Catatan Kerinduan H-2

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Februari 2016
Catatan Kerinduan H-2

Hari 2

Kamis, 19 November 2015

?

Tak terpikir awalnya aku menuliskan begitu banyak kata-kata dalam catatan kerinduan ini. Namun sejak kemarin aku menulis beberapa kalimat untukmu, membuat aku tak bisa berhenti mengungkapkan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Ku ketik lagi, dan seketika aku teringat percakapan kita. Saat kita menonton ?Tenggelamnya Kapal Van der Wick? beberapa minggu yang lalu. Engkau pernah mengatakan,

?Enak ya kalau kisah hidup sama penulis atau penyanyi. Orang-orang yang ia cintai akan selamanya hidup dalam buku dan lagu mereka.?

?Mungkin aku bisa melakukannya juga?, pikirku.

Meski takkan sebaik dan sesyahdu catatan kerinduan Hamka dalam hikayat-hikayat masyhurnya. Hikayat ini tetaplah hanya sebuah hikayat yang cengeng. Cerita yang terlampau drama dan dibuat-buat. Tapi bukankah justru hal itu yang sedang banyak digandrungi orang hari ini? Entahlah, sepertinya aku sudah tak lagi peduli.

Rindu itu unik. Saking uniknya mungkin sampai bisa mengalahkan betapa abstraknya lukisan-lukisan yang dipajang di cover buku-buku Bentang Budaya dulu. Bagaimana tidak? Ketika dalam titik kulminasinya, bahkan melihat jok belakang motor yang kosong saja langsung bersedih meneteskan air mata. Yup, itu mungkin hanya dongeng dalam drama saja dahulu. Tapi hari ini benar, hal itu bisa aku rasakan sendiri.

Sisi ?lebay?-nya bagi kaum agamis, mungkin, karena ketika mengingat istri sampai menangis, lah giliran ingat Allah santai-santai saja. Ya maklum saja, istri kalau sudah pergi jauh, susah untuk disambangi. Nah, kalau Allah kan dimana-mana juga gak akan kemana-mana. Toh, Allah yang di Jawa sama Allah yang di Sulawesi, masih Allah yang satu kan? Gak pernah Tuhan itu pindah alamat. Manusia yang justru sering salah alamat. Nah, lo? *berpikir keras.

Kedekatan terintim adalah ketika ia bahkan tidak merasa begitu dekat dengannya. Ya, seperti apa yang biasa kita lakukan sehari-hari. Kita berbicara tentang apapun. Tak perlu membuat TOR ataupun konsep wawancara. Kita tak lagi saling menjaga image, ataupun malu-malu. Kecuali saat punya salah dan dosa, hehe. Tak perlu banyak umbar status mesra, karena setiap hari perbincangan kita adalah kemesraan itu sendiri. Tak perlu lilin aroma-terapi, karena bahkan bau nafas kita masing-masing adalah keintiman itu sendiri. Tak mesti saling memberi hadiah, karena bahkan kehadiran kita bagi satu lainnya adalah hadiah terindah yang tak akan mampu dibayar apapun.

?

?Mata boleh menemukan perempuan yang lebih cantik. Otak boleh menemukan fantasi yang lebih menggairahkan. Namun hati ini tak akan pernah menemukan ketentraman selain bersamamu.?

15.40 WITA

?

Samar-samar ku ingat, betapa selalu ada luka di hatimu ketika orang-orang selalu bekomentar tentang perutmu yang tak kunjung besar, layaknya orang lain. Samar-samar pula ku ingat, betapa ada rasa sakit hati ketika orang-orang bertanya tentang kehamilanmu yang tak kunjung datang. Manusia sekarang memang pintar-pintar yah? Ia bahkan sudah sampai pada level menuhankan diri sendiri. Betapa setiap apa yang berbeda dengan dirinya, adalah sebuah kebebalan, kesesatan, kesalahan, dan pasti akan celaka dan akhirnya masuk neraka. Ini berlaku juga untuk orang-orang yang sok humanis, membela siapapun yang minoritas, tanpa peduli ia dalam keadaan benar ataupun salah. Berbeda dengan dirinya berarti sesat. Padahal ia selalu mencaci orang yang memvonis sesat ajaran-ajaran yang memang sesat betulan.

Manusia hari ini tak banyak butuh fatwa. Mereka hanya butuh solusi kehidupan sehari-hari yang makin rumit. Ia tak mesti duduk di kursi MUI, yang pasti ia mau duduk bersama dan mengajarkan cara hidup yang baik. Kesesatan bukan butuh dipropagandakan, karena mayoritas masyarakat hari ini bahkan tidak tahu mana yang benar. Lah, ini kok jadi kemana-mana yah? Ahh, sudahlah...

  • view 140