Tuhan memang selalu menjadi pelarian. Ya, orang penyakitan mendadak jadi rajin ke Mesjid. ?Buat apa? Nyolong uang kencleng buat berobat?? Ya, bukanlah! Buat berdoa pastinya. Ia akan berdoa sambil teriak, ?Ya Tuhan, cobaan macam apa lagi ini? Mengapa hamba selalu mendapatkan ujian yang begitu berat.? Keren gak tuh doanya? Dia bilang ujian, padahal gak pernah daftar masuk kelas. Ke mesjid juga kalo lagi ada masalahnya aja. Karena jangan dikira lho, cobaan ini memang cuman dikasih sama orang yang mau dinaikan kelasnya oleh Tuhan. Tapi alhamdulillah, Tuhan begitu baik hati, aku yang bahkan belum pantas menyandang gelar ?hamba Allah? ini bangun di pagi hari dalam keadaan masih hidup, dan sisa sakit perut saja yang masih dirasa.


Ku lihat HP, ada sms dari dua orang yang sedang betul-betul ku rindukan hari Sabtu itu, sms dari istriku dan satu lagi dari pak Nandang. Isi sms keduanya membuatku senang. Pak Nandang memberikan kabar gembira, ?Ustadz, besok habis sholat subuh ke rumah, siapa tahu ustadz mau pergi Pasar. Kemarin ibu lupa, bedee.? Waahhh, alhamdulillah, akhirnya bisa bayar utang lagi sama temanku, hehe.

Ini ceritanya sudah offside yah? Oke deh pindah halaman!
?
Hari 4
Sabtu, 21 November 2015

Hari ini adalah hari penuh kesyukuran. Pertama, utang bakalan berkurang. Kedua, baca sms dari istriku yang begitu perhatian, yang mengkhawatirkan suaminya nun jauh disana, yang sedang sakit. Ketiga, ada orang bikin acara lamaran, ?makan enak hari ini?, pikirku. Keempat, badan sudah agak mendingan.


Pagi itu ku sempatkan mengaktifkan BBM di HP milik istriku yang ku pinjam ini. Berhubung Hpku yang belum jelas masih hidup atau sudah mati. Beliau masih dalam masa-masa kritis, yang semoga segera mendapat kepastian. Karena ?aku tuh gak bisa diginiin? kata anak-anak (a)sosial-ita sekarang. Banyak hal yang begitu rumit memang, dari mulai keyboard HP yang jadi-jadian, utang yang gak lunas-lunas, dan dua sim card yang gak mau diam sama-sama dalam HP mono sim ini.

Tapi usahaku berbuah manis pagi itu. Begitu ku buka Profil BBM istriku, ia menuliskan sebuah kalimat manis, yang tidak boleh sering-sering aku dapatkan. Lha kenapa? Sudah kolesterol, masa harus kena gula juga, haha. Ia tulis begini, ?Suamiku, semoga Allah selalu menjagamu. Sehat selalu ya disana. Cuman bisa mendoakanmu dari kejauhan, karena tuk sekedar memelukmu saja sekarang aku tak mampu || gara-gara LDR.? Keren kan? Iya lah, istri siapa dulu, haha. (Sok lu! ?red). Coba perhatikan kalimat yang amat kental sastranya ini ?karena tuk sekedar memelukmu saja sekarang aku tak mampu?. Nyaris aku tak percaya ini tulisan istriku. Ternyata rindu, cinta, benci, bisa bikin orang jadi sastrawan/sastrawati yah, haha. (Kayak yang kagak aja lo? ?red). Ampun jendral, tobat tobat.


Sesiang sampai sore ini tak banyak hal yang terjadi, kecuali makan enak dua kali, pagi dan sore, kalau sarapan sudah duluan sepulang dari pasar tadi. Nah ini makan pagi sama sarapan apa bedanya? Ya, sekitar beda dua jam saja sih. Obrolan-obrolan yang sudah kesana-kemari. Pemandangan yang sudah berubah-ubah, layaknya kondisi keimanan hati ini. Bau rokok yang juga sudah bergantian, saling bersahut, bergejolak saling serang dalam udara tercemar yang mau-tak mau mesti ku hirup saat itu. Toleransi kadang suka berlaku sepihak memang. Selalu ada hak yang diperkosa di pihak lainnya. Mereka yang merokok punya hak untuk menghisap asap mahal itu. Lebih pun mereka yang tidak merokok, punya hak untuk menikmati udara segar tanpa asap rokok. Mana saja yang kuat, dialah yang berkuasa. Sebagaimana pemerataan ekonomi yang selalu diidam-idamkan si miskin, namun tak pernah mau diwujudkan oleh si kaya. Tak heran ada orang bilang begini, ?Sosialis itu waktu masih miskin, kalau sudah kaya ya jadi kapitalis juga.? ?Iyo mi kapaanggg,? jawabku. (Artinya apaan ini woi? ?red). Kalau orang Sunda bilang, ?Enya mereun...? (Owh kitu. ?red).

Siang itu, dg. Panca (dibaca: daeng Panca; akang dalam bahasa Sunda ?red) banyak bercerita kembali tentang sejarah hidup orang Kanreapia. Betapa sulitnya masa-masa hidup sebelum tahun 85-an. Kemudian dilanjutkan cerita tentang perjalanan respon masyarakat terhadap gerakan revolusi pertanian Kanreapia yang digagas oleh H. Iyat Supriatna aka. H. Ilyas, bersama keluarganya yang dimulai tahun 85-an tersebut. Akhirnya bersambung kepada sikap masyarakat Kanreapia hari ini yang, katanya, kacang lupa pada kulitnya. Meski tak separah, ?dikerpus, teu dicalana? kalau orang Sunda bilang. Orang ingat pakai mahkota, tapi lupa pakai celana, kira-kira itu terjemah terjun bebasnya, hehe. Kemudian aku terpaksa berkomentar, dengan nada sok bijak saat itu aku katakan, ?Orang biasa lupa kebaikan orang lain kepada dirinya, tapi kalau kebaikan dirinya pada orang lain, selalu ia ingat.? Macam mengajarkan berenang pada ikan.


Menjelang dzuhur, obrolan dihentikan. Masing-masing orang bersiap shalat Dzuhur. Aku memanfaatkan waktu tersebut untuk meraih kemerdekaan versi saya sendiri waktu itu, merdeka dari penjajahan asap rokok. Segera aku berlari ke arah mesjid, bersama kawanku yang utangnya belum lunas ku bayar, dg. YK aka. Muhammad Yusuf, S.Pd.I, hehe. Ku ambil langkah besar, menuju kamar mandi, untuk segera menunaikan hajat hidup saya yang sederhana, dan mengambil air wudhu. (Mau diambil kemana woiii, gue juga mau wudhu nih. Masa dibawa juga tu air wudhu. ?red). ?Ya ampun ?red, masa gitu aja lo gak ngerti sih.? Cukup! Biarkan percakapan tidak penting ini. Bukankah Rasul sudah bilang, qul khairan au liyasmut! Apa itu ustadz maksudnya? Ya, berkata yang baik, kalau gak bisa, bayar juru-bicara. Astagfirullah, ustadz kok ngaco jawabnya. Owh iya salah, bicara yang baik. Kalau tidak bisa diam. Nah gitu dong ustadz. Oke next!
Malam minggu itu malam yang panjang. Setidaknya itu yang sering dipropaganda oleh kaum jomblo yang tengah meratapi nasibnya. Sebuah omong kosong yang tentu saja tepat menurut teori relativitas Einstein. Pun bagiku, malam minggu ini begitu sepi, begitu membosankan. Apa yang ?baru? mungkin hanya kumpulan kata-kata meracau yang aku tumpahkan dalam tulisan ini. Aku mesti banyak puasa bicara, jika ingin mengisi lembaran ini dengan kata-kata yang lebih bijak. Karena perlu berpikir sangat banyak untuk melakukannya. Nah, kesempatan itulah yang tidak banyak kumiliki akhir-akhir ini. Ku tutup malam minggu ini dengan memasak makan malam khas anak kosan akhir bulan. Mie goreng harga seribu rupiah, dan menggoreng beberapa potong tempe yang ku beli tadi pagi di pasar.

  • view 137